FITRI YANI MAHDALENA; Nelly Fronika Situmorang; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi secara menahun yang
disebabkan gangguan pada metabolik ditandai kadar gula dalam darah meningkat.
Beberapa pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki penyakit penyerta sehingga
membutuhkan kombinasi obat yang dapat mempengaruhi hasil terapi pasien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kejadian interaksi obat pada pasien
diabetes melitu tipe 2 pada pasien rawat jalan di RS FMC Bogor periode Januari-
Maret 2023. Penelitian merupakan penelitian dekriptif-observasional dengan
pengambilan data secara retrospektif dari data sekunder rekam medis dan resep
sebanyak 90 pasien dengan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan
website drug.com dan Medscape diolah dengan Microsoft excel. Hasil penelitian ini
menunjukkan pasien diabetes melitus tipe 2 terbanyak perempuan (70%) dengan
rentang usia 56-65 tahun (41%). Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi
(51,92%). Jumlah obat terbanyak adalah 2-3 jenis obat sebanyak (39%). Obat
antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak (45,14%)
dan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu amlodipine (17,37%). Potensi interaksi
terjadi sebanyak 201 kasus, mekanisme terbanyak farmakodinamik (91%) dengan
level keparahan moderate (96%). Kejadian interaksi terjadi sebanyak 29 kasus
(14,43%) dengan mekanisme farmakodinamik dan level keparahan moderate dan
kasus terbanyak pada metformin dengan sucralfate syr sebanyak 6 kasus (20,68%).
Ferry Effendi; Kartika Yuliani; YULIA ANISA ROSADI
2025 · Book · Open Access
Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri dengan
pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang seharusnya atau
kadar hambat minimalnya. Penggunaan antibiotik didasarkan pada aspek infeksi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dengan tingkat
pengetahuan penggunaan antibiotik di instalasi farmasi rawat jalan RS Annisa
Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observative dengan
pengambilan data primer menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan
penggunaan antibiotik. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 152
responden. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Data dianalisis
dengan SPSS versi 26 dengan di uji ststistik menggunakan distribusi frekuensi
dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan data sosiodemografi responden usia
terbanyak 26-35 tahun 36,2%, jenis kelamin terbanyak perempuan 76,3%,
pendidikan terbanyak SMA 92,1% dan pekerjaan terbanyak karyawan swasta
47,4%. Berdasarkan Uji chi square sosiodemografi diperoleh nilai p-value usia
0,562, jenis kelamin 0,720, pendidikan 0,386 dan pekerjaan 0,201. Tidak ada
hubungan sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan penggunaan antibiotik di
Rumah Sakit Annisa Bogor.
DESI KRISTINA PUTRI; Oriza Safrini; Silvi Nurafni
2025 · Book · Open Access
Infeksi Dengue merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh
virus Dengue pada manusia. DHF ditandai dengan adanya kebocoran plasma
seperti peningkatan hematokrit, efusi pleura, hipoalbuminemia (Kemenkes, 2020).
Clinical pathway digunakan sebagai kendali mutu dan biaya dalam pelayanan
kesehatan yang dapat dilihat dari rata-rata lama rawat dan outcomes terapi. Kasus
DHF masuk dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap di RS X Bogor. Penelitian
ini bertujuan untuk mengukur perbedaan rata-rata lama rawat dan outcomes terapi
pasien DHF antara sebelum dan setelah clinical pathway. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif observasional rancangan penelitian cross sectional, data
dikumpulkan secara retrospektif menggunakan catatan rekam medis. Persentase
terbesar pasien DHF rawat inap mendapatkan masa pengobatan cepat atau lama
rawat 5 hari, sebanyak 51 pasien (70%) dengan mean 4,68 hari pada tahun 2017
dan 61 pasien (67%) dengan mean 3,75 hari pada tahun 2018. Persentase outcomes
terapi terbesar pasien DHF rawat inap adalah sembuh sebanyak 38 pasien (52%)
pada tahun 2017 dan 45 pasien (62%) pada tahun 2018. Hasil ujistatistik lama rawat
yaitu P-Value > 0,05 (P-Value = 0,051), uji statistik outcomes terapi yaitu P-Value
> 0,05 (P-Value = 0,244), tidak terdapat perbedaan bermakna antara sebelum
dengan sesudah clinical pathway pada kedua kategori.
