Sebanyak 53 item atau buku ditemukan

uji efek analgesik fraksi air, etil asetata dan n- heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur DDY

No. 509 Tumbuhan ranti (Solanum nigrum L.) biasa digunakan oleh masyarakat Indonesia secara tradisional sebagai pereda nyeri. Daun ranti mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efek analgesik fraksi air, etil asetat dan n-heksana dari ekstrak etanol 70% daun ranti (Solanum nigrum L.) terhadap mencit putih jantan (Mus musculus) galur Deutche Denken Yoken yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode Sigmund (metode geliat) yang diinduksi dengan asam asetat 0,5%. Dosis yang digunakan untuk ketiga fraksi adalah 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan serbuk antalgin 65 mg/kg BB sebagai kontrol positif. Penurunan jumlah geliat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji fitokimia ekstrak etanol, fraksi air dan fraksi etil asetat menunjukkan adanya senyawa flavonoid, sedangkan pada fraksi n-heksana menunjukkan tidak adanya senyawa flavonoid. Pada efek analgesik daya proteksi yang paling besar terdapat pada fraksi air dosis 200 mg/kg BB (52,55%) yang diikuti oleh fraksi etil asetat dosis 200 mg/kg BB (36,86%), fraksi air dosis 100 mg/kg BB (36,13%), fraksi etil asetat dosis 100 mg/kg BB (29,75%), fraksi n-heksana dosis 200 mg/kg BB (22,99%) dan fraksi n-heksana dosis 100 mg/kg BB (8,21%). Semakin besar dosis yang diberikan maka semakin baik efek analgesiknya.

Pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet pada sediaan dan larutan preparasi krim anti jerawat

No. 491 Pengawet merupakan senyawa alam atau sintesis yang ditambahkan ke dalam produk berfungsi untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben (metil paraben, propil paraben dan butil paraben) pada sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya dan larutan preparasi krim anti jerawat. Sampel yang digunakan yaitu sampel krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu panas (40°C ± 2°C, RH 75% ± 5%) dan larutan preparasi krim anti jerawat disimpan dalam suhu ruang (≤30°C) dan suhu dingin (2°C-8°C). Pengujian dilakukan pada hari ke-0 sampai hari ke-6. Metode yang digunakan yaitu KCKT dengan fase diam kolom LiChrospher RP-18 4.0 mm x 125 mm (ukuran partikel 5 μm), fase gerak terdiri dari methanol for HPLC dan larutan KH2PO4 6.8 g/L dengan perbandingan (65:35) dan detektor UV-Vis pada panjang gelombang 272 nm. Pompa yang digunakan adalah mode aliran tetap dengan laju alir 1,0 mL/menit dan volume injeksi 20 μL. Dari hasil analisis uji f, sampel sediaan krim anti jerawat yang dibuka tutup setiap harinya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben. Sampel yang memiliki pengaruh signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet adalah sampel larutan preparasi standar butil paraben suhu ruang, larutan preparasi standar butil paraben suhu dingin, larutan preparasi sampel propil paraben suhu ruang, larutan preparasi sampel butil paraben suhu ruang, dan larutan preparasi sampel butil paraben suhu dingin. Sampel larutan preparasi lainnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dari waktu dan suhu terhadap kadar pengawet golongan paraben.

Stabilitas a-Amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 472 Bakteri asam laktat dapat menghasilkan amilase yang digunakan pada industri kimia dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan menentukan produksi dan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan. Produksi α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 menggunakan sentrifus. Penentuan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 dilakukan pada suhu penyimpanan : 27°C, 4°C dan -20°C dengan waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari. Metode Asam Dinitrosalicylic (DNS) digunakan untuk uji aktivitas αamilase. Aktivitas relatif α-amilase ≥ 50% dinyatakan sebagai aktivitas α-amilase dalam kondisi stabil. Aktivitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai antara 1,0011-1,4028 U/mL, sedangkan α-amilase Fructobacillus satsumensis EN 17-20 bernilai antara 1,05531,8615 U/mL. Aktivitas relatif α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 pada berbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai sebesar 74,54-100%, sedangkan α-amilase Fructobacillus fructosus EN 17-20 bernilai sebesar 56,69100%. Aktivitas tertinggi α-amilase L.satsumensis EN 38-32 yang bernillai sebesar 1,4028 U/mL dengan aktivitas relatif sebesar 100% dan aktivitas tertinggi α-amilase F. fructosus EN 17-20 yang bernilai sebesar 1,8615 U/mL dengan aktivitas relatif 100% pada suhu dingin (< 0,01).

perbandingan profil kecepatan pelepasan levonorgestrel dalam sediaan subdermal implan 150 mg per batang dengan subdermal implam 2 batang @75 mg per batang secara in vitro

No. 429 Implan merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi lepas lambat yang dapat memberikan efek sampai dengan 3 tahun melalui mekanisme kerja mengentalkan lendir serviks sehingga menyulitkan penetrasi sperma. Rata-rata kecepatan pelepasan Levonorgestrel yang diperoleh pada subdermal Implan 150 mg sebesar 39,98 μg/hari/set dan pada subdermal Implan 2 batang Implan @75 mg sebesar 39,94 μg/hari/set. Hasil tersebut berada pada rentang kriteria penerimaan yaitu 30,00 – 60,00 μg/hari/set. Korelasi antara sampel uji subdermal Implan 150 mg/batang dan sampel pembanding subdermal Implan 2 batang @75 mg ditentukan dengan perhitungan faktor perbedaan (f1) dan kemiripan (f2) serta penilaian efisiensi pelepasan/ disolusi (%DE). Diperoleh hasil f1 sebesar 4,98 dan f2 sebesar 79,60 serta disolusi efesiensi (DE) pada sampel uji sebesar 87,78% sedangkan pada sampel pembanding sebesar 87,02%. Dari hasil analisis data tersebut terbukti bahwa kecepatan pelepasan Levonorgestrel dalam sediaan Implan 150 mg/batang dengan 2 batang @75 mg secara in-intro ekivalen.

UJI AKTIVITAS SALEP EKSTRAK DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA GORES PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague dawley

No: 386 Daun sintrong merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang bekerja dalam proses penyembuhan luka. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk membuat formulasi salep dari ekstrak daun sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. moore) dan uji daya penyembuhan luka gores pada kulit tikus putih jantan (Sprague dawley). Ekstrak daun sintrong diperoleh dengan metode maserasi bentuk simplisia daun sintrong dalam etanol 96% yang kemudian dikeringkan dengan evaporator. Kelompok senyawa kimia ekstrak ditentukan dengan uji fitokimia. Pembuatan formulasi salep menggunakan ekstrak daun sintrong dengan menggunakan hewan uji sebanyak 25 ekor dengan 5 kelompok perlakuan, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, salep daun sintrong 5%, salep daun sintrong 10% dan salep daun sintrong 15%. Semua tikus dilukai sepanjang 1.5 cm. Luka diolesi tiga kali sehari dengan salep yang diuji. Pengamatan luka dilakukan setiap hari (hari ke-0 sampai ke-7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak secara positif mengandung flavonoid, saponin dan tannin. Kemudian setelah 7 hari pengobatan, semua konsentrasi memiliki memiliki efek positif pada penyembuhan luka dan penyembuhan yang terbaik ditunjukkan dengan perparasi salep dengan konsesntrasi 10 % dan 15%.Semua data kuantitatif diuji secara statistic menggunakan ANOVA (Analysis Of Variant) dan dilanjutkan dengan uji Tukey, penelitian menunjukkan formulasi salep daun sintrong memenuhi persyaratan uji salep mengalami penyempitan luka, membentuk keropeng dan menutup luka.

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI Staphylococcus YANG MENGHASILKAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK DALAM KULIT DAGU PRIA BERJANGGUT

No: 384 Berjanggut merupakan sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang bermanfaat bagi kesehatan kulit muka karena terlindung dari sinar matahari, debu, infeksi dan melembabkan kulit. Banyak spesies bakteri ditemukan pada kulit dagu berjanggut yang hidup berkompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus penghasil zat antibiotik yang tumbuh pada kulit dagu berjanggut. Sampel bakteri diambil dengan cotton bud dari kulit dagu berjanggut 20 orang pria di daerah Bogor. Bakteri Staphylococcus kemudian diisolasi dan diidentifikasi, diinokulasikan dan diuji daya hambatnya pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian menyimpulkan adanya bakteri Staphylococcus epidermidis pada kulit dagu janggut pria yang dilihat secara mikroskopik berbentuk kokus, berkelompok tidak teratur, dan dinding sel bakteri berwarna ungu. Dilihat secara makroskopik pigmen bakteri berwarna putih pada media Nutrient Agar, tidak memberikan perubahan warna pada media Mannitol Salt Agar (MSA) dan mampu menghasilkan aktivitas antibiotik, dari 20 sampel yang diambil pada minggu pertama hanya kode sampel J1 dan J9 yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik dengan diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,261 cm dan 0,210 cm, pada pengambilan sampel minggu kedua yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel JI dan J9 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,268 cm dan 0,206 cm, pada pengambilan sampel minggu ketiga yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel J3, J5 dan J7 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,240 cm, 0,211 cm dan 0,199 cm.

