Sebanyak 15 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PIGEMN KAROTEN DAN XANTOFIL DARI MIKROALGA Porphyridium cruentum PADA SEL DARAH MERAH DOMBA YANG DIBERI STRES OKSIDATIF

No: 302 Karoten dan xantorfil merupakan golongan dari karotenoid yang berpotensi sebagai antioksidan, karotenoid dapat disintesis oleh mikroalga P. cruentum. Penelitian ini bertujuan menguji potensi karoten dan xantofil dari P. cruentum sebagai antioksidan, dengan mengukur kadar malondialdehyde (MDA) dan superoxide dismutase (SOD) pada sel darah merah domba yang diberi stres oksidatif. Pengukuran MDA menggunakan metode thiobarbituric acid reactive substance (TBARS). Sedangkan pengukuran SOD dengan menggunakan metode adenochorom assay. Konsentrasi karoten pada analisis terdiri atas 0,6; 6; 60 ug/mL dan kontrol positif (vitamin E), sedangkan xantofil terdiri atas konsentrasi 0,8; 8; 80 ug/mL dan mulai kontrol postitif (vitamin C). Hasil uji tukey kadar MDA menunjukan, pigmen karoten konsentrasi 6,ug/mL dan xantrofil konsentrasi 8; 80ug/mL menunjukan nilai tidak beda nyata dengan kontrol positif. Analisis uji tukey aktifitas SOD menunjukan, pigamen karoten konsentrasi 6ug/mL dan xantrofil konsentrasi 8ug/mL menunjukan nilai tidak beda nyata dengan kontrol positif. Nilai tidsk neda nyata tersebut menunjukan hasil lebih baik pada pengujian antioksidan dslam menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktifitas SOD.

PENENTUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA KAROTENOID MIKROALGA HIJAU (Scenedesmus sp. Dan Nannochloropsis sp.) DENGAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS (DPPH dan ABTS)

No: 280 Pola hidup manusia yang tidak sehat dapat memicu penyakit yang berbahaya. Seperti kebiasaan mengkonsumsi junkfood, merokok, minum-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Hal tersebut dapat menimbulkan radikal bebas. Salah satu cara menangkal radikal bebas adalah Karotenoid dapat diperoleh dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi karotenoid yang dihasilkan dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. sebagai antioksidan dengan metode peredaman radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan 2,2-azinobis (3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS). Pengambilan ekstrak karotenoid dengan mengkonsumsi antioksidan. Salah satu antioksidan yang berasal dari alam adalah karotenoid. dilakukan dengan menggunakan pelarut diklorometan. Hasil penilitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kedua mikroalga tersebut berpotensi dapat menangkal radikal bebas. Nannochloropsis sp. memiliki aktivitas antioksidan lebih besar yakni 160,9 μg/g untuk hasil DPPH, sementara hasil ABTS yakni sebesar 121,7 μg/g. Sementara Scenedesmus sp. memiliki aktivitas antioksidan dengan hasil DPPH sebesar 186,3 μg/g, dan hasil ABTS sebesar 156,3 μg/g. Berdasarkan hal tersebut, mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. dapat digunakan sebagai alternatif antioksidan yang bersifat alami.

OPTIMASI PUPUK SEBAGAI MEDIA KULTUR MIKROALGA Chlorella pyrenoidosa PADA PRODUKSI β-KAROTEN DAN ASTAXANTHIN SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN

No: 252 Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari berbagai macam jenis pupuk yang dapat menghasilkan produksi β-karoten dan astaxanthin yang optimal pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa. Mikroalga dikultivasi pada tiga macam pupuk (Gandasil D, Growmore dan Hyponex) sebagai media tumbuh. Produksi β-karoten dan astaxanthin yang optimal pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa dihasilkan pada kultivasi dengan pupuk Hyponex. Analisis β-karoten dihitung pada serapan 450 nm dan astaxanthin pada serapan 479 nm. Hasil kutivasi yang menghasilkan kandungan β-karoten dan astaxanthin yang optimal dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, nilai IC50 yang dihasilkan pada sampel mikroalga sebesar 111,417 µg/mL yang menunjukkan kekuatan sampel uji sebagai antioksidan bersifat sedang. Vitamin C digunakan sebagai standar antioksidan yang memiliki nilai IC50 sebesar 7,56 µg/mL nilai ini menunjukkan kekuatan vitamin C antioksidan yang bersifat sangat kuat.

