Sebanyak 4 item atau buku ditemukan

PENGARUH PERBANDINGAN SURFAKTAN DAN KO-SURFAKTAN TERHADAP KARAKTERISTIK DAN KESTABILAN MIKROEMULSI MINYAK ZAITUN (Olive oil)

No: 350 Minyak Zaitun (Olive oil) merupakan senyawa yang diketahui memiliki aktivitas farmakologi seperti antikolesterol. Kelarutan yang rendah dari minyak zaitun menyebabkan bioavailabilitas minyak zaitun menjadi rendah bila diberikan secara peroral, sehingga perlu dilakukan formulasi yang dapat memperbaiki kelarutan minyak zaitun, salah satunya dengan pembuatan mikroemulsi. Mikroemulsi merupakan emulsi minyak dalam air (o/w) atau air dalam minyak (w/o) yang stabil secara termodinamika dengan ukuran globul 0,1-1 µm. Tipe emulsi yang sesuai untuk minyak zaitun adalah minyak dalam air (o/w) karena ditujukan untuk pemakaian oral. Penelitian ini bertujuan menentukan perbandingan komposisi campuran surfaktan dan ko-surfaktan dalam pembuatan mikroemulsi serta menguji kestabilannya. Mikroemulsi dibuat dengan menggunakan tween 80 sebagai surfaktan dan sorbitol sebagai ko-surfaktan dengan perbandingan surfaktan dan ko-surfaktan (1:1, 2:1, 3:1, 4:1, 5:1). Mikroemulsi yang terbentuk kemudian dievaluasi organoleptis, bobot jenis, ukuran globul, tegangan permukaan, viskositas dan sentrifugasi. Hasil evaluasi menunjukkan komposisi surfaktan dan ko-surfaktan (5:1) memiliki ukuran globul paling kecil (1,71 µm) dan tegangan permukaan paling rendah (40,8507 dyne/cm). Selanjutnya dilakukan uji stabilitas selama 8 minggu pada 3 suhu berbeda dengan parameter pengujian yaitu organoleptis, pH dan viskositas. Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa terjadi perubahan pH dan viskositas dari sediaan.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SINGAWALANG (Petiveria alliaceae) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN Galur Sprague Dawley

No: 341 Diuretikadalahobat yang dapatmenambahkecepatanpembentukanurin, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstraketanoldaunsingawalang (Petiveria alliaceae) dan mengetahui aktivitas diuretik pada tikus putih jantan. Ektraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil uji fitokimia menggunakan bahan ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid.Uji diuretik pada tikus dilakukan dengan memberikan ekstrak etanol daun singawalang dengan dosis tiap kelompok 300 mg, 500 mg, 700 mg dan 900 mg dan sebagai kontrol positif diberikan hidroklorotiazid uji dilakukan selama 14 kali dalam 28 hari serta kontrol negatif diberikan akuades 0,5 ml dengan pemberian secara peroral. Aktivitas diuretik ditentukan berdasarkan volume urine tikus yang ditampung selama 24 jam.Hasil uji aktivitas estrak etanol daun singawalang pada tikus menunjukkan aktivitas yang meningkat dengan peningkatan dengan dosis pemberian aktivitas tertinggi pada tikus kelompok keenam dengan dosis pemberian 900 mg tiap tikus, tetapi aktivitasnya lebih rendah dibandingkan kontrol positif. Hasil uji statistik yang didapat hasil R Square sebesar 96, 5 %dan R sebesar 93,1 %.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL 70% BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT JANTAN (Mus musculus) GALUR SWISS WEBSTER

No: 329 Menurut American Diabetes Association (ADA) pada tahun 2005, DM termasuk kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol 70 % buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) terhadap kadar glukosa darah mencit jantan (Mus musculus) galur Swiss Webster yang diinduksi aloksan. Alat yang digunakan dalam penetapan kadar glukosa darah adalah glukometer easy touch�. Sebanyak 30 ekor mencit jantan dibagi dalam 6 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif (Na CMC), kontrol positif (Metformin 65 mg/kg bb), kontrol normal, kelompok ekstrak buah belimbing wuluh 250 mg/kg bb), 500 mg/kg bb, dan 750 mg/kg bb. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar gula darah puasa sebelum induksi, kadar glukosa darah setelah diinduksi dan setelah pemberian sediaan pada masing-masing kelompok perlakuan. Data dianalisis secara statistika dengan One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan buah belimbing wuluh dengan dosis 250 mg/kg bb, 500 mg/kg bb, dan 750 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit jantan yang diinduksi aloksan. Diduga senyawa aktif ekstrak etanol 70 % buah belimbing wuluh berperan dalam meningkatkan sensitifitas reseptor insulin dan mengakibatkan glukosa dapat diambil oleh sel untuk dimetabolisme. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% buah belimbing wuluh dengan dosis 750 mg/kg bb merupakan dosis yang paling efektif terhadap penurunan kadar glukosa darah.