Sebanyak 38 item atau buku ditemukan

TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN TERONG UNGU (Solanum melongena (L.) ) TERHADAP Artemia salina SECAR BRINE SHRIMP LETHALITY TEST ( BSLT )

No. 868 Terong ungu merupakan tumbuhan suku solanaceae yang memiliki kegunaan sebagai bahan makanan dan banyak digunakan sebagai tanaman obat. Salah satu bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat adalah daunnya. Daun terong ungu mengandung senyawa alkaloid, solasonine, solasodine, solanine, flavonoid, tanin, steroid , glikosida jantung, antrakuinon, asam klorogenat, asam hidrokafeik dan asam protekatekuat. Senyawa tersebut diduga berpotensi sebagai obat antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi antikanker ekstrak etanol daun terong ungu melalui pengujian toksisitas ekstrak terhadap Artemia salina dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 40% , 70% dan 96%. Pengujian toksisitas dinyatakan dengan nilai LC50. Hasil pengujian toksisitas menunjukan nilai LC50 yang paling lemah hingga paling kuat adalah ekstrak etanol 40%, ekstrak etanol 96%, ekstrak etanol 70% dan kontrol positif Cyclophospamide dengan nilai berturut turut 357.83 ppm, 147.28 ppm,133.74 ppm, dan 53.55 ppm. Ketiga ekstrak berada pada tingkat toksisitas sedang menurut Clarkson dan memilliki nilai LC50 dibawah 1000 ppm dengan nilai LC50 terendah pada ekstrak etanol 70% daun terong ungu sehingga dianggap memiliki bioaktivitas dan dapat diteliti lebih lanjut aktivitas antikankernya. Kata Kunci = Daun terong ungu, Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), LC50 ,Toksisitas, Anti kanker.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN LOTION EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L.) DAN DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis)

No. 867 Antioksidan ialah senyawa yang bisa merusak, menahan atau mencegah, terjadinya oksidasi lemak. Daun kemangi serta daun binahong merupakan tumbuhan yang bisa digunakan menjadi obat. Alkaloid, flavonoid, dan tanin terdapat pada daun kemangi dan binahong. Bahan kimia ini memiliki kapasitas untuk merusak radikal bebas bila digunakan sebagai antioksidan. Lotion ialah sediaan kosmetik untuk aplikasi luar pada kulit yang berupa emulsi dengan kandungan air lebih banyak daripada minyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan antioksidan serta stabilitas yang sangat baik dari komposisi lotion daun kemangi dan daun binahong sesuai uji mutu. Ekstrak daun kemangi dan ekstrak daun binahong diproduksi menggunakan ekstraksi maserasi dan dimasukkan ke dalam komposisi lotion dalam penelitian ini. Uji aktivitas antioksidan mencakup tiga kelompok perlakuan dengan berbagai perbandingan yaitu 2:1, 3:1 serta 4:1, dan satu kontrol positif (Herborist) Menggunakan spektrofotometri UV-vis dan teknik penangkal radikal bebas (DPPH). Lotion diuji selama empat minggu di 3 suhu yg tidak selaras: suhu kamar (27°C), suhu rendah (4°C), serta suhu panas (40°C). yang akan terjadi evaluasi sediaan membagikan dengan parameter sediaan lotion, yaitu rona hijau, aroma khas ekstrak dan parfume, homogen dengan pH 5-6,5, viskositas dengan nilai 1000-2800 cP, daya sebar nilai 7-10 cm, dan daya lekat nilai 1,00-1,84 menit. Antioksidan yang paling kuat terdapat pada rasio 4:1 dan memiliki nilai IC50 sebesar 38,34 ppm, menunjukkan bahwa ia merupakan antioksidan yang sangat kuat. Pada pengujian stabilitas dilihat dari uji pH formulasi yang memiliki sediaan paling baik terdapat pada formulasi ke-3, daya sebar, daya lekat, dan viskositas semuanya dievaluasi untuk semua formula. Kata kunci: Antioksidan, Ocimum americanum l., Anredera cordifolia, Lotion , Stabilitas

FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK KAYU SECANG (Cesalpinia sappan L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI

No.170 Lip balm yaitu pelembab bibir dalam bentuk sediaan semi solid dalam bentuk bahan utama yaitu minyak, lemak dan lilin serta berfungsi untuk memberikan perawatan pada kulit bibir dengan anggapan akan memberikan wajah yang lebih percaya diri. Lip balm sendiri yaitu sediaan kosmetik dengan basis hamper sama dengan formulasi lipstick, namun tanpa adanya warna atau trasparan. Banyaknya lip balm yang sudah terdapat warna di mendorong peneliti membuat sediaan lip balm ekstrak kayu secang sebagai pewarna alami dari ekstrak kayu secang (Caesalpinia Sappan L) untuk menghindari pewarna sintetik. Tujuan dari penelitian kali ini membuat sediaan lip balm dengan metode infusa dan konsentrasi warna alami. Dibuat 3 formulasi yaitu 0,3%, 0,6% dan 0,9% dengan ekstrak kering kayu secang lalu dilakukan evalusi sediaan meliputi uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji organoleptik dan uji kesukaan. Hasil pengujian evaluasi menunjukan hasil yang baik denganp pengamatan selama 14 hari dan hasil uji kesukaan menunjukan konsentrasi 0,6% yang paling disukai.

