Sebanyak 528 item atau buku ditemukan

Evaluasi efesiensi distribusi obat di apotek kimia farma pangleseran sukabumi periode Januari sampai dengan Maret 2018

No. 448 Pengelolaan Obat di Apotek meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, dan penyimpanan. Hasil observasi pendahuluan bahwa di Apotek Kimia Farma Pangleseran Sukabumi masih ditemukan obat yang kadaluwarsa sehingga perlu dilakukan Evaluasi Pengelolaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi Distribusi Obat di Apotek Kimia Farma Pangleseran Sukabumi berdasarkan indikator ketepatan jumlah obat pada kartu stok, persentase obat kadaluwarsa, stok mati obat, sistem penataan obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik sampling menggunakan metode purposive sampling dengan cara mengambil sampel sebanyak 10% dari setiap jenis sediaan obat. Hasil menunjukan bahwa pengelolaan obat terlihat belum efisien dari indikator ketepatan jumlah obat pada kartu stok (89%), indikator persentase obat kadaluwarsa (0.88%), indikator stok mati obat (18.59%), sedangkan pada indikator sistem penataan obat sudah efisien (100%).

uji aktivitas antimikrob melanin jamur Phomopsis sp. Dan Auricularia auricula judae terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta jamur Saccharomyces cerevisiae dan candida tropicalis

No. 447 Telah dilakukan penelitian Uji Aktivitas Melanin Jamur Phomopsis sp. dan Auricularia auricula judae Terhadap Bakteri Escherichia coli, Stapylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta Jamur Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropicalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas melanin dari jamur Phomopsis sp. dan jamur kuping (Auricularia auricula judae) terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta jamur Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropicalis. Metode yang digunakan adalah pengukuran Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dengan metode MTT Assay. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa nilai KHM ekstrak melanin dari Phomopsis sp. terhadap Saccharomyces cerevisiae adalah 2048 µg/ml. Ekstrak melanin dari jamur Phomopsis sp. terhadap Escherichia coli sampai konsentrasi 2048 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak diketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur Phomopsis sp. terhadap Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis sampai konsentrasi 512 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Staphylococcus aureus sampai konsentrasi 512 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Mycobacterium smegmatis sampai konsentrasi 2048 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari Phomopsis sp. terhadap Candida tropicalis tidak menunjukkan adanya penghambatan. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Escherichia coli, Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropiccalis tidak menunjukkan adanya penghambatan.

Perbandingan potensi diuretik ekstrak etanol tongkol jagung muda dan daun pandan wangi serta kombinasinya pada tikus putih (Rattus novergicus)

No. 446 Tingginya manfaat penggunaan obat tradisional menyebabkan banyaknya penelitian mengenai bahan-bahan tradisional yang memiliki efek diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi diuretik perbandingan kombinasi ekstrak etanol tongkol jagung muda (Zea mays L.) dan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius, Roxb.) serta ekstrak tunggal. Penelitian ini melakukan formulasi kombinasi etanol 70% tongkol jagung muda dan ekstrak etanol 96% daun pandan wangi serta formula ekstrak tunggal. komponen kimia dari ekstrak tersebut dianalisis fitokimia dan diuji potensi diuretik terhadap tikus putih jantan galur Sprague Dawley. Ekstrak tongkol jagung muda dan ekstrak daun pandan wangi mengandung senyawa saponin, tanin, dan flavanoid. Potensi diuretik kombinasi tongkol jagung muda dan daun pandan wangi 1:1, 2:1, dan 1:2 masing-masing sebesar 6,48%, 10,45%, dan 6,20%. Potensi diuretik ekstrak tunggal tongkol jagung muda dan daun pandan wangi berturut-turut 19,90% dan 18,18%. Potensi ekstrak tunggal ini tidak beda nyata (p<0,05) dengan potensi diuretik dari furosemid 1,44 mg/ml. Ekstrak tunggal tongkol jagung muda dan daun pandan wangi berpotensi sebagai agen diuresis yang optimal dibandingkan dengan kombinasi ekstrak tongkol jagung muda dan daun pandan wangi

Hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan di apotek kimia farma No. 50 Bogor

