Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.482 item publik

Publikasi

Halaman 42 dari 125

HUBUNGAN FAKTOR SOSI ODE MOGRAFI DENGAN TI NGKAT PENYALAHGUNAAN NARKOTI KA, PSI KOTROPI KA, DAN ZAT ADI KTI F DI RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA

Dyah Purwaning Rahayu; Karuma Barza Afida; SRI AYU LESTARI
2023 · Book · Open Access

NAPZA adal ah zat yang dapat me mpengaruhi kondisi keji waan/ psikol ogis seseorang serta dapat meni mbul kan ket ergant ungan fisi k dan psi kol ogis. Banyak fakt or yang dapat me mpengaruhi seseorang unt uk menj adi penyal ahguna NAPZA, di antaranya fakt or i ndivi du, li ngkungan, dan NAPZA it u sendiri. Ti ngkat penyal ahgunaan di bagi menj adi kriteria ri ngan, sedang dan berat. Penelitian i ni bert uj uan unt uk mengetahui hubungan fakt or sosi ode mografi pasien rehabilitasi NAPZA r a wat j alan dengan ti ngkat penyal ahgunaan NAPZA. Penelitian i ni dilakukan dengan menggunakan met ode deskri ptif yang dilakukan secara pr ospektif dengan pendekat an cross secti onal. Dat a penelitian i ni di a mbil menggunakan kuesi oner yang diisi ol eh 60responden di i nstalasi ra wat j alan RSKO Jakarta. Dat a yang di perolehselanj ut nya di olah menggunakan SPSS versi 26. Hasil penelitian analisis uni variat menunj ukan sebanyak (65, 0%) responden berusia 36- 45 t ahun, (93, 3 %) berjenis kel a mi n l aki-laki, (46, 0 %) berpendi di kan terakhir perguruan ti nggi, (53, 3%) bekerja sebagai wiras wast a, (81, 0 %) beragama i sla m, (36, 7 %) berasal dari suku j a wa, ( 70, 0 %) berstat us ka wi n, (26, 7 %) berpendapat an lebi h dari Rp. 6. 000. 000, (41, 3%) me mili ki kondisi keuangan mencukupi unt uk kebut uhan makan sehari-hari, (68, 3 %) me mili ki tingkat penyal ahgunaan ringan. Hasil analisis bi variat penelitiani ni yait uada hubungan yang ber makna antara usia, pendi di kan, pekerjaan, stat us perka wi nan dan kondisi keuangan karena p val ue kurang dari 0, 05, dan tidak ada hubungan yang ber makna ant ara j enis kel a mi n, aga ma, suku/ras, pendapat an, karena p val ue lebih dari 0, 05.

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIARE ANAK DENGAN METODE GYSSENS DI RAWAT INAP RS PMI BOGOR

SERLY ANGRAENI; Siti Mariam; Veronika
2023 · Book · Open Access

Diare merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah dan perhatian bagi kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Diare juga merupakan 3 penyebab terbesar kesakitan dan kematian anak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien diare anak dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diare anak yang di rawat inap dengan metode Gyssens di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dan dilakukan dengan data diambil secara retrospektif yaitu mengambil data rekam medis pada pasien anak rawat inap dengan diagnosa diare di RS PMI Bogor pada tahun Januari 2020- Desember 2021. Evaluasi penggunaan antibiotik dilakukan dengan diagram alir Gyssens, menggunakan standar Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit. Dari 107 kasus yang diperoleh menunjukkan kasus terbanyak terjadi pada anak usia 28 hari-12 bulan (67%) dengan jenis kelamin terbanyak laki-laki (62%) dan berat badan terbanyak pada 5-15 kg sebanyak 85 pasien (79). Antibiotik yang terbanyak digunakan ceftriaxon injeksi (69%). Hasil evaluasi menggunakan metode Gyssens kesesuaian penggunaan antibiotik masuk ke dalam kategori 0 sebanyak 48 pasien (44%), kategori IIA sebanyak 34 pasien (31%), kategori IIIB sebanyak 10 pasien (9%), kategori IIIA sebanyak 7 pasien (7%), kategori IVA sebanyak 5 pasien (5%), kategori V sebanyak 4 pasien (4%).

AKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.), UMBI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.), SERTA KOMBINASINYA TERHADAP Candida albicans

DICKY PRASETIA ALAM; Harry Noviardi; Sitaresmi Yuningtyas
2023 · Book · Open Access

One of the natural ingredients that can be used as an alternative antifungal treatment is papaya leaves (Carica papaya L.) and garlic bulbs (Allium sativum L.). The purpose of this study was to determine the antifungal activity of a combination of ethanol extract 96% of papaya leaves (Carica papaya L.) garlic bulbs (Allium sativum L.) on the growth of Candida albicans fungi. Papaya leaves and garlic bulbs were extracted by maceration using 96% ethanol. The extract obtained was subjected to phytochemical tests and the determination of antifungal activity by the well method with concentration 15%, 20% and 25%. The phytochemical compounds contained in papaya leaves are tannins, alkaloids, saponins and flavonoids. Meanwhile, the garlic bulbs contains phytochemical compounds of flavonoids, alkaloids, and saponins. The diameter of the inhibition zone of the ethanol extract of papaya leaves and garlic buls was the highest at a concentration of 25% with a value of 13,38 mm (strong category) and 12,16 mm (strong category). The best antifungal activity against Candida albicans was in the combination of the ethanol extract of papaya leaves: garlic bulbs (2:1) with a value of 13,23 mm (strong category). Therefore, the ethanol extract of papaya leaves and garlic bulbs has potential antifungal against Candida albicans.

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI KLINIK UTAMA dr. YATI ZARNUDJI CIBINONG KABUPATEN BOGOR

Fredy Arifta Nasel; Idah Widosari Nawangsih; RAHIMA KHALYA ANUGRAH
2023 · Book · Open Access

ISPA merupakan suatu penyakit menular yang menginfeksi saluran pernapasan manusia yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang masih menjadi perhatian karena penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Dalam kenyataannya antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan peningkatan resistensi bakteri dan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data sosiodemografi berupa usia dan jenis kelamin, data profil penyakit ISPA, data profil penggunaan antibiotik serta data ketepatan penggunaan antibiotik meliputi tepat indikasi, tepat dosis, tepat obat, tepat frekuensi dan tepat lama pemberian pasien penderita ISPA. Penelitian ini bersifat observasional dimana data sekunder dikumpulkan dari rekam medik pasien periode Januari – Desember 2021 yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis dengan metode analisa deskriptif di Klinik Utama dr. Yati Zarnudji Cibinong Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini diperoleh data pasien yang terdiagnosa ISPA bagian atas dan bawah sebanyak 82 pasien terpilih yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian diperoleh pasien ISPA paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 pasien (62%). Untuk usia yang paling banyak menderita penyakit ISPA berdasarkan data sosiodemografi pasien yaitu usia dewasa awal 26 – 35 tahun sebanyak 29 orang (35%). Penyakit ISPA yang paling banyak diderita yaitu faringitis sebanyak 54 pasien (66%). Untuk antibiotik yang paling banyak digunakan yaitu cefixime sebanyak 32 resep (39%). Evaluasi ketepatan indikasi 82 sampel (100%), ketepatan dosis 65 sampel (79%), ketepatan obat 82 sampel (100%), ketepatan frekuensi 82 sampel (100%) dan ketepatan lama pemberian 40 sampel (49%).

GAMBARAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI KLINIK LIMUS PRATAMA MEDIKA

