Sebanyak 53 item atau buku ditemukan

PENGARUH PEMBERIAN DEFERIPRONE TERHADAP PENURUNAN KADAR FERRITIN SERUM PADA PASIEN THALASSEMIA DI POLIKLINIK THALASSEMIA RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015

No: 311 Pemeriksaan kadar ferritin serum digunakan untuk menilai respons terapi kelasi besi pada penyandang thalassemia mayor. Kelator besi yang digunakan adalah deferiprone (DFP). Penimbunan besi terus berlangsung meskipun telah mendapat kelator besi, oleh sebab itu diperlukan pemberian kelator besi yang efektif dan kontinyu. Tujuan penelian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Deferipronme dengan penurunan kadar ferritin serum penyandang thalassemia mayor setelah pemberian deferiprone. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian dianalisa secara deskriftif terhadap pasien thalassemia mayor periode Januari- Desember 2015 di Poliklinik Thalassemia RS PMI Bogor. Analisa stastistik menggunakan uji Friedman. Setelah data diuji dengan uji Normalitas untuk melihat perbedaan kadar ferritin serum setelah pemberian deferiprone selama 6 bulan dan 12 bulan. Dari hasil penelitian 89 pasien thalassemia mayor memenuhi kriteria penelitian. Berdasarkan usia yang terbanyak pada usia 12-16 tahun sebanyak 40,40%, dan jenis kelamin yang terbanyak pada wanita sebesar 57,30%, sedangkan pada pemberian Deferiprone terhadap penurunan kadar ferritin serum terjadi pada usia 6-11 tahun sebesar 30,21%. Pada penelitan menggunakan SPSS versi 16 dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara pemberian Deferiprone dengan kadar ferritin serum dimana nilai sig <α, 0,000 <0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar ferritin sebelum mengkomsumsi Deferiprone dengan kadar ferritin setelah mengkomsumsi deferiprone.

UJI EFEKTIVITAS ANTI DIARE FRAKSI ETIL ASETAT, n-HEKSANA, DAN AIR DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP MENCIT JANTAN

No: 277 Tumbuhan salam merupakan salah satu tumbuhan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bumbu dapur yang banyak digunakan sebagai penyedap masakan ini ternyata juga berfungsi sebagai obat tradisional, karena kandungan kimia didalamnya. Salam mengandung senyawa kimia antara lain minyak atsiri, tanin, dan flavonoid. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efek antidiare dari fraksi etilasetat, n-heksana, dan air dari ekstrak etanol dari daun salam (Syzygium polyanthum) yang diuji pada mencit jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan putih yang dibagi dalam 8 kelompok, masing-masing kelompok terdapat 3 mencit. Hewan uji dibuat diare dengan oleum ricini, kemudian masing-masing kelompok diberikan suspensi dari fraksi etilasetat dosis 0,5 ml dan 1ml, n-heksana 0,5 ml dan 1 ml, air 0,5 ml dan 1 ml, kontrol positif dan kontrol negatif. Uji yang dilakukan untuk mengetahui waktu lama terjadinya diare dan frekuensi diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air dosis 1 ml adalah yang paling cepat menghentikan diare pada mencit jantan dengan waktu rata-rata 320 menit (5,3 jam) dan dengan jumlah ratarata frekuensi diare sebanyak 3,6 kali. Kontrol negatif memiliki waktu rata-rata yang paling lama dalam menghentikan diare yaitu 590 menit (9,8 jam) dengan jumlah rata-rata frekuensi diare sebanyak 14 kali. Kelompok VI (fraksi air dosis 1 ml) memiliki efek yang hampir sama dengan kontrol positif loperamide yang digunakan dan adanya perbedaan pada setiap kelompok

