Sebanyak 50 item atau buku ditemukan

formulasi dan uji sediaan pelembab ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) dalam basis vanishing cream yang dikombinasi dengan gliserin dan propilen glikol

No. 415 Daun jambu biji putih (Psidium guajava L) mengandung senyawa aktif tanin, minyak atsiri, minyak lemak, damar, zat penyamak, triterpenoid, asam malat dan asam apfel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sediaan krim pelembab daun jambu biji dengan humektan gliserin dan propilen glikol dalam basis vanishing cream yang berbeda dengan konsentrasi 3, 5, dan 10%. Sediaan akan diuji terhadap mutu fisik, keamanan, daya sebar, viskositas dan stabilitas sediaan krim pelembab ekstrak Psidium guajava L dalam basis vanishing cream untuk mengetahui hasil terbaik yang dapat meningkatkan hidrasi pada kulit dalam sediaan krim pelembab Psidium guajava L berbasis vanishing cream. Hasil uji yang didapat pada uji mutu fisik dilihat dari warna coklat, bentuk sediaan setengah padat, dan bau krim khas oleum rosae, uji homogenitas krim dengan konsentrasi 3, 5, dan 10% tidak mengalami penggumpalan atau pemisahan fase, uji daya sebar krim berkisar dari 2,6 – 4,1 cm, uji pH krim berkisar 6 – 7, tidak terjadi perubahan pada uji stabilitas, uji viskositas berkisar 8.000 – 11.600 Cp, uji keamanan kosmetik yang dilakukan terhadap 15 panelis selama 3 x 24 jam dengan konsentrasi cream terbaik yaitu 10 % , terdapat tiga panelis mengalami alergi dan sisanya normal. Krim ekstrak daun jambu biji putih dengan tipe M/A memenuhi uji kualitas krim yaitu uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, stabilitas, viskositas, uji keamanan kosmetik dan penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin Ceocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan krim pelembab ditentukan dengan menggunakan alat spektofotometer, kadar fenol yang terdapat pada ekstrak daun jambu biji sebesar 49,71 mg GAE/gram, dan kadar fenol yang terdapat pada sediaan krim pelembab 10 % sebesar 30,55 mg GAE/gram.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% KULIT SEMANGKA (Citrullus lanatus) PADA LUKA GORES TIKUS JANTAN SECARA IN VIVO

No: 325 manis. Kandungan airnya yang banyak, dan kulitnya yang keras berwarna hijau. Buah kulit semangka mengandung lycopene yang merupakan senyawa antioksidan yang dapat menyembuhkan penyakit jantung dan penyakit kanker. Ekstrak kulit semangka berpotensi untuk menyembuhkan luka hal ini kemungkinan dapat disebabkan adanya kandungan sitrullin. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol kulit semangka berdasarkan skrining fitokimia yang dilakukan adalah saponin dan sitrullin, sedangkan uji alkaloid, flavonoid,terpenoid dan steroid, tanin, saponin dan kuinon menunjukan hasil negatif. Selanjutnya dilakukan uji pada hewan coba yaitu tikus putih jantan (Sprague Dawley) Tikus diadaptasi selama 2 minggu. Kemudiaan tikus tersebut dilukai 2 cm setelah itu tikus yang sudah dilukai dioles dengan 0,27 g ekstrak, 0,54 g ekstrak, sediaan gel konsentrasi 10 dan 25%, kontrol negatif dan sediaan gel kontrol positif. Setelah itu luka diamati selama 1 minggu. Hasil pengujian menunjukkan pemberian ekstrak etanol 10 % menunjukkan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberian ekstrak 25% (5 hari). Pemberian sediaan gel 10% menunjukkan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan gel 25 % (5 hari). Pemberian ekstrak etanol 0,27 g dan 0,54 g memberikan waktu penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberian gel dan kontrol gel positif.Pada analisis statistik pemberian ekstrak 0,27 g; 0,54 g berbeda nyata dengan pemberian gel ekstrak etanol 10 % dan 25% dan berbeda nyata dengan kontrol positif dan negatif.

