Sebanyak 528 item atau buku ditemukan

Uji Aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% fraksi n-Heksan, etil, dan air dari daun dolar rambat (Ficus pumilla L.) terhadap Staphylococcus aureus dan escherichia coli dengan metode bioautografi kontak

No. 460 Saat ini bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menjadi masalah yang sangat serius karena peningkatan resistensi bakteri ini terhadap berbagai jenis antibiotik sehingga perlu dicarikan alternatif antibiotik yang terdapat dari bahan alam. Salah satu tanaman yang berpotensi memiliki efektifitas terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah tanaman Dolar Rambat (Ficus pumila L.). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 96%, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air dari daun dolar rambat (Ficus pumila L.) sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan metode bioautografi. Dalam penelitian ini ekstrak etanol 96% daun Dolar Rambat (Ficus pumila L.) difraksinasi dengan nheksan, etil asetat dan air. Hasil fraksinasi kemudian dilakukan pengujian aktivitas antibakteri secara bioautografi. Hasil penelitian menunjukkan fraksi n-heksan dan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, sedangkan pada bakteri Escherichia coli fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri adalah fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air.

Kandungan gula reduksi dan keasaman yogurt berbasis sari tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik Lactobacillus satsumensis EN 38-32

No. 459 Yogurt nabati merupakan yogurt berbahan dasar protein nabati sebagai alternatif protein susu sapi. Penelitian ini difokuskan pada kandungan gula reduksi dan keasaman yogurt berbasis sari tepung pasta nabati dengan enzim amiloproteolitik L. satsumensis EN 38-32. Sumber protein nabati yang digunakan: kacang kedelai, kacang hijau, jamur tiram, jamur kancing dan susu bubuk (pembanding). Uji aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode: Bernfeld (1995) dalam Kanpiegjai et al (2015), gula reduksi: Miller (1959), aktivitas protease: Horikoshi (1971), protein terdegradasi: titrasi formol, dan total asam: titrasi asam basa (AOAC, 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kadar protein terdegradasi tertinggi pada tepung pasta jamur tiram (2,6900%) diikuti susu bubuk (0,5200%), kacang kedelai (0,2500%), jamur kancing (0,0700%), sedangkan terendah pada tepung pasta kacang hijau (0,0400%). Kandungan gula reduksi tertinggi pada tepung pasta: susu bubuk (0,1442%) diikuti kacang hijau (0,1076%), kacang kedelai (0,0908%), jamur tiram (0,0278%), sedangkan terendah pada tepung pasta jamur kancing (0,0208%). Kenaikan kandungan gula reduksi tertinggi pada yogurt: kacang hijau (0,0169%) diikuti susu bubuk (0,0117%), jamur tiram (0,0050%), kacang kedelai (0,0021%), sedangkan terendah pada yogurt jamur kancing (0,0016%). Kenaikan kadar total asam tertinggi pada yogurt: kacang hijau (0,0770%) diikuti kacang kedelai (0,0630%), jamur tiram (0,0310%), susu bubuk (0,0220%), sedangkan terendah pada yogurt jamur kancing (0,0200%). Kadar total asam yogurt nabati masih termasuk kriteria standar SNI.

Analisa efektivitas penggunaan antibiotik seftriakson dan sefotaksim pada demam tifoid anak rawat inap di rumah sakit kesdam TK IV Cijantung periode agustus-desember 2017

No. 458 Antibiotik memiliki peran penting dalam pengobatan demam tifoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif dalam penggunaan antibiotik Seftriakson dan Sefotaksim pada pasien demam tifoid anak rawat inap di Rumah Sakit Kesdam Tk IV Cijantung periode Agustus – Desember 2017. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen yang bersifat deskriptif dan menggunakan metode Cross Sectional terhadap data sekunder dari rekam medis pasien, pengambilan data secara Retrospektif melalui rekam medis dari April – September 2018. Pencatatan yang dilakukan meliputi karakteristik pasien (Jenis kelamin dan Umur ), data penggunaan obat (Seftriakson dan Sefotaksim), Nilai leukosit awal dan akhir, gejala klinis awal dan akhir. Hasil penelitan menunjukkan bahwa secara statistik Seftriakson lebih efektif dibandingkan dengan Sefotaksim dengan p< 0,05 dengan nilai signifikasi 0,044 dan hasil presentase kesembuhan pada pasien yang menggunakan Seftriakson 96,7% dan yang menggunakan Sefotaksim 80,0%. Dapat disimpulkan bahwa Seftriakson lebih efektif dibandingan dengan Sefotaksim.

