Sebanyak 177 item atau buku ditemukan

EVALUASI PROFIL PERESEPAN OBAT RACIKAN PADA PASIEN ANAK RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT MEILIA PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2016

No: 284 Evaluasi profil peresepan obat racikan pada anak ini didasari oleh masih adanya obat yang tidak berlabel untuk anak tetapi digunakan untuk berbagai alasan, anak individu yang sangat riskan terhadap obat sistem dalam tubuhnya yang belum sempurna dalam merespon dan memetabolisme obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat racikan untuk anak dan ketersediaan item obat untuk anak yang sesuai dengan WHO Model List Of Medicines For Children 2017 dan Formularium Spesialistik Ilmu Kesehatan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2013, Penelitian secara analisis deskriptif retrospektif dengan teknik pengambilan sampel secara quota sampling yaitu dengan cara mengambil resep yang memenuhi syarat dari sampel penelitian ini sesuai kuota yang telah ditentukan. Data yang dikumpulkan berupa data kuantitaif obat racikan untuk pasien anak rawat jalan periode Oktober – Desember 2016 yang selanjutnya diuji analisis statistik distribusi frekuensi dengan menggunakan SPSS versi 16. Peresepan obat racikan yang diterima oleh pasien anak rata-rata per lembar resep sebanyak satu sampai dua obat racikan yang dikombinasikan dengan obat non racikan, ketersediaan item zat aktif yang termuat dalam WHO Model List Essential For Children 2017 adalah sebanyak 9 item zat aktif (39,13%). Dari 23 item zat aktif yang digunakan untuk anak sebagai obat esensial sesuai standar WHO yang dapat dipergunakan untuk anak serta ketersediaan item zat aktif obat yang termuat dalam Formularium spesialistik ilmu kesehatan anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2013 adalah sebanyak 11 item zat aktif (47,83%).

KARAKTERISTIK α-AMILASE Lactobacillus sustensis EN 38-32 DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG PASTA UMBI DAN SEREAL LOKAL

No: 282 Bakteri asam laktat (BAL) secara umum bersifat aman karena termasuk bakteri GRAS (Generally Recognized as Safe). Karakteristik α-amilase L. sustensis EN 38-32 meliputi optimasi suhu dan pH beserta stabilitas suhu dan pH. Kadar gula reduksi di deteksi dengan menggunakan metoda Bernfeld (Bernfeld, 1955 dalam Kanpiengjai et al., 2015) dan aktivitas α-amilase Lactobacillus sustensis EN 38-32 diuji dengan metoda Miller (Miller, 1959 dalam Moradi et al., 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu 45oC dengan aktivitas α-amilase sebesar 0,1889 U/mL, sedangkan nilai pH optimum α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH 5,5 dengan aktivitas sebesar 0,345 U/mL. Stabilitas suhu α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada suhu antara 30oC sampai 65oC dengan aktivitas relatif berkisar antara 50,19% sampai 100%, sedangkan nilai stabilitas pH α-amilase L. sustensis EN 38-32 tercapai pada pH antara pH 3,5 sampai 7,0 dengan aktivitas relatif antara 52,70% sampai 100%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta umbi talas sebesar 0,29% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta ubi jalar sebesar 27,05%. Kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta terigu sebesar 0,36% dan pada peningkatan kadar gula reduksi tertinggi pada tepung pasta jagung sebesar 56,22%.

EVALUASI PEMAKAIAN OBAT BERDASARKAN ANALISIS ABC DAN KESESUAIAN FORMULARIUM DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT PERTAMEDIKA SENYUL CITY PERIODE JANUARI-JUNI 2015

