Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

UJI EFEKTIVITAS SALEP KUNYIT (Curcuma longa L.) SEBAGAI ANTIINFLAMASI PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague-Dawley

No: 360 Curcuma longa (L.) yang dikenal dengan nama kunyit adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit di seluruh dunia, termasuk antiinflamasi. Menurut penelitian, gel ekstrak rimpang jahe merah 4% memiliki efek antiinflamasi lebih besar dibandingkan dengan gel ekstrak rimpang kunyit 4%. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji antiinflamasi dalam bentuk sediaan salep dari ekstrak rimpang kunyit dan natrium diklofenak sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari ekstrak rimpang kunyit. Serbuk kunyit dimaserasi selama 3x24 jam kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator hingga ekstrak pekat. Ekstrak rimpang kunyit memiliki kandungan senyawa kimia flavonoid. Ekstrak kunyit dibuat menjadi sediaan salep dengan konsentrasi 2%, 4%, 6% dan 8%. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 ekor tikus putih jantan yang dibagi dalam 6 kelompok. Kelompok pertama diberi basis salep, kelompok kedua diberi natrium diklofenak, kelompok ketiga konsentrasi 2%, kelompok keempat 4%, kelompok kelima 6% dan kelompok keenam 8%. Sebelum diberi perlakuan, kaki tikus putih jantan diukur volume awalnya. Disuntikkan karagenin 1% secara subplantar sampai terbentuk edema dan diukur volume edema kaki tikus putih jantan. Salep dioleskan pada telapak kaki tikus putih jantan setiap hari selama 2 minggu dan diukur penurunan edema pada kaki tikus putih jantan. Hasil pengukuran lalu ditabulasikan. Analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji Duncan. Hasil uji efektivitas salep kunyit pada kaki tikus putih jantan bengkak menunjukkan hasil yang efektif sebagai antiinflamasi dan memberikan pengaruh yang sama terhadap volume edema kaki tikus putih jantan pada konsentrasi 8% dan kontrol positif.

FORMULASI DAN STABILITAS SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN EKSTRAK ETANOL DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides)

No: 359 Antiseptik merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikrorganisme pada permukaan kulit dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Banyak tanaman herbal yang digunakan sebagai antiseptik salah satunya yang berpotensi sebagai antiseptik adalah daun sintrong karena mengandung senyawa kimia saponin, flavonoid dan tanin. Tujuan penelitian ini adalah membuat formulasi sabun cuci tangan ekstrak daun sintrong dan diuji stabilitasnya. Penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan sabun cuci tangan ditentukan dengan menggunakan alat spektrofotometer dan untuk menentukan umur simpan menggunakan metode Arrhenius. Penurunaan kadar fenol dalam sediaan sabun cuci tangan mencapai 50% dari kadar awal sebesar 57,89 ppm. Umur simpan yang didapat pada suhu 28ºC adalah 2 minggu.

FORMULASI DAN UJI STABILITAS SHAMPO ZINC PHYRITHIONE DENGAN PERBANDINGAN VARIASI PENGENTAL Na CMC (Carboxyl Methyl Cellulosum Natricum) DAN GLISERIN

No: 356 Ketombe adalah salah satu penyakit kulit yang banyak dialami oleh masyarakat, ketombe disebabkan oleh penumpukan sel kulit mati dikepala. Shampo anti ketombe yang mengandung bahan aktif ZnPt (Zinc Pirythione) yang bersifat sebagai fungistatik untuk mengobati infeksi kulit kepala. Viskositas dan sifat alir merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam membuat formulasi sediaan shampo. Pada penelitian ini menggunakan 8 formula shampo, dengan variasi konsentrasi pengental Na CMC dan glicerin. Metode yang digunakan dalam uji stabilitas shampo adalah pengamatan viskositas, sifat alir, kadar ZnPt, dan Tinggi Busa shampo pada temperatur penyimpanan yang berbeda suhu 4oC, 28oC, dan 40oC. Hasil pengamatan menunjukkan pengental Na CMC memiliki viskositas yang stabil pada suhu 28⁰C dengan sifat alir pseudoplastis, berdasarkan statistik diperoleh hasil pada pengaruh formula viskositas bahwa antar formula yang sama tidak saling berpengaruh terhadap viskositas. Pada waktu penyimpanan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap viskositas. Pada pengukuran kadar ZnPt hasil yang diperoleh pada Formula 6 dengan pengental gliserin dengan 1,2% yang memenuhi syarat sebagai shampo anti ketombe. Penetapan kadar menggunakan metode spektrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 335 nm. Pada tinggi busa dari data statistik diperoleh suhu dengan konsentrasi formula memberikan pengaruh yang sama. Ini menunjukkan bahwa meningkatnya tinggi busa disebabkan jumlah konsentrasi yang meningkat.

PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN AKAR TUMBUHAN PAKU (Drynaria sparsisora (Desv.) T. Moore.) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) DENGAN INDUKSI VAKSIN DTP-Hb

No: 342 Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas suhu tubuh normal yaitu 36-37,20C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat parasetamol. Namun, efek samping yang sering terjadi adalah kerusakan hati.Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antipiretik dari akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.)T.Moore.)secara in vivo, menggunakan metode rebusan. Dengan menggunakan konsentrasi 0,5 g/Kg BB, 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBB. Hasil rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan senyawa kimianya dengan metode uji fitokimia, dari hasil uji didapatkan alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Induksi demam pada hewan uji menggunakan vaksin DTP-Hb 0,4 mL secara intramuskular.Pengukuran efek antipiretik pada tikus putih (Rattus novergicus)dilakukan selama 2 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian rebusan akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBB menunjukkan penurunan suhurektal lebih besar yaitu 2,090C dan 2,300Cdibanding dengan konsentrasi 0,5 g/KgBB yaitu 0,920Cselama 2 jam pengukuran. Analisis data dengan uji ANOVA oneway menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu ada pengaruh yang nyata pada pemberian rebusan akar tumbuhan paku terhadap penurunan suhu tubuh tikus putih Rattus novergicus. Oleh karena itu, rebusan akar tumbuhan paku konsentrasi 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBBmemiliki aktivitasantipiretik tertinggi.

ANALISIS PENGARUH TERAPI ERYTHROPOIETIN STIMULATING AGENTS (ESA), ASAM FOLAT DAN VITAMIN B12 TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PASIEN HEMODIALISIS DI RSPAD GATOT SOEBROTO PERIODE JANUARI-JUNI 2017

No: 306 Penyebabutama anemia pada pasien hemodialisisyaitu menurunnya produksi hormon eritropoietin oleh ginjal.Pengobatannya dengan menggunakan Erythropoetin Stimulating Agent (ESA).Terapi penunjang untuk meningkatkan optimalisasi ESA yaitu salah satunya dengan menggunakan asam folat dan vitamin B12. Jenis ESA yang digunakan yaitu epoetin alfa, epoetin beta serta asam folat 1 mg, 5 mg dan vitamin B12 50 µg.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi ESA, asam folat dan vitamin B12 terhadap peningkatan kadar hemoglobin pasien hemodialisis.Data dikumpulkan secara retrospektif dan dianalisa secara deskriptif periode Januari-Juni 2017 diRSPAD Gatot Soebroto.Analisis statistik menggunakan uji Oneway Anova, uji Normalitasdan uji lanjut menggunakan uji Duncan. Sampel yang akan diteliti sebanyak 71 pasien dan dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu epoetin alfa 1 mg, epoetin alfa 5 mg, epoetin beta 1 mg dan epoetin beta 5 mg. Dari masing-masing kelompok, terdiri atas jenis ESA, sediaan asam folat dan vitamin B12. Berdasarkan jenis kelamin dan usia, penderita terbanyak pada pasien laki-laki (52%) dan usia terbanyak 51 – 55 tahun (27%).Hubungan antara rata-rata kadar Hb dengan lama pemberian, epoetin alfa 1 mg dan epoetin alfa 5 mg cenderung meningkatkan kadar Hb dan stabil.Dengan menggunakan SPSS versi 17 dapat disimpulkan bahwa sampelterdistribusi normal dan homogen serta ada hubungan yang signifikan antara pemberian terapi terhadap peningkatan kadar Hb yang diukur selama 6 bulan, dimana nilai probabilitas sig 0,000 < nilai α yaitu 0,05. Sedangkan hasil uji Duncan yaitu, epoetin beta 1 mg dan epoetin alfa 5 mg berbeda nyata dengan epoetin beta 5 mg dan epoetin alfa 1 mg.

