Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

Potensi antihiperglikemia dari hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei shirota strain dan lactobacillus plantarum pada tikus putih jantan (rattus novegicus)

No. 533 Hasil fermentasi umbi garut dapat digunakan sebagai terapi hiperglikemia. Salah satu bahan potensial untuk pembuatan hasil fermentasi yaitu Umbi garut (Maranta arundinacea L) yang difermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus plantarum dan bakteri Lactobacillus casei Shirota strain dan campuran keduanya. Tujuan dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus casei Shirota strain yang optimal dan menentukan aktivitas penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus). Hasil fermentasi dievaluasi pH, total asam laktat dan total bakteri asam laktat. Hasil fermentasi umbi garut dilakukan uji penurunan kadar glukosa darah secara in vivo. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) dengan hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran, Lactobacillus plantarum 2%, Lactobacillus casei 2% masing-masing sebesar 71,47%, 43,63% dan 69,76%. Penurunan kadar glukosa darah pada hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran dan Lactobacillus casei 2% tidak berbeda nyata (α<0,05). Hasil fermentasi umbi garut oleh kultur campuran mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,65, total asam laktat 0,89% dan total bakteri asam laktat 7,6 x 109 CFU/mL. Sedangkan untuk hasil fermentasi umbi garut oleh Lactobacillus casei 2% mempunyai karakteristik dengan nilai pH 4,29, total asam laktat 0,95% dan total bakteri asam laktat 1,8 x 108 CFU/mL. Oleh karena itu, fermentasi umbi garut oleh bakteri Lactobacillus plantarum, Lactobacillus casei Shirota strain dan kultur campuran dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Uji aktivitas ekstrak etanol daun kersen (Muntingia Calabura L.) sebagai masker jerawat untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

No. 532 Daun kersen (Muntingia calabura L.) memiliki aktivitas antibakteri alami karena terdapat kandungan senyawa fenol, sehingga dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, yakni penyebab jerawat meradang. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas ekstrak etanol daun kersen dalam formula sediaan masker peel-off terhadap penghambatan Staphylococcus aureus. Metode dalam penelitian ini meliputi pengujian aktivitas antibakteri dan penetapan kadar total fenol yang dilakukan sebelum dan sesudah cycling test serta evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, uji waktu sediaan mengering, dan uji viskositas yang dilakukan sebelum cycling test, siklus ke-3 pada suhu dingin dan panas, dan sesudah cycling test. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 12,8-15,6 mm. Aktivitas antibakteri sediaan memberikan respon hambatan yang kuat. Kadar total fenol sebelum dan sesudah cycling test pada formula sediaan yaitu 47,475-108,485 mg GAE/g sediaan. Hasil dari evaluasi sediaan menunjukkan bahwa sediaan masker peel-off homogen, tidak berubah bentuk, warna, dan bau, dengan daya sebar 5,3-6,7 cm, pH 5-6, waktu mengering 15,21-19,42 menit, dan viskositas 4000-7250 cps. Semua evaluasi sediaan memenuhi persyaratan yang baik kecuali viskositas, walaupun viskositasnya cenderung lebih tinggi dari standar tetapi sediaan masih mudah diaplikasikan pada kulit dan di tuang ke dalam wadah.

Formulasi dan evaluasi fisik sediaan lotion ekstrak umbi lobak (Raphatus sativus L.) sebagai tabir surya

