Sebanyak 57 item atau buku ditemukan

SKRINING DAN ISOLASI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT DARI GINSENG KUNING (Rennellia elliptica Korth.) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 130 Dalam dua dekade ini, mikroba endofit merupakan salah satu sumber utama mikroba penghasil antibiotik. Salah satunya adalah jenis jamur endofit yang diketahul dapat menghasilkan berbagal senyawa bioaktif. Pada penelitian ini, dilakukan skrining, isolasi, dan uji aktivitas antibakteri dari Ginseng Kuning (Rennellia elliptica Korth.). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi dan menghasilkan isolat yang paling aktif yaitu ekstrak GKBt-2. Perbanyakan kultur jamur endofit GKBt-2 dalam media Glucose-Yeast extract-Peptone (GYP) yang dilanjutkan dengan ekstraksi etil asetat menghasilkan ekstrak GKBt-2 sebanyak 275,5 mg berwama merah tua. Isolasi senyawa aktif dari ekstrak GKBt-2 dilakukan menggunakan kromatografi kolom silika gel, diperoleh senyawa murni F.3. Penentuan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) terhadap F.3 menggunakan metode mikrodilusi. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol dan eritromisin. Nilai MIC untuk bakteri Staphylococcus aureus dari F.3. kloramfenikol, dan eritromisin masing-masingsebesar 64 pg/mL, 16 pg/mL, dan 8 pg/mL. Nilai MIC untuk bakteri Escherichia coli dari F.3, kloramfenikol, dan eritromisin masing-masing sebesar 64 pg/mL, 4 ug/mL, dan 16 g/mL.

IDENTIFIKASI MIKROBA PADA FESES MUSANG (Paradoxorus hermaproditus) YANG DIBERI RANSUM BERBEDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KADAR KAFEIN KOPI LUWAK

No: 123 Kopi ( Coffea sp ) adalah salah satu sumber kafein, dalam satu sajian kopi mengandung sekitar 100-150 mg kafein untuk satu cangkir ( 200 MI ). Kafein mempunyai daya kerja sebagai stimulant system syaraf pusat, stimulant otot jantung, relaksasi otot polos dan diuretic ringan. Efek kafein dapat menigkat dan dapat menyebabkan kofeinisme apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat atau dikonsumsi secara berlebihan. Kopi luwak ( Civet coffee ) memang berasal dari kotoran hewan luwak ( Paradoxorus hermaproditus ), walaupun berasal dari kotoran hewan, kopi luwak ini adalah kopi termahal di Indonesia. Menurut sejarahnya, kopi luwak berasal dari Indonesia, yaitu pada zaman penjajahan Belanda. Dalam penelitian di Universitas Indonesia, tebukti bahwa kadar kafein yang terkandung pada kop! luwak asli hanya sekitar 0,5 % sampai dengan 1 %, itu dikarenakan proses fermentasipada pencernaan tuwak ini meningkatkan kualitas kopi karena selain berada pada suhu fermentasi optimal yaitu 24 -26° C juga dibantu dengan enzim dan bakteri yang ada pada pencernaan luwak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri atau ragam mikroba yang terdapat dalam pencernaan atau feses luwak dan mengetahui ransum mana yang menghasilkan kadar kafein paling rendah pada kopi luwak. Metode yang digunakan untuk ‘dentifikasi mikroba adalah metode colony PCR dan untuk analisa kafein menggunakan KCKT ( kromatografi cair kinerja tinggi ). Kafein disari dari bubuk kopi menggunakan aquadest dan dipanaskan, kemudian larutan disuntikan ke alat KCKT merek Shimadzu LC-ting, menggunakan kolom Hypersil ODS C 18,5 UM, 100 x 4,6 mm dan detector VWD dengan UV pada panjang gelombang 272 nm. Fase gerak mengunakan campuran aquadesfilter : methanol ( 70 % : 30 % ) dengan kecepatan alir 0,75 Mi/menit dan pada temperature 35°C. Hasil untuk identifikasi mikroba pada feses terdapat bakteri Enterococcus durans, Lactococcus garvieae, dan Enterococcus sulfurous. Hasil uji organoleptik pada masing-masing sampel kopi yaitu: sampel A memiliki tektur yang khas dan bau wangi serta memiliki rasa pahit sedikit manis, sampel B memiliki tekstur khas, bau sedikit wangi dan rasa yang pahit, dan untuk sampel kopi C memiliki tekstur yang khas dan rasa yang pahit. Sedangkan untuk analisa kafein dalam kopi luwak bubuk untuk sampel A sebesar 0,5999%, B sebesar 0,6014%, dan untuk sampel C sebesar 0,6014%.

