BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Pengelolahan vaksin yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan
kerusakan vaksin dan mengurangi potensinya. Kegagalan rantai distribusi atau
penyimpanan vaksin pada suhu yang tidak sesuai adalah salah satu dari banyak
penyebab masalah ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan
kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di instalasi farmasi RSIA Pasutri
Bogor sesuai dengan pedoman pengelolaan vaksin di Fasyankes tahun 2021.
Dengan menggunakan metode penelitian cross-sectional, penelitian observasional
deskriptif ini narasumber di wawancarai melalui kuesioner dari lembar checklist
dan observasi secara langsung. Sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan di
ruang gudang farmasi, instalasi farmasi dan poliklinik. Tiga indikator menunjukkan
kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di RSIA Pasutri Bogor. Yaitu
Indikator kegiatan distribusi vaksin, keadaan lemari es dan pemeliharaan rantai
dingin (cold chain) yang berada dalam kategori baik dan sangat baik dengan
presentase antara 80 % - 100 %. Namun demikian, masih ada kekurangan. seperti
petugas yang tidak memiliki pelatihan yang cukup, peralatan yang tidak memadai,
pencatatan yang tidak lengkap, dan ruang yang tidak memadai. Kemudian, tidak
ada laporan atau catatan yang menunjukkan bahwa setiap orang yang bertanggung
jawab telah melakukan distribusi dan penyimpanan vaksin. Kesimpulan yang
diperoleh dari gambaran kesesuaian distribusi dan penyimpanan vaksin di instalasi
farmasi RSIA Pasutri Bogor sudah sesuai dengan pedoman pengelolaan vaksin di
Fasyankes tahun 2021.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari yang bersifat kompleks dan heterogen yang disebabkan oleh
berbagai penyebab dan dapat mengenai sepanjang saluran pernafasan. Laporan
Tahunan Puskesmas Kedung Badak Tahun 2021 menunjukan ISPA merupakan
penyakit yang paling banyak. Pengobatan ISPA sering kali menggunakan antibiotik
sehingga memerlukan evaluasi ketepatan pada penggunaan antibiotik untuk ISPA.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik
pada pasien ISPA di Puskemas Kedung Badak pada tahun 2021. Penelitian ini
dilakukan secara retsrospektif dengan berdasarkan Rekam medis pasien tahun
2021. Hasil Penelitian menunjukan bahwa profil pasien ISPA anak bagian atas di
Puskesmas Kedung Badak tahun 2021 berdasarkan karakteristik jenis kelamin
terbanyak kategori laki – laki (56%), karakteristik usia terbanyak kategori 0-5
tahun (64%) dan kategori berat badan terbanyak kategori 10 – 15kg (45%).
Antibiotik yang digunakan adalah Amoxicillin syrup 125 mg/5 ml (100%). Hasil
evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik ISPA anak bagian atas diketahui tepat
indikasi (64%), tepat dosis (67%), tepat frekuensi pemberian (100%), dan tepat
lama pemberian (8%).
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Berdasarkan Laporan kinerja Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian
tahun 2017 menjelaskan bahwa puskesmas yang melaksanakan pelayanan
kefarmasian sesuai standar adalah puskesmas yang telah menerapkan pemberian
informasi obat (PIO) dan terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan pengetahuan responden tentang informasi obat sebelum dan
sesudah dilakukan penyuluhan tentang informasi obat meliputi cara mendapatkan,
menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. Jenis Penelitian yang digunakan
adalah quasi eksperimental, dengan desain one group pretest posttest. Hasil
penelitian menunjukan bahwa Frekuensi responden paling banyak berjenis kelamin
laki-laki 66,34%, kategori usia dewasa menjadi responden terbanyak sebanyak
66,67%. Pendidikan paling banyak SMA 73,33% dan Pekerjaan paling banyak
Petani/Peternak sebesar 30%. Tingkat pengetahuan responden sebelum dilakukan
penyuluhan adalah kurang sebanyak 100%, namun setelah dilaksanakan
penyuluhan tentang PIO tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan baik
26,67%, cukup 66,67% dan kurang 6,67%. Hasil analisis statistik dengan uji
Wilcoxon menunjukan bahwa adanya perbedaan bermakna tangkat pengetahuan
pasien tentang informasi obat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dilihat
dari nilai p value < 0,05 (p-value = 0,000).