COLLECTION
Koleksi Perpustakaan
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Publikasi
Manajemen Pengelolaan Sarana dan Prasarana pratikum di Laboratorium
Formularium Nasional
Suplemen 1 Farmakope Indonesia
POLA PERESEPAN PASIEN JANTUNG RAWAT JALAN RS. SENTRA MEDIKA CIBINONG PERIODE DESEMBER 2023
Penyakit jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung tidak berfungsi secara maksimal sehingga menghambat sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh kelemahan otot jantung atau adanya celah antara serambi kiri dan kanan jantung sehingga mengakibatkan terganggunya peredaran darah bersih dan darah kotor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sosiodemografi pasien jantung rawat jalan di fasilitas farmasi rumah sakit. Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong menentukan pola peresepan obat jantung bagi pasien rawat jalan yang terdiagnosis penyakit jantung di fasilitas ini selama Desember 2023 berdasarkan usia dan jenis kelamin. Usia pasien jantung tertinggi pada usia 56-65 tahun sebanyak 38,10 %. Proporsi pasien laki-laki sangat tinggi yaitu 60,95%. Golongan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien BPJS yaitu antiplatelet sebesar 19,75%, dan golongan obat pasien non-BPJS yaitu beta-blocker sebesar 30,77%. Jenis obat yang paling banyak digunakan pasien BPJS yaitu bisoprolol sebanyak 17,75 % dan jenis obat yang paling banyak digunakan pasien non BPJS adalah bisoprolol sebanyak 23,08 %. Jumlah item obat dalam resep yang digunakan pasien BPJS yaitu 4-6 item dengan persentase 67,34% sedangkan jumlah item obat dalam resep yang digunakan pasien non-BPJS yaitu 1-3 item dengan persentase 100 %. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan pola peresepan obat jantung di fasilitas farmasi rawat jalan RS. Sentra Medika Cibinong disesuaikan dengan kebutuhan individu berdasarkan kondisi spesifik pasien.
"AKTIVITAS ANTIOKSIDAN INFUSA DAN KOMBUCHA KULIT BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora)"
Kultur awal kombucha yang dikenal sebagai SCOBY memfermentasi teh dan gula untuk menghasilkan kombucha. Kombucha memiliki kualitas antioksidan. Kehadiran fenolik bebas yang dihasilkan selama proses fermentasi inilah yang membuat kombucha memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi semakin banyak kandungan fenolik yang dihasilkan, semakin tinggi aktivitasnya. Kulit biji kopi Robusta merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat dibuat menjadi minuman kesehatan dalam bentuk teh kombucha. Tujuan penelitian ini untuk menentukan golongan metabolit dan aktivitas antioksidan dari infusa dan kombucha kulit biji kopi Robusta. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dilakukan pada infusa dan kombucha kulit biji kopi Robuasta dengan konsentrasi 2%, 4% dan 6% menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penentuan golongan metabolit dilakukan secara kualitatif menggunakan uji fitokimia. Waktu fermentasi kulit biji kopi dilakukan selama 8 hari. Hasil skrinning fitokimia infusa dan kombucha kulit biji kopi Robusta positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, steroid dan terpenoid. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan optimum pada infusa dan kombucha kulit biji kopi konsentrasi 2%, dengan presentase peredaman radikal bebas infusa sebesar 80,81% dan kombucha sebesar 93,35%.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENANGANAN PERTAMA LUKA BAKAR DI RW 11 DESA CIJUJUNG KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN BOGOR
Pertolongan pertama adalah penanganan yang diberikan saat kejadian atau bencana terjadi di tempat kejadian, sedangkan tujuan dari pertolongan pertama adalah menyelamatkan kehidupan, mencegah kesakitan makin parah, dan meningkatkan pemulihan. Luka bakar adalah kerusakan pada kulit atau jaringan dalam yang dapat disebabkan oleh sinar matahari, cairan panas, api, listrik, atau bahan kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang penanganan pertama luka bakar. Metode penelitian ini berupa survei dengan menyebarkan kuesioner yang dari setiap data akan diolah dan diuraikan dalam bentuk jumlah dan presentasenya dimana penetapan jumlah sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 3% yang masih memiliki pengetahuan kurang, 56% berpengetahuan cukup, dan 41% berpengetahuan baik.