FURICHOH APRILIANA PUTRI; Fredy Arifta Nasel; Ratna Juita
2025 · Book · Open Access
Dampak yang dapat terjadi pada pasien stroke salah satunya adalah terjadinya
kerusakan neurologis. Semax dan Citicoline merupakan neuroprotektor yang dapat
memperbaiki kerusakan otak dan meningkatkan kemampuan kognisi serta memori
pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas
penggunaaan Semax dan Citicoline pada pasien stroke menggunakan parameter
nilai GCS (Glasglow Coma Scale) di Rumah Sakit PMI Bogor. Desain penelitian
adalah penelitian deskriptif bersifat observasional yang dilakukan dengan
pendekatan restropektif dari data Rekam Medik pasien stroke periode Juli –
Desember 2019 dengan sampel sebanyak 64 sampel. Hasil penelitian menunjukan
profil pasien terbanyak berdasarkan jenis kelamin laki-laki 38 pasien (59.38%),
usia 46-59 tahun 26 pasien (40,63%). Lama perawatan lebih dari 5 hari 21 pasien
(65.63%) menggunakan Semax dan kurang dari 5 hari 20 pasien (62.50%)
menggunakan Citicoline. Profil penggunaan neuroprotektor terdapat 32 pasien
(50%) menggunakan Semax dan 32 pasien (50%) menggunakan Citicoline. Hasil
gambaran efektivitas penggunaan berdasarkan seilisih nilai GCS (Glasglow Coma
Scale) menunjukan Semax (29.89%) dan Citicoline (10.90%). Hasil analisis
statistik untuk mengetahui selisih perbedaan nilai GCS (Glasglow Coma Scale)
awal dan akhir terapi pada Semax dan Citicoline dengan uji Wilcoxon diperoleh
hasil bahwa ada perbedaan bermakna pada efek perbaikan neurologis antara terapi
Semax dan Citicoline dengan nilai 0.000 (P<0.05). Hasil analisis statistik untuk
mengetahui persentase kenaikan nilai GCS (Glasglow Coma Scale) pada terapi
Semax dan Citicoline diperoleh hasil bahwa ada perbedaan menggunakan terapi
Semax lebih efektif (35.89%) sebagai neuroprotektor dan menggunakan terapi
Citicoline (13.72%) yang dikuatkan dengan analisis statistik dengan uji Mann
Withney dimana ada perbedaan bermakna antara terapi Semax dan Citicoline
dengan nilai 0.000 (P<0.05).
Achmad Fauzi Isa; EVA MAULINA PANCARANI; M. Ikhwan Setiawan
2025 · Book · Open Access
Yogurt merupakan salah satu produk probiotik berupa susu fermentasi yang
dapat memberikan manfaat kesehatan melalui peningkatan keseimbangan
mikroflora usus. Substitusi tepung bekatul beras merah pada yogurt selain
meningkatkan nutrisi, juga meningkatkan sifat fisik yogurt. Penelitian dilakukan
untuk mendapatkan formula yogurt yang ditambah tepung bekatul beras merah, uji
hedonik dan uji stabilitas yogurt yang dihasilkan. Tepung bekatul beras merah
setelah diayak, disterilisasi dan dipanaskan. Formulasi yogurt dilakukan dengan
cara mempasteurisasi susu full cream (F1), low fat (F2), skimmed (F3) dan fresh
(F4) dengan penambahan susu bubuk skim 5%, sukrosa 5% dan tepung bekatul
beras merah 1% kemudian difermentasi selama 8 jam. Organoleptik F1, F2, F3, F4
kental, homogen, F2 lebih disukai dalam segi penampakan, tekstur dan rasa, sedang
F1 lebih disukai dalam segi aroma. Seluruh formula stabil selama penyimpanan dan
memenuhi standar SNI 2981:2009 tentang yogurt.