AYU NUR PRATIWI; Andi Ahriansyah; Sofiati
2023 · Book · Open Access

Dispepsia adalah penyakit medis yang ditandai dengan nyeri atau ketidaknyamanan di ulu hati atau perut bagian atas. Salah satu masalah pencernaan yang paling umum. Salah satu penyebab masalah pencernaan adalah pola makan dan gaya hidup.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui data sosiodemografi pasien meliputi usia, dan jenis kelamin, penyakit penyerta, profil penggunaan obat dispepsia, dan ketepatan penggunaan obat dispepsia meliputi tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, dan tepat frekuensi yang digunakan pada pasien penderita penyakit dispepsia. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional (non eksperimental) yang dilakukan pada periode Oktober – Desember 2021 secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data sekunder pada penelitian kali ini menggunakan data penelusuran rekam medis dan resep. Hasil penelitian ini menunjukan data sosiodemografi dengan usia > 16 – 65 tahun sebanyak 195 orang yang terdiri dari laki – laki sebanyak 75 orang (38%) dan perempuan sebanyak 120 orang (62%). Usia pasien terbanyak mengalami Dispepsia pada rentang usia 26 - 35 tahun sebanyak 51 orang (26%). Penyakit penyerta pasien terbanyak diagnosa Dispepsia dengan demam sebanyak 85 orang (44%). Penggunaan obat dispepsia terbanyak ranitidin (56,67%). Ketepatan penggunaan obat tepat pasien, tepat indikasi dan tepat dosis sudah menunjukan hasil 100%. Tepat frekuensi antasida 71%, ranitidin 100%, omeprazole 93%, kombinasi antasida dengan ranitidin 66%, kombinasi antasida dengan omeprazole 75%.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS GEL KOLANG-KALING (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) DAN GEL EKSTRAK ETANOL 96% KOLANG-KALING TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT MENCIT (Mus musculus)

Antonius Padua Ratu; FITRIA MELYANI; Harry Noviardi
2023 · Book · Open Access

Kolang–kaling merupakan endosperm buah aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) yang diperoleh melalui proses perebusan. Kolang-kaling mengandung protein, karbohidrat berupa galaktomanan, serat kasar dan kadar air yang tinggi. Galaktomanan dari kolang-kaling dapat digunakan sebagai agen antiinflamasi dan analgetik. Kandungan alkaloid memiliki kemampuan dalam membantu proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui perbandingan gel kolang-kaling (GKK) dan gel ekstrak etanol 96% kolang-kaling (GEEKK) terhadap efektivitas penyembuhan luka sayat pada mencit. Kolang- kaling dibuat ekstrak dengan metode maserasi dari serbuk kolang-kaling menggunakan pelarut etanol 96% dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak etanol 96% kolang-kaling dan kolang-kaling halus dilakukan penapisan fitokimia dan dibuat sediaan gel untuk uji efektivitas luka sayat terhadap mencit jantan putih. Penapisan fitokimia kolang-kaling halus dan ekstrak menunjukkan hasil positif pada pengujian alkaloid. Sediaan GKK dibuat variasi konsentrasi 10%, 20%, dan 30% untuk menentukan konsentrasi optimal. GKK 10% optimal dalam penyembuhan luka sayat kemudian dilakukan uji perbandingan dengan konsentrasi GEEKK yang setara, yaitu konsentrasi 0,027%. Mencit yang diberikan perlakuan GKK 10% menunjukkan penyembuhan luka sayat pada hari ke 11, GEEKK 0,027% dan kontrol (-) pada hari ke 14, dan kontrol (+) pada hari ke 10. Kesimpulannya adalah GKK 10% menunjukkan lama penyembuhan luka sayat mencit lebih cepat dibandingkan GEEKK 0,027%.

UJI KUALITAS MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL) YANG DISUPLEMENTASI DENGAN KULIT NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.)

Antonius Padu Ratu; MUHAMMAD SAHRUL HAMDI; Triyani Sumiati
2023 · Book · Open Access

VCO adalah minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa tua yang diambil santannya dengan cara alami, dan secara khusus tanpa pemurnian kimia diantaranya yaitu metode pengasaman dan enzimatik, metode ini tidak mengubah komposisi atau sifat minyak. kulit nanas hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau menjadi limbah. Limbah kulit nanas dapat dimanfaatkan menjadi Rendaman kulit nanas. Rendaman kulit nanas memiliki karakteristik asam dan memiliki enzim yang dapat memecahkan protein. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan VCO hasil sintesis secara enzimatik menggunakan kulit buah nanas, mendapatkan rendemen VCO tertinggi pada penambahan rendaman kulit buah nanas dan mendapatkan VCO dengan kualitas yang sesuai SNI 7381-2008 secara kualitatif dan kuantitatif. Pembuatan VCO diawali dengan pembuatan rendaman kulit nanas yang didiamkan selama 28 hari, lalu pembuatan santan yang didiamkan selama 2 jam akan membentuk air dan krim santan, krim santan dicampur dengan rendaman kulit nanas dengan variasi konsentrasi 10% (formula 1), 15% (formula 2), 20% (formula 3) selama 24 jam akan terbentuk VCO. Dilakukan uji organoleptik, kadar air, bobot jenis, bilangan asam, bilangan penyabunan, bilangan iodium, dan bilangan peroksida. Hasil yang terbaik terdapat pada formula 3 dengan rendemen VCO yaitu sebesar 14%, uji organoleptik meliputi warna, rasa, bau menunjukan hasil yang normal, kadar air sebesar 0,06%; angka asam sebesar 0,145%; angka penyabunan sebesar 250,56 mg-KOH/g; angka iodium sebesar 5,85 g iod/100 g, dan angka peroksida sebesar 1,13 mg ek/kg. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, sintesis VCO dapat dilakukan menggunakan rendaman kulit nanas, secara kualitatif dan kuantitatif memberikan hasil sesuai dengan SNI 7381-2008.

