Sebanyak 195 item atau buku ditemukan

karakrteristik protease leuconostoc mesenterodes EN 17-11 dan stabilitasnya diberbagai suhu dan waktu penyimpanan

No. 407 Enzim protease diaplikasikan sangat luas dalam bidang industri pangan maupun non-pangan, mikroba penghasil protease diantaranya adalah Bakteri Asam Laktat (BAL). BAL penghasil protease salah satunya, yaitu Leuconostoc mesenteroides. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik protease L.mesenteroides EN 17-11 dan stabilitasnya di berbagai suhu dan waktu penyimpanan. Media pertumbuhan L. mesenteroides EN 17-11 yang digunakan yaitu media MRS broth. L. mesenteroides EN 17-11 yang tumbuh diinokulasikan ke dalam media Nutrient Broth yang ditambahkan 1% kasein, lalu disentrifugasi dan menghasilkan supernatan. Karakterisasi protease meliputi optimasi pH dan suhu beserta stabilitasnya, aktivitas protease dideteksi dengan metode Horikoshi (1971) yang telah dimodifikasi. Stabilitas protease L. mesenteroides EN 17-11 diuji pada waktu penyimpanan 0, 7, 14, 21 dan 28 hari dengan variasi suhu: 27oC (suhu ruang), 4oC (suhu dingin) dan -20oC (suhu beku). Aktivitas relatif protease dengan nilai ≥50% menunjukkan bahwa aktivitas protease dalam kondisi stabil. Hasil penelitian menunjukkan protease L. mesenteroides EN 17-11 memiliki pH optimum pada pH 6,0 dengan aktivitas sebesar 0,9970 U/mL dan suhu optimum pada suhu 40oC dengan aktivitas sebesar 1,1166 U/mL (P<0,05). Protease L. mesenteroides EN 17-11 stabil pada kisaran pH 6,0−7,0 dengan nilai aktivitas relatif sebesar 97,37–100% dan suhu 30−40 oC dengan nilai 94,54−100% (P>0,05). Stabilitas tertinggi protease L.mesenteroides EN 17-11 pada variasi suhu dan waktu penyimpanan terjadi pada suhu beku dengan waktu penyimpanan 7 hari (0,6144 U/mL) dengan aktivitas relatif: 77,31% (P<0,05).

Toksisitas Ekstrak Air, Etanol dan Etil Asetat Daun Petai Cina (Leucaena Leucocephala (Lam.) de Wit) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test

No. 406 Daun Petai cina merupakan salah satu tanaman suku polong-polongan yang mengandung senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun petai cina diduga berpotensi sebagai antikanker. Uji toksisitas digunakan untuk mendeteksi potensi senyawa antikanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai toksisitas yang terkandung dalam ekstrak air, etanol 70%, etanol 96% dan etil asetat daun petai cina. Proses ekstraksi daun petai cina dengan cara maserasi. Metode toksisitas yang digunakan adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan hewan uji Artemia salina L. Parameter yang diukur adalah nilai lethal concentration (LC50). Nilai LC50 yang diperoleh dari ekstrak air, etanol 70%, etanol 96% dan etil asetat daun petai cina secara berturutturut sebesar 569, 291, 757 dan 972 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak etanol 70% daun petai cina termasuk dalam kategori toksik, ekstrak air katagori toksik sedang, sedangkan ekstrak etanol 96% dan etil asetat termasuk dalam kategori tidak toksik. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan ekstrak etanol 70% daun petai cina memberikan efek toksik tertinggi dibandingkan ekstrak yang lain dan diduga berpotensi sebagai antikanker.

Aktivitas Antelmintik Ekstrak Biji Kedelai Kuning (Glyineb soja Siebold & Zucc) terhadap infeksi cacing gelang (Ascaridia sp) pada ayam kampung (Gallus gallus domesticus) secara in vitro

No. 405 Biji kedelai merupakan salah satu biji tumbuhan yang belum banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antelmintik antara ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam terhadap Ascaridia sp secara In Vitro. Metode fitokimia dilakukan untuk menguji keberadaan metabolit sekunder dalam ekstrak. Penelitian ini menggunakan 8 kelompok perlakuan yaitu NaCl 0,9%, piperazin sitrat 0,2% dan masing masing tiga kelompok untuk pemberian ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam dengan konsentrasi 30%, 60%, 90%. Aktivitas antelmintik ekstrak kedelai hitam lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kedelai kuning berdasarkan nilai Lethal Consentration 50 (LC50) dan Lethal Time 50 (LT50). Konsentrasi ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam memiliki pengaruh terhadap kecepatan waktu kematian cacing. Peningkatan konsentrasi ekstrak kedelai kuning dan ekstrak kedelai hitam berbanding terbalik dengan waktu kematian cacing. Dari analisis Kruskal Wallis serta uji Mann Whitney diketahui bahwa masing masing perlakuan memiliki perbedaan yang signifikan.