hubungan jenis obat kemoterapi terhadap efek samping terjadi pada penderita kanker payudara di RSUD Ciawi Bogor

No. 457 Kanker payudara merupakan masalah kesehatan utama pada wanita di seluruh dunia. Salah satu terapi kanker payudara dengan menggunakan kemoterapi . Obatobat kemoterapi juga menyerang sel-sel normal yang dapat menimbulkan efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati hubungan jenis obat kemoterapi terhadap efek samping yang terjadi pada penderita kanker payudara. Penelitian ini merupakan jenis penelitian prospektif non eksperimental. Sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling pada periode Mei sampai dengan Juli 2018. Responden yang memenuhi kriteria inklusi adalah 59 pasien. Dengan pengambilan data melalui kuesioner dan data rekam medis pasien. Data dianalisis menggunakan uji chi square spearman. Hubungan jenis obat kemoterapi terhadap efek samping yang terjadi pada penderita kanker payudara secara statistik adalah P>0,05 (P=0,264). Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara jenis obat kemoterapi terhadap efek samping yang terjadi pada penderita kanker payudara.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri ekstrak mikroalga Spirulina platensis terhadap bakteri propionibacterium acne, stphylococcus epidermis dan enterobacter aerogenes

No. 456 Bakteri yang bersifat merugikan cenderung menjadi faktor penyebab penyakit, diantaranya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit seperti Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan Enterobacter aerogenes. Salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu Spirulina platensis. S. platensis memiliki senyawa asam lemak yang berpotensi sebagai antibakteri. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi senyawa antibakteri dari mikroalga S. platensis. Biomassa S. platensis diekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapat kemudian dipartisi menggunakan pelarut n-Heksana, etil asetat dan air. Ekstrak dan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap semua bakteri uji kemudian dilakukan pemisahan senyawa dengan kromatografi kolom (KK). Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi terbaik diidentifikasi senyawa menggunakan KG-SM. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan fraksi 2 dan fraksi 6 memiliki aktivitas antibakteri yang lebih besar. Hasil analisis pada fraksi 2, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu bis (2-ethylhexyl) phthalate (67,76%) dengan persen kemiripan 98%. Hasil analisis pada fraksi 6, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu 1,2-Benzendicarboxilic acid, bis (2-ethylhexyl) ester (50,88%) dengan persen kemiripan 91% dan teridentifikasi senyawa fenol (6,21%) dengan persen kemiripan 98% . Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mikroalga S. platensis dapat dijadikan sebagai alternatif sumber antibakteri yang bersifat alami.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri mikroalga Nannochloropsis sp. Terhadap bakteri penyebab bau mulut dan plak gigi

No. 454 Berbagai masalah yang berhubungan dengan mulut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya bau mulut dan plak gigi. Penyebab bau mulut dan plak gigi sering disebabkan oleh bakteri. Mikroalga dari golongan Chlrophyta yaitu Nannochloropsis sp. memiliki potensi sebagai antibakteri. Senyawa aktif yang terkandung dalam mikroalga Nannochloropsis sp. diantaranya asam lemak yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk uji aktivitas antibakteri dari mikroalga Nannochloropsis sp. dan dilakukan identifikasi senyawa menggunakan analisis KG-SM. Biomassa Nannochloropsis sp. diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksana,etil asetat,dan etanol. Selanjutnya dilakukan uji antibakteri dengan menggunakan metode cakram. bakteri yang digunakan yaitu Streptoccocus mutans, Streptococcus sanguinis, dan Porphyromonas gingivalis. Hasil yang diperoleh dari ketiga pelarut, pelarut etanol memiliki aktivitas antibakteri terbesar. Ekstrak etanol dilakukan pemisahan senyawa menggunakan kromatografi kolom. Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi 1 yang memiliki aktivitas antibakteri terbesar dilakukan analisis dengan menggunakan KG-SM. Hasil analisis pada fraksi 1 senyawa yang teridentifikasi yaitu Neophytadiene (0,94%); 2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethy (1,21%); Hexadecanoic acid, methyl ester (22.65%); 9,12- Octadecatrienoic acid, methyl ester ( 21,74 %); 9,12,15- Octadecatrienoic acid,methyl ester (7,53%); Bis (2ethylhexyl) phthalate (11.33 %). Hasil yang diperoleh menunjukan ekstrak etanol dari mikroalga Nannochloropsis sp. dapat dijadikan alternatif senyawa antibakteri yang bersifat alami.