GAMBARAN PERILAKU SWAMEDIKASI OBAT ANALGETIKA DI APOTEK WYNETTA KABUPATEN BOGOR
Nyeri merupakan perasaan tidak menyenangkan terkait adanya kerusakan jaringan. Nyeri dapat diobati dengan swamedikasi. Pada pelaksanaannya, swamedikasi perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya kesalahan pengobatan akibat terbatasnya pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran perilaku swamedikasi obat analgetika di apotek Wynetta Kabupaten Bogor mencakup gambaran sosiodemografi, profil swamedikasi konsumen yang membeli obat analgetika, gambaran perilaku pada aspek pengetahuan, sikap dan tindakan. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode survei. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Jumlah sampel sebanyak 89 responden menggunakan teknik Purposive Sampling. Data dianalisis secara Univariat pada aplikasi Statistic Product and Servicer Solution (SPSS) versi 26. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil mayoritas responden yang melakukan swamedikasi obat analgetika di apotek Wynetta Kabupaten Bogor adalah berusia 36-45 tahun (38%) berjenis kelamin perempuan (60%), berpendidikan SMA (48%), bekerja sebagai karyawan swasta (45%), memiliki keluhan sakit kepala (30%) memilih obat parasetamol (37%) ,memilih tempat swamedikasi di apotek (82%), mendapat sumber Informasi dari pengalaman (44%). Konsumen di apotek Wynetta memiliki pengetahuan baik (65%), cukup 19 % , kurang 16 % , memiliki sikap baik 57%, cukup 37% , kurang 6% , dan memiliki tindakan baik 63%, cukup 28%, kurang 9%.
EVALUASI OBAT KEDALUWARSA OBAT RUSAK DAN OBAT STOK MATI DI APOTEK TUNGGILIS KOTA BOGOR
Pengelolaan obat yang tidak efisien menyebabkan tingginya obat kedaluwarsa, obat rusak dan obat stok mati. Faktor lain penyebab terjadinya karena human error saat penerimaan barang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab terjadinya obat kedaluwarsa dan rusak serta stok mati agar dapat menjadi rekomendasi kebijakan untuk perbaikan pengelolaan obat di Apotek Tunggilis Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode retrospektif. Sampel yang digunakan untuk mengetahui obat kedaluwarsa, obat rusak dan stok mati yaitu seluruh obat di Apotek Tunggilis Kota Bogor periode tahun 2021 – 2022. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan berupa perhitungan persentase kemudian dibandingkan dengan indikator penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase obat kedaluwarsa pada tahun 2021 sebesar 2,28% dengan total kerugian sebesar Rp 2,433,765 dan pada tahun 2022 sebesar 1,49% dengan total kerugian Rp 1,316,573. Persentase obat rusak pada tahun 2021 sebesar 0,26% dengan total kerugian Rp 139,700 dan pada tahun 2022 sebesar 0%. Persentase obat stok mati pada tahun 2021 sebesar 0,40% dengan total Kerugian Rp 719,904 dan pada tahun 2022 dengan total kerugian sebesar 0,61% Rp 705,276. Kesimpulannya adalah persentase obat kedaluwarsa tahun, obat rusak tahun 2021 dan obat stok mati tidak sesuai.dengan indikator penelitian, sedangkan persentase obat rusak tahun 2022 sesuai dengan indikator penelitian sehingga dengan temuan ini perlu ditingkatkan proses pengelolaan, pengadaan obat untuk meminimalisir terjadinya obat kedaluwarsa, obat rusak dan obat stok mati.
