Sebanyak 528 item atau buku ditemukan

Penguraian nutrisi tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik Lactobacillus plantarum B110 dan penggunaan sarinya dalam pembuat yogurt

No. 437 Minuman bebas laktosa bagus dikonsumsi penderita intoleransi laktosa dan vegetarian. Yogurt nabati merupakan minuman fermentasi berbasis sari tepung nabati yang bebas laktosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguraian nutrisi tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik L. plantarum B110 dan penggunaan sarinya dalam pembuatan yogurt. Bahan nabati yang digunakan: kacang hijau, kacang kedelai, jamur tiram, jamur kancing dan susu bubuk Dancow (pembanding). Uji aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode (Bernfeld, 1955) dalam Kanpiegjai et al (2015), gula reduksi (Miller, 1959), uji aktivitas protease (Horikoshi, 1971), protein terdegradasi (titrasi formol), dan total asam (AOAC, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar gula reduksi tepung pasta perlakuan (sebelum dan sesudah penambahan enzim amiloproteolitik L. plantarum B110) tertinggi dibandingkan tepung pasta lainnya terjadi pada kacang hijau (0,0161%) (> pembanding). Peningkatan kadar protein terdegradasi perlakuan tertinggi dibandingkan tepung pasta lainnya terjadi pada tepung pasta: jamur tiram (0,915%) (< pembanding). Peningkatan kandungan gula reduksi tertinggi sebelum dan sesudah perlakuan terjadi pada yogurt kacang hijau (yogurt berbasis sari tepung pasta kacang hijau) (0,0040%) (< pembanding), dibandingkan pada yogurt lainnya, sedangkan terendah pada jamur kancing (0,0003%). Peningkatan kadar total asam tertinggi sebelum dan sesudah perlakuan yogurt: kacang hijau (0,228%) (< pembanding), dibandingkan yogurt lainnya, sedangkan terendah pada kacang kedelai (0,033%).

Uji Aktivitas Antibakteri hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri ( Calotropis gigantea [Willd.]) terhadap Sthapylococcus aureus dan escherichia coli

No. 438 Bunga biduri (Calotropis gigantea [Willd.]) merupakan bagian tumbuhan yang mengandung zat aktif antibakteri dan berpotensi dibuat formulasi hand sanitizer. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, daya antiseptiknya serta uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstraknya pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30%. Ekstraksi bunga biduri dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etil asetat, kandugan senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri formulasi hand sanitizer ekstrak pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dilakukan dengan metode difusi cakram. Uji mutu fisik formulasi hand sanitiser antara lain pH, homogenitas, viskositas, organoleptik dan daya sebar. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etil asetat mengandung flavonoid, alkaloid, tanin, dan steroid. Diameter zona hambat pada ekstrak etil asetat dan hand sanitizer ekstrak etil asetat konsentrasi 30% terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu 10,20 mm dan 10,15 mm. Sedangkan terhadap bakteri Escherichia coli yaitu 10,50 mm dan 10,30 mm. Selain itu, hand sanitizer ini memiliki aktivitas antiseptik karena nilai koefisien fenol ≥1. Hasil uji mutu fisik formulasi hand sanitizer ekstrak etil asetat bunga biduri memiliki warna hijau, bentuk semisolid dan berbau khas ekstrak, homogen, pH (5-6), viskositas (2200-3800 Cps), daya sebar (5,14-6,40 cm).

Toksisitas kombinasi ekstrak etanol 70% daun petai cina ( Leucaena leucocephala (Lam) de wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringan (jack) I. C. Nielsen) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test

No. 436 Daun Petai cina dan kulit jengkol merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol. Kombinasi ekstrak etanol 7% daun petai cina dan kulit jengkol yang digunakan secara berturut-turut 1:1, 1:3, 1:5, 1:7, dan 1:9. Uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol 1:1, 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 secara berturut-turut sebesar 85.27, 30.41, 21.76, 14.06 & 1.358 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan semua kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol termasuk dalam kategori sangat toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan semua kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol memberikan efek sangat toksik yang diduga berpotensi sebagai antikanker.

