Sebanyak 18 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% TANAMAN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) DAN DAUN SIRIH (Piper betle L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 542 Penyakit gigi dan mulut terutama karies gigi merupakan penyakit paling umun di Indonesia. Prevalensi penyakit karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utama terjadinya karies gigi adalah adanya bakteri Streptococcus mutans.tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) dan sirih hijau (Piper betle L.) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi terbaik dari masing-masing ekstrak tunggal etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang akan digunakan untuk membuat kombinasi. Serta mengetahui perbandingan ekstrak etanol 70% tanaman sereh wangi dan daun sirih hijau yang terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. secara tunggal atau kombinasi masing-masing dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak dibuat 3 konsentrasi dan 3 perbandingan diuji dengan menggunakan metode kertas cakram. hasil menunjukkan bahwa ekstrak tanaman sereh wangi dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 7,5 mm, 8,83 mm dan 11,4 mm. dan untuk ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 15%, 30% dan 60% berturut-turut sebesar 9,23 mm, 10,4 mm dan 11,8 mm. Dari masing-masing ekstrak konsentrasi terbaik untuk dibuat kombinasi yaitu pada konsentrasi 60% dengan diameter zona hambat rata-rata sebesar 11,4 mm untuk tanaman sereh wangi dan 11,8 mm untuk ekstrak daun sirih hijau yang menunjukkan memiliki aktivitas antibakteri kuat. Dan untuk kombinasi yang memiliki nilai diameter zona hambat terbesar pada perbandingan 1:3 dengan nilai diameter zona hambat rata-rata 16,38 mm yang berarti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat.

Formulasi sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun pare (Momordica charantia L) dan uji aktivitas terhadap Staphylococcus epidermidis

No. 495 Gel Facial Wash adalah pembersih wajah menggunakan sabun wajah merupakan langkah awal mencegah terjadinya acne. Sabun merupakan sulfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan tegangan antarmuka, serta memiliki sifat penyabunan, dispersibilitas, emulsifikasi dan pembersih. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekstrak etanol 70% daun pare yang optimal dan dapat digunakan sebagai gel facial wash yang dapat memberikan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidemidis dan memiliki stabilitas yang baik. Penelitian ini diawali dengan maserasi simplisia daun pare tua dengan etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh diuji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa dalam daun pare yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid dan streoid. Sediaan Gel Facial Wash dibuat dengan konsentrasi 0,05%, 7,5%, dan 20%. Evaluasi fisik dilakukan antara lain uji organoleptik, uji ketahanan busa, uji daya sebar, pH, uji viskositas, dan uji cycling test. Hasil penelitian menujukan bahwa ekstrak etanol 70% daun pare memiliki aktivitas antibakteri terhdap Staphlococcus epidermidis. Sediaan Gel Facial Wash dengan kosentrasi 20% memiliki nilai ph 5,5-6, viskositas 4490 Cp, daya sebar 6,3 cm, ketahanan busa 9 cm, dan DDH 16,1 mm.

Uji aktivitas dan stabilitas formula gel hand sanitizer dari ekstrak etanol 96% buah pare (Momordica charantia L) sebagai antibakteri

No. 487 Buah pare (Momorica charantia L) merupakan bagian dari tanaman yang mengandung zat aktif antibakteri dan berpontensi dibuat formulasi hand sanitizer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri hand sanitizer ekstrak buah pare terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escheria coli, daya antiseptiknya serta uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstraknya pada konsentrasi 30%. Ekstraksi buah pare dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kandungan senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri formulasi hand sanitizer ekstrak dengan konsentrasi 30% dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji mutu fisik formulasi hand sanitizer antara lain organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan viskositas. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol 96% buah pare mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat pada ekstrak etanol 96% dan hand sanitizer ekstrak etanol 96% kosentrasi 30% terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu 11,7 mm dan 10,6. Sedangkan terhadap bakteri Escherichia coli yaitu 10,9 mm dan 10,2 mm. Selain itu, hand sanitizer ini memiliki aktivitas antibakteri. Hasil uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstrak etanol 96% buah pare memiliki warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3200-3300 cps), daya sebar (5,10-5,14 cm). Setelah uji cyling test didapat hasil, warna coklat, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH 5, viskositas (3100-3500 cps), daya sebar (5,10-5,18 cm).