UJI TOKSISITAS SARI DAUN JERUK BALI, NIPIS, DAN PURUT DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

No: 275 Pemanfaatan daun tanaman jeruk bali (Citrus maxima), jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan jeruk purut (Citrus hystrix) telah dilakukan berdasarkan pengalaman secara turun-temurun sebagai bahan masakan sampai pengobatan. Daya toksisitas dari daun jeruk bali, daun jeruk nipis dan daun jeruk purutdalam sediaan sari daun belum pernah dibandingkan sebelumnya. Uji toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkantoksisitas sari daun jeruk terhadap larva udang Artemia salina Leach. Sari daun jeruk bali, nipis dan purut mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan terpenoid. Penelitian ini menggunakan 540 ekor larva Artemia salina Leachyang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok kontrol dan 3 (tiga) spesies sari daun jeruk, kelompok perlakuan terdiri dari konsentrasi 5 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm. Masing-masing terdiri dari 10 ekor larva Artemia salina Leach dengan replikasi 3 (tiga) kali untuk tiap spesies sari daun.Data kematian Artemia salina Leach dianalisis dengan menggunakan analisis probit untuk mendapatkan nilai LC50.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga sari daun jeruk memiliki potensi toksik terhadap Artemia salina menurut metode BSLT karena nilai LC50 yang didapatkan <1000 ppm. Nilai LC50spesiesCitrus maxima sebesar 624,12 ppm berpotensi sebagai pestisida, Citrus aurantifolia sebesar 183,19 ppm,dan Citrus hystrix sebesar 118,01 ppm yang berpotensi sebagai antibakteri.

EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus (L.) G. Don) TERHADAP LAMA PERIODE PROSES PENYEMBUHAN LUKA STADIUM I TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague Dawley

No: 263 Pada kehidupan sehari-hari sering terjadi kecelakaan kecil yang berkaitan dengan kulit. Sebagai organ tubuh yang letaknya paling luar dan berfungsi sebagai barrier tubuh, kulit mudah mengalami luka. Luka digambarkan secara sederhana sebagai gangguan seluler dan anatomis dari suatu jaringan. Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan luka salah satunya adalah tanaman tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Berdasarkan hasil uji fitokimia daun tapak dara mengandung alkaloid, flavonoid saponin dan tanin. Kandungan tersebut diduga berperan dalam penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan mengetahui dosis yang paling efektif dari gel ekstrak daun tapak dara dalam mempercepat periode epitelisasi proses penyembuhan luka stadium I. Sebanyak 0,5 kg serbuk daun tapak dara dimaserasi dengan pelarut etanol 70% sebanyak 5 L. Filtrat diuapkan pelarutnya menggunakan vacuum dry sampai diperoleh ekstrak kental sebagai bahan aktif gel. Pengujian penyembuhan luka dilakukan pada tikus dengan mengukur panjang luka pada punggung tikus yang dilukai bagian epidermisnya. Hewan uji yang digunakan yaitu 25 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Kelompok dosis I diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 5%, kelompok dosis II diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 10%, kelompok dosis III diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 15%, kelompok kontrol positif diberi Bioplacenton gel dan kelompok kontrol negatif diberi dasar gel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sediaan gel ekstrak daun tapak dara dapat mempercepat periode epitelisasi dengan konsentrasi yang paling efektif gel ekstrak daun tapak dara 15% selama pengobatan 8 hari.

VALIDASI METODE ANALISIS HASIL UJI DISOLUSI DARI KAPSUL LINKOMISIN HIDROKLORIDA DENGAN MODIFIKASI METODE ANALISIS DARI USP (UNITED STATES PHARMACOPEIA)

No: 260 Linkomisin Hidroklorida merupakan antibiotik golongan linkosamida yang bekerja pada spektrum sempit. Antibiotik ini digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri. Pengujian disolusi pada kapsul sangat penting karena menggambarkan efek obat secara in vitro. Untuk memastikan bahwa prosedur analisis yang digunakan valid dan sesuai peruntukannya, maka dilakukan validasi metode analisis. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi metode analisis hasil uji disolusi dari Linkomisin Hidroklorida kapsul dengan modifikasi metode analisis dari USP (United States Pharmacopeia). Penelitian ini menggunakan alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan elusi isokratik dan kolom Zorbax RX C-8, 4,6 x 150mm pada panjang gelombang 214nm, dengan fase gerak campuran metanol, air, asam fosfat (85%) dan N,N dimethyloctylamin (150:840:5:2) dan kecepatan alir 2,0 mL/menit. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini spesifik untuk Linkomisin Hidroklorida kapsul, ditunjukkan dengan tidak adanya respon pengganggu pada waktu retensi yang sama dengan Linkomisin Hidroklorida baik pada placebo, fase gerak, maupun kapsul kosong. Uji linearitas pada metode ini menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.9999 pada rentang konsentrasi 30-120% dari konsentrasi Linkomisin pada dosis. Akurasi dilihat dari % perolehan kembali pada konsentrasi 30; 80; 120% didapatkan 98,39-102,99%. Uji ripitabilitas dan presisi antara didapatkan nilai simpangan baku relatif pada konsentrasi 30;80;120% yaitu sebesar 0,22; 0,56; 0,41% dan perbedaan nilai rerata absolut 0,0026; 0,3558; 0,0771%. Hasil tersebut menunjukkan metode ini memiliki selektifitas, ketepatan dan ketelitian yang baik.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL DAN AIR DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff)

