Sebanyak 28 item atau buku ditemukan

TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS KESEHATAN RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN FARMASI DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

No.791 Pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan terpadu untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Kepuasan merupakan perasaaan yang muncul yaitu senang atau kecewa pada seseorang yang telah membandingkan hasil kinerja dan harapan. Pelayanan dan kepuasan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena dengan kepuasan pihak terkait dapat saling mengoreksi sejauh mana pelayanan yang diberikan semakin baik atau buruk. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan farmasi di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dilakukan secara deskriptif dengan prospektif menggunakan kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien BPJS rawat jalan yang mengambil obat di Instalasi Puskesmas Bogor Selatan periode April-Juni 2021. Sampel penelitian yang diambil secara random sampling yaitu sebanyak 97 orang. Hasil dari penelitian ini kategori jenis kelamin tertinggi perempuan 59 orang (60,8%), usia paling banyak 26-35 tahun (33%), pekerjaan karyawan swasta 30 orang (30,9%), pendidikan SMA 52 orang (53,6%). Tentang tingkat kepuasan pasien di Instalasi Puskesmas Bogor Selatan menunjukkan bahwa kategori tingkat kepuasan yaitu pada dimensi kehandalan sebanyak (79,24%), dimensi ketanggapan (77,7%), dimensi jaminan (80,64%), dimensi empati (79,06%), dan terakhir yaitu dimensi bukti fisik sebanyak (77,55%). Hasil data dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat jalan di Instalasi Puskesmas Bogor Selatan berdasarkan 5 dimensi adalah puas dengan persentase sebanyak (78,84%)

EVALUASI PELAYANAN INFORMASI OBAT UNTUK PASIEN RAWAT JALAN BPJS DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

No.788 Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care) (Kemenkes, 2016).Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui data sosiodemografi pasien rawat jalan BPJS dan mengetahui hasil persentase dari penelitian kegiatan PIO dan tersampaikannya informasi obat dengan tercapai atau tidaknya berdasarkan nilai keberhasilan indikator mutu di Puskesmas Bogor Selatan. Dilakukan secara prospektif dimulai bulan Maret – Mei 2021. Dengan sampel 97 pasien diperoleh pasien terbanyak yaitu perempuan dengan hasil 72% dan untuk hasil PIO dengan jumlah obat 217 diperoleh hasil yang sudah disampaikan dan mencapai nilai keberhasilan yaitu, nama obat 100% sudah mencapai nilai keberhasilan sebesar 90%, sediaan 94%, sudah mencapai nilai keberhasilan sebesar 90%, dosis 100% sudah mencapai nilai keberhasilan sebesar 100%, cara pakai 100% sudah mencapai nilai keberhasilan sebesar 100%, indikasi 100% sudah mencapai nilai keberhasilan sebesar 100%. Informasi obat yang sudah disampaikan, namun belum mencapai nilai keberhasilan indikator mutu yaitu, penyimpanan 8% belum mencapai hasil keberhasilan sebesar 90%, efek samping 51% belum mencapai nilai keberhasilan sebesar 90%, dan terdapat indikator PIO yang belum disampaikan yaitu, kontraindikasi, stabilitas dan interaksi obat.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) BAGIAN ATAS DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

No.782 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh penyakit menular dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala biasanya sangat cepat dalam beberapa jam atau paling lama dalam beberapa hari. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan infeksi dan resiko timbulnya resistensi. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien, gambaran kategori penyakit ISPA, gambaran penggunaan antibiotik ISPA dan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik berdasarkan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter 2013 meliputi tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemberian dan tepat frekuensi pada pasien ISPA di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan Cross sectional dengan pengambilan data sekunder secara retrospektif dengan data sekunder berupa rekam medik sebanyak 96 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan data sosiodemografi berjenis kelamin perempuan lebih tinggi sebanyak 56 pasien (58%), usia paling tinggi 17-25 tahun sebanyak 25 pasien (26%), Kategori penyakit ISPA terbanyak yaitu faringitis sebanyak 68 pasien (71%). Antibiotik yang digunakan pada ISPA 100% diberikan antibiotik amoksisilin dengan evaluasi ketepataan obat yaitu 100% , ketepatan dosis 100%, ketepatan frekuensi 100% dan ketepatan lama pemberian 0 pasien (0%). Hasil dapat disimpulkan penggunaan antibiotik pasien ISPA cukup tinggi dan ketepatan lama pemberian yang masih tidak rasional.

UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE SECARA IN VITRO EKSTRAK ETANOL 70% KENTOS KELAPA (Cocos nucifera L.)

