Sebanyak 441 item atau buku ditemukan

aktivitas antidiabetes kombinasi ekstrak daun simpur (Dillenia indica) dan daun sirih merah (piper crocatum) secara in vivo

No. 432 Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Kanker payudara memiliki kaitan erat dengan estrogen alfa. Senyawa genistein memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses perkembangan sel kanker dan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai inhibitor estrogen alfa. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh senyawa baru hasil modifikasi genistein sebagai kandidat senyawa potensial sebagai antikanker. Senyawa modifikasi genistein dilakukan analisis penambatan molekuler serta perhitungan konstanta inhibisi dan divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer dan Pymol. Potensi senyawa modifikasi dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakologi atau biologi senyawa tersebut. Kemudian senyawa modifikasi diuji toksisitasnya menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antikanker, yaitu Mod164, Mod88, Mod150, Mod148 dan Mod163. Nilai binding affinity dari senyawa modifikasi tersebut berturut-turut -9,3 kkal/mol, -9,2 kkal/mol, -9,1 kkal/mol, -8,9 kkal/mol dan -8,9 kkal/mol. Hasil analisis Lipinski menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi memenuhi kriteria Lipinski. Sedangkan hasil uji toksisitas menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi tidak berpotensi bersifat karsinogenik dan mutagenik.

aktivitas antipiretik dari ekstrak akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv). T. Moore) secara in vivo pada tikus putih jantan (rattus novergicus) dan penentuan kandungan flavonoid

No. 431 Rebusan Akar Tumbuhan Paku (Drynaria sparsisora (Desv). T. Moore) memiliki aktivitas antipiretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik dari ekstrak akar tumbuhan paku (Drynaria Spasisora (Desv).T.Moore). Ekstraksi menggunakan metode maserasi bertingkat dalam pelarut n-heksan, etil asetat, etanol 70% serta air dan menentukan kandungan total flavonoid dari ekstrak yang memberikan aktivitas antipiretik yang cukup tinggi. Pengukuran aktivitas antipiretik pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) selama 3 jam dengan interval 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/Kg BB memberikan aktivitas antipiretik yang cukup tinggi dibanding ekstrak lainnya yaitu penurunan suhu mencapai 2,4oC. Analisis data dengan uji ANOVA satu arah menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu tiap perlakuan ekstrak akar tumbuhan paku memberikan aktivitas antipiretik yang berbeda. Penentuan kandungan flavonoid menggunakan spektrofotmeter Uv-Vis. Kandungan flavonoid dalam ekstrak etanol akar tumbuhan paku sebesar 0,09596% b/b.

hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (prolanis) klinik qita

No. 430 Hipertensi secara luas dikenal dengan penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas tekanan darah normal, tepatnya dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 90 mmHg yang diukur dalam keadaan tenang pada dua kali pengukuran. Kepatuhan minum obat hipertensi memberikan kontribusi besar terhadap kestabilan tekanan darah. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat hipertensi yaitu dengan mengikuti program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di kelompok pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) Klinik Qita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional, dalam penelitian ini sampel ditentukan dengan metode purposive. Instrumen penelitian ini adalah kuisioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) dan 1 set alat tensimeter. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan kepatuhan tinggi sebanyak 14 responden (46.7%), kepatuhan sedang sebanyak 5 responden (15.7%) dan kepatuhan rendah sebanyak 11 responden (36.7%). Hasil pengujian korelasi pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan kepatuhan minum obat dengan tekanan darah sistolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,038 dan terdapat hubungan dengan tekanan darah diastolik dengan p< 0,05 dengan nilai signifikansi 0,024.

perbandingan profil kecepatan pelepasan levonorgestrel dalam sediaan subdermal implan 150 mg per batang dengan subdermal implam 2 batang @75 mg per batang secara in vitro

No. 429 Implan merupakan salah satu jenis alat kontrasepsi lepas lambat yang dapat memberikan efek sampai dengan 3 tahun melalui mekanisme kerja mengentalkan lendir serviks sehingga menyulitkan penetrasi sperma. Rata-rata kecepatan pelepasan Levonorgestrel yang diperoleh pada subdermal Implan 150 mg sebesar 39,98 μg/hari/set dan pada subdermal Implan 2 batang Implan @75 mg sebesar 39,94 μg/hari/set. Hasil tersebut berada pada rentang kriteria penerimaan yaitu 30,00 – 60,00 μg/hari/set. Korelasi antara sampel uji subdermal Implan 150 mg/batang dan sampel pembanding subdermal Implan 2 batang @75 mg ditentukan dengan perhitungan faktor perbedaan (f1) dan kemiripan (f2) serta penilaian efisiensi pelepasan/ disolusi (%DE). Diperoleh hasil f1 sebesar 4,98 dan f2 sebesar 79,60 serta disolusi efesiensi (DE) pada sampel uji sebesar 87,78% sedangkan pada sampel pembanding sebesar 87,02%. Dari hasil analisis data tersebut terbukti bahwa kecepatan pelepasan Levonorgestrel dalam sediaan Implan 150 mg/batang dengan 2 batang @75 mg secara in-intro ekivalen.

