Sebanyak 441 item atau buku ditemukan

Evaluasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS terhadap pasien hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 di klinik medistira 2

No.412 Hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang tidak menyebabkan kematian secara langsung. Tetapi apabila pengelolaannya tidak tepat maka akan menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan kematian dan menurunnya kualitas hidup pasien. Oleh sebab itu, pemerintah mengadakan kegiatan melalui BPJS Kesehatan yaitu PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan pasien, fasilitas kesehatan dan BPJS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien PROLANIS, mengetahui gambaran tekanan darah dan kadar gula darah pasien PROLANIS serta mengetahui perbedaan tekanan darah dan kadar gula darah pasien PROLANIS. Penelitian ini menggunakan metode observasi yang dilakukan secara prospektif dan longitudinal. Sampel yang digunakan sebanyak 120 orang yang menjadi 4 kelompok. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada pasien hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 dari uji regresi diperoleh nilai p < 0,05 yaitu 0,000. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan PROLANIS berpengaruh terhadap tekanan darah dan kadar gula darah.

Perbandingan Kombinasi Daun Pepaya (Carica papaya L.) Hook.f. & Thomson) yang memiliki aktivitas penambah nafsu makan pada mencit putih jantan

No. 411 Daun pepaya dan batang brotowali sudah digunakan oleh masyarakat sebagai ramuan yang dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan. Masyarakat biasanya menggunakan daun pepaya dan batang brotowali segar ini dengan cara direbus kemudian diminum sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis optimal dari kombinasi antara daun pepaya dan batang brotowali yang memiliki aktivitas penambah nafsu makan pada mencit putih jantan. Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam masing-masing tanaman. Penelitian ini dilakukan dengan metode infusa dan maserasi yang berlangsung selama 28 hari dengan menggunakan 12 kelompok perlakuan yaitu akuades (kontrol negatif), curvit® (kontrol positif), dosis tunggal dari infusa dan ekstrak masing-masing tanaman, kombinasi infusa dan ekstrak dari daun pepaya dan batang brotowali dengan perbandingan 3:1, 2:2, dan 1:3. Hasil penelitian menunjukan bahwa yang memberikan aktivitas penambah nafsu makan tertinggi dibandingkan dengan curvit® (kontrol positif) yaitu ekstrak kombinasi 1:3 dan infusa batang brotowali dengan kenaikan berat bdan sebesar 15,92 gram dan 15,71 gram. Analisis data dengan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Nemenyi diketahui bahwa masing-masing perlakuan memiliki perbedaan yang signifikan.

Perbedaan Pengetahuan Anggota Keluarga Tentang Penanganan Diare Pada Pasien Balita sebelum dan setelah Pelayanan Informasi obat di Instansi Rawat inap RS. Dr Hafiz Cianjur

No. 410 Apoteker berperan dalam mengoptimalkan pengetahuan tentang penanganan diare khususnya pada pasien balita. Dimana apoteker diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang terapi yang benar pada diare anak. Pelayanan kefarmasian yang menjadi salah satu komponen untuk meningkatkan hasil terapi adalah pelayanan informasi obat, agar dapat memaksimalkan pananganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan perbedaan pengetahuan anggota keluarga tentang penanganan diare pada pasien balita antara sebelum dan setelah pelayanan informasi obat di instalasi rawat inap RS.DR Hafiz Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode non experimental dengan rancangan penelitian analitik observasional dengan desain Pretest-Posttest Design. Analisis menggunakan Paired sample t test merupakan uji beda dua sampel berpasangan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang bermakna antara hasil pre-test dengan post-test dimana data signifikan dari kedua kelompok data adalah 0,000 (p < 0,05) yang menyatakan bahwa adanya perbedaan tingkat pengetahuan anggota keluarga tentang penanganan diare pada balita sebelum dan setelah pelayanan informasi obat di instalasi rawat inap RS DR Hafiz.

