Sebanyak 6 item atau buku ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN INFUSA DAN EKSTRAK n-ETIL ASETAT DAUN SENDOK (Plantago major L) DENGAN METODE HIDROGEN PEROKSIDA

No: 333 Hidrogen peroxide in the human body penetrates into the cell and reacts with Ferro metal to form hydroxyl radicals resulting DNA damage and , Alzheimer's, Parkinson's disease. The presence of phenolic substances of hydrogen peroxide is converted to a more neutral compound of water. Spoon leaves are important medicinal plants that have phenolic active substances. Pursuant to that matter further research is aimed to test antioxidant activity of water extract and spoon leaf extract to radical of H2O2 and compare activity of hydrogen peroxide inhibitory power with ascorbic acid as positive control and phytochemical test. The content of the spoon leaf infusa compound and the ethyl acetate extract is phenolic. Spoon leaves are extracted by infusa and maceration with ethyl acetate solvent. Inhibitory to hydrogen peroxide activity showed that infusa and ethyl acetate extract inhibited hydrogen peroxide activity 177,79 ppm and 329,33 ppm, the strongest IC50 from both samples were infusa.

PERBANDINGAN KADAR DAN VALIDASI METODE ANALISIS OBAT HEWAN AMOKSISILIN GRANUL DENGAN METODE HAYATI DAN SPEKTROFOTOMETRI

No: 316 Antibiotik amoksisilin pada hewan digunakan untuk pengobatan infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotik perlu diperhatikan mutunya sehingga efikasi antibiotik tersebut optimal. Penetapan kadar amoksisilin dengan metode hayati memerlukan waktu lebih lama yaitu dua hari. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menemukan suatu metode baru untuk meminimalkan waktu pengujian yaitu metode spektrofotometri. Sampel amoksisilin (10 %) diuji dengan metode hayati (konsentrasi 10; 2,5 ppm) dan spektrofotometri (konsentrasi 10 ppm, λ=247 nm). Kedua metode ditentukan validasinya. Hasil uji metode hayati untuk akurasi adalah 98,92% - 99,33%, nilai CV uji presisi sebesar 0,081%, nilai koefisien korelasi uji linearitas sebesar 0,9980, limit deteksi sebesar 0,228 μg dan limit kuantisasi 0,076 μg. Hasil uji metode spektrofotometri untuk akurasi adalah 98,06% - 100,59%, nilai CV uji presisi sebesar 0,881%, koefisien korelasi uji linearitas sebesar 0,9998, limit deteksi sebesar 0,027 ppm dan limit kuantisasi 0,092 ppm. Hasil kedua metode tersebut kemudian dilakukan uji t student (α=0,05) dan didapatkan hasil t hitung sebesar 1,4384, t tabel 2,100 dan derajat kebebasan sebesar 18. Pengujian amoksisilin dengan metode hayati sama atau tidak berbeda nyata dengan metode spektrofotometri sehingga metode spektrofotometri dapat digunakan untuk analisis obat hewan amoksisilin ganul secara valid.

