Sebanyak 50 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS REBUSAN TONGKOL JAGUNG MUDA (Zea Mays L.) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) SECARA IN VIVO

No: 267 Diuretik adalah obat yang bekerja pada organ ginjal untuk meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida. Masyarakat Jawa Barat banyak menggunakan rebusan tongkol jagung muda sebagai obat diuretik tetapi belum ada informasi ilmiah mengenai aktivitas diuretik dari tongkol jagung muda. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas diuretik dari tongkol jagung muda (Zea mays L.) secara in vivo. Penelitian ini menggunakan metode rebusan, dengan menggunakan konsentrasi 15 g/200 mL, 30 g/200 mL dan 60 g/200 mL. Rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan senyawanya dengan metode uji fitokimia, dari hasil uji didapatkan flavonoid. Pengukuran efek diuretik pada tikus putih (Rattus novergicus) dilakukan selama 8 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil yang diperoleh dari rebusan tongkol jagung muda konsentrasi 60 g/200 mL, 30 g/200 mL dan 15 g/200 mL didapat volume urin masing-masing 6,50 mL, 4,90 mL dan 4,26 mL selama interval waktu 8 jam. Kontrol positif yaitu furosemida 0,72 mg/kgBB dapat meluruhkan urin sebanyak 5,46 mL selama interval 8 jam. Oleh karena itu, rebusan tongkol jagung muda konsentrasi 60 g/200 mL memiliki aktivitas diuretik tertinggi.

OPTIMASI PUPUK SEBAGAI MEDIA KULTUR MIKROALGA Chlorella pyrenoidosa PADA PRODUKSI β-KAROTEN DAN ASTAXANTHIN SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN

No: 252 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari berbagai macam jenis pupuk yang dapat menghasilkan produksi β-karoten dan astaxanthin yang optimal pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa. Mikroalga dikultivasi pada tiga macam pupuk (Gandasil D, Growmore dan Hyponex) sebagai media tumbuh. Produksi β-karoten dan astaxanthin yang optimal pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa dihasilkan pada kultivasi dengan pupuk Hyponex. Analisis β-karoten dihitung pada serapan 450 nm dan astaxanthin pada serapan 479 nm. Hasil kutivasi yang menghasilkan kandungan β-karoten dan astaxanthin yang optimal dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, nilai IC50 yang dihasilkan pada sampel mikroalga sebesar 111,417 µg/mL yang menunjukkan kekuatan sampel uji sebagai antioksidan bersifat sedang. Vitamin C digunakan sebagai standar antioksidan yang memiliki nilai IC50 sebesar 7,56 µg/mL nilai ini menunjukkan kekuatan vitamin C antioksidan yang bersifat sangat kuat.

UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK PIGMEN KAROTENOID DAN SITRULIN PADA KULIT BUAH BLEWAH (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

No: 235 Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya dan bereaksi dengan molekul disekitarnya. Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas. Pemanfaatan kulit blewah hanya sebatas sebagai campuran pakan dan kompos, sedangkan pada bidang farmasi belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya potensi antioksidan pada ekstrak kulit blewah dan pengaruh perbedaan hasil uji pigmen karatenoid dan sitrulinpada ekstrak kulit blewah terhadap tahapan ekstraksi. Kulit blewah dengan perlakuan pengeringan dan tanpa pengeringan diekstrak secara bertahap dengan menggunakan tiga pelarut (petroleum eter, aseton, dan akuades). Aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak akuades dengan perlakuan tanpa pengeringan (667,30 mg/L), yang berbeda nyata (P<0,05) dengan pelarut aseton dan petroleum eter (996,65 dan 2368,26 mg/L). Perlakuan dengan pengeringan hanya pada ekstrak petroleum eter (1607,28 mg/L) yang memberikan aktivitas dibandingan dengan aseton dan akuades (2871,54 dan 2290,75 mg/L). Namun aktivitas antioksidan ekstrak kulit blewah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan betakaroten dan vitamin C. Perlakuan tanpa pengeringan juga memberikan kadar pigmen karotenoid tertinggi yang ditunjukkan oleh ekstrak aseton (betakaroten 1,13 mg/100g, likopen 0,29 mg/100g) dan kadar sitrulin pada ekstrak akuades(2,99 mg/100g). Perbedaan pengaruh perlakuan simplisia basah dan kering pada aktivitas antioksidan, kadar pigmen karotenoid, dan kadar sitrulin berbeda nyata (P<0,05), dan perlakuan tanpa pengeringan (simplisia basah) berbeda nyata (P<0,05) pada perbedaan pengaruh pelarut ekstraksi.

