Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

ANALISIS SENYAWA SITRULIN DAN UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK AIR DAN EKSTRAK ETANOL DAGING DAN KULIT BUAH BLEWAH (Cucmis melo L.)

No: 266 Senyawa radikal bebas merupakan sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas. Pemanfaatan daging blewah sering dikonsumsi pada musim kemarau. Pemanfaatan kulit blewah sebatas hanya campuran pakan dan kompos sedangkan pada bidang farmasi belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan senyawa sitrulin serta aktivitas antioksidan yang lebih optimal pada daging dan kulit blewah terhadap metode ekstraksi. Metode yang digunakan ialah metode maserasi dengan pelarut etanol dan air, metode digesti dan dekokta hanya dengan pelarut air. Aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan oleh metode maserasi ekstrak etanol kulit blewah (583,19 mg/L). Pada ekstrak air, metode maserasi kulit blewah memberikan aktivitas antioksidan (722,17 mg/L) yang berbeda nyata (P<0,05) dengan metode digesti dan dekokta pelarut air lainnya. Namun aktivitas antioksidan ektrak daging dan kulit blewah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan vitamin C. Nilai kandungan senyawa sitrulin tertinggi ditunjukkan oleh metode dekokta ekstrak air kulit blewah (7,72 g/100g).

EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus (L.) G. Don) TERHADAP LAMA PERIODE PROSES PENYEMBUHAN LUKA STADIUM I TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague Dawley

No: 263 Pada kehidupan sehari-hari sering terjadi kecelakaan kecil yang berkaitan dengan kulit. Sebagai organ tubuh yang letaknya paling luar dan berfungsi sebagai barrier tubuh, kulit mudah mengalami luka. Luka digambarkan secara sederhana sebagai gangguan seluler dan anatomis dari suatu jaringan. Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan luka salah satunya adalah tanaman tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Berdasarkan hasil uji fitokimia daun tapak dara mengandung alkaloid, flavonoid saponin dan tanin. Kandungan tersebut diduga berperan dalam penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan mengetahui dosis yang paling efektif dari gel ekstrak daun tapak dara dalam mempercepat periode epitelisasi proses penyembuhan luka stadium I. Sebanyak 0,5 kg serbuk daun tapak dara dimaserasi dengan pelarut etanol 70% sebanyak 5 L. Filtrat diuapkan pelarutnya menggunakan vacuum dry sampai diperoleh ekstrak kental sebagai bahan aktif gel. Pengujian penyembuhan luka dilakukan pada tikus dengan mengukur panjang luka pada punggung tikus yang dilukai bagian epidermisnya. Hewan uji yang digunakan yaitu 25 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Kelompok dosis I diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 5%, kelompok dosis II diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 10%, kelompok dosis III diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 15%, kelompok kontrol positif diberi Bioplacenton gel dan kelompok kontrol negatif diberi dasar gel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sediaan gel ekstrak daun tapak dara dapat mempercepat periode epitelisasi dengan konsentrasi yang paling efektif gel ekstrak daun tapak dara 15% selama pengobatan 8 hari.

EFEK PEMBERIAN SEDIAAN KOMBINASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DAN ANGKAK (Fermentasi Monascus purpureus) PADA PASIEN RAWAT INAP ANAK PENDERITA DEMAM BERDARAH DI RS ISLAM BOGOR PERIODE NOVEMBER 2015-OKTOBER 2016

