Sebanyak 15 item atau buku ditemukan

FORMULASI SABUN PADAT TRANSPARAN DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK ETANOL DARI Spirulina platensis SEBAGAI ANTIBAKTERI

No. 591 Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri patogen diantaranya Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penggunaan antibakteri dari bahan sintetik dapat mencegah terjadinya infeksi, namun tidak sedikit yang memberikan efek samping seperti iritasi. Salah satu keanekaragaman hayati potensial adalah mikroalga S. platensis dapat menjadi alternatif sumber antibakteri alami dan dapat dijadikan sediaan farmasi dalam bentuk sabun padat transparan. Spirulina platensis diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mempunyai kandungan senyawa aktif flavonoid, fenol dan saponin didalamnya sehingga efektif menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan sabun padat transparan dari ekstrak etanol S.platensis dengan konsentrasi sebesar 1%, 2%, dan 3% memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Gram positif S. aureus, Gram negatif E. coli dan apakah variasi konsentrasi ekstrak etanol 1%, 2%, dan 3% memberikan zona hambat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan variasi konsentrasi ekstrak S. platensis F1 (1%), F2 (2%), dan F3 (3%). Sabun yang dihasilkan dianalisis secara fisika dan kimia meliputi organoleptis, pH, kadar air, kekerasan, jumlah asam lemak bebas, hedonik, uji stabilitas pada penyimpanan suhu 25 - 30oC dan 60oC selama 3 minggu dan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat formula sabun padat transparan memiliki sifat fisika dan kimia yang memenuhi standar SNI dan memberikan aktivitas paling baik pada formula 3% dengan zona hambat untuk Staphylococcus aureus sebesar 18,10 mm dan Escherichia coli sebesar 16,54 mm termasuk kategori kuat.

FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% MIKROALGA Chroococcus turgidus PADA SEDIAAN MASKER PEEL - OFF

No. 590 Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang sering terjadi pada wajah yang disebabkan karena adanya sumbatan oleh lemak pada pori kulit. Akibat dari sumbatan tersebut, dapat terjadi komedo dan pada kondisi meradang karena infeksi bakteri dapat menyebabkan terjadinya jerawat yang terasa nyeri. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa Chroococcus turgidus memiliki senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri dan antioksidan yaitu kandungan senyawa aktif flavonoid. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan untuk megetahui aktivitas antibakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada sediaan masker peel-off yang megandung ekstrak etanol 96% Chroococcus turgidus dengan variasi konsentrasi 2%, 3% dan 4% yang selanjutnya dilakukan evaluasi sediaan yang meliputi organoleptik, pH, viskositas, homogenitas, waktu sediaan mengering, daya sebar, sifat mekanik, uji iritasi, uji hedonik, dan uji stabilitas cycling test. Hasil penelitian menunjukan aktivitas antibakteri sediaan masker peel-off terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Stapilococcus epidermidis

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri ekstrak mikroalga Spirulina platensis terhadap bakteri propionibacterium acne, stphylococcus epidermis dan enterobacter aerogenes

No. 456 Bakteri yang bersifat merugikan cenderung menjadi faktor penyebab penyakit, diantaranya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit seperti Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan Enterobacter aerogenes. Salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu Spirulina platensis. S. platensis memiliki senyawa asam lemak yang berpotensi sebagai antibakteri. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi senyawa antibakteri dari mikroalga S. platensis. Biomassa S. platensis diekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapat kemudian dipartisi menggunakan pelarut n-Heksana, etil asetat dan air. Ekstrak dan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap semua bakteri uji kemudian dilakukan pemisahan senyawa dengan kromatografi kolom (KK). Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi terbaik diidentifikasi senyawa menggunakan KG-SM. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan fraksi 2 dan fraksi 6 memiliki aktivitas antibakteri yang lebih besar. Hasil analisis pada fraksi 2, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu bis (2-ethylhexyl) phthalate (67,76%) dengan persen kemiripan 98%. Hasil analisis pada fraksi 6, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu 1,2-Benzendicarboxilic acid, bis (2-ethylhexyl) ester (50,88%) dengan persen kemiripan 91% dan teridentifikasi senyawa fenol (6,21%) dengan persen kemiripan 98% . Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mikroalga S. platensis dapat dijadikan sebagai alternatif sumber antibakteri yang bersifat alami.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri mikroalga Nannochloropsis sp. Terhadap bakteri penyebab bau mulut dan plak gigi