No: 281 Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dengan fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien. Salah satu komponen pokok yang ada di dalam rumah sakit adalah pengelolaan obat. Obat merupakan salah satu komponen yang menyerap biaya terbesar dari anggaran kesehatan, maka dari itu perlu adanya proses pengelolaan obat yang baik. Sistem pengelolaan obat menyangkut proses perencanaan, pengadaan, distribusi, penyimpanan, dan penggunaan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelompokan obat dan alat kesehatan berdasarkan harga obat dan jenis obat yang ada di dalam formularium menggunakan metode ABC di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City periode JanuariJuni 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan jumlah item kelompok A 21,58% dan investasi 79, 92 %, kelompok B 25,40% dan investasi 15,08%, sedangkan kelompok C 53,02 % dan investasi 5%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai investasi yang dialokasikan untuk kelompok A cukup tinggi sehingga dalam pembuatan formularium di tahun berikutnya perlu dikurangi. Pengelompokan obat dan alat kesehatan yang masuk ke dalam formularium terdapat 756 item atau sekitar 80% dari total obat dan alat kesehatan yang ada di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City. Obat dan alat kesehatan yang tidak masuk ke dalam formularium terdapat 189 item atau sekitar 20% dari total obat dan alat kesehatan yang ada di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pertamedika Sentul City.

PENENTUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA KAROTENOID MIKROALGA HIJAU (Scenedesmus sp. Dan Nannochloropsis sp.) DENGAN METODE PEREDAMAN RADIKAL BEBAS (DPPH dan ABTS)

No: 280 Pola hidup manusia yang tidak sehat dapat memicu penyakit yang berbahaya. Seperti kebiasaan mengkonsumsi junkfood, merokok, minum-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Hal tersebut dapat menimbulkan radikal bebas. Salah satu cara menangkal radikal bebas adalah Karotenoid dapat diperoleh dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi karotenoid yang dihasilkan dari mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. sebagai antioksidan dengan metode peredaman radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan 2,2-azinobis (3-etilbenzatiazolin)-6-sulfonat (ABTS). Pengambilan ekstrak karotenoid dengan mengkonsumsi antioksidan. Salah satu antioksidan yang berasal dari alam adalah karotenoid. dilakukan dengan menggunakan pelarut diklorometan. Hasil penilitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kedua mikroalga tersebut berpotensi dapat menangkal radikal bebas. Nannochloropsis sp. memiliki aktivitas antioksidan lebih besar yakni 160,9 μg/g untuk hasil DPPH, sementara hasil ABTS yakni sebesar 121,7 μg/g. Sementara Scenedesmus sp. memiliki aktivitas antioksidan dengan hasil DPPH sebesar 186,3 μg/g, dan hasil ABTS sebesar 156,3 μg/g. Berdasarkan hal tersebut, mikroalga Scenedesmus sp. dan Nannochloropsis sp. dapat digunakan sebagai alternatif antioksidan yang bersifat alami.

EFEKTIVITAS LOTION TABIR SURYA DARI PELEPAH DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) Burm.f.) SECARA IN VITRO

No: 279 Sinar matahari dapat merusak kulit terutama pancaran sinarnya yang berlangsung sejak pukul 09.00-15.00, karena mengandung sinar ultraviolet (UV) yaitu UV-A, UV-B dan UV-CTanaman Lidah buaya memiliki kandungan Aloin yang merupakan turunan dari antraquinon sehingga dapat digunakan sebagai tabir surya untuk mencegah paparan sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas campuran getah dan daging buah dari pelepah daun Lidah buaya yang dibuat lotion sebagai tabir surya. Pada penelitian ini dibuat formulasi lotion campuran getah dan daging buah pelepah daun Lidah buaya dengan konsentrasi sebesar 10%, 20% dan 30%. Selanjutnya dilakukan evaluasi fisik pada ketiga formulasi tersebut seperti uji organoleptik, uji homogenitas, pengukuran pH, dan uji stabilitas. Pengujian efektivitas lotion tabir surya dilakukan secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 290-400 nm untuk menentukan nilai SPF dari sediaan tersebut. Nilai SPF yang didapat dari masing-masing konsentrasi yaitu 10%, 20% dan 30% berturut-turut sebesar 4,3033, 5,7721 dan 6,578. Nilai SPF yang didapat dari masing-masing formula memberikan perlindungan yang lemah dari sinar ultraviolet karena ≤ 6.

