Sebanyak 441 item atau buku ditemukan

Uji efektifitas minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix C.) dalam sediaan gel sabun cair untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus

No. 467 Telah dilakukan uji daya antibakteri gel sabun cair dari minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus hystrix D C.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair dapat memberikan efektifitas antibakteri dengan metode cakram. Pengujian minyak atsiri dilakukan dengan uji analisis kualitatif yaitu warna bening kekuningan, nilai pH 4, indeks bias 1,337, viskositas 0,68 cps, bobot jenis 0,85 g/ml dan analisis kuantitatif menggunakan metode GC-MS untuk menganalisis senyawa minyak atsiriyang terkandung didalamnya. Pengambilan minyak atsiri dari daun jeruk purut segar dilakukan dengan proses destilasi uap. Rendemen minyak atsiri yang dihasilkan sebesar 0,91%. Konsentrasi minyak atsiri yang digunakan pada formula gel sabun cair yaitu 1%, 2% dan 3%. Berdasarkan hasil analisis GC-MS kandungan senyawa citronellal yaitu sebesar 55,42% dan hasil penelitian minyak atsiri daun jeruk purut dalam sediaan gel sabun cair mempunyai mutu fisik yang baik. Hasil efektifitas antibakteri pada konsentrasi 1%, 2%, 3% sebelum uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 9,86 mm, 10,53 mm, 12,23 mm dan sesudah uji cycling test mempunyai diameter zona hambat sebesar 10,03 mm, 10,30 mm, 12,13 mm. Semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri daun jeruk purut yang digunakan maka semakin tinggi diameter zona hambat.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri ekstrak mikroalga Spirulina platensis terhadap bakteri propionibacterium acne, stphylococcus epidermis dan enterobacter aerogenes

No. 456 Bakteri yang bersifat merugikan cenderung menjadi faktor penyebab penyakit, diantaranya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit seperti Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis dan Enterobacter aerogenes. Salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu Spirulina platensis. S. platensis memiliki senyawa asam lemak yang berpotensi sebagai antibakteri. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dan mengidentifikasi senyawa antibakteri dari mikroalga S. platensis. Biomassa S. platensis diekstraksi menggunakan metode refluks dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang didapat kemudian dipartisi menggunakan pelarut n-Heksana, etil asetat dan air. Ekstrak dan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap semua bakteri uji kemudian dilakukan pemisahan senyawa dengan kromatografi kolom (KK). Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi terbaik diidentifikasi senyawa menggunakan KG-SM. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan fraksi 2 dan fraksi 6 memiliki aktivitas antibakteri yang lebih besar. Hasil analisis pada fraksi 2, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu bis (2-ethylhexyl) phthalate (67,76%) dengan persen kemiripan 98%. Hasil analisis pada fraksi 6, senyawa dominan yang teridentifikasi dan diduga memiliki aktivitas antibakteri yaitu 1,2-Benzendicarboxilic acid, bis (2-ethylhexyl) ester (50,88%) dengan persen kemiripan 91% dan teridentifikasi senyawa fenol (6,21%) dengan persen kemiripan 98% . Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mikroalga S. platensis dapat dijadikan sebagai alternatif sumber antibakteri yang bersifat alami.

Uji aktivitas dan identifikasi senyawa antibakteri mikroalga Nannochloropsis sp. Terhadap bakteri penyebab bau mulut dan plak gigi

No. 454 Berbagai masalah yang berhubungan dengan mulut sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya bau mulut dan plak gigi. Penyebab bau mulut dan plak gigi sering disebabkan oleh bakteri. Mikroalga dari golongan Chlrophyta yaitu Nannochloropsis sp. memiliki potensi sebagai antibakteri. Senyawa aktif yang terkandung dalam mikroalga Nannochloropsis sp. diantaranya asam lemak yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk uji aktivitas antibakteri dari mikroalga Nannochloropsis sp. dan dilakukan identifikasi senyawa menggunakan analisis KG-SM. Biomassa Nannochloropsis sp. diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksana,etil asetat,dan etanol. Selanjutnya dilakukan uji antibakteri dengan menggunakan metode cakram. bakteri yang digunakan yaitu Streptoccocus mutans, Streptococcus sanguinis, dan Porphyromonas gingivalis. Hasil yang diperoleh dari ketiga pelarut, pelarut etanol memiliki aktivitas antibakteri terbesar. Ekstrak etanol dilakukan pemisahan senyawa menggunakan kromatografi kolom. Fraksi yang didapat kemudian dilakukan uji aktivitas antibakteri. Fraksi 1 yang memiliki aktivitas antibakteri terbesar dilakukan analisis dengan menggunakan KG-SM. Hasil analisis pada fraksi 1 senyawa yang teridentifikasi yaitu Neophytadiene (0,94%); 2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethy (1,21%); Hexadecanoic acid, methyl ester (22.65%); 9,12- Octadecatrienoic acid, methyl ester ( 21,74 %); 9,12,15- Octadecatrienoic acid,methyl ester (7,53%); Bis (2ethylhexyl) phthalate (11.33 %). Hasil yang diperoleh menunjukan ekstrak etanol dari mikroalga Nannochloropsis sp. dapat dijadikan alternatif senyawa antibakteri yang bersifat alami.