No. 445 Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kefarmasian dan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan maka fungsi pelayanan dalam apotek secara bertahap perlu terus ditingkatkan. Pelayanan yang bermutu haruslah berorientasi pada tercapainya kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan salah satunya diduga dipengaruhi oleh waktu tunggu pelayanan. Waktu tunggu pelayanan merupakan masalah yang sering menimbulkan keluhan pasien dibeberapa apotek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pelanggan, gambaran waktu tunggu pelayanan resep dan hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan. Penelitian ini menggunakan desain deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan dilakukan secara prospektif dengan jumlah responden sebanyak 89 responden. Data yang didapati dianalisis secara univariat dan bivariat Uji analisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p <0,05. Hasil penelitian berdasarkan sosiodemografi pelanggan pengunjung apotek didominasi oleh perempuan sebanyak 59,6% dengan rentang umur terbanyak 26-35 sebanyak 30,3%, tingkat pendidikan terbanyak adalah S1/S2 sebanyak 32,6% dan pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 31,5%. Waktu tunggu pelayanan resep <30 menit (71,9%) dan kepuasan pasien kategori puas (38,2%) dan kategori tidak puas (61,8%). Uji chi-square p value sebesar 0,007 < 0,05 sehingga terdapat hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan di Apotek Kimia Farma no 50 Bogor.

Penggunaan antibiotik pada pasien balita dengan diagnosa ISPA bukan PNEUMONIA di puskesmas semplak Bogor periode Juli- September 2017

No. 444 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2007). Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkan membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien balita ISPA bukan pneumonia dan mengetahui kesesuaian persentase penggunaan antibiotik berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik ISPA bukan pneumonia di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif, populasi dalam penelitian ini sebanyak 297 pasien di Puskesmas Semplak Bogor. Pengambilan sampel ini menggunakan rumus Slovin, maka sampel yang diambil berjumlah 170 pasien. Hasil penelitian menunjukkan persentase penggunaan antibiotik pada balita dengan diagnosa ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Semplak Bogor periode Juli 2017- September 2017 sebanyak 29 pasien atau 17% dari 170 pasien. Berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kemenkes RI 2015 penggunaan antibiotik pada ISPA bukan pneumonia ≤ 20%. Penggunaan antibiotik di Puskesmas Semplak Bogor sudah sesuai dengan standar yaitu 17%.

Analisis tingkat kepuasan responden pasien BPJS kesehatan terhadap pelayanan resep racikan rawat jalan dinas dan non dinas di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

No. 443 Kepuasan pasien dianggap sebagai salah satu dimensi yang sangat penting dan merupakan salah satu indikator utama dari standar suatu fasilitas kesehatan. Salah satu tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui perbedaan tingkat kepuasan responden pasien BPJS Kesehatan terhadap pelayanan resep racikan rawat jalan dinas dan non dinas di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Jenis penelitian ini adalah prospektif non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 100 orang responden pasien dinas dan 100 orang responden pasien non dinas. Dari 19 item pertanyaan mengenai tingkat kepuasan pelayanan resep racikan rawat jalan dinas dan non dinas, 14 item pertanyaan nilai Sig P < 0,05 (P=0,000-0,040) menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna di tingkat kepuasan pasien pada dimensi kehandalan, daya tanggap dan empati antara pasien dinas dan non dinas. Sedangkan 5 item pertanyaan lainnya nilai Sig P > 0,05 (P=0,066-0,477) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna di tingkat kepuasan pasien pada dimensi jaminan dan sarana fisik.

Aktivitas antiinflamasi akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.) terhadap tikus putih jantan ( Rattus norvegicus)

No. 442 Inflamasi adalah respon terhadap kerusakan jaringan akibat berbagai rangsangan yang merugikan, baik rangsangan kimia maupun mekanis serta infeksi. Inflamasi dapat disembuhkan dengan menggunakan obat Non Steroidal Anti Inflammatory Drug (NSAID). Salah satu obat alami yang mempunyai aktivitas antiinflamasi adalah akar tumbuhan paku spesies Dynaria quercifolia. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antiinflamasi dari akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.) secara in vivo, menggunakan metode maserasi bertingkat dengan menggunakan 4 pelarut yaitu n-heksana, etil asetat, etanol 70 % dan air dengan masing-masing konsentrasi 0,5 g/Kg BB dan 1 g/Kg BB. Hasil ekstraksi yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan senyawa kimianya dengan metode uji fitokimia. Hasil uji didapatkan ekstrak n-heksana dan etil asetat mengandung alkaloid , sedangkan ekstrak etanol 70% dan air mengandung flavonoid, saponin, dan tanin. Induksi inflamasi pada hewan uji menggunakan karagenan 1 % secara intraplantar pada telapak kaki tikus jantan. Pengukuran efek antiinflamasi pada tikus putih (Rattus norvergicus) dilakukan selama 6 jam dengan interval waktu 1 jam. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian ekstrak etanol 70 % akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/Kg BB menunjukkan persen inhibisi lebih besar yaitu 75,66 % dibanding dengan perlakuan lainnya. Analisis data dengan uji anova two-way menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu ada pengaruh yang nyata pada pemberian ekstrak etanol 70% akar tumbuhan paku terhadap penurunan persen udem tikus putih Rattus novergicus. Ekstrak etanol 70 % akar tumbuhan paku konsentrasi 1 g/Kg BB memiliki aktivitas antiinflamasi lebih tinggi dibanding kontrol positif natrium diklofenak.