No: 253 Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala klinis demam, trombositopenia dan perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi. Telah dilakukan penelitian efek pemberian sediaan Kombinasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn.) dan angkak (Fermentasi Monascus purpureus) Pada pasien rawat inap anak penderita Demam Berdarah di RS Islam Bogor periode November 2015 – Oktober 2016. Penelitian ini menggunakan metode prospektif dan retrospektif dari data rekam medis. Subjek penelitian sebanyak 75 pasien. Dari analisis data menunjukkan bahwa jumlah pasien berdasarkan jenis kelamin laki-laki diperoleh sebesar 48 pasien (64%), dan perempuan 27 pasien (36%). Berdasarkan kelompok umur diperoleh sebesar 18 pasien (24%) berumur 1-5 tahun, sedangkan umur 5-11 tahun diperoleh sebesar 57 pasien (76%). Berdasarkan jumlah trombosit, menunjukan kelompok yang diberikan sediaan dosis satu kali sehari 1/2 sachet meningkat signifikan dibandingkan kelompok yang tidak diberikan sediaan pada pengukuran hari ke 1, sedangkan kelompok yang diberikan sediaan satu kali sehari 1 sachet meningkat signifikan dibandingkan kelompok yang tidak diberikan sediaan pada pengukuran hari ke 3. Dan berdasarkan nilai hematokrit, kelompok yang diberikan sediaan tidak menurun signifikan dibandingkan kelompok yang tidak diberikan sediaan selama dilakukan pengukuran. Hasil penelitian ini menunjukan Pemberian Sediaan Kombinasi Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn.) dan Angkak (Fermentasi Monascus purpureus) Pada Pasien penderita Demam Berdarah anak yang dirawat dapat mengatasi terjadinya trombositopenia tetapi tidak dapat mengatasi hemokonsentrasi.

PENGARUH PENGGUNAAN PROBIOTIK TERHADAP DURASI RAWAT INAP PADA PASIEN DIARE BALITA DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE MEI SAMPAI OKTOBER 2014

No: 239 Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar dan konsistensi feses menjadi cair. Dikatakan diare bila frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair. Berdasarkan hasil laporan tahunan periode 2014 diare termasuk sepuluh macam penyakit terbesar di Rumah Sakit Salak Bogor. Pada pengobatan diare selain pemberian seng juga diberikan probiotik. Probiotik banyak disebut sebagai suatu bakteri yang tidak patogen, penghuni normal usus manusia dan binatang. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang penggunaan probiotik terhadap durasi rawat inap pada pasien diare balita untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik pada terapi diare akut.Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif yang menggunakan analisis Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan pasien diare dengan jenis kelamin laki–laki terbanyak 54% dan pengobatan diare yang menggunakan probiotik sebanyak 68% cukup tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan probiotik. Perbedaan duarasi rawat inap rata–rata yang menggunakan probiotik hanya 0,68 hari lebih rendah. Hasil besar pengaruh probiotik rata-rata 73.73 lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak menggunakan probiotik rata–ratanya 89.95. Hasil dari tes statistika di dapat nilai yang signifikan 0.028.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAN ETIL ASETAT DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg) SEBAGAI INHIBITOR TIROSINASE

No: 238 Melanin merupakan zat yang memberi warna cokelat atau cokelat kehitaman pada kulit. Tirosinase merupakan enzim utama dalam proses biosintesis melanin. Mekanisme kerja tirosinase adalah mengkatalisis oksidasi L-tirosin menjadi dopakrom dalam dua tahap berbeda yaitu aktivitas kresolase dan aktivitas katekolase, tahap pertama atau aktivitas kresolase adalah hidroksilasi L-tirosin menjadi L-dopa dan tahap kedua atau aktivitas katekolase adalah oksidasi L-dopa menjadi dopakuinon. Senyawa antioksidan dan inhibitor tirosinase erat kaitannya dengan enzim tirosinase dimana antioksidan melakukan pencegahan agar enzim tirosinase tidak dapat mengoksidasi L-dopa menjadi dopakuinon, karena senyawa dopakuinon mempunyai keraktifan yang sangat tinggi dan dapat dipolimerisasi secara spontan membentuk melanin. Pemanfaatan daun sukun berdasarkan senyawa kimia yang terkandung didalamnya seperti flavonoid dan tanin yang merupakan senyawa turunan fenol dan berkaitan dengan fungsi sebagai antioksidan, maka dilakukan uji Fitokimia dan Uji aktivitas inhibisi tirosinase. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya daya inhibisi tirosinase pada ekstrak etanol 70% dan ekstrak etil asetat daun sukun. Perolehan ekstraksi dengan cara maserasi, selanjutnya diuapkan dengan alat pemisahan (rotary vacuum evaporator). Maserat yang diperoleh dibuat deret standar masing-masing larutan sampel dari konsentrasi 2000; 1000; 500; 250; 125; 62,5; 31,25; 15,63 ppm dan asam kojat sebagai kontrol positif dengan konsentrasi 500; 250; 125; 62,5; 31,25; 15,63 ppm kemudian masing-masing sampel diuji aktivitas inhibisi tirosinase. Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas inhibisi tirosinase tertinggi ditunjukan oleh ekstrak etil asetat daun, karena memiliki nilai IC50 lebih kecil dibanding ekstrak etanol 70% daun sukun. Nilai IC50 pada ekstrak etil asetat adalah 245,43 ppm, sedangkan nilai IC50 pada ekstrak etanol 70% adalah 3143,21 ppm. Namun aktivitas inhibisi tirosinase ekstrak etanol 70% dan etil asetat daun sukun tersebut lebih rendah dibandingkan dengan asam kojat sebagai kontrol positif yang mempunyai nilai IC50 19,36 ppm, yang memiliki nilai IC50 jauh lebih kecil. Karena semakin kecil nilai IC50 semakin besar daya inhibisi tirosinase.

UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK PIGMEN KAROTENOID DAN SITRULIN PADA KULIT BUAH BLEWAH (Cucumis melo L.) SECARA IN VITRO (METODE DPPH)

No: 235 Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya dan bereaksi dengan molekul disekitarnya. Antioksidan menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas. Pemanfaatan kulit blewah hanya sebatas sebagai campuran pakan dan kompos, sedangkan pada bidang farmasi belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya potensi antioksidan pada ekstrak kulit blewah dan pengaruh perbedaan hasil uji pigmen karatenoid dan sitrulinpada ekstrak kulit blewah terhadap tahapan ekstraksi. Kulit blewah dengan perlakuan pengeringan dan tanpa pengeringan diekstrak secara bertahap dengan menggunakan tiga pelarut (petroleum eter, aseton, dan akuades). Aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak akuades dengan perlakuan tanpa pengeringan (667,30 mg/L), yang berbeda nyata (P<0,05) dengan pelarut aseton dan petroleum eter (996,65 dan 2368,26 mg/L). Perlakuan dengan pengeringan hanya pada ekstrak petroleum eter (1607,28 mg/L) yang memberikan aktivitas dibandingan dengan aseton dan akuades (2871,54 dan 2290,75 mg/L). Namun aktivitas antioksidan ekstrak kulit blewah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan betakaroten dan vitamin C. Perlakuan tanpa pengeringan juga memberikan kadar pigmen karotenoid tertinggi yang ditunjukkan oleh ekstrak aseton (betakaroten 1,13 mg/100g, likopen 0,29 mg/100g) dan kadar sitrulin pada ekstrak akuades(2,99 mg/100g). Perbedaan pengaruh perlakuan simplisia basah dan kering pada aktivitas antioksidan, kadar pigmen karotenoid, dan kadar sitrulin berbeda nyata (P<0,05), dan perlakuan tanpa pengeringan (simplisia basah) berbeda nyata (P<0,05) pada perbedaan pengaruh pelarut ekstraksi.

EFEKTIVITAS TERAPI PENGOBATAN PADA PASIEN RAWAT INAP ASMA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI PERIODE JANUARI 2014 SAMPI JUNI 2015

No: 226 Asma adalah gangguan saluran pernapasan kronik yang merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di berbagai dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi asma di Indonesia 4,5%. Dalam penatalaksanaan asma jenis obat bronkodilator menjadi terapi utama, sehingga dilakukan penelitian efektivitas terapi pengobatan pada pasien rawat inap asma. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan menggunakan rancangan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asma banyak terjadi pada usia 0-5 tahun yaitu 38,80% dan jenis kelamin terbanyak perempuan yaitu 73,13% dari seluruh sampel sebanyak 65 pasien, 20 diantaranya mempunyai penyakit penyerta. Jenis obat dengan rute inhalasi terbanyak Ventolin� inhalasi yaitu 80,59%, diikuti rute parenteral terbanyak seftriakson 38,8% dan rute oral terbanyak salbutamol 25,37%. Lama hari rawat pasien terendah terdapat pada pasien yang mendapatkan terapi utama Ventolin� inhalasi yaitu 5,03 hari dan lama hari rawat tertinggi terdapat pada pasien yang mendapatkan terapi kombinasi Salbutamol (Ventolin�) + Budesonide (Pulmicort�) +Ipratropium Bromide dan Salbutamol (Combivent�) dengan rute pemberian obat inhalasi yaitu 11 hari.