No.783 Diabetes Melitus (DM) ialah penyakit gangguan metabolik dikarenakan insulin yang diproduksi oleh pankreas tidak cukup atau tubuh kurang berdaya mengaplikasikan insulin yang dihasilkan secara efektif. Pengobatan DM bisa dilakukan dengan terapi insulin atau oleh antidiabetik oral seperti penghambat α- glukosidase. Obat penghambatan enzim α-glukosidase digunakan untuk DM tipe 2. Banyak tumbuh-tumbuhan yang memiliki aktivitas menghambat enzim α- glukosidase, diantaranya tumbuhan yang mengadung flavonoid. Tujuan dilakukannya penelitian ialah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dari ekstrak etanol 70% kentos kelapa menggunakan metode maserasi. Pengujian hambatan enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro dengan menggunakan ELISA Reader (Bioteck). Kandungan fitokimia ekstrak etanol 70% kentos kelapa menunjukan adanya senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil pengujian aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase menunjukan rata-rata pada tiap ulangan persen inhibisi berturut-turut pada ekstrak adalah 2,144%, 1,942%, 2,063%, 2,589%, dan 3,762%, dan pada akarbosa berturut-turut adalah 30,284%, 70,478%, 81,913%, 93,832% dan 97,99%

EVALUASI PENGGUNAAN AMOKSISILIN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA PEDIATRI DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

No.784 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menjadi penyebab utama mortalitas serta morbiditas penyakit infeksi dunia, menyebabkan tingginya penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik anak harus diperhatikan dengan benar. Masalah yang sering terjadi pada resep anak yakni menerima dosis berlebih (menyebabkan toksisitas) atau dosis kurang (menyebabkan resistensi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien ISPA pediatri, gambaran penyakit ISPA pediatri, pola penggunaan amoksisilin pada pengobatan ISPA pediatri dan mengetahui ketepatan penggunaan amoksisilin pada pasien ISPA pediatri dengan melihat tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi, dan tepat lama pemberian dengan panduan Pharmaceutical Care 2005 dan Panduan Praktik Klinik Bagi dokter (IDI) edisi 1 tahun 2013. Penelitian ini meggunakan metode deskriptif observasional, dengan pendekatan cross sectional. Data sekunder penelitian ini diambil secara retrospektif dari simpus pasien, berjumlah 88 pasien periode September- Desember 2020 di Puskesmas Bogor Selatan. Hasil penelitian menunjukkan umur yang mendominasi yaitu 4-5 tahun sebanyak 66 pasien (75%), 48 pasien (55%) adalah laki-laki, dengan BB paling banyak ditemui yakni 13-19 kg sebanyak 78 pasien (89%). Terdapat 56 pasien (64%) tonsillitis dan 32 pasien (36%) faringitis dengan tingkat penggunaan amoksisilin 100%. Berdasarkan hasil evaluasi ketepatan penggunaan amoksisilin diperoleh tepat obat 100%, tepat dosis 41 pasien (47%), tepat frekuensi 100% dan tepat lama pemberian 100% tidak tepat.

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ORAL PADA PASIEN DIARE BALITA DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

No.785 Diare merupakan terjadinya buang air besar dengan konsistensi tinja lebih encer dari biasanya, dengan frekuensi 3 kali dalam sehari atau lebih dalam 24 jam. Dalam penatalaksanaan diare pada balita, obat yang digunakan terdiri dari oralit dan zink. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan pengobatan pada pasien diare balita di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deksriptif yang bersifat retrospktif dengan pendekatan cross sectional. Data penelitian ini diambil dari data sekunder berupa data rekam medik pasien, dengan periode September – Desember 2020.Sampel yang diambil sebanyak 106 pasien dengan metode total sampling. Adapun hasil penelitian menunjukkan, usia paling banyak 2-3 tahun (54%), jenis kelamin laki-laki (61%), penggunaan oralit (38%), zink (1%), dan oralit+zink (61%). Evaluasi penggunaan obat oral pada pasien diare balita; Evaluasi tepat pemilihan obat oralit, zink, dan oralit+zink terdapat 100% sudah tepat; Evaluasi tepat pemberian dosis oralit, zink, dan oralit+zink terdapat 97%, 100%, dan 74% tidak tepat dosis; Evaluasi tepat interval/frekuensi zink 100% sudah tepat, oralit dan oralit+zink terdapat 97% dan 74% tidak tepat; Evaluasi tepat lama pemberian oralit, zink, dan oralit+zink terdapat 100% sudah tepat.