FORMULASI SERUM EKSTRAK ETANOL 96% DAUN MANGGA (Mangifera indica L.) dan AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN

CATRI YUSRI YUNINDA; Lilik Sulastri; Triyani Sumiati
2023 · Book · Open Access

Antioksidan merupakan inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif yang membentuk radikal bebas tidak reaktif yang stabil. Salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai antioksidan yaitu mangga (Mangifera indica L.). Kandungan mangiferin yang dimiliki daun mangga. Mangiferin merupakan senyawa golongan polifenol yang memberikan kontribusi terhadap aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi golongan senyawa dalam ekstrak etanol 96% daun mangga, serta untuk mendapatkan sediaan serum ekstrak etanol 96% daun mangga yang memenuhi syarat mutu fisik dan stabil selama penyimpanan, untuk mendapatkan nilai IC50 pada ekstrak etanol 96% daun manga dan sediaan serum daun mangga. Hasil uji fitokimia didapatkan hasil bahwa daun mangga mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol, triterpenoid dan kuinon. Daun mangga (Mangifera indica L.) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan dibuat sediaan serum menggunakan konsentrasi ekstrak 0,5% (F1), 0,8% (F2) dan 1,1% (F3). Karakteristik mutu fisik sediaan serum dievaluasi meliputi uji organoleptik, pH, daya sebar, viskositas, kesukaan dan uji homogenitas. Uji aktivitas antioksidan terhadap DPPH dan dihitung rata-rata nilai IC50 pada ekstrak daun mangga 12,096 ppm, formulasi I, II dan III secara berturut-turut dan didapatkan nilai IC50 yaitu 112,57 ppm, 80,00 ppm, 176,38 ppm, dari ketiga formula didapatkan nilai IC50 yang paling baik aktifitas antioksidan yaitu pada formulasi II. Pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis dan dilakukan pengujian cycling test.

HUBUNGAN ANTARA KESESUAIAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DENGAN KEBERHASILAN TERAPI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT MELANIA BOGOR

DILLA PUTRI PARAMITHA; Febi Ishfahani; Fransiska Vita K
2023 · Book · Open Access

Hipertensisalah satu penyakit yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah yang >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. Faktor risiko hipertensi yaitu pada umur, jenis kelamin, keturunan, kegemukan, merokok, kurang aktivitas fisik ataupun mengkonsumsi garam berlebih sehingga terjadinya penyakit hipertensi. Acuan yang digunakan di Rumah Sakit Melania Bogor ini menggunakan Guideline Join National Committee (JNC) VIII. Di JNC VIII ini memiliki alur pengobatan yang dapat dilihat dari tekanan darah seseorang dan penyakit penyerta yang dimiliki sehingga dapat menentukan pengobatan untuk pasien dengan tujuan tekanan darah berdasarkan JNC VIII. Metode penelitian ini diolah secara deskriptif menggunakan data rekam medik pada periode Agustus – Desember 2022. Hasil penelitian mengenai karakteristik pasien hipertensi perempuan paling banyak sebesar 59% dan usia paling banyak 56-65 tahun 36%, dengan penyakit penyerta Diabetes Melitus (DM) sebesar 10 % dan Chronic Kidney Disease (CKD) 4%, obat paling banyak yang digunakan gologan Calcium Channel Blocker (CCB) tunggal 44% dan kombinasi Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) + Calcium Channel Blocker (CCB) 16% dan memiliki hasil kesesuaian terapi berdasarkan JNC VIII 86%, tingkat keberhasilan tujuan JNC VIII 89%. Hasil penelitian Analisis menggunakan SPSS versi 26 dengan pengujian Chi-Square dengan hasil p-value 0,000 yang memiliki keputusan terdapat hubungan signifikan kesesuaian obat berdasarkan JNC VIII keberhasilan target tekanan darah JNC VIII.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL 70% RIMPANG LENGKUAS (Alpinia galanga L.), RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.) DAN KOMBINASINYA