"EVALUASI WAKTU TUNGGU RESEP RACIKAN DAN NON RACIKAN PASIEN BPJS FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA BHAKTI PRATIWI"
Waktu tunggu pelayanan obat racikan dan non racikan merupakan tenggang waktu mulai dari pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat dengan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yaitu ≤ 30 menit untuk Obat Non Racikan dan ≤ 60 menit untuk Obat Racikan. Waktu tunggu pelayanan obat merupakan salah satu indikator yang berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan mengkaji durasi layanan resep bagi pemegang kartu BPJS di Unit Farmasi Rawat Jalan RS Karya Bhakti Pratiwi, untuk menilai kesesuaiannya dengan standar yang berlaku. Studi ini mengadopsi pendekatan Deskriptif Observasional, menggunakan metode pengumpulan data Retrospektif. Sampel yang dianalisis terdiri dari 100 lembar resep racikan dan 100 lembar resep non-racikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 46 resep racikan dan 28 resep non-racikan memenuhi kriteria waktu tunggu yang ditetapkan. Rata-rata durasi pelayanan untuk resep racikan tercatat 63 menit 43 detik, sementara untuk resep non-racikan adalah 47 menit 43 detik. Hal ini menunujukan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi Tidak memenuhi Persyaratan regulasi yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2008 serta Pedoman Standar Pelayanan Minimal untuk Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi dimana untuk resep racikan ≤ 60 menit dan non racikan ≤ 30 menit.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG SWAMEDIKASI DIARE DI KAMPUNG WANGUN TENGAH KECAMATAN BOGOR TIMUR
Swamedikasi adalah Pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengurangi gejala penyakit yang bersifat ringan tanpa nasehat dokter. Diare merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.Pada pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran sosiodemografi serta tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi diare di Kampung Wangun Tengah RW 03. Jenis Penelitian ini adalah desktriptif observasional. Sampel pada penelitian merupakan masyarakat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah 94 responden. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuisioner, data diolah menggunakan Statistical Program for Social Science (SPSS) versi 26. Hasil Penelitian menunjukan responden terbanyak berdasarkan usia pada usia di 36-45 tahun sebanyak 32 responden (34,04%), responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 57 responden (60,64%), responden terbanyak pada tingkat SMA/SMK berjumlah 56 responden (59,57%), responden penelitian ibu rumah tangga yaitu senbanyak 28 responden (29,79%). Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 94 responden masyarakat di Kampung Wangun Tengah RW 03 memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 61 responden (64,9%), tingkat pengetahuan cukup sebanyak 30 responden (31,9%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 3 responden (3,2%). Berdasarkan data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas Kampung Wangun Tengah RW03 kota Bogor mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.
GAMBARAN KESESUAIAN PERESEPAN OBAT BPJS PROGRAM RUJUK BALIK TERHADAP FORMULARIUM NASIONAL DI APOTEK KIMIA FARMA JUANDA BOGOR
Formularium Nasional merupakan daftar obat terpilih yang menjadi acuan dalam pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional untuk memudahkan dokter dalam menuliskan resep. Penelitian ini bertujuan mengetahui persentase gambaran jenis obat, kesesuaian peresepan dan restriksi obat BPJS Program Rujuk Balik terhadap Formularium Nasional di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif observasional. Pengumpulan data secara retrospektif berdasarkan resep masuk di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor periode Desember 2023. Hasil penelitian menunjukan obat yang paling banyak digunakan amlodipin untuk hipertensi (33,56%), bisoprolol untuk jantung (50,96%), tiotropium bromide untuk PPOK (45,87%), metformin untuk diabetes (34,81%), budesonide-formoterol untuk asma (32,26%), asam valproate untuk epilepsi (81,82%), risperidone untuk skizofrenia (75,47%) dan asam asetilsalisilat untuk stroke (75,47%). Peresepan obat seperti asma, diabetes, epilepsi, hipertensi, jantung, PPOK, skizofrenia, dan stroke sebagian besar belum sesuai. Persentase kesesuaian peresepan tertinggi ada pada skizofrenia (100%). Kesesuaian restriksi (89,73%) dan ketidaksesuaian restriksi (10,27%). Dari hasil gambaran, dapat disimpulkan bahwa peresepan obat dalam BPJS Program Rujuk Balik di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor belum sesuai dengan Formularium Nasional Program Rujuk Balik.