EFEKTIVITAS PEMBERIAN GEL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR Swiss Webster

No: 323 Luka merupakan lepasnya integritas epitel kulit diikuti oleh gangguan struktur dari anatomi dan fungsinya.Masyarakat banyak menggunakan daun kelor sebagai obat-obatan salah satunya untuk obat luka.Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel dari daun kelor, mengetahui efektivitas fraksi etil asetat daun kelor dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit putih dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. 500 gram daun kelor diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan 125,81 gram ekstrak etanol kental. Selanjutnya, ekstrak difraksinasi menggunakan air dan etil asetat, kemudian fraksi etil asetat dipekatkan dan menghasilkan 5,57 gram fraksi pekat. Selanjutnya, fraksi diuji fitokimia dengan hasil fraksi etil asetat mengandung senyawa, flavonoid, tanin, dan saponin. Fraksi etil asetat diuji dengan dibuat sediaan gel dengan konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15% dengan menggunakan kontrol positif gel merk A, kontrol negatif yang dibiarkan sembuh alami, serta blanko basis gel CMC-Na. Masing-masing perlakuan diuji menggunakan mencit putih jantan Swiss Webster yang telah diberi luka sayat sepanjang 1 cm. Hasil uji menunjukan sediaan gel fraksi etil asetat daun kelor dengan konsentrasi 5% mampu menyembuhkan luka selama 7 hari, gel dengan konsentrasi 10% menyembuhkan luka selama 6 hari, dan gel konsentrasi 15% mampu menyembuhkan luka yang paling cepat yaitu selama 5 hari.

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS SENYAWA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT JAMUR ENDOFIT SM-2 DARI TANAMAN Smilax macrophylla TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 322 Antibakteri merupakan obat untuk menghambat dan membunuh bakteri baik yang ada pada manusia maupun hewan. Meningkatnya resistensi bakteri patogen terhadap antibakteri yang tersedia mendesak perlunya ditemukan sumber antibakteri yang baru yang dapat mengatasi resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi dan evaluasi aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat jamur endofit SM-2 dari tanaman Smilax macrophylla terhadap bakteri Escherichia coli InaCC B5 dan Stpahylococcus aureus InaCC B4 dan menentukan nilai Konsenterasi Hambat Minumum (KHM). Pada penelitian ini dilakukan isolasi senyawa aktif ekstrak etil asetat SM-2 sebanyak 770,3 mg dengan metode kromatografi kolom. Fraksi aktif murni kemudian diuji aktivitas antibakterinya dengan menentukan nilai KHMnya. Berdasarkan hasil penelitian, senyawa murni F1.3 dan F1.4 memiliki nilai KHM berturut-turut sebesar >512 dan 512 µg/mL terhadap E.coli sedangkan KHM terhadap S.aureus >512 µg/mL. Aktivitas antibakteri fraksi F1.3 dan F1.4 lebih lemah dibandingkan dengan kloramfenikol yang memiliki nilai KHM sebesar 8 µg/mL terhadap E.coli dan 4 µg/mL terhadap S.aureus. Berdasarkan hasil penelitian, jamur endofit SM-2 dari tanaman Smilax macrophylla berpotensi memiliki aktivitas antibakteri.

KARAKTERISTIK PROTEASE Lactobacillus satsumenis EN 38-32 DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN PROTEIN TEPUNG UMBI DANN SEREALIA LOKAL

No: 321 Protease merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi penguraian protein menjadi asam amino atau peptida sederhana, melalui hidrolisis ikatan peptida. Salah satu strain bakteri asam laktat yang dapat menghasilkan protease adalah Lactobacillus satsumensis EN 38-32. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik protease L. satsumensis EN 38-32 dan potensinya dalam menguraikan protein tepung umbi dan serealia lokal. Karakterisasi protease L. satsumensis EN 38-32 meliputi penentuan pH dan suhu optimum serta stabilitasnya. Tepung umbi yang digunakan adalah tepung ubi jalar ungu dan tepung ubi kayu, sedangkan tepung serealia yang digunakan adalah tepung beras dan tepung jagung. Sebagai standar digunakan tepung terigu. Uji aktivitas protease dilakukan dengan metode Horikoshi (1971), dan penentuan protein terdegradasi dilakukan dengan metode titrasi formol. Stabilitas protease didasarkan pada aktivitas relatif dengan nilai ≥ 50%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas optimum protease L. satsumensis EN 38-32 dicapai pada pH 7,0 dan suhu 40 oC dengan nilai aktivitas sebesar 0,7214 U/mL. Aktivitas relatif protease L. satsumensis EN 38-32 ≥ 50% dicapai pada kisaran pH 6,0 – 8,0 dan suhu 20 – 45 oC. Kenaikan kadar protein terdegradasi tertinggi setelah penambahan protease L. satsumensis EN 38-32 didapatkan pada tepung pasta beras, dengan kenaikan sebesar 1,17%, diikuti oleh tepung pasta jagung sebesar 0,87%, tepung pasta ubi kayu sebesar 0,32%, dan tepung pasta ubi jalar ungu sebesar 0,20%. Kenaikan kadar protein terdegradasi pada tepung pasta umbi dan serealia lokal lebih rendah dibandingkan tepung pasta terigu sebagai pembanding, yaitu sebesar 1,83%.