FORMULASI SEDIAAN CHEWABLE LOZENGES EKSTRAK KAYU MANIS Cinnamomum burmannii (Ness & T.Ness) Blume

No: 157 Kulit kayu batang manis dapat membantu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II. Penggunaan kulit batang kayu manis secara tradisional umumnya digunakan dengan cara direbus atau diseduh. Cara ini kuramg efektif dan efesien sehingga perlu pengembangan ke bentuk modern agar lebih praktis. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan penggunaan ekstrak kulit batang kayu manis sebagai pangan fungsional menjadi bentuk sediaan chewable Iozenges dengan berbagai konsentrasi gelatin dan sorbitol sehingga diperoleh formula yang memenuhi syarat dan disukai oleh konsumen. Ekstrak kering kulit batang kayu manis diformulasikan menjadi sediaan chewable Iozenges dengan variasi konsentrasi gelatin tipe B sebagai basis : 22,5%, 20%, dan 17,5% dan sorbitol cair 70% sebagai plascitizer : 20%, 17,5% dan 15%. Pada pembuatan chewable Iozenges ini menggunakan metode tuang lebur. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi secara fisik dan kimia meliputi uji organoleptik, keseragaman bobot, kekenyalan, kadar air, pH, dan uji kesukaanuji hedonic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan chewable Iozenges yang memenuhi syarat dan dapat diterima oleh panelis adalah sediaan chewable Iozenges yang mempunyai konsentrasi gelatin tipe B sebesar 17,5 % dan sorbitol cair 70% sebesar 15% dengan pH 5,23, kekenyalan 71,5 mm, kadar air 55,456%, nilai hedonik 3,28.

UJI AKTIVITAS TANIN EKSTRAK DAUN TEH (Camelia sinensis), DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DAN DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix DC) TERHADAP KADAR MERKURI (Hg) SECARA IN VITRO

No: 113 Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin tergolong senyawa polifenol dengan karakteristiknya yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan makromolekul lainnya. Tanin memiliki sifat antara lain dapat larut dalam air atau alkohol karena tanin banyak mengandung fenol yang memiliki gugus OH, dapat mengkhelat logam berat. Merkuri (Hg) sering diasosiasikan sebagai polutan bagi lingkungan. Merkuri dapat menyebabkan kelainan fungsi saraf. Pada gejala akut bisa terjadi kelumpuhan, gila, koma dan akhirnya mati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrak daun teh, daun jeruk purut, dan daun salam dapat mengikat merkuri yang di ujikan secara in vitro dalam ringer laktat dengan cara mengukur kadar merkuri pada larutan tersebut dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Penelitian ini diawali dengan determinasi dari tiga jenis daun yang akan digunakan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak infusa, peengujian kadar tanin secara kualitatif dan kuantitatif, pengujian in vilro dan pengukuran menggunakan Lumex Mercury Analyzer. Determinasi tanaman di lakukan di LIPI Bogor. Uji kualitatif pada tiga jenis daun menunjukkan positif tanin. Uji kuantitatif menunjukkan daun teh paling tinggi kadar taninnya dibandingkan dengan daun salam daun daun jeruk purut dengan nilai masing-masing 13,30 mg/g, 13,00 mg/g, dan 5,00 mg/g. Hasil pengukuran uji in vitro dengan menggunakan Lumex Mercury Analyzer menunjukkan daun salam memiliki daya khelat paling tinggi terhadap merkuri dibandingkan daun teh dan daun jeruk purut dengan nilai rata-rata pengikatan merkuri dari masing-masing ekstrak 68,718 %, 72,738 %, dan 76,449 %.