Sebanyak 57 item atau buku ditemukan

AKTIVITAS PROBIOTIK DAN ANTIBAKTERI DARI HASIL FERMENTASI HIDROLISAT Eucheuma cottonii DENGAN ASAM DAN ENZIM OLEH Lactobacillus plantarum

No: 197 Eucheuma cottonii yang dikenal dengan nama rumput laut digunakan sebagai bahan makanan, minuman, dan obat-obatan. Gupta, (2010) menyatakan kandungan rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus plantarum serta Iskandar et al., (2005) menyatakan bahwa senyawa bioaktif yang terkandung dalam makro alga Eucheuma dapat berperan sebagai senyawa antibakteri yang memungkinkan dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada manusia, seperti Bacillus subtilis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas probiotik dan antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dari hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii oleh Lactobacillus plantarum.Eucheuma cottonii dihidrolisis oleh HCl 5% dan enzim α-amilase. Hidrolisat dibuat konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% v/v kemudian difermentasi oleh Lactobacillus plantarum. Hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii dihitung aktivitas probiotik dengan hemasitometer.Selain itu, aktivitas antibakteri ditentukan dengan metode difusi agar.Aktivitas probiotik dihitung jumlah sel Lactobacillus plantarum dari hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii. Jumlah Lactobacillus plantarum tertinggi pada hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii asam 100% dan enzim 100% dengan nilai masing-masing 2,0x107 sel/ml dan 3,7x107 sel/ml. Diameter zona hambat hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii asam 100% terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masing-masing 10,33±1,53 mm (lemah) dan 8,66±0,57 mm (tidak ada). Diameter zona hambat hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii enzim 100% terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masing-masing 14,33±1,53 mm (lemah) dan 13,00±1,73 mm (lemah). Berdasarkan hal tersebut, hasil fermentasi hidrolisat Eucheuma cottonii oleh Lactobacillus plantarum memiliki aktivitas probiotik dan berpotensi sebagai antibakteri.

EFEKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA TERBUKA PADA KELINCI DARI FORMULASI SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN BABADOTAN (Agretum conyzoides L.)

No: 196 Ageratum conyzoides L. yang dikenal dengan nama daun babadotan adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk obat luka terbuka. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak etil asetat daun babadotan memberikan efek penyembuhan yang nyata (bermakna) pada luka terbuka yaitu pada konsentrasi 40% dan 80%. Berdasarkan hal itu, dilakukan penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan salep ekstrak etanol daun babadotan (Ageratum conyzoides L.) terhadap penyembuhan luka terbuka pada kelinci. Jenis penelitian ini ialah eksperimen laboratorium. Simplisia serbuk daun babadotan diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Salep ekstrak etanol daun babadotan dibuat dalam 5 konsentrasi yaitu 30%, 35%, 40%, 45% dan 50%. Pada pengujian salep dilakukan uji organoleptik, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji pH. Uji efektivitas penyembuhan luka terbuka menggunakan 7 kelompok, yaitu kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (povidone iodine), salep ekstrak etanol daun babadotan (SEDB) 30%, SEDB 35%, SEDB 40%, SEDB 45%, SEDB 50% terhadap 3 kelinci putih dengan berat 3-3.5 kg dan panjang luka 1.5 cm, dilakukan sampai hari ke-8. Data diolah secara statistik menggunakan One Way ANOVA (Analisis Of Variant). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa SEDB 40%, 45% dan 50% memberikan efek penyembuhan terhadap luka terbuka pada kelinci, efek yang hampir mirip dengan kontrol positif yaitu SEDB dengan konsentrasi 45%, SEDB yang memberikan efek paling baik yaitu salep pada konsentrasi 50%.

UJI DAYA BERSIH EKSTRAK AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) PADA PERMUKAAN KACA DENGAN METODE CIP (CLEAN IN PLACE)