No. 454 Berbagai masalah yang berhubungan dengan mulut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya bau mulut dan plak gigi. Penyebab bau mulut dan plak gigi sering disebabkan oleh bakteri. Mikroalga dari golongan Chlrophyta yaitu Nannochloropsis sp. memiliki potensi sebagai antibakteri. Senyawa aktif yang terkandung dalam mikroalga Nannochloropsis sp. diantaranya asam lemak yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk uji aktivitas antibakteri dari mikroalga Nannochloropsis sp. dan dilakukan identifikasi senyawa menggunakan analisis KG-SM. Biomassa Nannochloropsis sp. diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksana,etil asetat,dan etanol. Selanjutnya dilakukan uji antibakteri dengan menggunakan metode cakram. bakteri yang digunakan yaitu Streptoccocus mutans, Streptococcus sanguinis, dan Porphyromonas gingivalis. Hasil yang diperoleh dari ketiga pelarut, pelarut etanol memiliki aktivitas antibakteri terbesar. Ekstrak etanol dilakukan pemisahan senyawa menggunakan kromatografi kolom. Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi 1 yang memiliki aktivitas antibakteri terbesar dilakukan analisis dengan menggunakan KG-SM. Hasil analisis pada fraksi 1 senyawa yang teridentifikasi yaitu Neophytadiene (0,94%); 2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethy (1,21%); Hexadecanoic acid, methyl ester (22.65%); 9,12- Octadecatrienoic acid, methyl ester ( 21,74 %); 9,12,15- Octadecatrienoic acid,methyl ester (7,53%); Bis (2ethylhexyl) phthalate (11.33 %). Hasil yang diperoleh menunjukan ekstrak etanol dari mikroalga Nannochloropsis sp. dapat dijadikan alternatif senyawa antibakteri yang bersifat alami.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA FENOL DARI Spirulina platensis DAN Lyngbya sp DALAM SEL DARAH MERAH DOMBA YANG DIBERI STRES OKSIDATIF

No: 400 Pola hidup masyarakat yang tidak sehat seperti polusi dapat meningkatkan terbentuknya radikal bebas didalam tubuh, maka diperlukan antioksidan alami salah satunya senyawa fenol. Spirulina platensis dan Lyngbya sp memiliki kandungan senyawa fenol sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar fenol di dalam mikroalga Spirulina platensis dan Lyngbya sp dan Menentukan aktivitas antioksidan senyawa fenol pada sel darah merah domba yang diberi stres oksidatif oleh tert-butil hidroperoksida (t-BHP) dengan pengukuran kadar malondialdehid (MDA) dan aktivitas superoksida dismutase (SOD). Pengujian kadar total fenol menggunakan metode folin-ciocalteu dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode penentuan kadar MDA dan SOD. Kadar fenol dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp berturut-turut sebesar 1,1526 ± 0,117 dan 1,0698 ± 0,082 mg GAE/g. Kadar malondialdehid dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menurunkan kadar malondialdehid pada konsentrasi (12µg/mL) dengan kadar MDA 4,4777 ± 0,022 dan 4,0611 ± 0,031 nmol/mL semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin rendah kadar MDA yang terbentuk. Aktivitas SOD dari Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat meningkatkan Aktivitas SOD pada konsentrasi (12µg/mL) dengan nilai 64,27±0,160 dan 42,85±0,202 Unit/mL semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin tinggi pula aktivitas SOD. Kadar malondialdehid menunjukan bahwa pada konsentarsi (12µg/mL) pada Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menghambat terbentuknya malondialdehid dan pada aktivitas superoksida dismutase menunjukan bahwa pada konsentrasi (12µg/mL) pada Spirulina platensis dan Lyngbya sp dapat menghambat autooksidasi epineprin adenokrom.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN ETANOL MIKROALGA Cosmarium sp. DENGAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS ABTS SERTA IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIFNYA DENGAN KG-SM