OPTIMASI PRODUKSI EKSOPOLISAKARIDA DARI Lactobacillus fermentum DAN Leuconostoc mesenteroides PADA MEDIA LIMBAH KEJU (WHEY) SERTA POTENSINYA SEBAGAI ANTIMIKROBA

No: 278 Eksopolisakarida (EPS) diproduksi oleh bakteri asam laktat. EPS merupakan polimer gula pereduksi dengan berat molekul tinggi yang disekresikan oleh mikroorganisme ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang optimum untuk produksi EPS dari Lactobacillus fermentum dan Leuconostoc mesenteroides pada media MRS yang mengandung whey. EPS diuji potensi sebagai senyawa antimikroba. EPS dianalisis kandungan glukosa dan proteinnya. Optimasi produksi EPS Lf digunakan media 100% whey (5,733 gram). Optimasi produksi EPS Lm digunakan media 75% whey (8,167 gram). Pada konsentrasi 10.000 ppm EPS Lf menunjukkan aktivitas antimikroba tertinggi terhadap Staphylococcus aureus (4,27 mm) sementara terhadap Candida albicans pada konsentrasi 5.000 ppm (3,30 mm). Pada konsentrasi 10.000 ppm EPS Lm terhadap Staphylococcus aureus (4.11 mm). Dengan demikian, EPS dari Lactobacillus fermentum dan Leuconostoc mesenteroides memiliki aktivitas antimikroba dengan kategori lemah.

OPTIMASI WAKTU MASERASI NATRIUM DIKLOFENAK DALAM JAMU PEGAL LINU YANG BEREDAR DI KECAMATAN BOGOR BARAT

No: 276 Jamu adalah jenis obat tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat, salah satu jenis yang ada dipasaran adalah jamu pegal linu. Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Jamu tidak boleh mengandung bahan kimia Obat. Namun, jamu pegal linu di pasaran masih ditemukan mengandung bahan kimia obat, yaitu natrium diklofenak. Pada penelitian sebelumnya, analisis Natrium diklofenak belum disertai dengan optimasi waktu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu maserasi yang optimal dalam jamu pegal linu dan menetapkan kadar Natrium diklofenak dalam jamu pegal linu yang beredar di Kecamatan Bogor Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil waktu maserasi dianalisis menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofometri UV-Vis. Sampel dimaserasi menggunakan magnetic stirrer dengan pengadukan konstan pada kecepatan 560 rpm. 10 sampel jamu pegal linu diskrining secara kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis dengan fase diam Silika Gel254 dan fase gerak toluen : aseton (2:1). Sampel dianalisis menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 283.5 nm. Hasil menunjukan 5 dari 10 sampel mengandung natrium diklofenak, karena memliki nilai Rf mendekati Nilai Rf standar Natrium diklofenak yaitu 0,538. Waktu Optimal Maserasi pada waktu 30 menit terdapat pada sampel E, F, G, I ( 7,12%, 9,77%, 6,69%, 9,19% ). Dan 90 menit pada jamu simulasi, sampel D ( 8,26%, 11,22 % ). Pada hasil tersebut dapat disimpulkan waktu optimal natrium diklofenak dalam jamu pegal linu antara 30 menit dan 90 menit.

UJI TOKSISITAS SARI DAUN JERUK BALI, NIPIS, DAN PURUT DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

No: 275 Pemanfaatan daun tanaman jeruk bali (Citrus maxima), jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan jeruk purut (Citrus hystrix) telah dilakukan berdasarkan pengalaman secara turun-temurun sebagai bahan masakan sampai pengobatan. Daya toksisitas dari daun jeruk bali, daun jeruk nipis dan daun jeruk purutdalam sediaan sari daun belum pernah dibandingkan sebelumnya. Uji toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkantoksisitas sari daun jeruk terhadap larva udang Artemia salina Leach. Sari daun jeruk bali, nipis dan purut mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan terpenoid. Penelitian ini menggunakan 540 ekor larva Artemia salina Leachyang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok kontrol dan 3 (tiga) spesies sari daun jeruk, kelompok perlakuan terdiri dari konsentrasi 5 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm. Masing-masing terdiri dari 10 ekor larva Artemia salina Leach dengan replikasi 3 (tiga) kali untuk tiap spesies sari daun.Data kematian Artemia salina Leach dianalisis dengan menggunakan analisis probit untuk mendapatkan nilai LC50.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga sari daun jeruk memiliki potensi toksik terhadap Artemia salina menurut metode BSLT karena nilai LC50 yang didapatkan <1000 ppm. Nilai LC50spesiesCitrus maxima sebesar 624,12 ppm berpotensi sebagai pestisida, Citrus aurantifolia sebesar 183,19 ppm,dan Citrus hystrix sebesar 118,01 ppm yang berpotensi sebagai antibakteri.

