Sebanyak 528 item atau buku ditemukan

evaluasi peresepan antibiotika dengan metode Gyssens pasien tifoid anak di instalasi rawat inap rumah sakit umum daerah Sekarwangi kabupaten Sukabumi

No. 480 Demam tifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi sehingga tatalaksana utamanya adalah terapi antibiotika. Pemberian antibiotika harus rasional dengan memperhatikan efikasi, kesesuaian, keamanan, serta biaya terapi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat rasionalitas pemberian antibiotika untuk pasien demam tifoid anak yang menjalani rawat inap di RSUD Sekarwangi dengan menggunakan metode Gyssens. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional. Sampel yang diambil menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang. Data yang didapatkan kemudian dinilai tingkat rasionalitasnya menggunakan metode Gyssens. Hasil menunjukkan antibiotika yang paling banyak digunakan dokter untuk terapi demam tifoid adalah seftriakson sebanyak (55,4%). Setelah melewati proses evaluasi dengan mengunakan metode gyssens didapatkan hasil sebanyak 28 peresepan (50%) yang merupakan jumlah tertinggi termasuk kedalam kategori IVC. Jumlah terbanyak kedua 11 peresepan (19,6%) termasuk kedalam kategori IVA. Kategori V sebanyak 8 peresepan (14,3%), 8 peresepan yang termasuk kategori VI (14,3%). Kategori IIIB sebanyak peresepan 1 (1,8%).

efikasi amlodipin, kaptopril dan kombinasi amlodipin dengan kaptopril pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi Sukabumi

No. 479 Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pemburuh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode, menurut Word Health Organizations (WHO) batasan normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg, sedangkan seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya >140/90 mmHg. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran dan perbedaan efektivitas penggunaan amlodipin, kaptopril dan kombinasi (amlodipin dengan kaptopril) pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sekarwangi. Desain penelitian yang di pilih observasi dan pengambilan data yang dilakukan secara retrospektif. Metode analisis data pada pengujian ini menggunakan uji normalitas Saphiro – Wilk, Kruskall-Wallis dan uji post hock Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas diantara tiga pengobatan hipertensi serta penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan pengobatan amlodipin sebesar 28,64/7,73 mmHg, kaptopril sebesar 27,33/6,67 mmHg dan kombinasi sebesar 37,33/68,67 mmHg, maka dapat disimpulkan bahwa pengobatan kombinasi menurunkan tekanan darah lebih cepat.

Uji aktivitas sediaan gel facial wash ekstrak etanol 70% daun kemangi (Ocimum americanum L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes

No. 478 Jerawat merupakan salah satu penyakit yang mengganggu penampilan wajah dan disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes. Dalam hal pengobatan jerawat, biasanya menggunakan obat anti jerawat atau krim anti jerawat. Sediaan yang beredar dipasaran terkadang kurang cocok atau menimbulkan efek samping. Daun kemangi (Ocimum americanum) mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dan sediaan gel facial wash acne daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes dan uji mutu fisik sediaannya. Ekstrak etanol daun kemangi dibuat dengan cara maserasi, senyawa ekstrak diidentifikasi dengan uji fitokimia, dibuat konsentrasi dan diukur zona hambat dengan berbagai konsentrasi dengan metode difusi cakram serta sediaan gel dibuat dengan konsentrasi ekstrak yang memiliki diameter zona hambat terbaik. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 70% daun kemangi terhadap Propionibacterium acnes konsentrasi 45%, 50%, dan 55% sebesar 7,00; 12,16; dan 15,47 mm sedangkan gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi konsentrasi 55% sebesar 11,27 mm yang termasuk dalam katagori kuat. gel facial wash acne ekstrak etanol 70% daun kemangi memiliki mutu fisik yang baik pada penyimpanan suhu ruang 27 0C. Suhu dingin 4 0C mengalami penurunan pH, daya sebar dan viskositas. Suhu 40 0C mengalami kenaikan pH, daya sebar, dan viskositas.