AKTIVITAS JUS BUAH LABU AIR (Lagenaria siceraria) SEBAGAI ANTIHIPERGLIKEMIK TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley

No: 297 Diabetes mellitus merupakan kelompok kelainan fungsi metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yangterjadi karenakelainan sekresi insulin, kerjainsulin atau kedua-duanya.Hiperglikemia merupakan keadaan jumlah glukosa dalam darah melebihi batas normal (>200 mg/dL).Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai penurun glukosa darah, yaitu buah labu air (Lagenaria siceraria). Senyawa aktif yang teridentifikasi dalam buah labu air, yaitu flavonoid dan saponin.Tujuan dari penelitian adalahmengetahuiaktivitas jus buah labu air dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus novergicus) jantan denganhiperglikemia. Buah labu air diambil filtratnya dengan metode pengejusan.Jus buah labu air diuji secarain vivo pada tikus hipergikemia yang diinduksi aloksan. Pengukuran kadar glukosa darahmenggunakan glukometer selama 14 hari dengan interval waktu 3hari. Hasil uji secara in vivo jus buah labu air memiliki aktivitas antihiperglikemia dengan parameter penurunan kadar glukosa darah tikus dan terdapat perbedaan penurunan kadar glukosa darah pada setiap pengecekan. Nilai penurunan kadar glukosa darah masing-masing kelompok kontrol negatif, kontrol positif, jus buah labu air dosis 100 mg/mL, dosis 200 mg/mL dan dosis 400 mg/mL secara berurutan sebesar -227,80 mg/dL, 288,40 mg/dL, 125,20 mg/dL, 297,40 mg/dL dan 324, mg/dL.

UJI MUTU FISIK DAN EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN PARE (Momordica charantia) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT 2 PADA TIKUS PUTIH JANTAN Galur Sprague Dawley

No: 295 Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan dan atau kehilangan jaringan disebabkan kontak dengan sumber yang memiliki suhu yang sangat tinggi. Daun pare dapat digunakan untuk pemakaian luar seperti luka bakar daun pare digiling halus lalu dibubuhkan pada luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan gel ekstrak etanol daun pareterhadap penyembuhan luka bakar pada tikus putih jantan dan untuk mengetahui mutu fisik sediaan gel tersebut yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, uji viskositas dan uji pH. Hasil penelitian formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun parememiliki tekstur yang homogen, berwarna coklat sampai hitam pekat, berbau khas gelatin dan memiliki pH sebesar 5. Persentase pengurangan diameter luka bakar pada tikus putih jantan dengan menggunakansediaan gel ekstrak etanol daun pare 2,5%; 5%;7,5% dan 10% masing – masing sebesar 88%, 92%, 76% dan 76,80%, sedangkan pada kontrol positif bioplacenton gel sebesar 92%. Oleh sebab itu, ekstrak etanol daun pare dapat menyembuhkan luka bakar

PENETAPAN DISTRIBUSI UKURAN PARTIKEL DALAM SEDIAAN SUSPENSI INJEKSI MEDROKSIPROGESTERON ASESTAT 50 mg/mL DENGAN MENGGUNAKAN MASTERSIZER 3000