Uji aktivitas antibakteri sediaan obat kumur ekstrak etanol wungu (Graptophyllum pictum L) terhadap bakteri Streptococcus mutans

No. 453 Karies gigi merupakan penyakit infeksi mulut yang paling umum. Di Indonesia, prevalensi penyakit karies gigi menunjukkan angka yang tinggi. Penyebab utamanya adalah bakteri Streptococcus mutans. Daun wungu (Graptophyllum pictum) adalah salah satu tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid yang memiliki efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun wungu terhadap Streptococcus mutans yang dibuat dalam sediaan obat kumur untuk menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). metodenya adalah daun wungu dimaserasi dengan etanol 70%. Kemudian ekstrak tersebut dibuat obat kumur dengan 4 konsentrasi formulasi yang berbeda dan diuji daya hambat dengan metode cakram cara gores. Kemudian formula dengan daya hambat terbaik dilakukan uji dilusi menggunakan beberapa konsentrasi yaitu 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56%, 0,78%, 0,39 dan 0,195% dalam media Nutrient Broth. Setelah itu dilakukan penanaman ulang pada media Nutrient Agar untuk memastikan ada tidaknya pertumbuhan. Hasilnya adalah Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ditemukan pada tabung 7 (1,56%) sementara Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditemukan pada tabung ke-6 (3,125%) yang ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan Streptococcus mutans pada media. Obat kumur konsentrasi 10% memiliki aktivitas antibakteri dengan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) sebesar 1,56% dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 3,125% terhadap Streptococcus mutans.

Formulasi krim antijerawat ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri Propionibacterium acnes

No. 450 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm sehingga menimbulkan jerawat. Terbentuknya biofilm menyebabkan bakteri semakin sulit diberantas. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) berpotensi sebagai antibakteri P. acnes namun belum banyak data mengenai kegunaannya sebagai antibiofilm. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menguji ekstrak dan sediaan krim ekstrak etanol daun jambu biji untuk menghambat dan membersihkan biofilm P. acnes secara in vitro. Ekstrak etanol daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Uji antibiofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 69,439%, untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1 % sebesar 80,436% dengan waktu kontak 5 menit. Dan pada sediaan krim dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 58,328% dan untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1% sebesar 91,782% dengan waktu kontak 5 menit.

Evaluasi efesiensi distribusi obat di apotek kimia farma pangleseran sukabumi periode Januari sampai dengan Maret 2018

No. 448 Pengelolaan Obat di Apotek meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, dan penyimpanan. Hasil observasi pendahuluan bahwa di Apotek Kimia Farma Pangleseran Sukabumi masih ditemukan obat yang kadaluwarsa sehingga perlu dilakukan Evaluasi Pengelolaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi Distribusi Obat di Apotek Kimia Farma Pangleseran Sukabumi berdasarkan indikator ketepatan jumlah obat pada kartu stok, persentase obat kadaluwarsa, stok mati obat, sistem penataan obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan teknik sampling menggunakan metode purposive sampling dengan cara mengambil sampel sebanyak 10% dari setiap jenis sediaan obat. Hasil menunjukan bahwa pengelolaan obat terlihat belum efisien dari indikator ketepatan jumlah obat pada kartu stok (89%), indikator persentase obat kadaluwarsa (0.88%), indikator stok mati obat (18.59%), sedangkan pada indikator sistem penataan obat sudah efisien (100%).

uji aktivitas antimikrob melanin jamur Phomopsis sp. Dan Auricularia auricula judae terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta jamur Saccharomyces cerevisiae dan candida tropicalis

No. 447 Telah dilakukan penelitian Uji Aktivitas Melanin Jamur Phomopsis sp. dan Auricularia auricula judae Terhadap Bakteri Escherichia coli, Stapylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta Jamur Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropicalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas melanin dari jamur Phomopsis sp. dan jamur kuping (Auricularia auricula judae) terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis serta jamur Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropicalis. Metode yang digunakan adalah pengukuran Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dengan metode MTT Assay. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa nilai KHM ekstrak melanin dari Phomopsis sp. terhadap Saccharomyces cerevisiae adalah 2048 µg/ml. Ekstrak melanin dari jamur Phomopsis sp. terhadap Escherichia coli sampai konsentrasi 2048 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak diketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur Phomopsis sp. terhadap Staphylococcus aureus dan Mycobacterium smegmatis sampai konsentrasi 512 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Staphylococcus aureus sampai konsentrasi 512 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Mycobacterium smegmatis sampai konsentrasi 2048 µg/ml dapat menghambat pertumbuhan tetapi tidak di ketahui KHMnya. Ekstrak melanin dari Phomopsis sp. terhadap Candida tropicalis tidak menunjukkan adanya penghambatan. Ekstrak melanin dari jamur kuping terhadap Escherichia coli, Saccharomyces cerevisiae dan Candida tropiccalis tidak menunjukkan adanya penghambatan.