KARAKTERISTIK α-AMILASE Lactobacillus bulgaricus DAN POTENSINYA DALAM PENGURAIAN KARBOHIDRAT TEPUNG UMBI LOKAL

No: 274 α-Amilase adalah salah satu kelompok enzim penghidrolisis molekul pati yang bekerja memutuskan ikatan α-(1,4)-D-glikosida, menghasilkan maltosa dan glukosa yang tergolong gula pereduksi.Salah satu mikroba penghasil α-amilase adalah Lactobacillus bulgaricus.Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristikα-amilase L.bulgaricusdan menguji aktivitasnya dalam penguraian karbohidrat tepung talas, tepung gadung dan tepung ubi jalar (tepung umbi lokal).Penelitian ini diawali dengan menentukan karakteristik dan stabilitas α-amilase L.bulgaricus. Selanjutnya, α-amilaseL.bulgaricus digunakan pada penguraian karbohidrat tepung umbi lokal yang dibandingkan dengan aktivitas penguraian karbohidrat pada tepung terigu.Metode uji untuk mengetahui aktivitas α-amilase dilakukan dengan metode3,5-Dinitrosalicylic Acid (DNS).Dari hasil penelitian didapatkan, α-Amilase L.bulgaricus memiliki suhu optimum 50OC, pH optimum 6,0 dan aktivitas enzimsebesar 0,539U/ml. Enzim tersebut relatif stabil pada kisaran suhu 35O-65OC dan kisaran pH 5,0-7,0 dengan waktu inkubasi selama 60 menit. Aktifitas α-amilase L.bulgaricus dalam menguraikan tepung ubi jalar lebih tinggi dibandingkan dengan aktivitas penguraian pada tepung talas dan tepung gadung dengan kadar gula reduksi sebesar0,021%. Aktivitas penguraian tepung ubi jalar tersebut sebanding dengan aktivitas penguraian tepung terigu .

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM SABUN TRANSPARAN TERHADAP PEMBERSIHAN BIOFILM Staphylococcus aureus

No: 273 Biofilm merupakan bentuk struktural dari sekumpulan mikrooganisme yang dilindungi oleh matrik ekstraseluler yang disebut Extracellular Polymeric Substance (EPS). EPS merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh mikrooganisme tersebut dan dapat melindungi dari pengaruh buruk lingkungan. Bakteri Staphylococcus aureus adalah patogen yang dapat membentuk biofilm. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang mengandung saponin dan berpotensi untuk membersihkan biofilm karena mempunyai kemampuan sebagai surfaktan atau bahan pembersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak daun pepaya, kemudian dilakukan pengujian pembersihan biofilm S. aureus dengan menggunakan ekstrak etanol daun pepaya untuk mengetahui kondisi optimum pembersihan biofilm S. aureus. Selain itu, menguji aktivitas sabun transparan yang mengandung ekstrak etanol daun pepaya dalam membersihkan biofilm S.aureus pada kondisi optimum. Optimasi proses pembersihan biofilm S. aureus menggunakan Microtiter Plate Biofilm Assay, berdasarkan Respon Surface Design dan analisis data menggunakan metode Response Surface Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pembersihan optimum pembersihan sabun transparan ekstrak etanol daun pepaya berada pada konsentrasi 1,6%, waktu kontak 5 menit dan suhu pembersihan 300C. Untuk membersihkan biofilm, dibutuhkan senyawa atau bahan yang memiliki aktivitas antibiofilm.