Aktivitas ekstrak etanol 70% biji buah mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) terhadap hiperurisemia pada tikus putih ( Rattus norvegicus)

No. 435 Biji buah mahoni (Swetenia mahagoni Jacq) adalah tanaman yang memiliki kandungan kimia flavonoid, alkaloid, tanin dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak biji buah mahoni dalam menurunkan kadar hiperurisemia pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus). Ekstrak biji buah mahoni dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji aktivitas dilakukan secara in vivo menggunakan 30 ekor tikus putih jantan dibagi 6 kelompok perlakuan, tiap perlakuan terdiri dari 5 ekor. Hewan uji dibuat hiperurisemia menggunakan induksi jus hati ayam dengan dosis 1,2mg/kg BB. Kelompok I sebagai konrol (-) diberika suspensi Na CMC 1%, kelompok II sebagai kontrol (+) diberikan suspensi allopurinol 1,8mg/kg BB, kelompok III, kelompok IV, kelompok V, dan kelompok VI diberikan ekstrak etanol 70% biji buah mahoni masing-masing dengan dosis 200mg/kg BB, 400mg/kg BB, 600mg/kg BB, dan 800mg/kg BB. Data penurunan hiperurisemia dianalisis menggunakan uji statistik ANOVA, hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol 70% biji buah mahoni dengan dosis 800mg/kg BB, dapat menurunkan hiperurisemia sebesar 62,84% yang hampir sama dengan allupurinol sebesar 63,81%.

modifikasi struktur genistein terhadap aktivitas inhibitor estrogen a pada kanker payudara

No. 433 Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Kanker payudara memiliki kaitan erat dengan estrogen alfa. Senyawa genistein memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses perkembangan sel kanker dan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai inhibitor estrogen alfa. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh senyawa baru hasil modifikasi genistein sebagai kandidat senyawa potensial sebagai antikanker. Senyawa modifikasi genistein dilakukan analisis penambatan molekuler serta perhitungan konstanta inhibisi dan divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer dan Pymol. Potensi senyawa modifikasi dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakologi atau biologi senyawa tersebut. Kemudian senyawa modifikasi diuji toksisitasnya menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antikanker, yaitu Mod164, Mod88, Mod150, Mod148 dan Mod163. Nilai binding affinity dari senyawa modifikasi tersebut berturut-turut -9,3 kkal/mol, -9,2 kkal/mol, -9,1 kkal/mol, -8,9 kkal/mol dan -8,9 kkal/mol. Hasil analisis Lipinski menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi memenuhi kriteria Lipinski. Sedangkan hasil uji toksisitas menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi tidak berpotensi bersifat karsinogenik dan mutagenik.

aktivitas antidiabetes kombinasi ekstrak daun simpur (Dillenia indica) dan daun sirih merah (piper crocatum) secara in vivo

No. 432 Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Kanker payudara memiliki kaitan erat dengan estrogen alfa. Senyawa genistein memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses perkembangan sel kanker dan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai inhibitor estrogen alfa. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh senyawa baru hasil modifikasi genistein sebagai kandidat senyawa potensial sebagai antikanker. Senyawa modifikasi genistein dilakukan analisis penambatan molekuler serta perhitungan konstanta inhibisi dan divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer dan Pymol. Potensi senyawa modifikasi dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakologi atau biologi senyawa tersebut. Kemudian senyawa modifikasi diuji toksisitasnya menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antikanker, yaitu Mod164, Mod88, Mod150, Mod148 dan Mod163. Nilai binding affinity dari senyawa modifikasi tersebut berturut-turut -9,3 kkal/mol, -9,2 kkal/mol, -9,1 kkal/mol, -8,9 kkal/mol dan -8,9 kkal/mol. Hasil analisis Lipinski menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi memenuhi kriteria Lipinski. Sedangkan hasil uji toksisitas menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi tidak berpotensi bersifat karsinogenik dan mutagenik.