Formulasi sediaan granul instan ekstrak etanol daun sirsak (annona muricata L.) sebagai antioksidan

No. 477 Berdasarkan penelitian sebelumnya, tanaman sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah satu jenis tanaman buah yang mengandung senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh formulasi sediaan granul instan ekstrak daun sirsak(Annona muricata L.) yang berkhasiat sebagai antioksidan, memenuhi persyaratan dan stabil dalam penyimpanan. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% (1:5) selama 5x24 jam kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. Sediaan granul instan dibuat dengan memvariasikan konsentrasi ekstrak daun sirsak pada tiga formula yaitu 4,7%, 9,4% dan 14,1 %. Evaluasi fisik yang dilakukan antara lain uji organoleptik, uji sifat alir, uji sudut istirahat, uji distribusi ukuran partikel,uji kadar air dan uji hedonik. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil uji menunjukan nilai IC50 ekstrak etanol 70% daun sirsak sebesar 47,108 ppm (sangat aktif), vitamin C sebesar 4,300 ppm (sangat aktif), formula 1 sebesar 25,526 ppm (sangat aktif), formula 2 sebesar 18,5 ppm (sangat aktif) dan formula 3 sebesar 7,085 ppm (sangat aktif). Nilai AAI ekstrak etanol 70% daun sirsak sebesar 3,312 (sangat kuat), vitamin C sebesar 36,434(sangat kuat), formula 1 sebesar 1,55 (kuat), formula 2 sebesar 2,104 (sangat kuat) dan formula 3 sebesar 75,589 (sangat kuat). Hasil uji antioksidan pada formula terpilih (F3) setelah 28 hari penyimpanan, mengalami penurunan berturut-turut sebesar 7,674 ppm pada suhu penyimpanan rendah(4±2ºC), 8,945 ppm pada suhu penyimpanan ruang (27±2ºC), dan 9,227 ppm pada suhu penyimpanan tinggi (40±2ºC). Setelah uji stabilitas selama 28 hari, formula pada penyimpanan suhu berbeda (4±2ºC, 27±2ºC, 40±2ºC) tidak menunjukan adanya perubahan fisik yang signifikan, hanya terjadi penurunan kadar aktivitas antioksidan pada sediaan granul instan.

Aktivitas ekstrak etanol, dan air daun keji beling (Strobilanthes crispa (L.) Blume, danun bakau merah (Rhizophora stylosa Griff.) dan batang katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) serta kombinasinya sebagai antioksidan

No. 476 Antioksidan merupakan senyawa yang mampu mencegah atau memperlambat reaksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas. Daun keji beling (Strobilanthes crispa (L.) Blume), Daun bakau merah (Rhizophora stylosa Griff.) dan Batang katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa aktif yang dapat berperan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan aktivitas antioksidan kombinasi daun keji beling, daun bakau merah dan batang katuk dibandingkan dengan bentuk tunggalnya dengan metode peredaman radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1pikrilhidrazil). Penarikan senyawa aktif daun keji beling, daun bakau merah dan batang katuk dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan metode infusa menggunakan pelarut air. Kombinasi ekstrak daun keji beling, daun bakau merah dan batang katuk dibuat dengan perbandingan (1:1:1) (1:1:2) (1:2:1) dan (2:1:1) dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 25 ppm, 50 ppm dan 100 ppm dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil uji fitokimia ke tiga tanaman ekstrak etanol dan ekstrak air menunjukkan hasil positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun keji beling, daun bakau merah dan batang katuk dengan perbandingan (2:1:1) mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 2,45 ppm dan vitamin C sebagai kontrol positif mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan IC50 1,38 ppm. Kesimpulan penelitian bahwa ekstraksi maserasi memberikan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan dengan ekstraksi infusa.

Evaluasi peresepan obat pada pasien ISPA rawat jalan di klinik medistira 2 Cicadas gunung putri Bogor periode Oktober-Desember 2016

No. 475 Evaluasi penggunaan obat adalah suatu proses jaminan mutu yang dilakukan secara terus menerus, terstruktur dan diakui secara organisatoris yang ditujukan untuk memastikan bahwa obat yang digunakan secara tepat, aman, dan efektif. Penggunaan obat yang tidak rasional menyebabkan kesalahan penggunaan obat berupa efek samping, biaya yang mahal, resistensi kuman terhadap antibiotik dan mutu pelayanan. Masalah-masalah yang terkait dalam penggunaan obat yang tidak rasional diantaranya peresepan berlebih, peresepan kurang, peresepan majemuk dan peresepan salah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peresepan obat yang tidak rasional pada pasien ISPA rawat jalan di Klinik Medistira 2 pada periode Oktober 2016 - Desember 2016. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan hasil penelitian dari 205 sampel resep yang memenuhi kriteria inklusi menunjukan 72 resep rasional dan 133 resep tidak rasional. Dari hasil penelitian didapatkan resep yang tidak rasional antara lain, peresepan berlebih 73 (35,6%), peresepan salah 34 (16,6%), peresepan kurang 15 (7,3%) dan peresepan majemuk 11 (5,3%).

uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol herba anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap tikus putih jantan galur sprague dawley