No. 510 Penggunaan kosmetika tabir surya menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam upaya melindungi dari radiasi matahari. Kosmetika berbahan tanaman lebih sering diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan senyawa kimia. Umbi lobak (Raphatus Sativus L) salah satu tanaman yang kandungan kimianya dapat dijadikan sebagai tabir surya. Kandungan tersebut adalah flavonoid yang mampu mencegah efek berbahaya dari sinar UV atau paling tidak dapat mengurangi kerusakan pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan lotion tabir surya dari ekstrak umbi lobak yang memiliki mutu fisik dan SPF yang stabil. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat dengan tingkat kepolaran yang berbeda-beda yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 96%, dan air. Masingmasing pelarut dibuat menjadi ekstrak kental, dan di uji SPF dengan spektrofotometri selanjutnya hasil SPF terbesar dari ekstrak dibuat sediaan lotion tabir surya dengan konsentrasi 5%, 15% dan 25%. Lotion yang telah dibuat, kemudian dilakukan uji kontrol kualitas meliputi uji organoleptik, uji pH, daya sebar, viskositas, stabilitas, dan penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF). Berdasarkan pada hasil penelitian ekstrak umbi lobak dengan pelarut n-heksana diperoleh nilai SPF 5,51, ekstrak pelarut etil asetat diperoleh nilai SPF 13,40, ekstrak pelarut etanol 96% diperoleh nilai SPF sebesar 5,40, dan ekstrak pelarut air diperoleh nilai SPF sebesar 21,63. Semua sediaan lotion tabir surya yang dibuat yang memenuhi persyaratan pengujian dan memiliki kestabilan secara fisik. Nilai SPF pada lotion 5% yaitu 4,07, lotion 15% yaitu 6,96 dan lotion 25% yaitu 7,23. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formulasi 25% memenuhi persyaratan mutu fisik lotion dan memiliki nilai SPF tertinggi sebesar 7,23 dengan proteksi ultra. Pada uji stabilitas lotion yang mempunyai stabilitas yang baik adalah lotion yang penyimpanan pada suhu kamar (28±2oC).

uji aktivitas antidiabetes ekstrak daun the hijau (Camellia sinensis Linn.), daun kersen (Muntingia calabura Linn.) dan kombinasi keduanya terhadap penghambatan enzim α- glukosidase

No. 507 Diabetes Melitus adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah diatas normal . Salah satu tipe DM adalah DM tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus), salah satu pengobatannya dengan cara menghambat enzim α-glukosidase yang memungkinkan dapat menurunkan kadar glukosa dalam darah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase terhadap ekstrak etanol 96% dan larutan infusa daun teh hijau, daun kersen dan kombinasi keduanya serta mengetahui jenis kinetika penghambatan enzim α-glukosidase. Penghambatan enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro dengan menggunakan Microplate reader. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai IC50 dari kombinasi larutan infusa daun kersen dan daun teh hijau dengan kombinasi 1:3 memiliki nilai 1,177 ppm yang lebih besar dibandingkan dengan akarbose dengan nilai IC50 3,15 ppm. Dengan jenis penghambatan campuran sehingga tidak dapat menghambat enzim αglukosidase.

Uji stabilitas sediaan teh herbal kombinasi daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun teh hijau (Camellia sinensis L. (O. Kuntzel))

No. 497 Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada sel-sel β Langerhans dalam kelenjar pankreas, sehingga hormon insulin disekresikan dalam jumlah yang sedikit, bahkan tidak sama sekali. Daun kersen dan daun teh hijau yang kaya akan senyawa antioksidan mampu memproteksi sel-sel β Langerhans dari kerusakan oleh radikal bebas. Tujuan peenelitian ini adalah untuk memperoleh sediaan teh herbal dari kombinasi daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun teh hijau (Camellia sinensis) yang mememenuhi syarat mutu SNI 01-4324-1996 dan memperoleh data stabilitas yang dapat diintrepretasikan sebagai umur simpan sediaan. Pengujian fitokimia dilakukan terhadap simplisia daun kersen dan daun teh hijau, kemudian dibuat sediaan teh herbal kombinasi daun kersen dan daun teh hijau dengan proporsi 1:1, 2:3, dan 3:2 yang memenuhi persyaratan mutu dan kemudian diuji stabilitas dengan metode ASLT untuk ditentukan umur simpan menggunakan persamaan Arrhenius. Hasil uji fitokimia dari simplisia daun kersendan daun teh hijau keduanya menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan triterpenoid. Pengujian stabilitas terhadap sediaan teh herbal kombinasi daun kersen dan daun teh hijau yang dikemas dalam box jenis kertas ivory LLDPE Laminate dilakukan pada 3 suhu penyimpanan 5oC±3oC, 25oC±2oC/RH 60%±5 dan 45oC±2oC/RH 75%±5 selama 30 hari terhadap parameter mutu kadar air, kadar total fenol, dan kadar flavonoid. Suhu penyimpanan optimum sediaan teh herbal kombinasi dari daun kersen (Muntingia calabura L.) dan daun teh hijau (Camellia sinensis) dengan proporsi 3:2 pada suhu penyimpanan 5oC selama 125 hari, 25oC selama114 hari dan 45oC selama 89 hari. Setiap perubahan suhu 10oC akan mempengaruhi mutu sediaan teh herbal.

Ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien sepsis neonatal rawat inap di Rumah Sakit Salak Bogor Periode Maret-Juni 2018

No. 490 Sepsis neonatal merupakan disfungsi organ yang mengancam kehidupan yang disebabkan oleh disregulasi imun terhadap infeksi. Jumlah sepsis neonatal di RSAD Salak meningkat, dibuktikan pada semester pertama tahun 2017 jumlah sepsis neonatal mencapai angka 102 bayi dari 625 bayi yang lahir. Tujuan penelitian: untuk mengetahui gambaran profil pasien, gambaran peresepan dan ketepatan penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens pada pasien neonatal rawat inap RS Salak. Penelitian dilakukan secara prospektif dengan mengumpulkan data pasien berdasarkan rekam medis pasien sepsis neonatal yang menggunakan antibiotika periode Maret sampai Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki 22 orang atau 65% dan perempuan 12 orang atau 35%. Jumlah pasien sespsis neonatal berdasarkan kelompok usia tertinggi adalah pada usia 1-7 hari (SAD) dengan jumlah 19 (55.88%), usia > 7 hari (SAL) berjumlah 15 (44.12%). Pasien sepsis neonatal dengan riwayat persalinan normal 20 (58.82%) dan SC 14 (41.18%). Ketepatan antibiotika pada kategori IVa (pemberian antibiotika lain yang lebih efektif) 21 pasien atau 48.84%, kategori IIIb (pemberian terlalu singkat) 1 pasien atau 2.33%, kategori IIa( pemberian antibiotika tidak tepat dosis) 13 pasien 30.23% dan kategori 0 atau tepat sebanyak 8 pasien 18.6%.

efikasi amlodipin, kaptopril dan kombinasi amlodipin dengan kaptopril pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi Sukabumi

No. 479 Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pemburuh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode, menurut Word Health Organizations (WHO) batasan normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg, sedangkan seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya >140/90 mmHg. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dan perbedaan efektivitas penggunaan amlodipin, kaptopril dan kombinasi (amlodipin dengan kaptopril) pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi. Desain penelitian yang di pilih observasi dan pengambilan data yang dilakukan secara retrospektif. Metode analisis data pada pengujian ini menggunakan uji normalitas Saphiro – Wilk, Kruskall-Wallis dan uji post hock Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas diantara tiga pengobatan hipertensi serta penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan pengobatan amlodipin sebesar 28,64/7,73 mmHg, kaptopril sebesar 27,33/6,67 mmHg dan kombinasi sebesar 37,33/68,67 mmHg, maka dapat disimpulkan bahwa pengobatan kombinasi menurunkan tekanan darah lebih cepat.