No: 385 Cosmarium sp. merupakan mikroalga yang banyak hidup di air tawar dan masih belum banyak diketahui pemanfaatannya. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa senyawa eksopolisakarida dari Cosmarium sp. dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas 2,2Azinobis-(3-ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid (ABTS) dari ekstrak biomassa Cosmarium sp. menggunakan pelarut yang berbeda kepolarannya. Biomassa Cosmarium sp. diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut nheksan, etil asetat dan etanol sehingga diperoleh ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol. Selanjutnya dilakukan pengujian antioksidan dari ketiga ekstrak tersebut dan diperoleh nilai IC50 berturut-turut 104,339 ppm, 180,070 ppm dan 55,950 ppm. Selanjutnya ekstrak etanol yang memiliki aktivitas antioksidan paling baik dilakukan fraksinasi dan diperoleh fraksi A, fraksi B, fraksi C dan fraksi F dengan nilai IC50 berturut-turut 99,60 ppm, 53,562 ppm, 193,950 ppm dan 385,60 ppm. Fraksi A dan B yang memiliki aktivitas antioksidan kuat dilakukan analisis dengan KG-SM. Hasil analisis KG-SM pada fraksi A menunjukkan sebanyak 7 senyawa aktif dari golongan asam lemak (19,47 %), alkohol (2,00 %), alkohol lemak (1, 08 %) dan ftalat (5,35 %). Hasil analisis KG-SM pada fraksi B menunjukkan sebanyak 4 senyawa aktif dari golongan asam lemak (24,12 %) dan ftalat (3,60 %). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa fraksi B memiliki aktivitas antioksidan yang lebih kuat karena jumlah asam lemak tak jenuh pada fraksi B lebih banyak dari fraksi A. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa mikroalga Cosmarium sp. dapat dijadikan obat herbal sebagai antioksidan yang bersifat alami.

IDENTIFIKASI SENYAWA DAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK A, B, DAN C DARI MIKROALGA Chlorella vulgaris

No: 362 Chlorella vulgaris adalah salah satu jenis mikroalga Chlorophyta yang mengandung berbagai senyawa penting seperti flavonoid, tanin, senyawa fenolik, terpenoid, klorofil dan karotenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dan uji aktivitas antimikroba pada hasil ekstraksi bertingkat dari mikroalga Chlorella sp. Sample mikroalga yang diambil dari hasil kultivasi medium Jhonson pada fase logaritmik dan diekstraksi bertingkat (metode Naviner, 1999) dengan pelarut-pelarut diklorometan/air 1:1 (A), diklorometan dan NaOH yang dinetralisir dengan HCl (B), dan methanol/air 9:1 (C). Semua ekstrak dikeringkan di water bath suhu 50 0C. Senyawa masing-masing ekstrak diidentifikasi dengan Kromatografi Gas – Spektrometri Massa dan diuji aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri S. aureus, E. coli, B. subtilis, dan C. albican dengan metode kertas cakram. Hasil identifikasi senyawa ekstrak menunjukkan ekstrak A didominasi oleh senyawa golongan alkana (Hexadecanoic 25% dan 9,12-octadecadienoic acid 27%) dan sedikit terpenoid (Neophytadiene 4%), extrak B juga didominasi senyawa alkana (Oleic acid 39% dan Hexadecanoic acid 20%), demikian pula ekstrak C didominasi macam-macam senyawa alkana (6-Octadecadienoic acid 20%, Hexadecanoic acid 16%, dan 9-Hexacosene 8%). Hasil uji antimikroba semua ekstrak menunjukkan aktivitas positip terhadap bakteri S. aureus, E. B. subtilis, dan C. albican, tetapi negatip terhadap E. coli. Ekstrak C mempunyai diameter daya hambat (3,2- 3,4 mm) yang lebih tinggi dari pada kontrol klorafenikol (1,0 – 3,1 mm), ekstrak B (1,8 – 2,4 mm) dan ekstrak C (1,3 – 1,4 mm). Jadi ekstrak C mempunyai aktifitas antimikroba yang tinggi terhadap bakteri S. aureus, E. B. subtilis, dan C. albican.