Anna P. Roswiem; IZMI NANDITA SULISTIA; Sitaresmi Yuningtyas
2023 · Book · Open Access

Rimpang lengkuas dan rimpang kencur adalah bagian dari tanaman yang dibudidayakan, dapat digunakan sebagai obat dan mengandung senyawa yang dapat menangkal radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui metabolit sekunder dan kemampuan aktivitas antioksidan ekstrak tunggal rimpang lengkuas dan kencur, serta kombinasi keduanya. Rimpang lengkuas dan kencur masing- masing diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kemudian dilakukan uji fitokimia untuk mengetahui jenis metabolit sekundernya. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas antioksidan dari ekstrak tunggal dan kombinasinya dengan metode peredaman radikal bebas menggunakan 1,1-difenil- 2-pikrilhidrazil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rimpang lengkuas dan rimpang kencur mengandung metabolit sekunder golongan senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak tunggal lengkuas dan kencur termasuk kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 33,84 ppm dan 23,69 ppm. Kombinasi ekstrak rimpang lengkuas dan kencur dengan perbandingan (1:1), (1:2), dan (2:1) berturut-turut memiliki nilai IC50 sebesar 158,19 ppm (kategori sedang), 44,72 ppm (kategori sangat kuat), dan 89,81 ppm (kategori kuat).Vitamin C sebagai kontrol positif dengan nilai IC50 1,98 ppm. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kombinasi lengkuas dan kencur tidak memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggalnya.

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA KOMBUCHA SARI BUAH APEL MANALAGI (Malus sylvestris (L.) Mill.), SARI APEL TERFERMENTASI DAN KOMBINASINYA

Antonius Padu Ratu; MELITA MEICAHYANI; Sitaresmi Yuningtyas
2023 · Book · Open Access

Salah satu buah yang mengandung antioksidan tinggi adalah apel manalagi (Malus sylvestris (L.) Mill.) Salah satu contoh produk pangan fungsional yang dikembangkan oleh beberapa industri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk kesehatan kombucha dan cuka. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan senyawa metabolit sekunder, aktivitas antioksidan, nilai pH, total asam, uji hedonik, dan uji organoleptik dari kombucha sari apel manalagi, sari apel terfermentasi dan kombinasinya. Perbandingan antara apel dan air adalah 1:1 dimana perlakuan diblender dan dipotong - potong dipanaskan kemudian inkubasi pada suhu 60οC selama 15 menit, ditambahkan starter pada sari apel sebanyak 4 % dan gula masing - masing 10 % kemudian difermentasi selama 8 hari dan dikombinasi. Proses fermentasi dilanjut hingga ke 12 hari. Pada uji fitokimia mengandung fenol, flavonoid dan tanin. Aktivitas antioksidan dari kombucha sari buah apel manalagi (Malus sylvestris L.) Mill.), sari apel terfermentasi dan kombinasinya mempunyai nilai IC50 F1 sebesar 1,46 %, F2 sebesar 2,73 %, dan F3 sebesar 1,24 %. Berdasarkan sumber FDA nilai pH pada kombucha berkisar antara 2,5 – 4,2 sehingga semua formula pada hari ke 12 telah memenuhi standar. Total asam tertitrasi pada hari ke 12 yaitu F1 sebesar 1,97 %, F2 sebesar 0,84 % dan F3 sebesar 1,63 %. Berdasarkan uji hedonik Formula 3 yaitu kombinasi kombucha sari buah apel manalagi, sari apel terfermentasi (1:1) adalah formula yang paling disukai panelis.