evaluasi pengobatan hipertensi pada pasien Chronic kidney disease (CKD) rawat inap di RS. Rumah sehat terpadu dompet dhuafa periode januari-desember 2017

No. 428 Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang disertai Hipertensi, mengalami penurunan fungsi ginjal pada pasien, diperparah dengan peningkatan tekanan darah yang justru akan memperberat kerja ginjal. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui profil pengobatan hipertensi, kesesuaian dosis obat dan frekuensi pemberian obat hipertensi yang digunakan pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Rawat Inap di RS. Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa Periode Januari – Desember 2017. Data yang diteliti sebanyak 63 pasien dengan usia 26-65 tahun. Dari data diperoleh hasil jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki (52 %), usia terbanyak yaitu berusia 36-45 tahun (40%), dan stadium terbanyak adalah stadium 5 (89%). Berdasarkan gambaran pengobatan hipertensi pada CKD, yang paling banyak digunakan yaitu penggunaan kombinasi 3 obat (36,5%), yaitu kombinasi Golongan Angiotensi II Reseptor Bloker (ARB), Calcium Channel Bloker (CCB), dan α-2 Agonis. Pada evaluasi kesesuaian dosis didapatkan 99,45 % penggunaan obat sudah sesuai, sedangkan evaluasi kesesuaian frekuensi didapatkan 96,65 % sesuai berdasarkan The Renal Drug Handbook.

Sitotoksisitas kombinasi ekstrak etanol daun petai cina (Leucaena Leucoceephala (Lam.) de wit) dan kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack) L. C. Nielsen) terhadap sel kanker payudara MCF-7

No. 417 Daun petai cina (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) dan kulitjengkol (Archidendron jiringa (Jack) I.C.Nielsen) merupakan tumbuhan suku polongpolongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid.Senyawa bahan alam tersebut diduga berpotensi sebagai antikanker.Uji sitotoksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker.Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai sitotoksisitas dari kombinasi ekstrak daunpetaicinadankulitjengkol.Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Perbandingan kombinasi ekstrak daunpetaicinadankulitjengkolyang digunakan secara berturut-turut 1:1, 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9. Metode sitotoksisitas yang digunakan adalah MTT assay dengan kultur sel kanker payudara MCF-7. Parameter yang diukur adalah nilaiinhibition concentration (IC50). Kombinasi ekstrak daunpetaicinadankulitjengkoldengan perbandingan 1:1, 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 menunjukkan aktivitassitotoksisitas terhadap sel MCF-7 dengan nilai IC50 secara berturut-turut sebesar 37,35; 28,57; 11,69; 7,5; dan 1,92 ppm. Berdasarkan kriteria sitotoksisitas National Cancer Institute (NCI) kombinasi ekstrak 1:3, 1:5, 1:7 dan 1:9 termasuk dalam kategori sitotoksisitas potensial. Oleh sebab itu, kombinasi ekstrak daun petai cina dan kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

Sitotoksisitas ekstrak etanol 70% kulit jengkol (Archidendron jiringa (Jack). L.C. Nielsen) terhadap penghambatan sel kanker payudara MCF-7 dan kanker serviks hela

No. 416 Kulit Jengkol (Archidendron jiringa (Jack). I.C. Nielsen) selama ini tergolong limbah organik yang tidak memberikan nilai ekonomis. Kandungan senyawa bahan alam pada kulit jengkol antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Beberapa senyawa tersebut struktur molekulnya diduga berpotensi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek sitotoksisitas ekstrak etanol 70% kulit jengkol sebagai antikanker. Kulit jengkol dimaserasi dalam etanol 70%, ekstraknya dipekatkan dengan rotary vacuum evaporator dan waterbath. Uji sitotoksisitas dilakukan menggunakan sel MCF-7 (kanker payudara) dan sel HeLa (kanker serviks) berdasarkan metode MTT assay. Parameter yang diukur adalah nilai inhibition concentration (IC50). Ekstrak kulit jengkol menunjukkan aktivitas sitotoksisitas terhadap sel MCF-7 dengan nilai IC50 sebesar 51,76 μg/mL dan terhadap sel HeLa nilai IC50 sebesar 39,618 μg/mL. Nilai IC50 dari kedua sel kurang dari 100 μg/mL menunjukkan kategori sitotoksisitas potensial, maka ekstrak kulit jengkol dapat digunakan sebagai agen antikanker.

formulasi dan uji sediaan pelembab ekstrak daun jambu biji putih (Psidium guajava L) dalam basis vanishing cream yang dikombinasi dengan gliserin dan propilen glikol