No. 474 Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah herba anting-anting (Acalypha indica L.). Herba anting-anting mengandung flavonoid yang berkhasiat sebagai antiinflamasi (Narayana et al., 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol 70% tanaman anting-anting terhadap penurunan udema kaki tikus putih jantan yang diinduksi dengan karagenan. Penelitian ini menggunakan tikus putih jantan galur sprague dawley dengan umur 3-4 bulan, berat badan rata-rata 200 g. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I (kontrol negatif) diberi Na-CMC 1%, kelompok II (kontrol positif) diberi natrium diklofenak, kelompok III dosis 200 mg/kg BB, kelompok IV dosis 300 mg/kg BB dan kelompok V dosis 400 mg/kg BB. Pengukuran volume udem diukur dengan menggunakan air raksa dan jangka sorong kemudian diukur pada jam ke-1 sampai jam ke-12. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada dosis 400 mg/kg BB memiliki persentase terbaik dan mendekati dengan kelompok kontrol positif (natrium diklofenak).

penentuan aktivitas dan kinetika enzim dari ekstrak etil asetat umbi lapis bawang merah (allium cepa L) terhadap enzim a-Glukosidase

No. 473 Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Salah satu mekanisme obat hipoglikemik oral yaitu penghambatan aktivitas enzim α-glukosidase. Umbi lapis bawang merahadalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas dan kinetika enzim α-glukosidase terhadap ekstrak etil asetat umbi lapis bawang merah sebagai inhibitor enzim α-glukosidase. Simplisia umbi lapis bawang merah diekstraksi dengan etil asetat menggunakan metode maserasi. Ekstrak etil asetat yang diperoleh dihitung IC50 dan kinetika enzim. Ekstrak etil asetat umbi lapis bawang merah memiliki daya inhibisi terhadap aktivitas α-Glukosidase. Nilai IC50 yang diperoleh sebesar 0,43% b/v. Ekstrak etil asetat umbi lapis bawang merah memiliki mekanisme inhibisi unkompetitif terhadap enzim α-glukosidase dengan nilai Vmaks sebesar 6,173 U/ml.menit dan Km sebesar 4,821 mM.

Stabilitas a-Amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 472 Bakteri asam laktat dapat menghasilkan amilase yang digunakan pada industri kimia dan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan menentukan produksi dan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan. Produksi α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 menggunakan sentrifus. Penentuan stabilitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 dan Fructobacillus fructosus EN 17-20 dilakukan pada suhu penyimpanan : 27°C, 4°C dan -20°C dengan waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari. Metode Asam Dinitrosalicylic (DNS) digunakan untuk uji aktivitas αamilase. Aktivitas relatif α-amilase ≥ 50% dinyatakan sebagai aktivitas α-amilase dalam kondisi stabil. Aktivitas α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 diberbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai antara 1,0011-1,4028 U/mL, sedangkan α-amilase Fructobacillus satsumensis EN 17-20 bernilai antara 1,05531,8615 U/mL. Aktivitas relatif α-amilase Lactobacillus satsumensis EN 38-32 pada berbagai suhu dan waktu penyimpanan bernilai sebesar 74,54-100%, sedangkan α-amilase Fructobacillus fructosus EN 17-20 bernilai sebesar 56,69100%. Aktivitas tertinggi α-amilase L.satsumensis EN 38-32 yang bernillai sebesar 1,4028 U/mL dengan aktivitas relatif sebesar 100% dan aktivitas tertinggi α-amilase F. fructosus EN 17-20 yang bernilai sebesar 1,8615 U/mL dengan aktivitas relatif 100% pada suhu dingin (< 0,01).

Hubungan tingkat pengetahuan pasien terhadap kepatuhan penggunaan obat tuberkulosis di puskesmas Leuwiliang periode Oktober 2016- April 2017

No. 471 Kepatuhan pasien dalam melakukan pengobatan merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam keberhasilan terapi, namun kepatuhan untuk melakukan pengobatan oleh pasien sering kali rendah, termasuk pada pengobatan tuberkulosis (TB) paru. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan, mengetahui tingkat kepatuhan dan mengetahui hubungan pengetahuan pasien tentang tuberkulosis paru dengan kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Leuwiliang. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional (non eksperimen) deskriptif analitik. Pengambilan data melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner dengan metode total sampling. Jumlah sampel yang diambil adalah 56 pasien tuberkulosis yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian yang dilakukan mendapatkan hasil, bahwa 51 responden (91,10%) memiliki pengetahuan dengan kategori tinggi dan 5 responden (8,90%) memiliki pengetahuan kategori sedang. Kemudian 32 responden (57,10%) dinyatakan patuh dan 24 responden (42, 90%) tidak patuh. Dan hasil menunjukan bahwa, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan pasien tentang tuberkulosis paru dengan tingkat kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis paru.