Sebanyak 1914 item atau buku ditemukan

STABILITAS DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN PASTA GIGI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 96% BONGGOL DAN KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus (L) Merr.)

No.768 Sediaan pasta gigi dari kombinasi ekstrak etanol 96% bonggol dan kulit buah nanas (Ananas comusus (L.) Merr.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans (Nasrudin, 2019). Namun stabilitas sediaannya dalam penyimpanan belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan stabilitas fisik sediaan pasta gigi dari kombinasi ekstrak etanol 96% bonggol dan kulit buah nanas (2:1). Ekstrak etanol 96% bonggol dan kulit buah nanas diperoleh melalui metode maserasi dan pemekatan dengan rotary evaporator pada suhu 45oC. Ekstrak kental yang diperoleh diformulasikan kedalam sediaan pasta gigi dengan konsentrasi 40% kombinasi ekstrak bonggol dan kulit nanas (2:1). Uji stabilitas mutu fisik sediaan pasta gigi dilakukan melalui evaluasi sifat-sifat organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, pembentukan tinggi busa, dan aktivitas antibakteri yang terjadi selama penyimpanan pada suhu 40°C, 25°C, dan 4°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan pasta gigi memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dan termasuk kedalam kategori kuat selama 5 minggu penyimpanan, dari uji stabilitas antibakteri terjadi penurunan zona hambat pada perlakuan suhu 4°C sebesar 10,41%, pada suhu 25°C sebesar 13,2% ,dan pada suhu 40°C sebesar 17%. Dari uji stabilitas sediaan pasta gigi menunjukkan sifat- sifat organoleptik, homogenitas, dan pH yang stabil pada ketiga suhu penyimpanan, Sedang viskositas tidak stabil karena terjadi peningkatan viskositas pada perlakuan suhu 4°C dan pembentukkan busa pada sediaan pasta gigi tidak stabil karena terjadi penurunan pada semua suhu penyimpanan.

EVALUASI KESESUAIAN TERAPI OBAT HIPERTENSI BERDASARKAN JOINT NATIONAL COMMITTEE VIII PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT TUGU IBU

No.767 Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas normal yaitu 140/90 mmHg. Prevalensi hipertensi di Jawa Barat tahun 2018 sebanyak 39,6%. Hipertensi menempati urutan kelima dalam kasus penyakit tertinggi di Rumah Sakit Tugu Ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian terapi obat hipertensi berdasarkan Joint National Committee (JNC) VIII pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Tugu Ibu. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dengan kategori pasien yang rutin berobat selama 3 bulan yaitu Oktober - Desember 2019. Hasil penelitian dari total sampel sebanyak 88 pasien, paling banyak perempuan 51,1%, kelompok usia terbanyak berumur 56-65 tahun sebanyak 43,2%. Terapi yang paling banyak digunakan adalah terapi tunggal 72,7% dan 27,3% dengan terapi kombinasi. Obat yang paling banyak digunakan amlodipin 67,0%. Hasil evaluasi kesesuaian penggunaan obat hipertensi dan tercapainya tujuan terapi berdasarkan Joint National Committee (JNC) VIII sebanyak 76,1%. Hasil analisis statistik dengan chi-square terdapat hubungan antara kesesuaian terapi obat berdasarkan JNC VIII dengan tercapainya target tekanan darah dengan p value (0,000) <  (0,05).

EVALUASI PENYIMPANAN DAN PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI DI PUSKESMAS CIPAKU KECAMATAN BOGOR SELATAN