EFEKTIVITAS SALEP EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA GORES PADA KELINCI

No: 217 Anredera cordifolia (Ten.) Steenis yang dikenal dengan nama daun binahong memiliki khasiat obat tradisional sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep ekstrak daun binahong pada luka gores dan untuk mengetahui perbedaan efektivitas salep ekstrak daun binahong sebagai penyembuhan luka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental. Simplisia serbuk daun binahong diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Hasil maserasi diekstraksi dengan alat rotary evaporator, ekstrak yang di dapat diformulasikan kedalam sediaan salep. Salep ekstrak daun binahong dibuat dalam 5 konsentrasi yaitu konsentrasi 20%, 25%, 30%, 35% dan 40%. Subjek penelitian berupa kelinci berjumlah 3 ekor yang dibagi dalam 7 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (Betadine salep), salep ekstrak daun binahong 20%, salep ekstrak daun binahong 25%, salep ekstrak daun binahong 30%, salep ekstrak daun binahong 35% dansalep ekstrak daun binahong 40% dengan membuat luka gores pada punggung kelinci dengan panjang luka 2 cm. Pada pengujian salep dilakukan uji organoleptik, uji homogenitas dan uji pH. Data diolah secara statistik menggunakan analisa ANOVA dengan metode SPSS. Hasil dari penelitian dan hasil analisis statistik bahwa salep ekstrak daun binahong memiliki efektivitas pada penyembuhan luka gores. Konsentrasi salep ekstrak daun binahong 20%, 25% dan 30% telah memberikan efek penyembuhan luka, sedangkan pada konsentrasi 35% dan 40% memberikan efek penyembuhan yang lebih efektif. Efek yang mirip dengan kontrol positif yaitu salep ekstrak daun binahong dengan konsentrasi 35%, sedangkan salep ekstrak daun binahong 40% memiliki efek yang paling baik.

UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI HASIL FRAKSINASI EKSTRAK ETANOL DAUN MURBEI (Morus alba L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

No: 186 Morus alba (L) yang dikenal denga tanaman murbei adalah tanaman obat yang teklah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti antimalaria, gangguan saluran cerna, antiflamasi. tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antibakteri dari fraksi heksana, etil asetat dan air dari ekstrak etanol 70 % terhadap bakteri terhadap bakteri Staphyllococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70 %. Kemudian dilanjutkan dengan fraksinasi ekstrak etanol 70 % dengan menggunakan pelarut heksana, etil, asetat dan air. Setelah itu dilakukan pengujian KLT dari fraksi tersebut pada pengukuran sinar UV ג 254 nm pada sampel standar didapat nilai Rf 0,85, sedangkan pada sinar UV ג 366 nm untuk sampel fraksi heksan dengan nilai Rf 0,70 dan 0,55, fraksi etil asetat dengan nilai Rf 0,56 dan fraksi air 0,39 dan 0,56. Kemudian dilakukan Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun murbei. Hasil Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol 70 % daun alkaloid, tanin, flavonoid, steroid dan saponin. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya pada berbagai konsentrasi yaitu 1250, 2500, 5000 dan 10000 ppm dengan menggunakan metode difusi agar pada kertas cakram dengan kontrol positif kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fraksi air pada konsentrasi 10000 ppm dengan menghasilkan adanya zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus sebesar 6,76 mm, hal ini menunjukkan bahwa daya hambatnya tergolong sedang. Namun tidak terjadi penghambatan terhadap bakteri Escherichia coli.

PEMANFAATAN MIKROBA ENDOFIT DARI TANAMAN SRIKAYA (Annona squamosa L.) Sebagai ANTIMIKROBA Staphbylococcus aureus dan Candida albicans

No: 165 Beberapa penelitian menunjukkan mikroba endofit yang hidup dalam jaringan tanaman, menghasilkan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai antimikroba. Tanaman srikaya diketahui mempunyai kandungan kimia alkaloid, glikosida sianogen, dan flavonoid. tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendapatkan beberapa isolat mikroba endofit dari tanaman srikaya (Annona squamosa L.),(2) menguji daya hambat isolat mikroba endofit terhadap mikroba uji Staphylococcus aureus dan Candida albicans, (3) mendapatkan senyawa antimikroba yang dihasilkan oleh mikroba endofit potensial, dibandingkan dengan antimikroba yang ada di pasaran. Pengujian senyawa antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dilakukan dengan metode difusi. Analisa senyawa antimikroba dilakukan dengan metode kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dibandingkan dengan antibiotik eritromisin, metronidazol dan tetrasiklin. Hasil isolasi diperoleh 12 isolat bakteri dan 24 isolat kapang endofit. Hasil seleksi menunjukkan isolat bakteri BMC 1.1 memperlihatkan zona bening terbesar pada media seleksi berisi Candida albicans, sementara isolat kapang BTCK 1.1 T dapat tumbuh dan membentuk koloni terbesar pada media seleksi berisi Staphylococcus aureus. Hasil KLT, fraksi-fraksi ekstrak fase kloroform bakteri BMC 1.1 dan kapang BTCK 1.1T menunjukkan nilai Rf mendekati senyawa antibiotik metronidazol. Hasil KCKT menunjukkan senyawa antimikroba dari fraksi C1 bakteri BMC 1.1 (6,392 menit) dan fraksi Ck1 kapang BTCK 1.1 T (6,375 menit) mempunyai nilai Rt mendekati metronidazol 100 ppm (6,350 menit)