Aktivitas Fraksi n-Heksana, Etil Asetat, dan Air dari Ekrak Etanol 96% Daun Landep (Barleria pronitis L.) terhadap penurunan kadar asam urat darah tikus putih jantan

No. 409 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional hiperurisemia adalah daun landep (Barleria prionitis L.). Daun landep mengandung flavonoid dan alkaloid yang dapat berkhasiat sebagai antihiperurisemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antihiperurisemia fraksi n-heksan, etil asetat, dan air dari ekstrak etanol 96% daun landep tehadap penurunan kadar asam urat darah tikus putih jantan hiperurisemia yang diinduksi jus hati ayam. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur Spargue Dawley dengan umur 3-4 bulan, berat badan 150-200 g. Hewan uji dibagi menjadi 11 kelompok yaitu kelompok I (kontrol negatif) diberi Na-CMC 0,5%, kelompok II (kontrol positif) diberi allopurinol, kelompok III dosis 250 mg/kg BB, kelompok IV dosis 375 mg/kg BB, kelompok V dosis 500 mg/kg BB masingmasing diberi fraksi ekstrak n-heksan, kelompok VI dosis 250 mg/kg BB, kelompok VII dosis 375 mg/kg BB, kelompok VIII dosis 500 mg/kg BB masing-masing diberi fraksi ekstrak etil asetat, kelompok IX dosis 250 mg/kg BB, kelompok X dosis 375 mg/kg BB, kelompok XI dosis 500 mg/kg BB masing-masing diberi fraksi ekstrak air, dan semua kelompok sebelumnya diinduksi jus hati ayam. Penurunan kadar asam urat ditetapkan setelah hari ke-21 dengan alat strip tes asam urat Easy touch® GCU Multi Function Monitoring System (Analyzer). Kadar asam urat setiap kelompok dianalisis dengan menggunakan uji statistik FRAL (Faktorial Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian ini menunjukan penurunan kadar asam urat yang terbaik diperoleh pada pemberian fraksi etil asetat dari ekstrak etanol dosis 375 mg/kg BB dengan penurunan sebesar 2,5 mg/dL tidak berbeda nyata dengan pembanding (allopurinol) terjadi penurunan sebesar 2,7 mg/dL.

Uji Aktivitas Antihiperglikemia Ekstrak Etanol, Rebusan serta kombinasinya dari daun kersen (Mutingia calabura L. ) dan daun the hijau ( Camellia sinesis (L.) Kuntze var sinensis) pada mencit jantan

No. 408 Hiperglikemia adalah kondisi tubuh mengalami peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal. Daun kersen (Mutingia calabura L.) dan daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) memiliki aktivitas antihiperglikemia. Metode yang digunakan yaitu maserasi dan rebusan. Ekstrak etanol dan rebusan dilakukan uji fitokimia setelah itu kelompok ekstrak etanol dan rebusan tunggal maupun kombinasinya diujikan ke mencit jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelompok yang memberi aktivitas penurunan kadar glukosa dari ekstrak, rebusan tunggal daun kersen dan daun teh hijau maupun kombinasinya dibandingkan dengan kontrol positif. Hasil uji fitokimia dari ekstrak etanol dan rebusan daun kersen serta daun teh hijau menunjukan hasil positif untuk alkaloid, flavonoid, saponin, tanin. Pemberian perlakuan dan induksi sukrosa dilakukan selama 28 hari, pengukuran penurunan kadar glukosa darah mencit pada hari pertama dengan interval waktu 1 jam, 2 jam dan 3 jam dilanjutkan pengukuran tiap 1 minggu sekali 3 jam setelah perlakuan. Pengukuran kadar glukosa darah mencit yang dilakukan minggu 1 hingga minggu ke 4 memberikan penurunan rata-rata kontrol positif (akarbosa) 60,45%, ekstrak etanol daun kersen 58,84%, ekstrak etanol daun teh hijau 39,92%, kombinasi ekstrak etanol 1 : 3 46,07%, kombinasi ekstrak etanol 1:1 46,11%, kombinasi ekstrak etanol 3:1 54,45%, rebusan daun kersen 51,62%, rebusan daun teh hijau 40,85%, kombinasi rebusan 1:3 49,80%, kombinasi rebusan 1:1 46,19%, kombinasi rebusan 3:1 53,44%. Penurunan kadar glukosa terbaik terdapat pada ekstrak etanol kersen dan akarbosa.