No.766 Penyimpanan obat adalah suatu kegiatan pengamanan dengan cara menempatkan obat- obatan yang di terima pada tempat yang di nilai aman, di mana kegiatan penyimpanan di sini mencakup tiga factor yaitu pengaturan tata ruang dan penyusunan stok obat, pengamanan mutu obat, serta pencatatan stok obat. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui gambaran pengelolaan penyimpana obat dan gambaran pendistribusian obat di Puskesmas Cipaku Kecamatan Bogor Selatan. penelitian ini menggunakan metode form ceklist dengan pemantauan secara prosfektif, Hasil penelitian ini penyimpanan obat di Puskesmas Cipaku Kecamatan Bogor Selatan menggunakan metode FEFO, Alphabetis, terdapat 11 jenis bentuk sediaan diantaranya tablet, Kapsul, Infus, Serbuk, Ampul, Syrup, Vial, Tube, Kaplet, BMHP, Suppositoria, Sistem penyimpanan Floor Stock, penyimpanan obat sudah sesuai dengan Permenkes No. 74 Tahun 2016. Distribusi obat di Puskesmas Cipaku Bogor Selatan dilakukan dengan mendistribusikan obat ke Puskesmas Pembantu diantaranya Pustu Bojong Kerta dan Pustu Genteng. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyimpanan obat di Puskesmas Cipaku Bogor Selatan menggunakan sistem alphabetis, FEFO dan berdasarkan bentuk sediaan, Pendistribusian obat dilakukan ke sub- sub unit Puskesmas Cipaku Bogor Selatan, Pustu Bojong Kerta dan Pustu Genteng.

AKTIVITAS INHIBISI FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PETAI (Parkia Speciosa Hassk) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No.765 Enzim α-glukosidase merupakan enzim yang berperan dalam mengkonversi karbohidrat menjadi glukosa di dalam pencernaan. Inhibisi terhadap aktivitas enzim ini dapat menyebabkan penghambatan absopsi glukosa yang bermanfaat bagi penderita diabetes. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi Estrak Etanol 70% daun petai Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan air terhadap Enzim α-glukosidase. Ekstak kental Daun petai dengan pelarut etanol 70% diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia daun peati yang di keringkan dengan rotary evapolator dan di fraksinasi menggunakan pelarut n- Heksan, Etil Asetat dan air. Uji inhibisi fraksi ekstrak etanol 70% daun petai terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing masing ekstrak Fraksi dengann konsentrasi 1%, 1,5% dan 2%. Hasil dari uji fitokimia pada ketiga fraksi ektrak menunjukan positif mengandung senyawa flavonoid, tanin dan hanya fraksi ekstrak air yang mengandung senyawa saponin. Fraksi ekstrak n-heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% memunyai daya inhibisi 99,89%, 99,15%, 98,24%. Lebih tinggi dari pada daya inhibisi fraksi ekstrak etil asetat 96,84%, 95,97%, 94,89% dan fraksi ekstrak air dengan daya inhibisi paling rendah 91,25% 92,89%, 92,91%. Hasil uji two way ANOVA menunjukan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing fraksi ekstrak terhadap daya inhibisi enzim α-glukosidase.

SITOTOKSISITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DAN EKSTRAK DAUN JOHAR (Senna siamea L.) TERHADAP PENGHAMBATAN SEL KANKER PAYUDARA MCF-7

No.764 Penyakit kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia dan meningkat tiap tahunnya. Daun sirsak dan daun johar mengandung senyawa yang dapat berperan sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi dari kombinasi ekstrak etanol daun sirsak dan daun johar terhadap sel kanker payudara MCF-7. Daun sirsak dimaserasi dengan pelarut etanol 70% sedangkan daun johar dengan etanol 96% dan dipekatkan menggunakan Rotary evaporator sehingga didapat ekstrak kental. Pengujian sitotoksik dilakukan menggunakan metode MTT assay dengan parameter nilai Inhibition Concentration (IC50). Pengujian pada ekstrak tunggal daun sirsak dan daun johar diperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 47,15 ppm dan 882,87 ppm, sedangkan nilai IC50 kombinasi ekstrak daun sirsak dan daun johar yaitu perbandingan 1:1, 1:3, dan 3:1 berturut-turut adalah 144,58 ppm, 200,35 ppm dan 89,82 ppm. Sedangkan nilai IC50 Doxorubicin sebagai kontrol positif sebesar 15,77 ppm. Hal ini menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun sirsak dan daun johar memiliki aktivitas sitotoksik lebih kecil dibandingkan dengan doxorubicin terhadap sel kanker payudara MCF- 7.