SKRINING, ISOLASI, DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI METABOLIT BIOAKTIF JAMUR ENDOFIT DARI GINSENG MERAH (Rennellia speciosa Hook. f.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 151 Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup dalam jaringan tumbuhan tanpa menyebabkan efek negative terhadap tanaman inangnya. Jamur endofit mampu nmenghasilkan senyawa-senyawa bioaktif salah satunya adalah senyawa antibakteri. Pada penelitian ini, dilakukan skrining, isolasi dan uji aktivitas antibakteri dari Ginseng Merah (Rennellia speciosa Hook.f.). skrining aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode bioautografi dan menghasilkan isolate yang paling aktif yaitu ekstrak GMD-4/5. Perbanyakan kultur jamur endofit GMD-4/5 dalam media PDB (potato-Dextrose-Broth) yang dilanjutkan dengan ekstraksi etil asetat menghasilkan ekstrak GMD-4/5 sebanyak 1,4196 g berwarna merah. Isolasi senyawa aktif dari ekstrak GMD-4/5 dilakukan menggunakan kromatografi kolom silica gel, diperoleh senyawa murni F.3.5a. penentuan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) terhadap F.3.5a menggunakan metode mikrodilusi. Sebagai kontrol positif digunakan kloramfenikol. Nilai KHM untuk bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dari f.3.5a, masing-masing sebesar 256 µg/m l. nilai KHM untuk bakteri kloramfenikol 8 µg/mL.

ANALISIS DEKSAMETASON PADA JAMU PENAMBAH NAFSU MAKAN DI DAERAH BOGOR SELATAN

No: 139 Jamu merupakan obat tradisional warisan nenek moyang yang banyak dikonsumsi masyarakat karena penggunaannya dianggap relatif lebih aman dibandingkan dengan obat sintetik. Saat ini banyak jamu yang beredar di masyarakat ditambahkan dengan obat sintetik. Siproheptadin merupakan salah satu golongan obat antihistamin. Siproheptadin merupakan obat antihistamin yang mempunyai efek samping antiserotonin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahul ada atau tidaknya bahan kimia obat siproheptadin pada jamu tradisional penambah nafsu makan. Objek penelitian adalah sampel jamu penambah nafsu makan yang beredar di daerah Bogor Utara. Untuk mengidentifikasi siproheptadin pada jamu secara kualitatif dengan melakukan uji pendahuluan yaitu uji Marquis dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kadar siproheptadin pada jamu dapat diketahut dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS. Dari 10 sampel jamu penambah nafsu makan yang dianalisis terdapat satu sampel jamu yang mengandung siproheptadin yaitu pada sampel jamu D dengan kadar 6,041 jg/bungkus, walaupun tidak semua jamu tradisional yang beredar di masyarakat mengandung bahan kimia obat tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat jamu tradisional penambah nafsu makan yang mengandung bahan kimia obat di daerah Bogor Utara.

PRODUKSI ENZIM L-ARABINOSA ISOMERASE WILD TYPE DAN MUTAN Q269K DARI Geobacillus stearotermophilus UNTUK MENGUBAH D-GALAKTOSA MENJADI D-TAGATOSA

No: 128 Tagatosa merupakan salah satu pemanis alternatif untuk menggantikanpemanis yang biasa dikonsumsi dengan kemanisan yang mirip dengan sukrosa, namun rendah kalori, dan memiliki efek glikemia yang sangat kecil dalam darah. Tagatosa di buat dengan cara mengkonversi dari galaktosa oleh enzim L- Arabinosa Isomerase (L-Al) yang diperoleh dari bakteri Geobacillus stearotermophilus. Pengembangan lain adalah modifikasi dari enzim L-AI dengan harapan diperoleh tagatosa lebih banyak dibandingkan dengan enzim L-Al murni. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan enzim L-AI Wild Type (murni) dengan L-AI modifikasi (Q269K) dari E.coli yang berasal dari Tanjung Api, Poso. Perbandingan ini didasarkan pada aktivitas enzim pada suhu dan pH optimum dari masing-masing enzim. Aktivitas enzim = diukur dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 560 nm. Hasil dari L-AI Wild Type menunjukkan pH optimum 7 dan suhu optimum 50°C, sedangkan L-AI Q269K menunjukkan pH optimum 9 dan suhu optimum 90°C. Aktivitas enzim yang berdasarkan pada pH optimum dari L-Al Wild Type dan L-AI Q269K berturut-turut sebesar 277.778 U/ml dan 714.444 U/ml. Sedangkan aktivitas enzim yang berdasarkan pada suhu optimum dari L-Al Wild Type dan L-Al Q269K berturut-turut sebesar 236.667 U/ml dan 1312.222 U/ml. Hasil menunjukkan pada pH dan suhu optimum aktivitas enzim tertinggi yaitu enzim L- AI Q269K. Berdasarkan perhitungan aktivitas ketebalan pita dengan metode Bradford Wild Type dan mutan Q269K didapatkan konsentrasi protein sebesar 0.606 mg/ml.