karakrteristik protease leuconostoc mesenterodes EN 17-11 dan stabilitasnya diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 407 Enzim protease diaplikasikan sangat luas dalam bidang industri pangan maupun non-pangan, mikroba penghasil protease diantaranya adalah Bakteri Asam Laktat (BAL). BAL penghasil protease salah satunya, yaitu Leuconostoc mesenteroides. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik protease L.mesenteroides EN 17-11 dan stabilitasnya di berbagai suhu dan waktu penyimpanan. Media pertumbuhan L. mesenteroides EN 17-11 yang digunakan yaitu media MRS broth. L. mesenteroides EN 17-11 yang tumbuh diinokulasikan ke dalam media Nutrient Broth yang ditambahkan 1% kasein, lalu disentrifugasi dan menghasilkan supernatan. Karakterisasi protease meliputi optimasi pH dan suhu beserta stabilitasnya, aktivitas protease dideteksi dengan metode Horikoshi (1971) yang telah dimodifikasi. Stabilitas protease L. mesenteroides EN 17-11 diuji pada waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari dengan variasi suhu: 27oC (suhu ruang), 4oC (suhu dingin) dan -20oC (suhu beku). Aktivitas relatif protease dengan nilai ≥50% menunjukkan bahwa aktivitas protease dalam kondisi stabil. Hasil penelitian menunjukkan protease L. mesenteroides EN 17-11 memiliki pH optimum pada pH 6,0 dengan aktivitas sebesar 0,9970 U/mL dan suhu optimum pada suhu 40oC dengan aktivitas sebesar 1,1166 U/mL (P<0,05). Protease L. mesenteroides EN 17-11 stabil pada kisaran pH 6,0−7,0 dengan nilai aktivitas relatif sebesar 97,37–100% dan suhu 30−40 oC dengan nilai 94,54−100% (P>0,05). Stabilitas tertinggi protease L.mesenteroides EN 17-11 pada variasi suhu dan waktu penyimpanan terjadi pada suhu beku dengan waktu penyimpanan 7 hari (0,6144 U/mL) dengan aktivitas relatif: 77,31% (P<0,05).

Toksisitas Ekstrak Air, Etanol dan Etil Asetat Daun Petai Cina (Leucaena Leucocephala (Lam.) de Wit) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test

No. 406 Daun Petai cina merupakan salah satu tanaman suku polong-polongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun petai cina diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas yang terkandung dalam ekstrak air, etanol 70%, etanol 96% dan etil asetat daun petai cina. Proses ekstraksi daun petai cina dengan cara maserasi. Metode toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak air, etanol 70%, etanol 96% dan etil asetat daun petai cina secara berturutturut sebesar 569, 291, 757 dan 972 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak etanol 70% daun petai cina termasuk dalam kategori toksik, ekstrak air katagori toksik sedang, sedangkan ekstrak etanol 96% dan etil asetat termasuk dalam kategori tidak toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan ekstrak etanol 70% daun petai cina memberikan efek toksik tertinggi dibandingkan ekstrak yang lain dan diduga berpotensi sebagai antikanker.