Perbandingan potensi diuretik ekstrak etanol tongkol jagung muda dan daun pandan wangi serta kombinasinya pada tikus putih (Rattus novergicus)

No. 446 Tingginya manfaat penggunaan obat tradisional menyebabkan banyaknya penelitian mengenai bahan-bahan tradisional yang memiliki efek diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi diuretik perbandingan kombinasi ekstrak etanol tongkol jagung muda (Zea mays L.) dan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius, Roxb.) serta ekstrak tunggal. Penelitian ini melakukan formulasi kombinasi etanol 70% tongkol jagung muda dan ekstrak etanol 96% daun pandan wangi serta formula ekstrak tunggal. komponen kimia dari ekstrak tersebut dianalisis fitokimia dan diuji potensi diuretik terhadap tikus putih jantan galur Sprague Dawley. Ekstrak tongkol jagung muda dan ekstrak daun pandan wangi mengandung senyawa saponin, tanin, dan flavanoid. Potensi diuretik kombinasi tongkol jagung muda dan daun pandan wangi 1:1, 2:1, dan 1:2 masing-masing sebesar 6,48%, 10,45%, dan 6,20%. Potensi diuretik ekstrak tunggal tongkol jagung muda dan daun pandan wangi berturut-turut 19,90% dan 18,18%. Potensi ekstrak tunggal ini tidak beda nyata (p<0,05) dengan potensi diuretik dari furosemid 1,44 mg/ml. Ekstrak tunggal tongkol jagung muda dan daun pandan wangi berpotensi sebagai agen diuresis yang optimal dibandingkan dengan kombinasi ekstrak tongkol jagung muda dan daun pandan wangi

Hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan di apotek kimia farma No. 50 Bogor

No. 445 Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kefarmasian dan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan maka fungsi pelayanan dalam apotek secara bertahap perlu terus ditingkatkan. Pelayanan yang bermutu haruslah berorientasi pada tercapainya kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan salah satunya diduga dipengaruhi oleh waktu tunggu pelayanan. Waktu tunggu pelayanan merupakan masalah yang sering menimbulkan keluhan pasien dibeberapa apotek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sosiodemografi pelanggan, gambaran waktu tunggu pelayanan resep dan hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan. Penelitian ini menggunakan desain deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan dilakukan secara prospektif dengan jumlah responden sebanyak 89 responden. Data yang didapati dianalisis secara univariat dan bivariat Uji analisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p <0,05. Hasil penelitian berdasarkan sosiodemografi pelanggan pengunjung apotek didominasi oleh perempuan sebanyak 59,6% dengan rentang umur terbanyak 26-35 sebanyak 30,3%, tingkat pendidikan terbanyak adalah S1/S2 sebanyak 32,6% dan pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 31,5%. Waktu tunggu pelayanan resep <30 menit (71,9%) dan kepuasan pasien kategori puas (38,2%) dan kategori tidak puas (61,8%). Uji chi-square p value sebesar 0,007 < 0,05 sehingga terdapat hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan kepuasan pelanggan di Apotek Kimia Farma no 50 Bogor.

Penggunaan antibiotik pada pasien balita dengan diagnosa ISPA bukan PNEUMONIA di puskesmas semplak Bogor periode Juli- September 2017

No. 444 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2007). Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkan membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien balita ISPA bukan pneumonia dan mengetahui kesesuaian persentase penggunaan antibiotik berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik ISPA bukan pneumonia di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif, populasi dalam penelitian ini sebanyak 297 pasien di Puskesmas Semplak Bogor. Pengambilan sampel ini menggunakan rumus Slovin, maka sampel yang diambil berjumlah 170 pasien. Hasil penelitian menunjukkan persentase penggunaan antibiotik pada balita dengan diagnosa ISPA bukan pneumonia di Puskesmas Semplak Bogor periode Juli 2017- September 2017 sebanyak 29 pasien atau 17% dari 170 pasien. Berdasarkan standar indikator peresepan antibiotik di Puskesmas yang ditetapkan oleh Kemenkes RI 2015 penggunaan antibiotik pada ISPA bukan pneumonia ≤ 20%. Penggunaan antibiotik di Puskesmas Semplak Bogor sudah sesuai dengan standar yaitu 17%.