FORMULASI SEDIAAN GEL DARI EKSTRAK DAUN GAHARU (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) TERHADAP LUKA BAKAR MENCIT (Mus musculus)

No.165 Daun gaharu (Gyrinops versteegii (Gilg) Domke) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif flavonoid, tanin dan fenol. Formulasi sediaan gel diketahui paling efektif dan efisien obat untuk luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula sediaan gel ekstrak etanol 96% daun gaharu yang memiliki efektivitas terhadap luka bakar mencit. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan memformulasikan sediaan gel ekstrak daun gaharu pada konsentrasi 2% (Kelompok I), 4% (Kelompok II), 8% (Kelompok III), kontrol positif (Kelompok IV) dan kontrol negatif (Kelompok V). Uji efektivitas sediaan gel ekstrak daun gaharu dalam proses penyembuhan luka bakar dilakukan selama 14 hari pengamatan. Hasil uji efektivitas sediaan gel ekstrak daun gaharu hingga hari ke-14 adalah Kelompok I (58.66%), Kelompok II (50.00%), Kelompok III (65.33%), Kelompok IV (57.33%), dan Kelompok V (50.66%). Kesimpulan yang didapatkan yaitu hasil perbandingan terbaik ditunjukkan pada kelompok III konsentrasi 8% dengan persentase penyembuhan sebesar 65.33%, sedangkan kelompok perlakuan yang menggunakan Bioplacenton Gel® memperoleh persentase penyembuhan sebesar 57.33% yang artinya formula dengan konsentrasi 8% lebih efektif dalam proses penyembuhan luka bakar dibandingkan dengan Bioplacenton Gel®.

UJI INHIBISI ENZIM α-GLUKOSIDASE SECARA IN VITRO EKSTRAK ETANOL 70% KENTOS KELAPA (Cocos nucifera L.)

No.783 Diabetes Melitus (DM) ialah penyakit gangguan metabolik dikarenakan insulin yang diproduksi oleh pankreas tidak cukup atau tubuh kurang berdaya mengaplikasikan insulin yang dihasilkan secara efektif. Pengobatan DM bisa dilakukan dengan terapi insulin atau oleh antidiabetik oral seperti penghambat α- glukosidase. Obat penghambatan enzim α-glukosidase digunakan untuk DM tipe 2. Banyak tumbuh-tumbuhan yang memiliki aktivitas menghambat enzim α- glukosidase, diantaranya tumbuhan yang mengadung flavonoid. Tujuan dilakukannya penelitian ialah untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dan aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dari ekstrak etanol 70% kentos kelapa menggunakan metode maserasi. Pengujian hambatan enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro dengan menggunakan ELISA Reader (Bioteck). Kandungan fitokimia ekstrak etanol 70% kentos kelapa menunjukan adanya senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil pengujian aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase menunjukan rata-rata pada tiap ulangan persen inhibisi berturut-turut pada ekstrak adalah 2,144%, 1,942%, 2,063%, 2,589%, dan 3,762%, dan pada akarbosa berturut-turut adalah 30,284%, 70,478%, 81,913%, 93,832% dan 97,99%

AKTIVITAS INHIBISI FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PETAI (Parkia Speciosa Hassk) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No.765 Enzim α-glukosidase merupakan enzim yang berperan dalam mengkonversi karbohidrat menjadi glukosa di dalam pencernaan. Inhibisi terhadap aktivitas enzim ini dapat menyebabkan penghambatan absopsi glukosa yang bermanfaat bagi penderita diabetes. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi Estrak Etanol 70% daun petai Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan air terhadap Enzim α-glukosidase. Ekstak kental Daun petai dengan pelarut etanol 70% diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia daun peati yang di keringkan dengan rotary evapolator dan di fraksinasi menggunakan pelarut n- Heksan, Etil Asetat dan air. Uji inhibisi fraksi ekstrak etanol 70% daun petai terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing masing ekstrak Fraksi dengann konsentrasi 1%, 1,5% dan 2%. Hasil dari uji fitokimia pada ketiga fraksi ektrak menunjukan positif mengandung senyawa flavonoid, tanin dan hanya fraksi ekstrak air yang mengandung senyawa saponin. Fraksi ekstrak n-heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% memunyai daya inhibisi 99,89%, 99,15%, 98,24%. Lebih tinggi dari pada daya inhibisi fraksi ekstrak etil asetat 96,84%, 95,97%, 94,89% dan fraksi ekstrak air dengan daya inhibisi paling rendah 91,25% 92,89%, 92,91%. Hasil uji two way ANOVA menunjukan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing fraksi ekstrak terhadap daya inhibisi enzim α-glukosidase.

INDUKSI APOPTOSIS SEL KANKER PAYUDARA MCF-7 DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH BISBUL (Dyospyros discolor Willd.) DAN KULIT JENGKOL (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen)

No.761 Kanker payudara adalah suatu kondisi ketika sel kanker terbentuk di jaringan payudara. Dalam kalangan wanita penyakit ini merupakan salah satu kanker yang paling sering menyebabkan kematian. Buah bisbul (Diospyros discolor Willd.) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C. Nielsen) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat berpotensi sebagai antikanker seperti flavonoid, tanin, saponin, fenol dan triterpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pola kematian sel dari ekstrak etanol buah bisbul dan kulit jengkol serta kombinasi keduanya terhadap sel kanker payudara MCF-7. Ekstraksi tumbuhan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% untuk buah bisbul dan pelarut etanol 70% untuk kulit jengkol, kemudian ekstrak dipekatkan dengan rotary vacum evaporator dan waterbath. Pengujian induksi apoptosis dilakukan dengan menggunakan pewarnaan trypan blue. Parameter yang diukur adalah kemampuan sel dalam menyerap warna dan persentase kematian sel akibat apoptosis. Perbandingan kombinasi ekstrak buah bisbul dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut- turut 1:1, 1:2 dan 2:1. Perlakuan tunggal dan kombinasi menunjukan aktivitas induksi apoptosis dengan tampak sel mampu menyerap warna dan menyatu dengan permukaan serta persentase kematian sel. Hal ini menunjukan bahwa tunggal dan kombinasi ekstrak buah bisbul dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.