SELEKTIVITAS KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN JOHAR (Senna siamea (Lam.) H.S.Irwin & Barneby) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP SEL NORMAL 3T3-NIH

No.763 Penyakit kanker masih menjadi salah satu penyakit dengan tingkat kematian cukup tinggi di dunia. Banyak penelitian melaporkan bahwa beberapa senyawa metabolit sekunder dapat menjadi salah satu alternatif pengobatan kanker. Daun johar dan daun sirsak diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai antikanker, namun perlu diketahui keamanannya pada sel normal seperti sel fibroblast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sitotoksisitas dari kombinasi ekstrak etanol daun johar dan daun sirsak terhadap sel normal fibroblast tikus 3T3 NIH. Daun johar dimaserasi dalam pelarut etanol 96% sedangkan daun sirsak dimaserasi menggunakan etanol 70%, kemudian dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Pengujian sitotoksik dilakukan dengan metode MTT assay dengan parameter pengukuran berdasarkan nilai Inhibition Concentration (IC50 ). Perbandingan yang digunakan dalam pengujian ini yaitu 1:1, 1:3 dan 3:1. Diperoleh nilai IC50 dari kombinasi ekstrak secara berturut-turut adalah 229,40 ppm, 708,07 ppm dan 209,22 ppm. Sedangkan nilai IC50 doxorubisin 15,32 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol daun sirsak dan daun johar memiliki aktivitas sitotoksik yang sangat lemah dan dikategorikan aman terhadap sel normal fibroblast tikus 3T3 NIH dibandingkan dengan doxorubisin.

PENGARUH KOMBINASI PVA DAN HPMC TERHADAP STABILITAS FISIK PADA MASKER PEEL-OFF EKSTRAK ETANOL DAUN SAGA (Abrus precatorius L.) DAN KERSEN (Muntingia calabura L.)

No.762 Daun saga (Abrus precatorius L.) dan daun kersen (Muntingia calabura L.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan. Sediaan yang dibuat dalam penelitian ini adalah masker gel peel off ekstrak etanol daun saga (Abrus precatorius L.) dan daun kersen (Muntingia calabura L.) dengan variasi konsentrasi PVA dna HPMC. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh dari kombinasi PVA dan HPMC terhadap kestabilan formula masker peel-off selama stabilitas yang dilakukan selama 4 minggu dengan masing-masing suhu. Tiga formula sediaan masker gel peel off yaitu F1 (PVA 10% : HPMC 2%), F2 (PVA 9% : HPMC 3%), dan FIII (PVA 8%: HPMC 4%). Pengujian aktivitas antioksidan pada sediaan dilakukan dengan metode DPPH. Sedangkan, hasil evaluasi (daya lekat, daya sebar, pH, waktu kering, dan viskositas) penelitian dianalisis dengan menggunakan SPSS Kombinasi HPMC dan PVA memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai daya lekat, daya sebar, pH, viskositas, dan waktu mengering. Secara keseluruhan, F III yang memiliki stabilitas paling baik yang dilihat dari hasil uji stabilitas selama 28 hari yang menunjukkan bahwa F III terlah memenuhi persyaratan yang baik.

INDUKSI APOPTOSIS SEL KANKER PAYUDARA MCF-7 DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH BISBUL (Dyospyros discolor Willd.) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen)

No.761 Kanker payudara adalah suatu kondisi ketika sel kanker terbentuk di jaringan payudara. Dalam kalangan wanita penyakit ini merupakan salah satu kanker yang paling sering menyebabkan kematian. Buah bisbul (Diospyros discolor Willd.) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai antikanker seperti flavonoid, tanin, saponin, fenol dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola kematian sel dari ekstrak etanol buah bisbul dan kulit jengkol serta kombinasi keduanya terhadap sel kanker payudara MCF-7. Ekstraksi tumbuhan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk buah bisbul dan pelarut etanol 70% untuk kulit jengkol, kemudian ekstrak dipekatkan dengan rotary vacum evaporator dan waterbath. Pengujian induksi apoptosis dilakukan dengan menggunakan pewarnaan trypan blue. Parameter yang diukur adalah kemampuan sel dalam menyerap warna dan persentase kematian sel akibat apoptosis. Perbandingan kombinasi ekstrak buah bisbul dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut- turut 1:1, 1:2 dan 2:1. Perlakuan tunggal dan kombinasi menunjukan aktivitas induksi apoptosis dengan tampak sel mampu menyerap warna dan menyatu dengan permukaan serta persentase kematian sel. Hal ini menunjukan bahwa tunggal dan kombinasi ekstrak buah bisbul dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