No: 251 Daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) adalah tanaman yang memiliki manfaat kesehatan yang baik. Metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman tersebut antara lain adalah flavonoid. Fungsi flavonoid dalam tubuh manusia antara lain sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan air daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) serta kandungan fitokimianya. Penelitian ini dilakukan dengan ekstraksi daun wungu muda secara maserasi menggunakan pelarut etanol dan air. Penapisan fitokimia yang dilakukan meliputi uji saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil). Hasil pengujian penapisan fitokimia daun wungu menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun wungu menghasilkan aktivitas antioksidan berskala lemah dengan nilai IC50 sebesar 1780,52 ppm, sedangkan ekstrak air daun wungu tidak menunjukkan aktivitas antioksidan. Namun aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol 70% daun wungu muda tersebut jauh lebih rendah dari aktivitas antioksidan vitamin C yang memiliki IC50 sebesar 4,52 ppm.

OPTIMASI PENGARUH PENAMBAHAN Lactobacillus plantarum TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LOVASTATIN DARI HASIL FERMENTASI BERAS Monascus purpurcus

No: 244 Angkak merupakan hasil fermentasi menggunakan kapang Monascus purpureus yang menghasilkan lovastatin sebagai antihiperkolesterolmia. Produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dapat ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi lovastatin dalam beras Monascus purpureus dengan melakukan penambahan bakteri Lactobacillus plantarum selama proses fermentasi, bakteri Lactobacillus plantarum menghasilkan asam laktat. Berdasarkan hal diatas tujuan penelitian ini adalah melakukan proses optimasi penambahan bakteri Lactobacillus plantarum pada proses fermentasi beras Monascus purpureus untuk menghasilkan lovastatin. Sampel diekstraksi menggunakan shaker selama 15 menit, dianalisi menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dengan rancangan penelitian dan analisis menggunakan metode Response Surface (minitab 17). Pada penelitian dapat di simpulkan bahwa dalam proses produksi dari hasil fermentasi beras Monascsus purpureus terdapat kondisi optimum yaitu penambahan bakteri Lactobacillus plantarum 1%, pada waktu hari ke-5 dan suhu inkubasi 25C dan kondisi maksimum yaitu tanpa penambahan bakteri Lactobacillus plantarum, pada waktu hari ke-10 dan suhu inkubasi 25C.

PROFIL KESESUAIAN PENGOBATAN DISPEPSIA TERHADAP FORMULARIUM PASIEN RAWAT JALAN RSUD CIAWI KABUPATEN BOGOR PERIODE APRIL-JUNI 2015

No: 233 Dispepsia merupakan kumpulan keluhan atau gejala klinis yang terdiri dari rasa sakit perut bagian atas yang menetap atau bisa terjadi kapan saja, dan disebut juga kumpulan sindrom yang terdiri dari nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sendawa. Serta merupakan keluhan umum yang dalam waktu tertentu dapat dialami oleh seseorang.Dan formularium merupakan himpunan daftar obat yang disetujui Komite Farmasi dan Terapi (KFT) untuk digunakan di rumah sakit dan di revisi pada setiap batas waktu yang ditentukan.Dalam pelaksanaanya penulisan resep terhadap formularium dapat menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesesuaian penulisan resep terhadap formularium.Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar kesesuaian penulisan resep dokter pada penyakit dispepsia di poli iternis tehadap formularium RSUD Ciawi Kabupaten Bogor selama periode April-Juni 2015.Kesesuaian dapat diketahui dengan melihat data pada rekam medik. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian dianalisis secara deskriptif non analitik. Data yang diteliti sebanyak 100 sampel.Dari analisis data yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut pasien dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 36% dan pasien perempuan 64%. Berdasarkan usia, 16-25 tahun 13%, 26-35 tahun 17%, 35-45 tahun 27%, dan >45 tahun 43%. Kesesuaian pengobatan terhadap formularium 87,60%, Ketidaksesuaian pengobatan terhadap formularium 12,40%. Terdapat ketidaksesuaian obat-obat yang diresepkan dengan formularium pada pasien rawat jalan poli internis di RSUD Ciawi Kabupaten Bogor.