No: 286 Suspensi injeksi memiliki ukuran partikel yang berdampak signifikan terhadap kecepatan disolusi, bioavailabilitas, dan atau stabilitas. Pengujian distribusi ukuran partikel harus dilakukan dengan menggunakan prosedur yang sesuai. Tujuan penelitian untuk menetapkan distribusi ukuran partikel Dv (10), Dv (50), dan Dv (90) pada sediaan suspensi Injeksi medroksiprogesteron asetat 50 mg/ mL dengan menggunakan mastersizer 3000 yang memiliki metode Laser Diffraction. Penetapan dilakukan menggunakan Purified water sebagai medium, lama pengukuran 7 detik, stabilitas pengukuran sampel 7 menit, kecepatan pompa dan pengaduk 1500 rpm, dan obscuration 15. Metode ini memberikan presisi baik dengan RSD untuk Dv (10) sebesar 2,57, Dv (50) sebesar 1,21, dan Dv (90) sebesar 1,74. Metode ini memberikan presisi antara baik dengan RSD gabungan dari Dv (50) sebesar 0,82. Hasil menunjukkan Dv (10) bahan uji A 4,48 mikron, B 4,15 mikron, dan C 4,12 mikron, Dv (50) bahan uji A 11,7 mikron, B 11,2 mikron, dan C 11,1 mikron, dan Dv (90) bahan uji A 21,6 mikron, B 21 mikron, dan C 20,9 mikron. Hasil penelitian kondisi penyimpanan 40�C � 2�C / RH 75 �5% menunjukkan F hitung (0,13454) < F tabel (3,47805) dan 30�C � 2�C / RH 75 �5 % menunjukkan F hitung (0,29712) < F tabel (3,47805).

PENENTUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA KAROTENOID MIKROALGA HIJAU (Scenedesmus sp. Dan Nannochloropsis sp.) DENGAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS (DPPH dan ABTS)

No: 280 Pola hidup manusia yang tidak sehat dapat memicu penyakit yang berbahaya. Seperti kebiasaan mengkonsumsi junkfood, merokok, minum-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Hal tersebut dapat menimbulkan radikal bebas. Salah satu cara menangkal radikal bebas adalah Karotenoid dapat diperoleh dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi karotenoid yang dihasilkan dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. sebagai antioksidan dengan metode peredaman radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan 2,2-azinobis (3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS). Pengambilan ekstrak karotenoid dengan mengkonsumsi antioksidan. Salah satu antioksidan yang berasal dari alam adalah karotenoid. dilakukan dengan menggunakan pelarut diklorometan. Hasil penilitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kedua mikroalga tersebut berpotensi dapat menangkal radikal bebas. Nannochloropsis sp. memiliki aktivitas antioksidan lebih besar yakni 160,9 μg/g untuk hasil DPPH, sementara hasil ABTS yakni sebesar 121,7 μg/g. Sementara Scenedesmus sp. memiliki aktivitas antioksidan dengan hasil DPPH sebesar 186,3 μg/g, dan hasil ABTS sebesar 156,3 μg/g. Berdasarkan hal tersebut, mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. dapat digunakan sebagai alternatif antioksidan yang bersifat alami.

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM SABUN TRANSPARAN TERHADAP PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus aureus

No: 273 Biofilm merupakan bentuk struktural dari sekumpulan mikrooganisme yang dilindungi oleh matrik ekstraseluler yang disebut Extracellular Polymeric Substance (EPS). EPS merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh mikrooganisme tersebut dan dapat melindungi dari pengaruh buruk lingkungan. Bakteri Staphylococcus aureus adalah patogen yang dapat membentuk biofilm. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mengandung saponin dan berpotensi untuk membersihkan biofilm karena mempunyai kemampuan sebagai surfaktan atau bahan pembersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak daun pepaya, kemudian dilakukan pengujian pembersihan biofilm S. aureus dengan menggunakan ekstrak etanol daun pepaya untuk mengetahui kondisi optimum pembersihan biofilm S. aureus. Selain itu, menguji aktivitas sabun transparan yang mengandung ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm S.aureus pada kondisi optimum. Optimasi proses pembersihan biofilm S. aureus menggunakan Microtiter Plate Biofilm Assay, berdasarkan Respon Surface Design dan analisis data menggunakan metode Response Surface Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembersihan optimum pembersihan sabun transparan ekstrak etanol daun pepaya berada pada konsentrasi 1,6%, waktu kontak 5 menit dan suhu pembersihan 300C. Untuk membersihkan biofilm, dibutuhkan senyawa atau bahan yang memiliki aktivitas antibiofilm.