Uji aktivitas antibakteri gel ekstrak etanol 70% daun biduri (Calotropis gigantea) terhadap Staphylococcus aureus

No. 440 Biduri ( Calotropis gigantea ) merupakan tumbuhan tropis yang memiliki berbagai macam khasiat. Salah satunya daun biduri memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri ini dapat dibuat formulasi gel untuk infeksi luka yang disebabkan Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus adalah bakteri yang dapat menyebabkan bisul dan infeksi luka. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui senyawa yang terdapat pada ekstrak etanol 70% daun biduri, menguji aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun biduri dengan konsentrasi 25% , 50% dan 75% pada Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram, menguji aktivitas antibakteri setelah diformulasikan dalam sediaan dan mutu fisik sediaan gel. Hasil uji fitokimia daun biduri mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid dan steroid. Hasil pada pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun biduri pada konsentrasi 75% sebesar 22,73 mm termasuk dalam kategori sangat kuat setelah dibuat dalam sediaan gel zona hambatnya menjadi 19,26 mm termasuk dalam kategori kuat. Gel ekstrak etanol 70% daun biduri (Calotropis gigantea) memiliki mutu fisik yang baik.

Gambaran interakasi potensial obat analgesik antiinflamasi non steroid (AINS) pada peresepan pasien rawat jalan poli internis di instalasi farmasi RS salak Bogor periode oktober- desember 2016

No. 441 Analgesik Antiinflamasi Non Steroid (AINS) adalah obat yang berfungsi mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Pemakaian obat AINS sering diresepkan oleh dokter dalam menangani keluhan pasien untuk mengobati rasa sakit yang dideritanya. Pemakaian AINS beserta obat lain dapat menimbulkan suatu interaksi, dimana interaksi ini dapat memberikan efek menambahkan atau mengurangi salah satu dari obat yang saling berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya persentase pasien yang dapat mengalami interaksi obat dan untuk mengetahui jenis obat AINS yang sering digunakan. Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan pengambilan sampel secara retrospektif pada pasien rawat jalan poli internis RS Salak Bogor periode Oktober-Desember 2016. Hasil penelitian menunjukan persentase pasien yang berpotensi mengalami interaksi terjadi kepada wanita sebanyak 71,43%. Jenis obat AINS yang sering menyebabkan interaksi adalah meloksikam sebanyak 38,19%. Interaksi obat dengan tingkat keparahan terbanyak adalah minor sebanyak 55,55%.

Uji aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak etanol 70% daun lamtoro (leucaena leucocephala (Lam) de wit) terhadap bakteri Staphylococcus epidermis

No. 439 Jerawat merupakan suatu penyakit kulit yang disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran kelenjar minyak selain itu disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan mutu fisik sediaan gel ekstrak etanol 70% daun lamtoro (Leucaena leucocephala (Lam) de Wit) terhadap bakteri staphylococcus aureus dan Staphylococus epidermidis. Pada penelitian ini ekstrak etanol 70% daun lamtoro diformulasikan kedalam bentuk sediaan gel dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 5%, 10%, dan 15% kemudian diuji mutu fisik meliputi: uji organoleptik, pH, daya sebar, viskositas, stabilitas dan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis menggunakan metode difusi cakram. Berdasarkan hasil penelitian sediaan gel ekstrak etanol 70% daun lamtoro memiliki mutu fisik yang baik, dan aktivitas antibakteri tertinggi didapatkan pada ekstrak dan sediaan gel konsetrasi 15% terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter daya hambat sebesar 14,8 mm dan 11,4 mm yang termasuk dalam kategori antibakteri kuat sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis sebesar 17,1 mm dan 14,2 mm yang termasuk dalam kategori antibakteri kuat. Berdasarkan analisis Two way Anova dengan uji lanjut Duncan setiap ekstrak dan sediaan gel dengan konsentrasi yang berbeda memiliki perbedaan yang nyata dengan α = 0.05.