Sebanyak 148 item atau buku ditemukan

Formulasi sediaan lipstik dengan ekstrak kulit buah rambutan (Nephellium lappaceum L) sebagai pewarna

No. 513 Rambutan (Nephallium leppaceum L) merupakan sejenis buah-buahan tropika yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Kulitnya yang berwarna merah masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Adanya warna merah pada kulit buah rambutan disebabkan oleh adanya pigmen antosianin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam kulit buah Rambutan. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan menggunakan etanol 96% sebagai pelarut yang mengandung asam sitrat 2%, kemudian pelarut diuapkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kulit buah rambutan. Formulasi lipstik terdiri dari bahan-bahan seperti cera alba, setil alkohol, carnauba wax, adeps lanae, vaselin, minyak jarak, propilenglikol, tween 80, butil hidroksi toluen, nipagin serta penambahan ekstrak kulit buah rambutan dengan konsentrasi 25, 30, dan 35%. Hasil evaluasi fisik menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat mudah dioleskan, stabil, berwarna merah, homogen, titik lebur 53-65oC, pH 4,85-5,86 dan intensitas warna dengan perubahan intensitas warna yang cukup stabil.

ANALISIS POTENSI INTERAKSI PADA PERESEPAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DENGAN OBAT ANTI DIABETES MELITUS TIPE II ORAL PADA PASIEN TB PARU DI POLIKLINIK RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PARU DR.M.GOENAWAN PARTOWIDIGDO BOGOR

No. 604 Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat DRP (drug related problem) yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Dengan meningkatnya kompleksitas obat-obat yang digunakan dalam pengobatan saat ini dan kecenderungan terjadinya praktik polifarmasi, maka kemungkinan terjadinya interaksi obat semakin besar. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi pada peresepan obat antituberkulosis dengan obat antidiabetes mellitus tipe 2 oral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pengambilan data secara retrospektif dari peresepan pasien TB paru. Subjek penelitian adalah yang memenuhi kriteria inklusi yaitu 87 lembar resep. Kriteria inklusinya yaitu pasien TB paru dengan penyakit penyerta diabetes mellitus tipe 2 di poliklinik rawat jalan RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor. Potensi interaksi diukur dengan menghitung kemungkinan jumlah terjadinya interaksi berdasarkan tingkat keparahan interaksi pada obat antituberkulosis dengan obat antidiabetes mellitus tipe 2 oral pada resep yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase potensi jumlah kejadian interaksi pada tingkat keparahan kecil yaitu 30% dan 70% pada tingkat keparahan sedang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa obat antituberkulosis dengan obat antidiabetes mellitus tipe 2 oral diberikan secara bersamaan relatif aman dengan pengaturan waktu pada pemberiannya.