ANALISIS BIAYA PENGOBATAN PASIEN PROLANIS KLINIK INSANI CITEUREUP PERIODE JULI-SEPTEMBER 2020

No.760 Prolanis adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara integrasi melibatkan peserta, Fasilitas kesehatan dan badan penyelenggaraan jaminan sosial (BPJS). Berdasarkan data dari pembiayaan penyakit kronis paska pensiun yang dikeluarkan BPJS kesehatan terbesar adalah biaya Hipertensi dan Diabetes mellitus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan oleh pasien prolanis Klinik Insani Citeurep, mengetahui sosiodemografi pasien dan terapi obat pasien prolanis. Penelitian dilakukan dengan metode deskripstif dengn mengambil data resep secara retrospektif pada bulan Juli-september 2020. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa profil usia pasien prolanis yang paling banyak adalah usia 45-61 tahun sebanyak 53%, Jenis Kelamin pada terbanyak terdapat pada perempuan sebanyak 83.3%, Untuk pendidikan terakhir paling banyak adalah tamatan SMA sebanyak 53.60% ,dan untuk Pekerjaan yang paling banyak adalah sebagai ibu rumah tangga sebanyak 83.3%. Profil obat terbanyak pada pasien hipertensi adalah golongan obat Beta Blocker yaitu Bisoprolol , untuk pasien diabetes golongan obat terbanyak adalah Biguanid yaitu metformin, untuk pasien CAD golongan obat tebanyak adalah Beta bloker yaitu bisoprolol , dan untuk pasien asam urat yang terbanyak adalah golongan obat xanthine oxidase yaitu allopurinol. Total biaya medik langsung pada bulan juli sebanyak Rp. 1.087.802, pada bulan Agustus Rp.730.955 sedangkan pada bulan September adalah sebanyak Rp.482.760 . Dan untuk total keseluruhannya biaya medik langsung pada pasien prolanis yaitu sebanyak Rp. Rp. 2.301.535 , Sedangkan untuk biaya medik tidak langsung pasien prolanis pada bulan Juli sebesar Rp.102.000, bulan Agustus Rp.85.000 dan pada bulan September yaitu Rp.80.000 dan untuk total biaya medik tidak langsung yaitu sebanyak Rp. 267.000

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL KOMBINASI EKSTRAK SERAI WANGI ( Cymbopogon nardus L)DAN DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No.759 Penyakit kulitbiasanya diakibatkan oleh bakteri, jamur, maupun parasit salahsatu diantaranya yakni Staphylococcus epidermidis bakteri gram positif dan merupakan bakteri flora normal kulit dimana menyerang ketika keadaan imunitas idividu melemah. Penyakit yang dapat disebabkan oleh bakteri ini antara lain jerawat dimana bakteri inidapat memperparah kondisi jerawat tersebut.Serai wangi (Cymbopogon nardus L) dan daun sirih hijau (Piper betle L) mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan steroid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak dan formulasi sediaan gel kombinasi ekstrak serai wangi dan daun sirih hijau terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermis. Serai wangi dan daun sirih hijau dimaserasi dengan etanol 70%. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan masing-masing perbandingan 1:3, 1:5, dan 1:7, kontrol positif uji ekstrak (klindamisin HCL) sedangkan kontrol positif uji sediaan gel (Gel klindamisin 0,1%). Formula sediaan gel kombinasi ekstrak serai wangi dan daun sirih hijau diuji mutu fisik sediaan (organoleptik, daya sebar, pH, viskositas) dan uji aktivitas antibakteri. Dilakukan uji stabilitas dengan metode Cycling test pada sediaan yang memiliki diameter zona hambat terbesar. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi ekstrak dan sediaan gel serai wangi dan daun sirih hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococus epidermis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori sangat kuat pada ekstrak dan sediaan gel pada perbandingan 1:7 dengan nilai rerata diameter zona bening sebesar 21,12 mm dikategorikan sangat kuat dan 19,85 mm dikategorikan kuat.