No. 415 Daun jambu biji putih (Psidium guajava L) mengandung senyawa aktif tanin, minyak atsiri, minyak lemak, damar, zat penyamak, triterpenoid, asam malat dan asam apfel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sediaan krim pelembab daun jambu biji dengan humektan gliserin dan propilen glikol dalam basis vanishing cream yang berbeda dengan konsentrasi 3, 5, dan 10%. Sediaan akan diuji terhadap mutu fisik, keamanan, daya sebar, viskositas dan stabilitas sediaan krim pelembab ekstrak Psidium guajava L dalam basis vanishing cream untuk mengetahui hasil terbaik yang dapat meningkatkan hidrasi pada kulit dalam sediaan krim pelembab Psidium guajava L berbasis vanishing cream. Hasil uji yang didapat pada uji mutu fisik dilihat dari warna coklat, bentuk sediaan setengah padat, dan bau krim khas oleum rosae, uji homogenitas krim dengan konsentrasi 3, 5, dan 10% tidak mengalami penggumpalan atau pemisahan fase, uji daya sebar krim berkisar dari 2,6 – 4,1 cm, uji pH krim berkisar 6 – 7, tidak terjadi perubahan pada uji stabilitas, uji viskositas berkisar 8.000 – 11.600 Cp, uji keamanan kosmetik yang dilakukan terhadap 15 panelis selama 3 x 24 jam dengan konsentrasi cream terbaik yaitu 10 % , terdapat tiga panelis mengalami alergi dan sisanya normal. Krim ekstrak daun jambu biji putih dengan tipe M/A memenuhi uji kualitas krim yaitu uji homogenitas, uji daya sebar, uji pH, stabilitas, viskositas, uji keamanan kosmetik dan penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin Ceocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan krim pelembab ditentukan dengan menggunakan alat spektofotometer, kadar fenol yang terdapat pada ekstrak daun jambu biji sebesar 49,71 mg GAE/gram, dan kadar fenol yang terdapat pada sediaan krim pelembab 10 % sebesar 30,55 mg GAE/gram.

Uji Aktivitas Kombinasi ekstrak daun kacang panjang (Vigna unguculata (L.) Walp.) dan daun mangkokan (Polyscias scutellaria (Burm.f.) Fosberg) terhadap pertumbuhan rambut pada tikus jantan galur Sparague Dawley

No.414 Ekstrak daun kacang panjang (Vigna unguiculata (L) Walp.) dan ekstrak daun mangkokan (Polyscias scutellaria (Burm.f.) Fosberg) secara empiris telah banyak digunakan untuk pertumbuhan rambut dan telah terbukti secara ilmiah mampu mempercepat pertumbuhan rambut, dan aktivitasnya setara dengan hair tonic yang terdapat di pasaran. Namun aktivitas dari kombinasi kedua ekstrak tersebut terhadap pertumbuhan rambut belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kombinasi kedua ekstrak tersebut yang dapat memberikan aktivitas paling baik untuk menumbuhkan rambut. Kedua ekstrak diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun kacang panjang dan ekstrak daun mangkokan dengan perbandingan (1:1) mempunyai aktivitas pertumbuhan panjang rambut lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (minoksidil), sedangkan aktivitas bobot rambutnya lebih ringan dari kontrol positif (minoksidil).

Analisis Efektivitas obat dan efesiensi biaya dalam penggunaan antibiotik tiamfenikol dan sefiksim pada pasien rawat jalan demam tifoid anak di kilinik Yapida Bogor periode Januari-Desember 2017

No. 413 Antibiotik merupakan pilihan obat utama untuk pengobatan demam tifoid, sehingga perlu dilakukan analisis efektivitas biaya agar dapat membantu mengambil keputusan untuk pemilihan antibiotik yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang lebih efektif dan efisien, yang digunakan dalam terapi demam tifoid anak di Klinik Yapida periode JanuariDesember 2016. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Mei-Juli 2017. melalui data rekam medis pasien demam tifoid anak yang mendapatkan terapi antibiotik tiamfenikol dan sefiksim. Data yang diambil untuk analisis adalah data karakteristik pasien dan data biaya langsung dan menghitung biaya transportasi. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan antara output/kesembuhan dengan pasien yang menerima terapi obat antibiotik tiamfenikol dan sefiksim dengan p < 0,05 dengan nilai signifikasi 0,006. Rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik tiamfenikol sebesar Rp 1,217,828, - dengan waktu bebas demam lebih dari 4 hari sedangkan rata-rata total biaya terapi antibiotik sefiksim sebesar Rp 885,387, - dengan waktu bebas demam pada hari ke4. Dapat disimpulkan bahwa terapi antibiotik sefiksim lebih efektif untuk penurunan suhu pada hari ke-4 dan lebih efisien dalam segi biaya dibandingkan dengan terapi antibiotik tiamfenikol.