PERBANDINGAN HIDROLISIS ASAM HNO3 DAN H2SO4 TERHADAP HASIL FERMENTASI Spirulina platensis MENGGUNAKAN Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI ANTIMIKROBA

No: 227 Spirulina platensis ialah mikroalga foto-autotrof, yang salah satu komponen utamanya karbohidrat. Karbohidrat dapat difermentasi menghasilkan etanol yang berfungsi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan menentukan perbedaan hasil perbandingan hidrolisis asam nitrat dan asam sulfat terhadap senyawa etanol hasil fermentasi yang berfungsi sebagai antimikroba. Biomassa Spirulina platensis dihidrolisis menggunakan asam nitrat dan asam sulfat dengan variasi konsentrasi 2, 3, dan 4% menghasilkan enam jenis hidrolisat. Hasil hidrolisat difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae selama 5 hari. Pengujian aktivitas antimikroba hasil fermentasi Spirulina platensis menggunakan metode difusi cakram kertas terhadap Staphylococcus aureus, Esherichia coli dan Candida albicas. Analisis senyawa antimikroba dalam sampel menggunakan Kromatografi Gas. Hasil penelitian menunjukan senyawa aktif etanol terbentuk lebih optimal pada konsentrasi asam 3% baik asam nitrat maupun asam sulfat. Hasil penelitian hidrolisat asam nitrat, pada konsentrasi 3% fermentasi hari ke-3 kadar etanol terbentuk sebesar 12,64%, zona hambat yang diperoleh pada Staphylococcus aureus, Esherichia coli dan Candida albicas dengan diameter zona hambat masing-masing 4,05, 3,05, dan 3,05 mm. Sedangkan hidrolisat asam sulfat kadar etanol optimal didapat pada konsentrasi asam sulfat 3% fermentasi hari ke-4 sebesar 13,69% dan diameter zona hambat masing-masing terhadap Staphylococcus aureus sebesar 3,95 mm, beda halnya pada Esherichia coli dan Candida albicas zona hambat terbaik pada konsentrasi asam nitrat 2% hari ke-4 masing-masing sebesar 4,10 dan 3,45 mm. Berdasarkan hasil penelitian, hasil hidrolisat menggunakan asam nirat maupun asam sulfat dapat digunakan sebagai substrat fermentasi untuk menghasilkan etanol sebagai antimikroba.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN EKSTRAK AIR DARI BIT SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

No: 211 Antioksidan adalah molekul yang berkemampuan memperlambat atau mencegah oksidasi molekul lain. Bit (Beta vulgaris L.) adalah salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan bit dan membandingkan aktivitas antioksidannya dengan vitamin C. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Bit yang sudah dikeringkan dan dijadikan serbuk dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan pelarut air. Ekstrak yang telah diuapkan, kemudian dilakukan skrining fitokimia, hasil skrining fitokimia ekstrak etanol 70% dan ekstrak air menunjukkan hasil positif mengandung flavonoid, alkaloid dan terpenoid. Ekstrak kental kemudian di uji aktivitas antioksidannya secara kuantitatif untuk memperoleh nilai IC50 dari ekstrak menggunakan spektrofotometer UV-vis pada panjang gelombang 514 nm dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan ekstrak air dari bit berfungsi sebagai antioksidan dengan nilai IC50 berturut – turut sebesar 123.75 µg/ml dan 142.39 µg/ml. namun aktivitas antioksidan kedua ekstrak tersebut jauh lebih lemah dibandingkan aktivitas antioksidan vitamin C yang memiliki nilai IC50 sebesar 1.28 µg/ml.