EVALUASI PENGADAAN OBAT BERDASARKAN KINERJA PELAYANAN PEDAGANG BESAR FARMASI (PBF) DI APOTEK SUKAHATI CIBINONG TAHUN 2023
PBF merupakan penyalur sediaan farmasi ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kekosongan dan keterlambatan dapat menyebabkan tidak tersedianya sediaan farmasi di Apotek Sukahati sehingga dapat menghambat pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengadaan obat, evaluasi pengadaan obat berdasarkan kinerja pelayanan PBF, mengetahui kesesuaian jenis pesanan, jumlah pesanan dan lead time berdasarkan Service Level Supplier dan mengetahui faktor penyebabnya. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data sekunder secara retrospektif, dengan mengumpulkan data dari surat pesanan serta faktur. Hasil penelitian menunjukan proses pengadaan dilakukan melalui PBF resmi setiap selasa dan jumat , evaluasi pengadaan berdasarkan Service Level Supplier terhadap jenis pesanan berkisar antara 76% - 93%, jumlah pesanan berkisar antara 60% - 92%, dan terhadap lead time 60% - 95%. Diperoleh hasil 5 PBF) dengan kinerja baik ( 83% - 88%) dan 5 PBF dengan kinerja tidak baik (67% - 80%.). Evaluasi pengadaan obat berdasarkan kinerja pelayanan PBF belum semua baik menurut Service Level Supplier yang ditetapkan.
UJI STABILITAS DIPERCEPAТ SEDIAAN LOTION JERAWAT DERMASHINE
Lotion Jerawat digunakan untuk mengobati dan mencegah timbulnya jerawat terutama pada kulit berminyak dengan kandungan anti acne seperti acid salisil yang bersifat explolisasi untuk mengangkat kotoran, sel kulit mati yang menyumbat kulit sehingga mencegah timbulnya jerawat, Sulfur memiliki sifat antimikroba untuk mencegah peradangan pada jerawat, serta mengandung pelembab agar kulit wajah tidak menjadi kering. Sediaan lotion kemudian dilakukan uji stabilitas dengan metode uji stabilitas dipercepat diamati pada hari ke-1, 14, dan 21 meliputi uji organoleptik, uji pH, uji viskositas, uji homogenitas, dan uji daya sebar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas sediaan setelah terbuka. Hasil pada pengamatan hari ke-1, dan 14 pada uji organoleptik berwarna putih, berbau harum, dan bertekstur lembut, hari ke-21 pada uji organoleptik menunjukan perubahan warna menjadi putih susu, berbau apek, dan tekstur sedikit mencair. Uji pH pada hari ke-1, 14, dan 21 memiliki nilai pH 5. Uji viskositas pada hari ke-1 speed 30, 6.600 cps, ke speed 12, 13.250 cps, speed 6, 19.000 cps, speed 3, 27.33 cps, speed 1.5, 36.000 сps, hari ke-21 speed 30, 7.300 cps, speed 12, 13.83 cps, speed 6, 19.83 cps, speed 3, 30.33 cps, speed 1.5, 38.66 cps. Uji homogenitas hari ke-1, 14, dan 21 homogen. Uji daya sebar hari ke-1 suhu 250C 2,6 cm, suhu 40oC 2,6 cm, pada hari ke-21 suhu 250C 2,8 cm, suhu 400C 3 cm. Dari hasil penelitian Dermashine Acne Lotion/Lotion Jerawat dapat disimpulkan bahwa lotion memiliki kondisi stabil dan memenuhi persyaratan mutu fisik lotion
"GAMBARAN KESESUAIAN SUHU PENYIMPANAN DAN BUD (Beyond Use Date) OBAT REKONSTITUSI DI RUANG PERINATOLOGI BERDASARKAN STANDAR STABILITAS OBAT REKONSTITUSI DI RSUD KOTA BOGOR"
Rekonstitusi obat merupakan kegiatan pencampuran atau peracikan obat dengan tujuan menghasilkan dosis dan volume yang diinginkan. Pada sediaan obat rekonstitusi yang perlu diperhatikan yaitu suhu penyimpanan pada obat rekonstitusi dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi dimana BUD merupakan batas akhir penggunaan obat rekonstitusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi ,mengetahuai gambaran kesesuaian suhu penyimpanan dan Beyond Use Date (BUD) obat rekonstitusi di ruang perinatologi berdasarkan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota Bogor. Penelitian ini bersifat desktiptif observasional dimana data yang diambil merupakan hasil dari pengamatan langsung pada obat rekonstitusi di ruang perinatologi periode 26 Januri–26 Februari 2024. Pengolahan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan dicatat. Jumlah sampel penelitian sebanyak 97 obat yang sudah melalui proses rekonstitusi hasil ini di dapat dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase bentuk sediaan sampel obat rekonstitusi injeksi dasar 69% dengan jumlah 56 obat rekonstitusi, injeksi hight alert 24% dengan jumlah 19 obat rekonstitusi, injeksi psikotropika 7% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi, infus dasar 19% dengan jumlah 3 obat rekonstitusi, infus nutrisi 37% dengan jumlah 6 obat rekonstitusi dan infus hight 44% dengan jumlah 7 obat rekonstitusi. Kesesuaian suhu penyimpanan obat rekonstitusi dan kesesuaian Beyond Use (BUD) sudah sesuai dengan standar stabilitas obat rekonstitusi di RSUD Kota Bogor yaitu 100%.