Uji aktivitas ekstrak daun pohpohan (pilea melastomoides (poir.) Wedd) dalam sediaan obat kumur untuk enghambat dan membersihkan biofilm Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis

No. 470 Biofilm Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis dapat menyebabkan infeksi plak dan karies pada gigi. Daun pohpohan memiliki metabolit sekunder yang berpotensi menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun pohpohan dan formulasi obat kumur untuk menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Ekstrak daun pohpohan dengan metode maserasi dengan etanol 70%. Proses penghambatan dan pembersihan biofilm S. mutans dan P. gingivalis dilakukan dengan menggunakan metode Microtitter Plate Biofilm Assay. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun pohpohan dan formulasi obat kumur memiliki aktivitas menghambat dan membersihkan biofilm S. mutans dan P. gingivalis. Pada penghambatan konsentrasi ekstrak 3% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturutturut 41,107% dan 22,067%. Pada penghambatan sediaan obat kumur dengan konsentrasi ekstrak 3% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturut-turut 70,614%, dan 19,596%. Hasil pembersihan ekstrak dengan konsentrasi 1% terhadap P. gingivalis dan S.mutans memiliki hasil terbaik berturutturut 69,99% dan 69,30%. Sedangkan hasil pembersihan sediaan dengan konsentrasi ekstrak 1% terhadap P. gingivalis dan S. mutans memiliki hasil terbaik berturut-turut 59,23% dan 56,34% dengan waktu kontak masing-masing 1 menit.

Uji Aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% fraksi n-Heksan, etil, dan air dari daun dolar rambat (Ficus pumilla L.) terhadap Staphylococcus aureus dan escherichia coli dengan metode bioautografi kontak

No. 460 Saat ini bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menjadi masalah yang sangat serius karena peningkatan resistensi bakteri ini terhadap berbagai jenis antibiotik sehingga perlu dicarikan alternatif antibiotik yang terdapat dari bahan alam. Salah satu tanaman yang berpotensi memiliki efektifitas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah tanaman Dolar Rambat (Ficus pumila L.). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 96%, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air dari daun dolar rambat (Ficus pumila L.) sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan metode bioautografi. Dalam penelitian ini ekstrak etanol 96% daun Dolar Rambat (Ficus pumila L.) difraksinasi dengan nheksan, etil asetat dan air. Hasil fraksinasi kemudian dilakukan pengujian aktivitas antibakteri secara bioautografi. Hasil penelitian menunjukkan fraksi n-heksan dan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, sedangkan pada bakteri Escherichia coli fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri adalah fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri ekstrak mikroalga Spirulina platensis terhadap bakteri propionibacterium acne, stphylococcus epidermis dan enterobacter aerogenes

No. 456 Bakteri yang bersifat merugikan cenderung menjadi faktor penyebab penyakit, diantaranya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit seperti Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan Enterobacter aerogenes. Salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu Spirulina platensis. S. platensis memiliki senyawa asam lemak yang berpotensi sebagai antibakteri. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi senyawa antibakteri dari mikroalga S. platensis. Biomassa S. platensis diekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapat kemudian dipartisi menggunakan pelarut n-Heksana, etil asetat dan air. Ekstrak dan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap semua bakteri uji kemudian dilakukan pemisahan senyawa dengan kromatografi kolom (KK). Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi terbaik diidentifikasi senyawa menggunakan KG-SM. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan fraksi 2 dan fraksi 6 memiliki aktivitas antibakteri yang lebih besar. Hasil analisis pada fraksi 2, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu bis (2-ethylhexyl) phthalate (67,76%) dengan persen kemiripan 98%. Hasil analisis pada fraksi 6, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu 1,2-Benzendicarboxilic acid, bis (2-ethylhexyl) ester (50,88%) dengan persen kemiripan 91% dan teridentifikasi senyawa fenol (6,21%) dengan persen kemiripan 98% . Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mikroalga S. platensis dapat dijadikan sebagai alternatif sumber antibakteri yang bersifat alami.

pengaruh kombinasi ekstrak etanol kulit putih buah semangka (Citrullus Lanatus (Thunb.)) dan air bonggol pisang kepok (musa acuminata x Musa balbisiana (ABB Group)) terhadap pertumbuhan rambut tikus putih jantan

No. 422 Kulit putih buah semangka dan air bonggol pisang kepok secara empiris banyak digunakan untuk pertumbuhan rambut, selain itu ekstrak etanol kulit putih buah semangka dan air bonggol pisang kepok juga telah terbukti secara ilmiah mampu mempercepat pertumbuhan rambut tikus. Namun penelitian aktivitas kombinasi dari keduanya terhadap pertumbuhan rambut belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kombinasi dari kedua ekstrak tersebut yang dapat memberikan aktivitas yang paling baik untuk pertumbuhan rambut. Ekstraksi kulit putih buah semangka dilakukan dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70 %, sedangkan untuk mendapatkan sampel uji berupa air bonggol pisang kepok dengan cara menebang batang pohon pisang kurang lebih 50 cm di atas permukaan tanah kemudian batang pisangnya dilubangi tengahnya lalu ditutup dengan plastik dan didiamkan selama satu malam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi air bonggol pisang kepok dan ekstrak etanol kulit putih buah semangka (2:1) memiliki aktivitas pertumbuhan panjang rambut lebih panjang dibandingkan dengan kontrol positif (Minoxidil), sedangkan aktivitas pertumbuhan bobot rambut lebih ringan dari kontrol positif (Minoxidil).