Uji aktivitas antibakteri sediaan obat kumur ekstrak etanol wungu (Graptophyllum pictum L) terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 453 Karies gigi merupakan penyakit infeksi mulut yang paling umum. Di Indonesia, prevalensi penyakit karies gigi menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans. Daun wungu (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun wungu terhadap Streptococcus mutans yang dibuat dalam sediaan obat kumur untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). metodenya adalah daun wungu dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak tersebut dibuat obat kumur dengan 4 konsentrasi formulasi yang berbeda dan diuji daya hambat dengan metode cakram cara gores. Kemudian formula dengan daya hambat terbaik dilakukan uji dilusi menggunakan beberapa konsentrasi yaitu 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78%, 0,39 dan 0,195% dalam media Nutrient Broth. Setelah itu dilakukan penanaman ulang pada media Nutrient Agar untuk memastikan ada tidaknya pertumbuhan. Hasilnya adalah Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditemukan pada tabung 7 (1,56%) sementara Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditemukan pada tabung ke-6 (3,125%) yang ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan Streptococcus mutans pada media. Obat kumur konsentrasi 10% memiliki aktivitas antibakteri dengan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) sebesar 1,56% dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 3,125% terhadap Streptococcus mutans.

Aktivitas antioksidan ekstrak KOH dari jamur Phomopsis sp dan Auricular-judae

No. 452 Jamur Phomopsis sp merupakan jamur endofit yang berfungsi sebagai antioksidan dan jamur kuping (Auricularia auricular-judaei) merupakan jamur yang berkhasiat sebagai penangkal racun bahkan sebagai antioksidan. Kedua jamur ini jamur Phomopsis sp dan jamur kuping (Auricularia auricular-judae) diketahui mengandung senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari jamur Phomopsis sp dan jamur kuping (Auricularia auricular-judae). Jamur Phomopsis sp diisolat dari daun sirsak (Annona muricata L.) kemudian diekstraksi menggunakan pelarut KOH 1M diikuti dengan perlakuan menggunakan autoklaf dan presipitasi dengan HCl. Aktivitas antioksidan diukur menggunakan larutan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Dengan hasil ekstraksi rendemen jamur sebesar 9,857 % dan jamur Phomopsis sp memiliki aktivitas antioksidan sebesar IC50 278,4 µg/mL sedangkan jamur Auricularia auriculajudaea adalah IC50 248,9 µg/mL dengan pembanding Epigallocatachin Gallate (EGCG) sebesar 2,4711µg/mL dari kedua jamur memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sedang.

Aktivitas antibakteri ekstrak eraksi n-heksana dan etanol 70% daun handeleum (Graptophyllum pictum) terhadap Staphylococcus aureus

No. 451 Daun handeleum (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Ekstrak daun handeleum (Graptophyllum pictum) memiliki kandungan senyawa kimia berupa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Keberadaan senyawa-senyawa tersebut khususnya senyawa tanin dan flavonoid telah diketahui memiliki potensi sebagai senyawa antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksana dan etanol 70% ekstrak daun handeleum terhadap Staphylococcus aureus. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi 12,5, 25, 50, 100 dan 200 mg/mL dan menggunakan metode dilusi dengan konsentrasi 100, 50, 25, 12,5 6,25, 3,125, 1,56, 0,78, 0,39 dan 0,195 mg/mL. Berdasarkan analisis Kruskal Wallis dengan uji lanjut Nemenyi menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada ekstrak fraksi n-heksana dan fraksi etanol 70% dengan taraf α 0,01 dan tingkat kepercayaan 99%. Hasil uji aktivitas antibakteri yang terbaik yaitu pada konsentrasi 200 mg/mL. Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak daun handeleum terhadap Staphylococcus aureus sebesar 1,56 mg/mL dan nilai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) terhadap Staphylococcus aureus sebesar 3,125 mg/mL.

Formulasi krim antijerawat ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri Propionibacterium acnes

No. 450 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm sehingga menimbulkan jerawat. Terbentuknya biofilm menyebabkan bakteri semakin sulit diberantas. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) berpotensi sebagai antibakteri P. acnes namun belum banyak data mengenai kegunaannya sebagai antibiofilm. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menguji ekstrak dan sediaan krim ekstrak etanol daun jambu biji untuk menghambat dan membersihkan biofilm P. acnes secara in vitro. Ekstrak etanol daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Uji antibiofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 69,439%, untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1 % sebesar 80,436% dengan waktu kontak 5 menit. Dan pada sediaan krim dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 58,328% dan untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1% sebesar 91,782% dengan waktu kontak 5 menit.