OPTIMASI WAKTU MASERASI PARASETAOL DALAM JAMU PEGALINU YANG BEREDAR DI KECAMATAN BOGOR BARAT

No: 248 Jamu merupakan obat tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Peraturan pemerintah menyatakan bahwa di dalam jamu tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia obat. Namun, sampai saat ini masih terdapat jamu yang mengandung bahan kimia obat, seperti pada jamu pegal linu yang mengandung parasetamol. Analisis bahan kimia obat dalam jamu belum disertai waktu ekstraksi optimal yang menghasilkan kadar bahan kimia obat yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan menentukan waktu maserasi dan kadar parasetamol yang optimal dalam jamu pegal linu. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Bogor Barat dengan metode purposive sampling. Sampel dimaserasi menggunakan pelarut etanol pada waktu 0, 30, 60, 90 dan 180 menit. Sepuluh sampel jamu pegal linu yang telah ditentukan, dilakukan skrining dengan metode Kromatografi Lapis Tipis menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak kloroform:etanol (9:1) serta dideteksi pada sinar UV 254 nm. Sampel dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis pada λ 248 nm. Hasil analisis menunjukkan bahwa 7 sampel jamu positif mengandung parasetamol dengan nilai Rf yang mendekati nilai Rf standar parasetamol, yaitu 0,430. Waktu optimal maserasi pada jamu simulasi, sampel D, F dan S adalah 0-30 menit (14,25 %, 22,33 %, 6,22 %, 8,98 %); sampel A, E dan Q pada 60-90 menit (7,12 %, 5,62 %, 4,47 %) dan sampel H pada 120 menit (18,38 %). Waktu optimal maserasi sampel didominasi oleh rentang waktu antara 30-90 menit. Oleh karena itu, diketahui bahwa sampel jamu pegal linu yang tersebar di Kecamatan Bogor Barat memiliki waktu maserasi yang optimal pada rentang waktu antara 30-90 menit.

ANALISIS SILDENAFIL SITRAT DALAM JAMU KUAT DI KECAMATAN BOGOR BARAT DAN TANAH SAREAL DENGAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR SPEKTROMETRI MASSA

No: 243 Jamu merupakan pengobatan pilihan masyarakat karena berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. Salah satu jenis jamu adalah jamu kuat yang dapat berkhasiat sebagai penambah stamina dan vitalitas lelaki, namun dalam perkembanganya kemurnian jamu kuat banyak ditambahkan sildenafil sitrat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif. Analisis senyawa sildenafil sitrat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM) yang disampling pada 2 kecamatan yaitu kecamatan Bogor Barat dan Tanah Sareal sehingga diperoleh 32 sampel, dimana 18 sampel dari Bogor Barat diberi kode A dan 14 sampel dari Tanah Sareal diberi kode B. Hasil KLT yang dielusi pada Silica gel 60 F254 dengan eluen metanol:kloroform (4:1), terdapat 5 sampel menunjukkan nilai Rf yang mendekati standar sildenafil sitrat yaitu 0.83, pada kode sampel A4 nilai Rf 0,84, A13 nilai Rf 0,84, A17 nilai Rf 0,83, B11 nilai Rf 0,83, dan B14 nilai Rf 0,84. Hasil KC-SM dengan menggunakan kolom Phenomenex Synergi Fusion RP-100A, sistem pompa gradien dengan fase gerak 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam air dan 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam asetonitril, diperoleh kadar sampel untuk kode A4, A13, A17, B11, B14 sebesar 198,01; 1119.19; 226,00; 156,77; 443,87 µg/kg.

PENENTUAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH YANG BEREDAR DI KOTA TANGERANG SELATAN

No: 214 Krim pemutih wajah telah banyak digunakan di Indonesia dan merupakan kosmetika yang mengandung bahan aktif pemutih yang penggunaannyabertujuan untuk mencerahkanatau memutihkan kulit.Hidrokuinon dilarang digunakandalamkrim pemutih wajah karena dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar jugadapat menyebabkan kelainan pada ginjal, kanker darah dan kanker sel hati. Tujuan penelitian iniadalah untuk membuktikan masih adanya kandungan hidrokuinon dalam berbagai merek krim pemutih wajah yang beredar di Kota Tangerang Selatan.Sebanyak 8 krim pemutih wajah yang berbeda dikumpulkan dari pusat perbelanjaan lokal di 4 kecamatan daerah Kota Tangerang Selatan yakni : Serpong, Ciputat, PondokArendan Pamulang, uji kualitatif dengan reaksi warna menggunakan pereaksiBenedict dan ferri klorida, hasilnya 5 (lima) sampel mengandung hidrokuinon (A1, A2, B1, C1, D2) dan uji kuantitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vismenggunakan pelarut metanol dengan panjang gelombang maksimum 293 nm, kedelapan sampel mengandung hidrokuinon berkisar antara 0,32% sampai 2,34%, dengan kadar hidrokuinon tertinggi pada sampel B1 sebesar 2,34%, yang merupakan sampel produk impor yang telah memiliki nomor registrasi di BPOM.