EVALUASI AKTIVITAS ANTIBIOTIK SENYAWA BL-22 PRODUKSI ACTINOMYCETES INDONESIA

No: 122 Kasus penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri semakin meningkat. Pengobatan penyakit infeksi salah satunya dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik sebagai antiinfeksi yang berlebihan dan kurang terarah menyebabkan terjadinya resistensi. Actinomycetes adalah bakteri yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap beberapa mikroorganisme patogen. Telah dilakukan penelitian pada senyawa BL-22 yang diketahui memiliki aktifitas tinggi sebagai antibiotik secara kualitatif. Penelitian ini telah dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibiotik senyawa BL-22 secara kuantitatif dan prediksi mekanisme kerja dari senyawa murni produksi Actinomycetes selama 6 bulan. Aktivitas antibiotik tersebut ditunjukkan dengan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration), MBC (Minimum Bacterisid Concentration) dan kebocoran sel. Penelitian dilakukan dengan metode mikrodilusi untuk MIC dan MBC pada 10 bakteri uji (Escherichia coli, Salmonella thypi, Staphylococus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella paratyphi, Salmonella enteridis, Streptococcus pneumonia, Klebsiella pneumonia, Bacillus subtilis dan Mycobacterium smegmatis). Pengujian kebocoran protein, RNA, dan DNA menggunakan 3 bakteri uji (Staphylococus aureus, Salmonella paratyphi, dan Mycobacterium smegmatis) menggunakan metode spektrofotometri dengan panjang gelombang 260 nm untuk protein dan 280 nm untuk asam nukleat . Nilai MIC berkisar antara 6,25-100 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai terendah 200 ug/mL, sedangkan untuk beberapa bakteri mencapai lebih dari 800 pg/mL. Nilai MBC memiliki nilai rata-rata empat kali lebih tinggi dibandingkan MIC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua bakteri telah mengalami resistensi. Hasil penelitian juga menunjukkan telah terjadi kebocoran sel berupa kebocoran protein, RNA dan DNA dari bakteri uji oleh perlakuan senyawa aktif. Perlakuan senyawa BL-22 secara umum menghasilkan tingkat kebocoran sel tertinggi dibanding antibotik komersial (amoksilin, vankomisin, dan rifampisin).

ANALISIS KANDUNGAN GABA (GAMMA-AMINOBUTYRIC ACID) DALAM BERAS YANG DIFERMENTASI OLEH TIGA ISOLAT Monascus purpureus

No: 120 Angkak atau dikenal juga dengan sebutan beras merah merupakan _hasil fermentasi antara beras putih dan kapang Monascus purpureus. Angkak yang semula digunakan sebagai pewarna dan pengawet makanan alami, ternyata memiliki khasiat sebagai obat, antara lain penurun kolesterol, demam berdarah dengue (DBD), dan menurunkan tekanan darah tinggi. Kapang M. purpureus memberikan warna merah pada beras, selain itu metabolit sekunder lain yang dihasilkan antara lain lovastatin, citrinin, dan GABA. GABA dalam angkak bersifat hipotensif, yaitu suatu senyawa aktif yang mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Untuk mengetahui kandungan GABA dalam angkak, maka perlu dilakukan penelitian ini yang bertujuan menganalisis kandungan GABA dengan menggunakan berbagai macam isolat yang berbeda. Dalam penelitian ini, digunakan tiga macam isolat M. purpureus yaitu AS, TST dan JmbA sedangkan analisis kandungan GABA-nya dilakukan dengan metode KCKT (kromatografi cair kinerja tinggi). M. purpureus AS, TST dan JmbA difermentasikan dengan beras selama 14 hari untuk selanjutnya disebut angkak, masing-masing isolat dibuat dua ulangan, kemudian diekstraksi dengan cara maserasi. Ekstrak GABA yang diperoleh dibuat derivatisasinya yaitu PTC-GABA. Dibuat larutan standar GABA mumi dengan konsentrasi | ppm, 5 ppm, 10 ppm, 50 ppm dan 100 ppm. PTC-GABA dan larutan standar GABA muri dianalisis menggunakan metode KCKT dengan panjang gelombang 254 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat M/ purpureus TST memiliki kadar GABA lebih tinggi disbanding isolat Z purpureus AS dan JmbA dengan kadar sebesar 0,0238% atau 237,744802 g/g. Ini menunjukkan bahwa isolat M. purpureus TST yang memiliki kadar GABA lebih tinggi yang dipilih untuk tahap selanjutnya dalam uji in vitro.