UJI AKTIVITAS GEL EKSTRAK ETANOL 70% KOPI (Coffea canephora) TERHADAP LUKA BAKAR PADA TIKUS JANTAN PUTIH (Rattus norvegicus)

Ferry Effendi; INGGIT HALISTENINGRUM; Triyani Sumiati
2023 · Book · Open Access

Salah satu tanaman yang berkhasiat obat adalah kopi, selain memiliki manfaat yang dapat diolah sebagai minuman, serbuk kopi juga berkhasiat untuk mengobati luka bakar pada kulit. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan aktivitas penyembuhan luka sediaan gel yang mengandung ekstrak etanol 70% biji kopi. Metode penelitian ini ialah in vivo terhadap tikus jantan putih. Pada pembuatan ekstrak dimaserasi dengan etanol 70 %, eksrak serbuk kopi dibuat sediaan gel untuk luka bakar dilakukan percobaan pada tikus jantan putih dan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu Kontrol Negatif, Kontrol positif, F1 (0,2%), F2 (0,3%), dan F3 (0,4%). Hasil uji aktivitas sediaan gel ekstrak kopi ditentukan berdasarkan penyembuhan diameter luka bakar dari masing-masing perlakuan selama 14 hari, Aktivitas penyembuhan gel ekstrak biji kopi formula ke 2 dengan konsentrasi 0,3% menunjukan persentase kesembuhan yang lebih baik yaitu 92.67%, dengan tingkat kesembuhan luka sembuh sempurna.

AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAUN RAMBUTAN RAPIAH (Nephelium Lappaceum L) TERHADAP PERTUMBUHAN RAMBUT KELINCI PUTIH JANTAN

Eem Masaenah; KEMALA RESTY; Rakhmat Ramdhani Alwie
2023 · Book · Open Access

Selain pengobatan kimia, salah satu bahan alam secara empiris telah digunakan sebagai penumbuh rambut adalah daun rambutan. Untuk memperoleh data karakteristik ekstrak etanol 96% daun rambutan meliputi uji fitokimia, organoleptis, dan pH. Aktivitas pertumbuhan dari ekstrak daun rambutan terhadap kelinci putih jantan dengan parameter uji tesktur, warna, panjang dan bobot rambut Penelitian ini diperlukan tiga ekor kelinci yang masing- masing diperlakukan sama dan di bagi menjadi 5 kelompok pengujian yaitu kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak 5%,10%,15%. perlakuan dilakukan sehari 2x pagi dan sore dijam yang samapengamatan tekstur rambut kelinci memiliki tekstur yang kasar, warna rambut kelinci yang berubah menjadi kecoklatan setelah diolesi esktrak daun rambutan selama 21 hari rata- rata panjang rambut hari ke-21 ekstrak 15% rata- rata memiliki kemampuan pertumbuhan 16,57±5,62 mm dari perpanjangan rambut setiap perlakuan terlihat bahwa pada hari ke- 21 hasil penimbangan bobot rambut ekstrak daun rambutan mempunyai kenaikan bobot pada disetiap kelinci. Karakteristik ekstrak etanol 96% daun rambutan memiliki pH 5,5, pada uji organoleptis ekstrak daun rambutan memiliki bau khas, warna hijau kecoklatan dan homogen. Pengujian fitokimia dari ekstrak daun rambutan positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengukuran bobot rambut masing- masing ekstrak memiliki bobot lebih baik dibandingkan kontrol negatif tetapi tidak lebih berat dibandingkan kontrol positif.