Eem Masaenah; Inawati; YOGA NOVA ARISTIA FINANDAR
2025 · Book · Open Access
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang progresif. Pengobatan
diabetes melitus bisa dilakukan menggunakan bahan-bahan alami, salah satunya
dengan menggunakan buah kesemek yang mengandung tanin dan senyawa
fenolik. Tujuan pada penelitian ini untuk menganalisis efek pemberian Ekstrak
etanol 70 % buah kesemek (Diospyros kaki L.)dalam menurunkan kadar glukosa
darah mencit jantan yang diinduksi aloksan. Kandungan fitokimia ekstrak 70%
buah kesemek mengandung senyawa aktif glikosida, flavonoid, tannin, saponin,
dan triterpenoid/steroid. Rancangan percobaan yang digunakan adalah dengan uji
Anova (Analisis of Variance) satu arah yaitu RAL (rancangan acak lengkap) dan
uji lanjutan LSD (Least Significant Differences). Pada pembuatan ekstrak etanol
70% Buah Kesemek sebagai antidiabetes melitus dilakukan pada mencit putih
jantan dibagi 3 kelompok dengan masing-masing dosis 250 mg/kgBB, 500
mg/kgBB dan 750 mg/kgBB (Dosis I, II & III) yang diinduksi aloksan dengan
perbandingan menggunakan Metformin 65 mg/kgBB. Hasill pengujian didapatkan
persentase pada dosis kadar penurunan glukosa darah berturut-turut 28,8%,
33,75%, 39,27%. Pada kontrol negatif 5,24% dan kontrol positif 13,14%.
Penelitian ini merupakan pembuktian penggunaan buah kesemek secara empiris.
Penggunaan buah kesemek dapat digunakan untuk antidiabetik karena terbukti
dalam penelitian dapat menurunkan kadar glukosa pada mencit.
DAMAR GALIH; Harry Noviardi; Nina Imaniar
2025 · Book · Open Access
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tanaman
yang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Kulit batang salam mengandung
senyawa alkaloid, tanin, tanin dan flavonoid. Alkaloid dapat menghambat aktivitas
enzim lipase pankreas sehingga meningkatkan sekresi lemak melalui feses, tanin
menghambat penyerapan lemak di usus dengan cara bereaksi dengan protein
mukosa dan sel epitel usus sedangkan fenolik dan flavonoid mengurangi kadar
kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim HMG-CoA reduktase.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidaknya aktivitas
antikolesterol dari ekstrak kulit batang salam serta membandingkan pelarut mana
yang lebih baik dalam menurunkan kolesterol. Kulit batang salam dibuat ekstrak
secara maserasi menggunakan pelarut air, etanol dan etil asetat. Masing-masing
ekstrak diuji kandungan fitokimia kemudian diukur penurunan kadar kolesterol
dengan dibuat deret konsentrasi 50-150 ppm. Aktivitas penurunan kadar kolesterol
dilakukan dengan menambahkan pereaksi Lieberman-Buchard dan diukur dengan
Spektrofotometer UV-Vis. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kulit batang
salam mengandung flavonoid, tanin, triterpenoid, saponin dan fenol. Pada
penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak air, etanol dan etil asetat memiliki
aktivitas antikolesterol secara in vitro. Persen penurunan kadar kolesterol pada
konsentrasi paling rendah (50 ppm) yang paling baik yaitu ekstrak etanol dengan
persentase 73,9% dibandingkan dengan ekstrak air sebesar 70,19% dan ekstrak etil
asetat sebesar 68%.
Anastasia Aty Jayanti; MUHAMAD SUBQI; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Kepuasan pasien merupakan sebuah perasaan yang didapatkan pasien
setelah pelayanan dilakukan berupa perasaan senang atau kecewa yang didapatkan
seseorang. Kepuasan dan Pelayanan adalah dua hal yang saling berkaitan, dimana
dengan adanya kepuasan pihak terkait akan mampu memberikan penilaian
terhadap pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan
kefarmasian di Rumah Sakit Family Medical Center Bogor. Penelitian ini
dilakukan secara deskriptif dengan mengambil data secara prosfektif
menggunakan kuesioner dan bersifat non-eksperimental. Pasien dalam penelitian
ini adalah pasien BPJS dan non BPJS rawat jalan yang mendapat obat dari
instalasi Rumah Sakit Family Medical Center Bogor periode Agustus 2023.