UJI DAYA HAMBAT SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averhoa bilimbi L.) TERHADAP BAKTERI

No: 103 Pengobatan modern memiki efek samping yang merugikan dibanding pengobatan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami. di Indonesia sendiri kita mengenal Jamu sebagai pengobatan tradisional yang asli berasal dari Indonesia. Pengobatan tradisional berupa jamu masih memiliki peminat di negeri ini. Salah satu pengobatan tradisional adalah dengan menggunakan Belimbing wuluh, Belimbing wuluh yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bumbu dapur ternyata bisa dijadikan obat tradisional. Untuk mengetahui daya anti bakteri dari sari buah belimbing wuluh terhadap pertumbuhan _ bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis Sari buah belimbing wuluh di uji dengan variasi waktu pemekatan. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis dilakukan secara difusi, aktivitas antibakteri ditentukan dengan cara mengukur zona hambatnya. Sari buah belimbing wuluh mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis, 3, paling tinggi memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan diameter rata-rata zona hambat 1,575cm dan paling rendah aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata zona hambat 1,283cm

AKTIVITAS EPS-A TERHADAP VIABILITAS KHAMIR Candida albicans DAN Candida tropicalis YANG DIPENGARUHI EGCG (Epigallocatechin-3-gallate)

No: 101 Candida spp. adalah jamur yang bersifat patogen, dapat menyebabkan infeksi yang di sebut kandidiasis. Penyakit infeksi pada manusia yang disebabkanoleh jamur Candida ssp masih relatif tinggi dan obat anti-jamur relatif lebihsedikit. Pusat Penelitan Biologi LIPI mempunyai banyak koleksi mikroba yangdiduga berpotensi memiliki daya anti-jamur terhadap Candida albicans dan Candida tropicalis, salah satunya adalah jamur Diaporthe sp. Eps-A merupakanfraksi senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh Diaporthe sp. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indikasi awal mekanisme kerja antifungi Eps-A melawan khamir Candida albicans dan Candida tropicalis melalui radikal bebas (stres oksidasi). Peran radikal bebas pada aktivitas antifungi dievaluasi dengan mengamati efek proteksi antioksidan EGCG terhadap viabilitas sel khamir Candida tropicalis dan Candida albicans yang diperlakukan dengan senyawa uji. Jika EGCG mampu melindungi sel dari kematian akibat senyawa uji, maka dapat disuga bahwa salah satu mekanisme toksisitas anti-jamur senyawa Ujimelalui stres oksidasi. Pengamatan viabilitas dilakukan dengan 2 cara yaitudengan metode “MTT assay” dan metode cawan sebar. Sebagai pembandingdigunakan senyawa antifungi nystatin. Dengan metoda “MTT assay”, kedua: senyawa (32 pg/ml) menurunkan viabilitas Candida albicans dan Candidatropicalis sencara nyata. Pada Candida albicans, EGCG (100 pg/ml) dapat meningkatkan viabilitas sel yang diperlakukan dengan Eps-A dengan konsentrasi 32 sampai 128 pg/ml atau nystatin dengan konsentrasi 32 pg/ml saja. Pada Candida tropicalis, EGCG dapat menaikkan viabilitas sel yang diperlakukan dengan kedua senyawa uji dengan konsentrasi 32 sampai 256 pg/ml. Pada penelitian ini, viabilitas sel khamir tidak bisa diamati dengan metoda cawan sebar, Data ini menunjukkan bahwa fraksi Eps-A maupun senyawa nystatin diduga dapat bersifat anti jamur melalui induksi stres oksidasi pada sel khamir.