PERBANDINGAN HIDROLISIS ASAM HNO3 DAN H2SO4 TERHADAP HASIL FERMENTASI Spirulina platensis MENGGUNAKAN Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI ANTIMIKROBA

No: 227 Spirulina platensis ialah mikroalga foto-autotrof, yang salah satu komponen utamanya karbohidrat. Karbohidrat dapat difermentasi menghasilkan etanol yang berfungsi sebagai antimikroba. Penelitian ini bertujuan menentukan perbedaan hasil perbandingan hidrolisis asam nitrat dan asam sulfat terhadap senyawa etanol hasil fermentasi yang berfungsi sebagai antimikroba. Biomassa Spirulina platensis dihidrolisis menggunakan asam nitrat dan asam sulfat dengan variasi konsentrasi 2, 3, dan 4% menghasilkan enam jenis hidrolisat. Hasil hidrolisat difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae selama 5 hari. Pengujian aktivitas antimikroba hasil fermentasi Spirulina platensis menggunakan metode difusi cakram kertas terhadap Staphylococcus aureus, Esherichia coli dan Candida albicas. Analisis senyawa antimikroba dalam sampel menggunakan Kromatografi Gas. Hasil penelitian menunjukan senyawa aktif etanol terbentuk lebih optimal pada konsentrasi asam 3% baik asam nitrat maupun asam sulfat. Hasil penelitian hidrolisat asam nitrat, pada konsentrasi 3% fermentasi hari ke-3 kadar etanol terbentuk sebesar 12,64%, zona hambat yang diperoleh pada Staphylococcus aureus, Esherichia coli dan Candida albicas dengan diameter zona hambat masing-masing 4,05, 3,05, dan 3,05 mm. Sedangkan hidrolisat asam sulfat kadar etanol optimal didapat pada konsentrasi asam sulfat 3% fermentasi hari ke-4 sebesar 13,69% dan diameter zona hambat masing-masing terhadap Staphylococcus aureus sebesar 3,95 mm, beda halnya pada Esherichia coli dan Candida albicas zona hambat terbaik pada konsentrasi asam nitrat 2% hari ke-4 masing-masing sebesar 4,10 dan 3,45 mm. Berdasarkan hasil penelitian, hasil hidrolisat menggunakan asam nirat maupun asam sulfat dapat digunakan sebagai substrat fermentasi untuk menghasilkan etanol sebagai antimikroba.

PENGARUH BERBAGAI SUMBER NITROGEN DAN KARBON TERHADAP PEMBENTUKAN BETA-KAROTEN DAN ASTAXANTIN MIKROLAGA Porphyridium cruentum

No: 119 Porphyridium cruentum adalah mikroalga merah yang memiliki kandungan nutrisi dan pigmen yang sangat tinggi. Pertumbuhan mikroalga ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan komposisi medium, seperti adalah sumber nitrogen dan sumber karbon. Sumber nitrogen yang digunakan adalah KNO3, NaNO3, (NH4)2CO dan (NH2)4SO4 dengan konsentrasi masing-masing 1 gram/L, sedangkan untuk sumber karbon digunakan glukosa, maltosa, amilum dan molase dengan konsentrasi masing-masing 0,25 gram/L. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode turbidimetri (untuk menentukan kurva pertumbuhan P. cruentum), metode ekstraksi karotenoid Hua Bin Li 2002, metode sprektrofotometri (beta-karoten % 450 nm dan astaxantin A 479 nm). Hasil pengamatan selama 11 hari masa kultivasi dapat terlihat bahwa fase logaritmik terjadi pada hari ke-1 sampai hari ke-8, fase stasioner terjadi pada hari ke-9 sampai hari ke-11. Karotenoid tertinggi terdapat pada fase stasioner. Pada semua media pertumbuhan yang menghasilkan kadar beta-karoten dan astaxantin pada sumber nitrogen terbaik adalah NaN O3, untuk beta-karoten dengan kadar tertinggi sebesar 183,69 ppm (logaritmik) dan sebesar 421,53 ppm (stasioner). Sedangkan astaxantin tertinggi sebesar 39,65 ppm (logaritmik) dan sebesar 105,25 ppm (stasioner). Sumber karbon terbaik adalah amilum, untuk beta-karoten dan astaxantin tertinggi sebesar 190,08 ppm (logaritmik) dan sebesar 513,98 ppm (stasioner). Sedangkan untuk astaxantin sebesar 42,12 ppm (logaritmik) dan sebesar 125,85 ppm (stasioner). Berdasarkan hal tersebut maka, variasi sumber nitrogen (NaNO3) dan sumber karbon (Amilum) mempengaruhi pembentukan beta-karoten dan astaxantin pada mikroalga Porphyridium cruentum.