aktivitas antipiretik dari ekstrak akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv). T. Moore) secara in vivo pada tikus putih jantan (rattus novergicus) dan penentuan kandungan flavonoid

No. 431 Rebusan Akar Tumbuhan Paku (Drynaria sparsisora (Desv). T. Moore) memiliki aktivitas antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik dari ekstrak akar tumbuhan paku (Drynaria Spasisora (Desv).T.Moore). Ekstraksi menggunakan metode maserasi bertingkat dalam pelarut n-heksan, etil asetat, etanol 70% serta air dan menentukan kandungan total flavonoid dari ekstrak yang memberikan aktivitas antipiretik yang cukup tinggi. Pengukuran aktivitas antipiretik pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) selama 3 jam dengan interval 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/Kg BB memberikan aktivitas antipiretik yang cukup tinggi dibanding ekstrak lainnya yaitu penurunan suhu mencapai 2,4oC. Analisis data dengan uji ANOVA satu arah menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu tiap perlakuan ekstrak akar tumbuhan paku memberikan aktivitas antipiretik yang berbeda. Penentuan kandungan flavonoid menggunakan spektrofotmeter Uv-Vis. Kandungan flavonoid dalam ekstrak etanol akar tumbuhan paku sebesar 0,09596% b/b.

hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (prolanis) klinik qita

No. 430 Hipertensi secara luas dikenal dengan penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas tekanan darah normal, tepatnya dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 90 mmHg yang diukur dalam keadaan tenang pada dua kali pengukuran. Kepatuhan minum obat hipertensi memberikan kontribusi besar terhadap kestabilan tekanan darah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat hipertensi yaitu dengan mengikuti program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) Klinik Qita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional, dalam penelitian ini sampel ditentukan dengan metode purposive. Instrumen penelitian ini adalah kuisioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) dan 1 set alat tensimeter. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan kepatuhan tinggi sebanyak 14 responden (46.7%), kepatuhan sedang sebanyak 5 responden (15.7%) dan kepatuhan rendah sebanyak 11 responden (36.7%). Hasil pengujian korelasi pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah sistolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,038 dan terdapat hubungan dengan tekanan darah diastolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,024.

perbandingan profil kecepatan pelepasan levonorgestrel dalam sediaan subdermal implan 150 mg per batang dengan subdermal implam 2 batang @75 mg per batang secara in vitro

No. 429 Implan merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi lepas lambat yang dapat memberikan efek sampai dengan 3 tahun melalui mekanisme kerja mengentalkan lendir serviks sehingga menyulitkan penetrasi sperma. Rata-rata kecepatan pelepasan Levonorgestrel yang diperoleh pada subdermal Implan 150 mg sebesar 39,98 μg/hari/set dan pada subdermal Implan 2 batang Implan @75 mg sebesar 39,94 μg/hari/set. Hasil tersebut berada pada rentang kriteria penerimaan yaitu 30,00 – 60,00 μg/hari/set. Korelasi antara sampel uji subdermal Implan 150 mg/batang dan sampel pembanding subdermal Implan 2 batang @75 mg ditentukan dengan perhitungan faktor perbedaan (f1) dan kemiripan (f2) serta penilaian efisiensi pelepasan/ disolusi (%DE). Diperoleh hasil f1 sebesar 4,98 dan f2 sebesar 79,60 serta disolusi efesiensi (DE) pada sampel uji sebesar 87,78% sedangkan pada sampel pembanding sebesar 87,02%. Dari hasil analisis data tersebut terbukti bahwa kecepatan pelepasan Levonorgestrel dalam sediaan Implan 150 mg/batang dengan 2 batang @75 mg secara in-intro ekivalen.