Sampel penelitian sebanyak 365 pasien yang diambil secara purposive sampling.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kategori jenis kelamin tertinggi yaitu
perempuan (59%), usia mayoritas 26-35 tahun (34%), pendidikan SMA (40%),
dan pekerjaan karyawan swasta (45%). Tingkat kepuasan pasien BPJS dan non
BPJS terhadap pelayanan kefarmasian di RS FMC Bogor menunjukan bahwa
kategori tingkat kepuasan pada dimensi Penampilan adalah (78,1%), dimensi
Empati (76,9%), dimensi Keandalan (76,6%), dimensi Jaminan (76,1%), dan
dimensi ketanggapan (75,6%). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan
bahwa tingkat kepuasan pelayanan kefarmasian pada pasien rawat jalan diinstalasi
RS FMC Bogor adalah puas dengan presentase sebanyak (76,7%). Dapat di
simpulkan bahwa Pasien Non BPJS lebih puas pelayanannya dibandingkan
dengan Pasien BPJS.
Eem Masaenah; MAURIEN ALFAREZA; Triyani Sumiati
2025 · Book · Open Access
Ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L) mengandung antosianin dan
betasianin merupakan pigmen merah atau ungu-merah yang dapat digunakan
sebagai pewarna alam. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak
umbi bit merah (Beta vulgaris L) menjadi sediaan lip tint yang memiliki stabilitas
mutu fisik yang baik, disukai responden dan tidak menimbulkan iritasi. Sebelum
ya dibuat sediaan lip tint dengan variasi ekstrak umbi bit merah (Beta vulgaris L)
15g (F1), 20g (F2), 25g (F3). Dilakukan uji antosianin terhadap ekstrak umbi bit
merah (Beta vulgaris L), uji stabilitas mutu fisik sediaan lip tint dilakukan secara
cycling test dengan parameter uji homogenitas, pH, viskositas dan uji daya oles,
selain itu dilakukan uji kesukaan dan uji iritasi. Hasil uji stabilitas mutu fisik
sediaan lip tint menunjukan bahwa sediaan stabil dan tidak menimbulkan iritasi.
Ferry Effendi; Nendri Suhendrik; SHERLY MAULIDINA LESTARI SEPTIANI
2025 · Book · Open Access
Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat
lima golongan utama obat antihipertensi yaitu ACEI, ARB, beta bloker, CCB dan
diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dan
evaluasi ketepatan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukalarang
Sukabumi periode Juli – Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pengambilan data sekunder dari rekam medik. Pengambilan sampel menggunakan
rumus Slovin dengan teknik purposive sampling dengan tingkat kepercayaan 90%.
Populasi sebanyak 697 pasien, diambil sampel sebanyak 88 pasien. Hasil penelitian
karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah
perempuan 59 pasien (67%), usia terbanyak adalah lansia akhir 56 – 65 tahun 30
pasien (34%), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi derajat 1 sebanyak
42 pasien (48%) dan pasien tanpa penyakit penyerta 61%. Penggunaan obat
antihipertensi lebih banyak secara monoterapi sebesar 68% dibandingkan obat
kombinasi sebesar 32%. Monoterapi terbanyak adalah amlodipin sebesar 42%
sedangkan kombinasi terbanyak adalah captopril – amlodipin sebesar 24%.
Kemudian dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman
Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi (PERHI) tahun 2019, yaitu tepat indikasi
100%, tepat pasien 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100% dan tepat frekuensi
waktu pemberian obat 91%.