O[PTIMASI AKTIVITAS PEMBERSIHAN BIOFILM Pseumonas aeruginosa OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM FORMULASI SABUN CAIR

No: 290 Infeksi pneumonia nosokomial, mata, kulit, telinga, saluran urin disebabkan oleh bakteri P. aeruginosa. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibiofilm karena adanya kandungan senyawa aktif misalnya alkaloid, flavonoid, saponin dan juga tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm P. aeruginosa, mengetahui kondisi optimum proses pembersihan biofilm oleh ekstrak etanol daun pepaya yang akan dijadikan sabun cair dan menguji sabun cair ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm P. aeruginosa. Sabun cair dibuat dengan menggunakan basis sabun sodium lauril sulfat, natrium klorida, asam sitrat, propilenglikol dan air. Ekstraksi daun pepaya dengan metode maserasi selama 3 hari menggunakan pelarut etanol 70% dengan pergantian pelarut dilakukan setiap 24 jam.Evaluasi sabun cair ekstrak etanol daun pepaya meliputi organoleptis dan uji pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi sabun cair ekstrak etanol daun pepaya 1, 2 dan 3% memiliki aktivitas pembersih terhadap P. aeruginosa. Daya uji aktivitas ekstrak etanol daun pepaya lebih rendah dibandingkan dengan sabun cair ekstrak etanol dengan konsentrasi 3% sebesar 91,273% pada waktu kontak 15 menit dan pada suhu 440C.

PENENTUAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) DAN UJI STABILITAS FISIK EMULGEL EKSTRAK BATANG PISANG AMBON (Musa acuminata AAA)

No: 289 Batang pisang Ambon (Musa acuminata AAA) mengandung senyawa antioksidan golongan flavonoid yang memiliki aktivitas fotoprotektif. Flavonoid dalam batang pisang Ambon dapat memberikan efek perlindungan terhadap radiasi sinar UV dengan menyerap sinar UV karena adanya gugus kromofor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak dan sediaan emulgel ekstrak batang pisang Ambon (Musa acuminata AAA), serta mengetahui stabilitas fisik formula emulgel yang memiliki nilai SPF tertinggi. Emulgel diformulasikan menjadi 4 formula yaitu dengan konsentrasi ekstrak kental 0% (F0), 0,03% (F1), 0,3% (F2) dan 3% (F3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak batang pisang Ambon memiliki aktivitas tabir surya dengan nilai 15,72. Sediaan emulgel F3 memiliki nilai SPF sebesar 17,56 yang lebih tinggi dibandingkan F1 dan F2. Hasil stabilitas selama 4 minggu emulgel F3 menunjukkan warna, bau, pH (6,15-6,22) dan homogenitas pada suhu 4�C yang relatif stabil dibandingkan suhu kamar (30�C) dan suhu tinggi (40�C). Ekstrak dan sediaan emulgel ekstrak etanol batang pisang Ambon memiliki aktivitas sebagai tabir surya dengan proteksi ultra.