Uji aktifitas antibakteri ekstrak etanol biji srikaya (Annona squamosa L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherchia coli dengan metode difusi cakram

No. 404 Penyakit infeksi atau penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri merupakan penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat, Bakteri penyebab infeksi diantaranya adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Staphylococcus aureus tergolong bakteri Gram positif, sedangkan Escherichia coli tergolong bakteri Gram negatif. Ekstrak etanol biji srikaya pada penelitian sebelumnya memiliki khasiat antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% biji srikaya terhadap bakteri Staphylococcus aureus (Gram positif) dan Escherichia coli (Gram negatif). Ekstrak etanol 70% biji srikaya dibuat dengan cara maserasi, dipekatkan dengan rotary evaporator, kemudian hasil ekstraksi dilakukan uji fitokimia. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan tiga konsentrasi ekstrak 25%, 35% dan 45%. Hasil uji fitokimia ekstrak etanol 70% biji srikaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan saponin. Diameter zona hambat aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 25%, 35% dan 45% serta kontrol positif kloramfenikol 0,1% berturutturut sebesar 0 mm, 6,84 mm 8,25 mm dan 12,64 mm terhadap bakteri Escherichia coli. Sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus diameter zona hambatnya berturut-turut sebesar 0 mm, 6,16 mm dan 7,37 mm dan 10,69 mm. Hasil uji Anova Two Way yang dilanjutkan dengan uji Duncan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (berpengaruh nyata) antar perlakuan dengan nilai α lebih kecil dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% biji srikaya yang memiliki aktivitas antibakteri yang terbesar terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah pada konsentrasi 45%.

Potensi Antibakteri Jamu Pinaraci terhadap Bakteri Stapylococcus dan Escherichia coli

No. 403 Jamu Pinaraci merupakan jamu yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yang mempunyai potensi sebagai antibakteri, karena mengandung beberapa senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam jamu pinaraci diduga berpotensi sebagai antibakteri. Potensi antibakteri jamu pinaraci dilakukan dengan menentukan zona daya hambat. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi aktivitas antibakteri ekstrak jamu pinaraci dengan pelarut akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan metode difusi kertas cakram. Proses ekstraksi jamu pinaraci dilakukan dengan metode maserasi. Penentuan uji zona daya hambat ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% jamu pinaraci dengan metode difusi kertas cakram menggunakan bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus. Hasil uji antibakteri ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% dengan konsentrasi 1%, 3% dan 5% yang menunjukan daya hambat terbesar dengan konsentrasi 5%. Ekstrak akuades, etanol 70% dan etanol 96% pada konsentrasi 1% dan 3% memiliki daya hambat sedang, sedangkan pada konsentrasi 5% memiliki daya hambat kuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan etanol 96% memiliki potensi aktivitas daya hambat paling tinggi untuk bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus, sedangkan ekstrak akuades memiliki potensi aktivitas daya hambat paling rendah. Berdasarkan pada hasil penelitian disimpulkan bahwa ketiga sampel memiliki potensi sebagai antibakteri.

Toksisitas Eksrak n-Heksana, Etil Asetat, Etanol 96% dan air jamu Pinaraci dengan metode brine shrimp lethality test

No. 402 Jamu Pinaraci merupakan jamu yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yang mempunyai potensi sebagai obat antikanker, karena mengandung beberapa senyawa bahan alam seperti alkaloid. Senyawa alkaloid yang terkandung dalam jamu pinaraci diduga berpotensi sebagai antikanker. Potensi antikanker jamu pinaraci dilakukan dengan uji toksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan toksisitas dari ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol 96% dan air yang terkandung dalam jamu pinaraci dengan metode Brine Shrimp Lethality Test. Proses ekstraksi jamu pinaraci meliputi maserasi dan rotary evaporator. Penentuan uji toksisitas ekstrak n-heksana, etil asetat, etanol dan air jamu pinaraci dengan metode Brine Shrimp Lethality Test menggunakan hewan uji Artemia salina Leach. Parameter yang diukur adalah nilai LC50 (Lethal concentration). Hasil penelitian didapat nilai LC50 ekstrak n-heksana sebesar 21 ppm, ekstrak etil asetat sebesar 68,2 ppm, ekstrak etanol 96% sebesar 258,6 dan ekstrak air sebesar 718 ppm. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana termasuk dalam kategori sangat toksik, ekstrak etil asetat termasuk dalam kategori sangat toksik, ekstrak etanol 96% termasuk dalam kategori toksik, dan ekstrak air termasuk dalam kategori sedang. Dapat disimpulkan bahwa keempat sampel memiliki potensi sebagai antikanker.