BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
kondisi Indonesia dengan letak geografis sebagai negara yang beriklim
tropis yang mempunyai suhu dan kelembaban cukup tinggi memudahkan fungi
untuk berkembang biak sehingga infeksi oleh fungi mudah terjadi, salah satunya
adalah Malassezia furfur penyebab penyakit panu. Salah satu tumbuhan yang bisa
dimanfaatkan sebagai antifungi adalah bawang putih (Allium sativum). Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan potensi antifungi dari perasan
bawang putih terhadap Malassezia furfur dengan menggunakan metode difusi
cakram dan difusi sumuran. Perasan bawang putih diuji fitokimia dan uji antifungi.
Pengujian antifungi dilakukan dengan metode difusi cakram dan difusi sumuran.
Perasan bawang putih mengandung metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid,
saponin, dan triterpenoid. Aktivitas antifungi perasan bawang putih terhadap fungi
Malassezia furfur pada konsentrasi 40%-80% (%v/v) dengan metode difusi cakram
memiliki diameter zona hambat berkisar 14,45 mm (Kuat) -22,03 mm (Sangat kuat)
sedangkan dengan metode difusi sumuran berkisar 23,50 mm (Sangat kuat) -31,15
mm (Sangat kuat). Oleh karena itu, aktivitas antifungi terhadap Malassezia furfur
dengan metode difusi sumuran memiliki nilai yang lebih besar daripada metode
difusi cakram.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Indonesia merupakan negara beriklim tropis sehingga memiliki tingkat
suhu dan kelembaban yang tinggi. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi pemicu
tumbuhnya fungi Malassezia furfur penyebab penyakit infeksi fungi seperti Tinea
versicolor atau biasa disebut panu. Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan
sebagai antifungi adalah lengkuas merah (Alpinia galangal L. Swartz). Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas antifungi ekstrak
etanol 96% lengkuas merah dan perasan lengkuas merah terhadap Malassezia
furfur menggunakan metode difusi cakram dan difusi sumuran. Ekstrak etanol dan
perasan lengkuas merah yang digunakan adalah 20%, 40%, dan 60% lalu sampel
tersebut diuji komponen fitokimia dan uji aktivitas antifungi. Ekstrak etanol 96%
dan perasan lengkuas mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan
triterpenoid. Rata-rata nilai diameter zona hambat ekstrak etanol pada metode
difusi sumuran yaitu 14,08 mm, 17,42 mm, dan 19 mm. Rata-rata nilai diameter
zona hambat ekstrak etanol pada metode difusi cakram yaitu 8,08 mm, 10,83 mm,
dan 14,25 mm. Rata-rata nilai diameter zona hambat perasan lengkuas pada
metode difusi sumuran yaitu 0 mm, 5,58 mm, dan 7,5 mm. Rata-rata nilai
diameter zona hambat perasan lengkuas pada metode difusi cakram yaitu
seluruhnya 0 mm. Nilai diameter zona hambat ekstrak etanol lengkuas merah
lebih tinggi dan berbeda nyata (α<0,05) dibandingkan perasan lengkuas merah
sehingga ekstrak etanol lengkuas merah lebih berpotensi sebagai antifungi.
Berdasarkan perbandingan dua metode pengujian antifungi, metode difusi
sumuran memiliki nilai zona hambat yang lebih besar.