Febi Ishfahani; Rizal Mustia Abidin; YUSUP MAULANA
2025 · Book · Open Access
Waktu tunggu yang menjadi suatu tolak ukur dalam standar pelayanan minimal
farmasi di rumah sakit yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian di rumah sakit sakit dan untuk menjamin kepuasan pasien. Tujuan
penelitian untuk mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan resep dengan
kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa
Sukabumi dengan metode cross sectional secara prospektif menggunakan
kuesioner. Jumlah sampel yaitu 100 responden yang merupakan pasien atau
keluarga pasien dihitung menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria
inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2022 di
Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi. Hasil data sosiodemografi
berdasarakan jenis kelamin laki-laki (52%), pada usia 17-25 tahun (38%), pekerja
lain-lain (30%), dan BPJS lebih dominan (82%). Gambaran waktu tunggu resep non
racik 14,7 menit dan racikan 31,1 menit, dengan kesesuaian yaitu (89%), untuk
kepuasan berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (puas 45%), Ketanggapan (puas
43%), Jaminan (puas 62%), Empati (sangat puas 37%), dan Wujud / nyata (sangat
puas 40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu dengan 4
dimensi kepuasan pasien diataranya variabel kenyataan (p-value=0.003), empati (p-
value=0,007), ketanggapan (p-value=0.019) serta jaminan (p-value=0.008).
IKA TRISNAWATI; Silvi Nurafni; Syahruddin
2025 · Book · Open Access
Berdasarkan Laporan kinerja Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian
tahun 2017 menjelaskan bahwa puskesmas yang melaksanakan pelayanan
kefarmasian sesuai standar adalah puskesmas yang telah menerapkan pemberian
informasi obat (PIO) dan terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan pengetahuan responden tentang informasi obat sebelum dan
sesudah dilakukan penyuluhan tentang informasi obat meliputi cara mendapatkan,
menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. Jenis Penelitian yang digunakan
adalah quasi eksperimental, dengan desain one group pretest posttest. Hasil
penelitian menunjukan bahwa Frekuensi responden paling banyak berjenis kelamin
laki-laki 66,34%, kategori usia dewasa menjadi responden terbanyak sebanyak
66,67%. Pendidikan paling banyak SMA 73,33% dan Pekerjaan paling banyak
Petani/Peternak sebesar 30%. Tingkat pengetahuan responden sebelum dilakukan
penyuluhan adalah kurang sebanyak 100%, namun setelah dilaksanakan
penyuluhan tentang PIO tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan baik
26,67%, cukup 66,67% dan kurang 6,67%. Hasil analisis statistik dengan uji
Wilcoxon menunjukan bahwa adanya perbedaan bermakna tangkat pengetahuan
pasien tentang informasi obat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dilihat
dari nilai p value < 0,05 (p-value = 0,000).
Silvi Nurafni; Siti Mariam; WANDA HUSNUL AFIFAH
2025 · Book · Open Access
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik
kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2
membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai
dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu
atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan
kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara
deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan
pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data
rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian
menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia
terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi
(71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat
(9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat
Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat
dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%)
dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36
kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik
(97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).
DIANA KHOIRUNNISA; Dewi Pawitra Sari; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat
progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal
dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit
(toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan
terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan
penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau
kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada
pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional.
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling
berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan
(53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta
paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi
terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain
antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%).
Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu
interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta
kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak
yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).
ALLIF YATSARIDHO RAHMAN; Rantry Ristiantie; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan
obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam
waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian
ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi
terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non
OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis
penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan
deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep
elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction
Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah
Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal)
(27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan
isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat
vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi
interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat
antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%),
dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak
Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu
interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan
terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT
terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%)
dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).
Helena Mei Riawati; RIZKI ANISAH; Silvi Nurafni
2025 · Book · Open Access
Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap
tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid
lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih
dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan
antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid
rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli
2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi
dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan
resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari
Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di
Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57
pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11
tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak
yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan
gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak
adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien
(42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk
tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%),
pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien
(14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian
antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.
Novi Winda Lustsina dan Babara Azalya Sarifudin
2024 · Book · Open Access
Angga Cipta Narsa; Riski Sulistiarini; dan Hajrah
2024 · Book · Open Access
Eleonora Maryeta; dkk
2024 · Book · Open Access
Yoga Dwi Saputra
2024 · Book · Open Access