GAMBARAN KESESUAIAN PEMBERIAN TERAPI OBAT DIRECT ACTING ANTIVIRAL ( DAA ) PADA PASIEN HEPATITIS C DI RSUD KOTA BOGOR PERIODE 2021-2023
Hepatitis C merupakan penyakit radang atau inflamasi pada sel-sel hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C. Hepatitis C dapat ditularkan melalui darah. Secara global, diperkirakan 71 juta orang terinfeksi virus hepatitis C kronis. Sejumlah besar dari mereka yang terinfeksi kronis akan berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian terapi obat Direct Acting Antiviral (DAA) di RSUD Kota Bogor serta untuk mengetahui kesesuaian pemberian terapi obat antiviral berdasarkan Pedoman Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia tahun 2017 meliputi data sosiodemografi pasien yaitu usia dan jenis kelamin, data karakteristik pasien hepatitis C berdasarkan tipe infeksi dan tingkat keparahan, dan pemberian terapi obat hepatitis C pada pasien yang sudah melakukan pengobatan, sedangkan data pemberian kesuaian pemberian terapi obat meliputi (Dosis, durasi, dan frekuensi pengobatan). Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 166 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder yang diperoleh dari rekam medis rawat jalan. Profil sosiodemografi berdasarakan jenis kelamin menujukan bahwa pasien terbanyak yaitu laki-laki sebesar 69,9%, rentang usia yang paling banyak mengidap hepatitis C adalah usia 36 sampai 45 tahun sebesar 41,6%, karakteristik pasien hepatitis C dengan tipe infeksi monoinfeksi lebih banyak dari koinfeksi yaitu sebesar 80,7%, serta tingkat keparahan non sirosis sebesar 62,7%. Kombinasi obat paling banyak digunakan adalah Sofosbuvir dan Daclatasvir sebanyak 50,6%. Kesesuaian durasi, dan kesesuaian frekuensi pengobatan mencapai 100% dan dosis pengobatan mencapai 93,4%.
GAMBARAN TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DIABETES MELITUS PADA LAYANAN BPJS PROGRAM RUJUK BALIK DI APOTEK KIMIA FARMA JUANDA BOGOR
Ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan merupakan salah satu penyebab meningkatnya morbiditas dan mortalitas DM di Indonesia. Oleh karena itu pengukuran tingkat kepatuhan penggunaan obat sangat penting dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan. DM z (Diabetes zMelitus) z adalah zpenyakit zdimana z tubuh zpenderitannya z tidak zbisa zmengendalikan z tingkat zgula z (glukosa) zdalam zdarahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran karakteristik pasien, tingkat kepatuhan mengkonsumsi obat pada pasien DM di BPJS layanan obat Rujuk Balik di Apotek Kimia Farma Juanda Bogor. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan penentuan sampelnya menggunakan rumus Slovin dengan metode purposive sampling, dengan sampel sebanyak 85 orang. Data yang telah dikumpulkan melalui survei, pembagian kuesioner, dan dokumentasi. Analisis tingkat kepatuhan mengkonsumsi obat dihitung dari hasil kuesioner MMAS-8. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 53% dengan rata-rata usia 40-70 tahun. lebih banyak berpendidikan akhir SMA sebanyak 73%, status pekerjaan terbanyak 82% tidak bekerja. Sebagian besar peserta mandiri sebanyak 69% dan dalam masa pengobatan 1 tahun sebanyak 51%. Kepatuhan tertinggi diperoleh pada kategori tingkat kepatuhan sedang sebesar 64%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pasien DM pada layanan BPJS program rujuk balik sudah patuh mengkonsumsi obat.
