Sebanyak 50 item atau buku ditemukan

UJI TOKSISITAS DAN ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK AIR DAN ETANOL KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L)

No: 114 Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L) merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, yang digunakan sebagai komponen utama dalam produk jamu dan bahan suplemen lainnya. Diketahui memiliki bahan-bahan aktif yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Selama ini kebanyakan dari masyarakat menikmati rasa dari daging buahnya, tanpa mereka sadari bahwa kulit buah manggis juga mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi potensi antibakteri ekstrak kulit buah manggis terhadap bakteri serta menguji tingkat toksisitasnya. Kandungan senyawa yang terdapat pada kulit buah manggis diekstraksi menggunakan pelarut air dan etanol. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol dan ekstrak air memiliki aktivitas penghambatan terhadap bakteri Micrococcus luteus, Bacillus subtillis, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, kecuali Escherichia coli dibandingkan dengan aktivitas penghambatan kloramfenikol yang kuat. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan air memiliki tingkat toksisitas sedang terhadap larva udang Artemia salina Leach dengan nilai LCso (Lethal Concentration) masing-masing sebesar 13,489 ppm dan 35,48] ppm. Sementara hasil uji fitokimia dengan menggunakan reagen. dan kromatografi lapis tipis menunjukkan bahwa ekstrak etanol mengandung komponen senyawa alkaloid, flavonoid dan tanin sedangkan ekstrak air mengandung komponen senyawa alkaloid, saponin dan tanin.

UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAN ETIL ASETAT DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa billimbi Linn.) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 105 Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa billimbi Linn.) adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional, baik bagian batang, buah dan daun semuanya mempunyai manfaat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa kimia (zat aktif) dan aktivitas ekstrak etanol dan ekstrak etilasetat daun belimbing wuluh terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Tujuan digunakan dua pelarut adalah untuk melihat mana yang memiliki daya hambat yang lebih baik, apakah ekstrak etanol atau etilasetat. Pengujian fitokimia dilakukan secara kualitatif dan pengujian daya hambat menggunakan metode difusi cakram. Dengan kontrol positif Kloramfenikol dan etanol serta etilasetat sebagai kontrol negatif. Daya hambat ditunjukkan dengan adanya zona bening disekeliling cakram. Berdasarkan hasil uji fitokimia dan ekstrak daun belimbing wuluh kandungan zat aktif adalah Flavonoid, Tanin dan Triterpenoid. Hasil uji daya hambat antara ekstrak etanol dan etilasetat ternyata ekstrak etanol memiliki daya hambat yang lebih bak, dimana Diameter zona Hambat (DZH) terbesar adalah terhadap bakteri gram positif yaitu Staphylococcus aureus dengan diameter hambat terbesar terdapat pada konsentrasi 100% (DZH = 13mm) dan 75% (DZH= 10,5mm) dibandingkan dengan bakteri gram negatif yaitu Escherichia coli pada konsentrasi 100% dan 75% hanya (DZH= 7,7mm). Namun_ diameter zona hambat Staphylococcus aureus dan Eschericia coli masih dibawah diameter zona hambat kloramfenikol 0.003% (DZH= 17,7mm).

MEKANISME ABSORPSI KITOSAN TERHADAP VITAMINE E PADA pH ASAM

[No: 2] Kitosan merupakan biopolimer yang banyak digunakan sebagai bahan pangan kesehatan untuk menyerap kolestrol dan lemak. Namun dalam makanan adanya vitamin atau mineral, kemungkinan terserapnya vitamin yang terlarut dalam lipida, misalnya vitamin A, D, E maupun K. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana vitamin E dapat terserap oleh kitosan dan bagaimana mekanisme absorpsinya pada kondisi asam secara in vitro. Dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet diperoleh kitosan dapat menyerap vitamin E dan kitosan 0,16 atau satu kapsul kitosan (250 mg) dapat mengabsorpsi 40 mg vitamin E. Data spektra IR dapat membuktikan terjadinya kompleks kitosan-vitamin E