Aktivitas Antelmintik Ekstrak Biji Kedelai Kuning (Glyineb soja Siebold & Zucc) terhadap infeksi cacing gelang (Ascaridia sp) pada ayam kampung (Gallus gallus domesticus) secara in vitro

No. 405 Biji kedelai merupakan salah satu biji tumbuhan yang belum banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antelmintik antara ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam terhadap Ascaridia sp secara In Vitro. Metode fitokimia dilakukan untuk menguji keberadaan metabolit sekunder dalam ekstrak. Penelitian ini menggunakan 8 kelompok perlakuan yaitu NaCl 0,9%, piperazin sitrat 0,2% dan masing masing tiga kelompok untuk pemberian ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam dengan konsentrasi 30%, 60%, 90%. Aktivitas antelmintik ekstrak kedelai hitam lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kedelai kuning berdasarkan nilai Lethal Consentration 50 (LC50) dan Lethal Time 50 (LT50). Konsentrasi ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam memiliki pengaruh terhadap kecepatan waktu kematian cacing. Peningkatan konsentrasi ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam berbanding terbalik dengan waktu kematian cacing. Dari analisis Kruskal Wallis serta uji Mann Whitney diketahui bahwa masing masing perlakuan memiliki perbedaan yang signifikan.

Uji aktifitas antibakteri ekstrak etanol biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherchia coli dengan metode difusi cakram

No. 404 Penyakit infeksi atau penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri merupakan penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat, Bakteri penyebab infeksi diantaranya adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Staphylococcus aureus tergolong bakteri Gram positif, sedangkan Escherichia coli tergolong bakteri Gram negatif. Ekstrak etanol biji srikaya pada penelitian sebelumnya memiliki khasiat antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% biji srikaya terhadap bakteri Staphylococcus aureus (Gram positif) dan Escherichia coli (Gram negatif). Ekstrak etanol 70% biji srikaya dibuat dengan cara maserasi, dipekatkan dengan rotary evaporator, kemudian hasil ekstraksi dilakukan uji fitokimia. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan tiga konsentrasi ekstrak 25%, 35% dan 45%. Hasil uji fitokimia ekstrak etanol 70% biji srikaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan saponin. Diameter zona hambat aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 25%, 35% dan 45% serta kontrol positif kloramfenikol 0,1% berturutturut sebesar 0 mm, 6,84 mm 8,25 mm dan 12,64 mm terhadap bakteri Escherichia coli. Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus diameter zona hambatnya berturut-turut sebesar 0 mm, 6,16 mm dan 7,37 mm dan 10,69 mm. Hasil uji Anova Two Way yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (berpengaruh nyata) antar perlakuan dengan nilai α lebih kecil dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% biji srikaya yang memiliki aktivitas antibakteri yang terbesar terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah pada konsentrasi 45%.

Potensi Antibakteri Jamu Pinaraci terhadap Bakteri Stapylococcus dan Escherichia coli

No. 403 Jamu Pinaraci merupakan jamu yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yang mempunyai potensi sebagai antibakteri, karena mengandung beberapa senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam jamu pinaraci diduga berpotensi sebagai antibakteri. Potensi antibakteri jamu pinaraci dilakukan dengan menentukan zona daya hambat. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi aktivitas antibakteri ekstrak jamu pinaraci dengan pelarut akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan metode difusi kertas cakram. Proses ekstraksi jamu pinaraci dilakukan dengan metode maserasi. Penentuan uji zona daya hambat ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% jamu pinaraci dengan metode difusi kertas cakram menggunakan bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus. Hasil uji antibakteri ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5% yang menunjukan daya hambat terbesar dengan konsentrasi 5%. Ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% pada konsentrasi 1% dan 3% memiliki daya hambat sedang, sedangkan pada konsentrasi 5% memiliki daya hambat kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan etanol 96% memiliki potensi aktivitas daya hambat paling tinggi untuk bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus, sedangkan ekstrak akuades memiliki potensi aktivitas daya hambat paling rendah. Berdasarkan pada hasil penelitian disimpulkan bahwa ketiga sampel memiliki potensi sebagai antibakteri.