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KIMIA FARMA JUANDA BOGOR
Apotek adalah suatu tempat tertentu untuk tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. BPJS merupakan fasilitas kesehatan yang diberikan pemerintah dengan sistem pembayaran angsuran setiap bulannya yang dibebankan. Kepuasan pasien merupakan salah satu hal yang terpenting yang harus dicapai oleh setiap fasilitas kesehatan. Tujuan dari penelitian ini sendiri untuk mengetahui seperti apa gambaran dari sosiodemografi para pasien BPJS serta mengetahui tingkat kepuasan pasien BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di apotek Kimia Farma Juanda Bogor terhadap lima dimensi yaitu bukti fisik, kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati. Analilis data dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif terhadap pasien yang datang pada jangka waktu Desember 2023 sampai dengan Februari 2024. Sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin dan teknik pusposive sampling sehingga total responden sebanyak 100 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan survei, pembagian kuesioner dan hasilnya diolah dengan menggunakan program SPSS. Hasil dari penelitian ini tingkat kepuasan pasien berdasarkan 5 dimensi yaitu Bukti Fisik 77,2%, kehandalan 75,26%, ketanggapan 74,1%, jaminan 68,8%, dan empati 78,7%. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk lebih meningkatkan peran petugas Apotek Kimia Farma Juanda Bogor dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien BPJS.
GAMBARAN KELENGKAPAN RESEP DOKTERlSECARA ADMINISTRATIF DAN FARMASETIK DI FARMASI RAWAT JALAN RUMAHuSAKIToKARYA BHAKTI PRATIWI KABUPATEN BOGOR
#Pengkajian resepvmerupakanokegiatan yangupentingydalam pelayanan resepfkarena dapat membantu mengurangi terjadinyaomedicatior error. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiogambaran kelengkapan resep dokter sacara administratif dan farmasetik dijFarmasibRawatiJalan Rumah Sakit Karya Bhakti Pratiwi Kabupaten Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan secara retrospektif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian kelengkapan reseplsecara administratif yang telah mencapai 100% yaitu data pasien (nama, umur, jenis kelamin, tinggiobadanodan beratmbadankpasien), data dokter (nama, nomorlSIP, alamat praktek), tanggal penulisan resep dan ruangan/ unit asal resep. Sedangkan paraf dokter hanya 42%. Kelengkapanmresep secarakfarmasetik yang telah mencapai 100% yaituynamawobat, dosis dan aturanupakai. Sedangkanyjumlah obat sebesar 99% dan bentukysediaan hanya 66%. Berdasarkan hasil kelengkapanbresep secaraoadministratif danbfarmasetikldi Farmasi RawatiJalan Rumah Sakit KaryapBhaktimPratiwi Kabupaten Bogor belum sesuaimdengan Peraturan MenterioKesehatan Republik IndonesiajNomor 72 Tahun 2016nkarena masih terdapat ketidaklengkapan pada resep.
"UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA MINYAK BIJI SACHA INCHI (Plukenetia volubilis L) MENGGUNAKAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS"
Sacha Inchi adalah salah satu jenis tumbuhan yang cukup berpotensi sebagai antioksidan. Secara tradisional minyak biji sacha inchi digunakan sebagai minyak perawatan kulit yang dioleskan secara teratur untuk menjaga kelembutan dan kesehatan kulit di negara Peru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelompok senyawa fitokimia dan untuk mengetahui nilai IC50 dari Minyak Sacha Inchi dengan menggunakan Vitamin C sebagai kontrol positif. Uji skrinning fitokimia secara kualitatif dilakukan dengan uji warna menggunakan berbagai pereaksi untuk mengidentifikasi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid-terpenoid dan uji aktivitas antioksidan minyak sacha inchi menggunakan metode peredaman radikal bebas dengan DPPH mengukur absorbansi menggunakan spektrofotometer Uv-vis pada panjang gelombang 517 nm. Hasil penelitian menyatakan bahwa minyak biji Sacha Inchi mengandung kelompok senyawa metabolit sekunder alkaloid dan terpenoid. Hasil nilai IC50 minyak biji Sacha Inchi sebesar 96,12 ppm sedangkan Vitamin C sebagai kontrol positif menghasilkan nilai IC50 sebesar 9,512 ppm. Kesimpulan bahwa minyak biji Sacha Inchi memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat.