Sebanyak 90 item atau buku ditemukan

PERBANDINGAN KEBERHASILAN TERAPI PASIEN COVID- 19 DENGAN KOMORBID DAN NON KOMORBID DI RSUD CIAWI PERIODE OKTOBER – DESEMBER 2020

No. 862 Penyakit Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus. Sebagian besar orang akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pasien, penyakit komorbid, perbandingan keberhasilan terapi pada pasien penyakit Covid- 19 komorbid dan non komorbid. Penelitian bersifat retrospektif. Untuk pengambilan data melalui rekam medis pasien rawat inap Covid-19 periode Oktober-Desember 2020. Data dianalisa statistik deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil dari penelitian ini yaitu di dapat (63 pasien) sehat dan (32 pasien) meninggal komorbid dan non komorbid, serta terdapat (39 pasien) sehat komorbid, (24 pasien) sehat non komorbid, dan (23 pasien) meninggal komorbid, (9 pasien) meninggal non komorbid, lebih banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki (54 pasien), kelompok usia yang rentan terpapar ialah usia 46–55 tahun (36 pasien), frekuensi tertinggi pendidikan SMA (39 pasien), frekuensi tertinggi pekerjaan IRT (36 pasien), komorbid terbanyak yaitu diabetes melitus (28 pasien) dan hipertensi (19 pasien), serta rata-rata lama hari rawat pasien sehat komorbid dan non komorbid (10hari), meninggal komorbid (3hari), meninggal non komorbid (4hari). Hasil perbandingan keberhasilan terapi pada penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada pasien sehat dan meninggal baik komorbid maupun non komorbid dapat dilihat dari nilai P-value > 0,05 (P-value sebesar 0.428). Kata kunci: Covid-19, keberhasilan terapi, komorbid dan non komorbid

PERBANDINGAN EFEK TERAPI OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD SEKARWANGI

No. 852 Penyakit dispepsia merupakan penyakit yang cukup banyak dijumpai di RSUD Sekarwangi. Dispepsia lebih sering disebabkan oleh inhibisi/tukak lambung sehingga merangsang saraf vagus terhubung langsung kepusat muntah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sosiodemografi pasien dan membandingkan efek terapi obat dispepsia pasien rawat inap berdasarkan lama hari rawat. Penelitian bersifat retrospektif. Data gambaran sosiodemografi, dan lama hari rawat inap dilihat pada rekam medis pasien periode Januari 2017-Mei 2021. Terdapat 81 pasien yang memenuhi kriteria serta didapat data sosiodemografi: umur, jenis kelamin, pekerjaan dan data pendidikan terakhir pasien. Data dianalisis secara statistik hasil disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Obat yang digunakan oleh pasien dispepsia dan lama hari rawat pasien yaitu PPI + Sitoprotektif (12%, 3,45 hari), PPI + Antasida (4%, 2,6 hari), PPI + H2 Blocker (5%, 2,75 hari), PPI + Sitoprotektif + Antasida (7%, 3,16 hari), PPI + Sitoprotektif + H2 Blocker (1%, 3 hari),PPI + Sitoprotektif + Prokinetik (1%, 5 hari), PPI + Antasida + H2 Blocker (1%, 7 hari), H2 Blocker + Antasida (4%, 3 hari), H2 Blocker + Sitoprotektif (14%, 2,3 hari), PPI (27%, 3,5 hari), dan H2 Blocker (24%, 2,94 hari). Hasil efek terapi obat dispepsia yang digunakan yaitu terdapat perbedaan yang bermakna dengan. nilai P: 0,755. Kata kunci: Dispepsia, Obat Dispepsia, Efek Terapi.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE PEDIATRI RAWAT INAP DENGAN METODE GYSSENS DI RSUD CIAWI BOGOR

No. 844 Terapi antibiotik pada pasien diare Pediatri yang kurang tepat dapat menyebabkan resisten bakteri terhadap antibiotik.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien Pediatrikasus diare di Instalasi rawat inap RSUD Ciawi Bogor periode Januari-Desember 2019 berdasarkan metode Gyssens.Data diperoleh dari rekam medik, dengan metode retrospektif meliputi data sosiodemografi, antibiotik yang digunakan, dosis, frekuensi, lama pemberian antibiotik dan rute pemberian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien Pediatrimengalami kasus diare terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki (58%), kelompok umur terbanyak pasien 1-5 tahun (57%), antibiotik yang terbanyak digunakan yaitu Cefatoxime injeksi sebanyak (50%). Hasil evaluasi menggunakan metode Gyssenskesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0 penggunaan antibiotik tepat sebanyak 33 (37%), kategori IIIA pemberian antibiotik terlalu lama sebanyak 8 (9%), kategori IIIB pemberian antibiotik terlalu singkat sebanyak 27 (30%), kategori IVA ada antibiotik lain yang lebih efektif sebanyak 11 (12%) dan kategori IVC terdapat alternatif antibiotik yang lebih murah sebanyak 11 (12%). Kata kunci : kesesuaian penggunaan antibiotik, antibiotik, diare, metode Gyssens