EVALUASI KETEPATAN PENATALAKSANAAN DAN KEBERHASILAN TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS CIAMBAR SUKABUMI

Fredy Ariefta Nasel; MUHAMMAD RIZKI; Muqfi Ali Khadafi
2023 · Book · Open Access

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang. Dalam keberhasilan terapi, penggunaan obat rasional sangat penting. Keberhasilan terapi ditandai dengan penurunan tekanan darah sesuai dengan standar Joint National Committee (JNC) 8 yaitu usia >60 tahun keberhasilannya <150/90 mmHg dan usia <60 tahun keberhasilannya <140/90 mmHg. Penelitian ini bertujan untuk melihat gambaran sosiodemografi pasien, profil penggunaan obat antihipertensi, ketepatan penggunaan obat antihipertensi dan keberhasilan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC 8 di Puskesmas Ciambar Sukabumi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif Observasional dengan pendekatan secara retrospektif mengumpulkan data sekunder dari rekam medik dan resep sebanyak 99 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian, usia paling banyak 46-55 tahun sebanyak 43 pasien (43,43%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 81 pasien (81,82%). Penggunaan Obat terbanyak yaitu kombinasi sebanyak 47 pasien (47.47%). Ketepatan penggunaan, Tepat obat, dosis, indikasi menunjukkan hasil 100% tepat dan tepat frekuensi 79 pasien (79,80%) tepat, 20 pasien (20,20%) tidak tepat. Keberhasilan terapi berdasarkan JNC 8, 17 pasien (17,17%) berhasil, 82 pasien (82,83%) tidak berhasil.

ANALISIS PERBEDAAN LAMA RAWAT INAP ANTARA PENGGUNAAN TERAPI ANTIVIRUS OSELTAMIVIR DAN FAVIPIRAVIR PADA PASIEN COVID-19 DI RSUD CIAWI BOGOR

Andi Ahriansyah; Fifih Maghfiroh; MUTIARA LUKITA HAKIM
2023 · Book · Open Access

Virus COVID-19 merupakan virus RNA rantai tunggal yang diberitahukan berasal dari hewan kelelawar, kemudian bermutasi ke manusia. Karena disebabkan oleh virus, maka pengobatan COVID-19 memerlukan antivirus seperti oseltamivir dan favipiravir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama rawat inap antara penggunaan oseltamivir dan favipirafir pada pasien COVID-19 di RSUD Ciawi Bogor. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medis pasien COVID-19 tanpa penyakit penyerta periode Desember 2020-Februari 2021 dengan rentang usia 18-65 tahun. Dari total 67 kasus, pasien terbanyak berjenis kelamin laki-laki (54%), dengan rentang usia 26-35 tahun (31%), berpendidikan terakhir SMP (30%) dan bekerja sebagai karyawan swasta (25%). Gambaran lama rawat inap pada hari ke 5-7 jumlah pasien pengguna antivirus oseltamivir sebanyak 17 orang dan favipiravir sebanyak 12 orang, pada hari ke 8- 10 jumlah pasien pengguna antivirus oseltamivir sebanyak 14 orang dan favipiravir sebanyak 16 orang, pada pasien yang dirawat inap ≥11 hari jumlah pasien pengguna antivirus oseltamivir sebanyak 3 orang dan favipiravir sebanyak 5 orang. Rerata lama rawat inap pasien pengguna oseltamivir 7,74 hari dan favipiravir 9 hari. Berdasarkan hasil pengujian dengan Mann-Whitney, nilai P-Value sebesar 0,143 > 0,05 sehingga dapat dinyatakan tidak terdapat perbedaan bermakna antara lama rawat inap pasien yang mengkonsumsi oseltamivir dan favipiravir.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN POLA PENGGUNAAN OBAT SECARA SWAMEDIKASI PADA MASYARAKAT RW 006 DESA MEKARSARI KECAMATAN CIANJUR

Ferry Effendi; Karuma Barza; M. JENI MUSLIM
2023 · Book · Open Access

Swamedikasi adalah penggunaan obat-obatan oleh seseorang untuk mengobati segala keluhan ringan pada diri sendiri atas inisiatif sendiri atau tanpa konsultasi medis yang berkaitan dengan indikasi, dosis, dan lama penggunaan. Pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang sangat penting dalam mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang swamedikasi dengan pola penggunaan obat pada masyarakat RW 006 Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur. Desain penelitian ini adalah deskriptif non eksperimental dengan pendekatan cross-sectional. alat ukur berupa data primer yaitu menggunakan kuesioner dalam bentuk google form, untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi. Pengambilan dilakukan pada 115 orang sampel yang didapat dari populasi menggunakan metode purposive sampling. Selanjutnya dianalisis menggunakan SPSS versi 26 dengan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian obat harus beserta dengan informasi yang tepat yaitu pola penggunaan obat sebagian besar responden menggunakan obat dengan tepat sebanyak 104 orang (90%). dari tingkat pengetahuan dengan kategori pengetahuan tinggi sebanyak 104 orang (90%). Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat menunjukan hasil uji statistik Chi-Square nilai p-value yang didapat 0,000 (0,05), hasil tersebut menunjukan ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan pola penggunaan obat secara swamedikasi.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH JERUK PURUT DAN DAUN JAMBU BIJI SERTA KOMBINASINYA TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