KARAKTERISTIK α-AMILASE Lactobacillus sustensis EN 38-32 DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG PASTA UMBI DAN SEREAL LOKAL

No: 282 Bakteri asam laktat (BAL) secara umum bersifat aman karena termasuk bakteri GRAS (Generally Recognized as Safe). Karakteristik α-amilase L. sustensis EN 38-32 meliputi optimasi suhu dan pH beserta stabilitas suhu dan pH. Kadar gula reduksi di deteksi dengan menggunakan metoda Bernfeld (Bernfeld, 1955 dalam Kanpiengjai et al., 2015) dan aktivitas α-amilase Lactobacillus sustensis EN 38-32 diuji dengan metoda Miller (Miller, 1959 dalam Moradi et al., 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu 45oC dengan aktivitas α-amilase sebesar 0,1889 U/mL, sedangkan nilai pH optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH 5,5 dengan aktivitas sebesar 0,345 U/mL. Stabilitas suhu α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu antara 30oC sampai 65oC dengan aktivitas relatif berkisar antara 50,19% sampai 100%, sedangkan nilai stabilitas pH α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH antara pH 3,5 sampai 7,0 dengan aktivitas relatif antara 52,70% sampai 100%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta umbi talas sebesar 0,29% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta ubi jalar sebesar 27,05%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta terigu sebesar 0,36% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta jagung sebesar 56,22%.

UJI ANTIOKSIDAN PIGMEN KAROTENOID EKSTRAK KULIT BUAH SEMANGKA (Citrullus lanatus (Thunb)) SECARA IN VITRO DENGAN METODE DPPH

No: 270 Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih electron tidak berpasangan pada orbital terluarnya dan bereaksi dengan molekul disekitarnya. Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui senyawa sitrulin pada kulit semangka secara kualitatif dan mengetahui adanya aktivitas antioksidan pigmen karotenoid pada kulit semangka terhadap perlakuan simplisia dan tahapan pelarut ekstraksi dengan menggunkan pelarut (petroleum eter, aseton dan akuades). Dari hasil penelitian yang dilakukan secara kualitatif menggunakan pereaksi Ninhidrin menunjukkan bahwa kulit buah semangka memiliki kandungan sitrulin dengan adanya perubahan warna menjadi ungu. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas antioksidan pada ketiga pelarut yaitu petroleum eter, aseton dan akuades dengan konsentrasi yang berbeda. Dari hasil penelitian perlakuan dengan pengeringan menunjukkan aktivitas antioksidan yang paling tinggi ditunjukkan oleh pelarut akuades (1,907.485 mg/L) dari pada pelarut petroleum eter dan aseton IC₅ₒ ( 2,133.785 dan 4,227.12 mg/L ), variasi pelarut dan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi aktivitas dari kulit buah semangka yang dapat dilihat dari nilai p-value yang berbeda nyata <0,05

OPTIMASI SUHU DAN WAKTU STERILISASI TERHADAP UMUR SIMPANG YANG DIUJI SECARA MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK PADA MINUMAN HERBAL KUNYIT ASAM KEMASAN BOTOL PLASTIK PET

No: 269 Minuman herbal merupakanminumankesehatan yang berasaldaribahanalami yang dapatdikonsumsiuntukmenghilangkan rasa hausdandahaga, juga mempunyaiefekmenguntungkanterhadapkesehatan. Minuman herbal biasanyadibuatdarirempah-rempahataubagiandaritanaman, sepertiakar, batang, daun, bunga, atauumbi. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuioptimasisuhudanwaktusterilisasisertapengaruhnyaterhadapumursimpanproduk secara mikrobiologi danorganoleptik. Pembuatan minumankunyitasamtanpa bahan pengawet dapat dilakukan dengan cara sterilisasiyang bertujuan mematikanmikroorganisme yang tidakdiinginkandalamsuatubahanatauproduktanpamerusakmutudariminuman. Sterilisasi dilakukan denganmetode pemanasan dengan berbagaivariasisuhudanwaktu mulai darisuhu 100�C, 105�C, 110�C, 115�C, 121�C dalam waktu 3 detik dan 5 detik. Setelah itu produk dikemas kedalamwadahbotolplastik PET yang berfungsi sebagaipelindungproduk serta membantu menghambat pertumbuhan mikroba yang disebabkan karena adanyakontaminasidariluarkemasan. Dari hasil pengujian pada minuman kunyit asam baik secara mikrobiologi maupun organoleptik, diperolehsuhudanwaktu sterilisasi yang optimum yaitusuhu 121�C selama 3 detik. Pada suhu dan waktu ini, dinyatakan umursimpanprodukselama 56 hari kondisinya masih baik dan memenuhistandar yang ditetapkanoleh SNI 7388 2009 sehingga minuman kunyit asam tersebut layak untuk dikonsumsi.