Uji toksisitas ekstrak daun sembung rambat (Milkania cordata (Burm. F.) B. L. Rob. ) dengan metode Brine Shrimp Lethality test terhadap larva udang (artemia salina leach)

No. 469 Daun Sembung Rambat (Mikania cordata (Burm,f.) B.L.Rob.) merupakan salah satu tanaman liar yang mengandung senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun sembung rambat diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas yang terkandung dalam ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 96% dan air daun sembung rambat. Proses ekstraksi daun sembung rambat dengan cara maserasi. Metode uji toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)dengan hewan uji Artemia salina L.Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak n-heksan, etil asetat, etanol 96% dan air daun sembung rambat secara berturut-turut sebesar 124,99; 175,63; 94,31 dan 433,11ppm. Hasil ekstrak dengan keempat pelarut menunjukkan adanya alkaloid,flavonoid,tannin,saponin dan steroid (khususnya dengan pelarut etanol 96%).Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol 96% daun sembung rambat termasuk dalam kategori sangat toksik, sedangkan ekstrak air termasuk kategori toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol 96% daun sembung rambat memberikan efek toksik tertinggi yang diduga dapat berpotensi sebagai antikanker.

Uji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong ( Crassocephalum crepidiodes) dan stabilitasnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia Coli

No. 466 Daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) mengandung senyawa yang bersifat sebagai antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong konsentrasi 60 % terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan menguji stabilitasnya pada suhu 40C, 270C dan 400C. Formulasi sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong dengan konsentrasi 60% dilakukan pengujian organoleptik, pH, dan viskositas. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dilakukan dengan cara metode difusi. Hasil pengujian organoleptik, pH dan viskositas memenuhi persyaratan sesuai standar yang ditetapkan. Hasil uji aktivitas antibakteri sabun cuci tangan ekstrak etanol daun sintrong yang diperoleh dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang disimpan pada suhu 40C selama 1 bulan (9 mm – 10 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang sedang, sedangkan yang disimpan pada suhu 270C dan 400C selama 1 bulan (11 mm – 13 mm) termasuk dalam kategori zona hambat yang kuat.

Isolasi dan uji aktivitas anti bakteri metabolit bioaktif ekstrak etil asetat jamur endofit ASBt-1 dari batang tanaman Astilbe rivularis

No. 462 Astilbe rivularis telah dimanfaatkan sebagai obat didaerah Himalaya timur, dengan nama lokal burikokahti (Nepal) dan pango (lecha). Pemanfaatan Astilbe rivularis secara tradisional antara lain jus tanaman dari tanaman ini biasanya digunakan untuk keseleo dan bengkak. Rimpang tanaman ini mempunyai khasiat untuk menyembuhkan diare, disentri, ulkus peptikum, sakit kepala, pendarahan, dan untuk meningkatkan kesuburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri metabolit bioaktif ekstrak etil asetat jamur endofit ASBt-1 dari batang tanaman Astilbe rivularis dengan melakukan uji dengan metode bioautografi. Berdasarkan hasil bioautografi maka dilakukan Scaling up kultivasi jamur endofit ASBt-1 untuk memperbanyak hasil produksi metabolit sekunder dari jamur endofit ASBt-1 dilakukan perbesaran skala kultivasi jamur endofit ASBt-1 pada media PDB steril, maka dilakukan partisi dengan pelarut metanol dan pelarut heksan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang bersifat non polar dengan senyawa-senyawa yang bersifat polar yang dilanjutkan Isolasi senyawa aktif dari ekstrak etil asetat jamur endofit ASBt-1 dengan menggunakan kromatografi kolom dengan sphadex dan kromatografi kolom silica.gel, hasil dari isolasi terdapat pada F.7.11. Penentuan nilai KHM terhadap F.7.11 dengan menggunakan metode dilusi. Sebagai kontrol positif yaitu kloramfenikol. Nilai KHM untuk bakteri Staphylococcus aureus 128µg/ml lebih kuat dibandingakan bakteri Escherichia coli 256µg/ml akan tetapi bila dibandingkan dengan nilai KHM untuk kontrol kloramphenikol 4µg/ml lebih kuat dibandingkan fraksi F. 7 .11.