DINA MEILLINE ROSNIA; Lilik Sulastri; Sitaresmi Yuningtyas
2023 · Book · Open Access

Streptococcus mutans adalah bakteri gram positif yang dapat kita temukan pada rongga mulut manusia yang dapat menjadikan gangguan mulut hingga karies pada gigi, karies gigi ini keadaan yang merusak jaringan pembentukan gigi oleh bakteri Streptococcus mutans. Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix) (KJP) dan Daun Jambu biji (Psidium guajava) (DJB) yang berfungsi sebagai antibakteri untuk bakteri Streptococcus mutans. Tujuan penelitian ini untuk menghambat pertumbuhan bakteri oleh ekstrak KJP dan DJB tunggal & pengkombinasian ekstrak untuk menghambat bakteri Streptococcus mutans. Ekstrak tunggal dan kombinasi KJP dan DJB yang digunakan adalah 20%, DMSO sebagai kontrol negatif serta Klorheksidin sebagai kontrol positif. Hasil uji fitokimia untuk ekstrak KJP positif memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan terpenoid. Aktivitas ekstrak tunggal KJP dan DJB tunggal ekstrak dengan konsentrasi 20%, memiliki potensi untuk menghambat bakteri dengan kategori kekuatan daya hambat dari 15,55 ± 0,025 mm dan11,25 ± 0,037 mm golongan kuat untuk menghambat bakteri Streptococcus mutans. Aktivitas ekstrak kombinasi mendapatkan hasil yang lebih sangat kuat dengan daya hambat 28,33 ± 0,251 mm pada kombinasi KJP:DJB 3:1 untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS OBAT DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RS PMI BOGOR

ARMITHA AULIA AWING; Siti Mariam; Veronika
2023 · Book · Open Access

Penyakit dispepsia di RS PMI Bogor cukup banyak. Dispepsia yang diderita pasien lebih sering dikarenakan pola makan dan pola hidup yang tidak baik serta penyakit maag yang telah diderita pasien sebelumnya. Tujuan penelitian mengetahui efektivitas obat dispepsia yang digunakan pada pasien rawat inap berdasarkan lama hari rawat. Pengambilan data secara retrospektif. Pada data rekam medik pasien dispepsia yang dirawat inap sesuai dengan kriteria inklusi yang terhitung mulai dari Januari 2020 – Desember 2021 di RS PMI Bogor. Sebanyak 100 pasien penderita dispepsia yang telah memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian diperoleh data pasien pada jenis kelamin perempuan sebanyak 69%, rata-rata usia pasien dispepsia 36-45 tahun (53%), rata-rata pendidikan SMA/SMK sebanyak 20% dan Sarjana sebanyak 20%, pada pekerjaan yaitu ibu rumah tangga sebanyak 34%. Obat yang digunakan pada pasien dispepsia serta rata-rata lama hari rawat ada 8 jenis obat tunggal dan kombinasi yaitu Sukralfat 1% (4,00 hari), Sukralfat + Esomeprazole 1% (4,00 hari), Sukralfat + Pantoprazole 2% (4,00 hari), Sukralfat + Omeprazole 56% (3,53 hari), Omeprazole 35% (3,22 hari), Sukralfat + Omeprazole + Ranitidin 1% (3,00 hari).Antasida + Omeprazole 2% (2,50 hari), Ranitidin + Sukralfat 1% (2,00 hari). Efektifitas kombinasi obat dispepsia yang digunakan pada pasien rawat inap di RS PMI Bogor pada periode bulan Januari 2020 sampai Desember 2021 tidak berbeda nyata berdasarkan lama hari rawat dengan nilai p = 0,753 pada uji Kruskal-wallis.