UJI AKTIVITAS DAYA INHIBISI EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR DARI BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 364 Enzim α-glukosidase di dalam sistem pencernaan berperan sebagai pengurai karbohidrat menjadi glukosa. Inhibisi aktivitas enzim ini dapat mengurangi kadar glukosa dalam darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak n-Heksan, etil asetat dan air dari biji alpukat (Persea americana Mill) terhadap enzim α-glukosidase. Ekstrak kental biji alpukat dengan pelarut n-Heksan, etil asetat dan air diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia biji alpukat yang dikeringkan dengan rotary evaporator. Uji inhibisi ekstrak biji alpukat terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2%. Hasil uji fitokimia pada ketiga ekstrak biji alpukat menunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak n-Heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% mempunyai daya inhibisi 100%, 94%, 97% yang lebih tinggi dari pada daya inhibisi ekstrak etil asetat 95%, 94%, 96% dan ekstrak air 90%, 92%, 94%. Hasil uji two way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing ekstrak terhadap daya inhibisi enzim αglukosidase dan pada uji Pos Hoct Test Tukey konsentrasi ekstrak 1,5% dan 2% memberikan pengaruh inhibisi yang sama terhadap enzim α-glukosidase tetapi berbeda pengaruh pada konsentrasi 1%.

FORMULASI GRANUL INSTAN EKSTRAK DAUN PARE (Momordica charantia.L) DENGAN KOMBINASI EKSTRAK CABE JAWA (Piper retrofractum.Vahl) SECARA GRANULASI BASAH

No: 337 Demam berdarah dengue merupakan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi demam berdarah dengue mengakibatkan trombositopenia dan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan pembuluh darah dan kebocoran plasma yang akan mengakibatkan kematian. Salah satu tanaman alternatif pengendalian infeksi demam berdarah dengue ialah daun pare (Momordica charantia. L.) dengan kandungan senyawa flavonoidnya dapat meningkatkan jumlah trombosit. Penelitian ini bertujuan memperoleh formulasi ekstrak daun pare yang dikombinasikan dengan ekstrak cabe jawa dalam bentuk sediaan granulasi instan yang memenuhi persyaratan sifat fisik dan hedonik. Pada penelitian ini, pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dipekatkan dengan rotary evaporator kemudian dikentalkan menggunakan oven pada suhu 50ºC. Pembuatan formula granul instan dilakukan dengan menggunakan metode granulasi basah. Variasi formula dibuat dengan membedakan konsentrasi cabe jawa yaitu Formula I 8%, Formula II 6%, Formula III 4%. Berdasarkan hasil penelitian, formulasi granul instan ekstrak daun pare pada evaluasi uji sudut istirahat, uji ukuran partikel, uji sifat alir, uji kecepatan larut, uji kadar air, uji organoleptis, uji hedonik semuanya memenuhi persyaratan sebagai granul instan. Formula yang paling dapat diterima oleh konsumen adalah Formula I dengan kandungan ektstrak cabe jawa 8% dengan nilai 2,8. Berdasarkan Analisis uji Nonparametric Test dalam ketiga formula tersebut tidak terlihat adanya perbedaan yang signifikan, ini dapat dilihat dari sig yang lebih besar dari α 0,05.

EFEKTIVITAS PEMBERIAN GEL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR Swiss Webster

No: 323 Luka merupakan lepasnya integritas epitel kulit diikuti oleh gangguan struktur dari anatomi dan fungsinya.Masyarakat banyak menggunakan daun kelor sebagai obat-obatan salah satunya untuk obat luka.Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel dari daun kelor, mengetahui efektivitas fraksi etil asetat daun kelor dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit putih dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. 500 gram daun kelor diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan 125,81 gram ekstrak etanol kental. Selanjutnya, ekstrak difraksinasi menggunakan air dan etil asetat, kemudian fraksi etil asetat dipekatkan dan menghasilkan 5,57 gram fraksi pekat. Selanjutnya, fraksi diuji fitokimia dengan hasil fraksi etil asetat mengandung senyawa, flavonoid, tanin, dan saponin. Fraksi etil asetat diuji dengan dibuat sediaan gel dengan konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15% dengan menggunakan kontrol positif gel merk A, kontrol negatif yang dibiarkan sembuh alami, serta blanko basis gel CMC-Na. Masing-masing perlakuan diuji menggunakan mencit putih jantan Swiss Webster yang telah diberi luka sayat sepanjang 1 cm. Hasil uji menunjukan sediaan gel fraksi etil asetat daun kelor dengan konsentrasi 5% mampu menyembuhkan luka selama 7 hari, gel dengan konsentrasi 10% menyembuhkan luka selama 6 hari, dan gel konsentrasi 15% mampu menyembuhkan luka yang paling cepat yaitu selama 5 hari.