No: 195 Penggunaan deterjen yang berlebihan di industri farmasi membuat perubahan kondisi lingkungan diperairan kurang baik. Daunbinahong (Anrederacordiolia (Ten) steenis) mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antibakteri, tanaman daun binahong memiliki zat aktif flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai bahan pembersih dan mikroba. Adanya senyawa senyawa aktif dalam ekstrak air daun binahong dapat dimanfaatkuntuk membuat produk seperti sabun ataudeterjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun binahong sebagai pembersih alami terhadap pengotor organiK dan mikroba. Pengujian ini dilakukan secara pembersihan permukaan dengan metode Clean in place (CIP). Potensi ekstrak air daun binahong berdasarkan peluruhan pengotor organik dan mikroba dipermukaan kaca. Persentase peluruhan pengotor organik oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 25%, 35% dan 42,05%. Persentase peluruhan mikroba oleh ekstrak air daun binahong dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% berturut-turut sebesar 37,1%, 58,1% dan 69,25%. Berdasarkan uji statistik ANOVA aktivitas peluruhan pengotor organik pada permukaan kaca memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata antar perlakuan, sedangkan pada peluruhan mikroba dari permukaan kaca oleh ekstrak air daun binahong 15% dan 20% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan akuades, deterjen 2% dan ekstrak air 10%. Oleh karena itu, ekstrak air daun binahong 15% dan 20% paling efektif dalam peluruhan mikroba dipermukaan kaca pada uji pencucian dengan metode CIP.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN BRONKHITIS AKUT RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE JANUARI 2014 SAMPAI DENGAN DESEMBER 2014

No: 194 Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah.Infeksi saluran napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menjadi infeksi saluran napas bawah.Bronkhitis adalah penyakit pernapasan dimana selaput lendir pada saluran bronkial paru-paru menjadi meradang. Sebagian bronkhitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan antibiotik.Dalam kenyataan antibiotika banyak diresepkan untuk mengatasi infeksi ini.Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai terhadap penyakit bronkhitis dapat mengakibatkan resistensi antibiotik, meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien bronkhitis akut rawat jalan di Rumah Sakit Salak Bogor. Tujuan penelitian untuk memberikan informasi mengenai penyakit bronkhitis, cara pengobatannya dan penggunaan antibiotik yang aman dan tepat kepada pihak rumah sakit serta masyarakat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif non analitik terhadap data sekunder berupa rekam medis serta resep obat. Pengambilan data secara retrospekstif dan diperoleh 98 sampel data untuk analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bronkhitis akut banyak terjadi pada usia dewasa akhir (35 – 45 tahun) yaitu 61,22%, dengan jenis kelamin laki-laki terbanyak yaitu 64,28%, tanda dan gejala yang dialami pasien yaitu pilek, batuk berdahak, demam, sesak pada dada, dan sakit pada bagian sendi serta mudah lemas dengan data sebesar 57,14%, didapatkan pasien bronkhitis akut yang disebabkan oleh bakteri sebesar 34,69% dan disebabkan oleh virus sebesar 65,29%, pada bronkhitis akut yang disebabkan oleh virus 19,38% pasien diberikan antibiotik dan 45,91% tidak diberikan antibiotik. Adapun penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah golongan penisilin yaitu amoksisilin sebesar 57,40%, bentuk sediaan yang digunakan adalah sediaan padat dan yang terbanyak yaitu bentuk tablet yakni sebesar 54,08%.

UJI AKTIVITAS ANTIMIKOBAKTERI FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK n-HEKSANA BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) terhadap Mycobacterium smegmatis

No: 193 Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodiumDC) diduga mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas antimikobakteri. Multi Drug Resistant (MDR) Tuberkulosis (TB) menjadi masalah besar dalam pengobatan TB.Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh fraksi yang aktif dari ekstrak n-Heksana buah Andaliman yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan Mycobacterium smegmatis sebagai model dari Mycobacterium tuberculosis. Metabolit sekunder buah Andaliman diperoleh dengan cara mengekstraksi buah Andaliman dengan metode maserasi menggunakan n-Heksana dan dievaporasi filtratnya. Hasil ekstrak yang diperoleh kemudian diujikan menggunakan metode difusi dan dilusi, hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening pada keseluruhan media berisi M.smegmatis, pada konsentrasi hambat minimum (KHM)108,5 µg/ml dengan nilai absorbansi 0,065, Ekstrak tersebut kemudian dipisahkan dengan menggunakan metode kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Fraksi-fraksi ini selanjutnya diujikan terhadap Mycobacterium smegmatis dengan menggunakan metode MTT assay. Dari hasil pengujian yang dilakukan pada fraksi-fraksi dari ekstrak n-Heksana buah Andaliman, diperoleh satu fraksi yang mempunyai potensi antimikobakteri terhadap Mycobacterium smegmatis pada konsentrasi 20 µg/ml dengan hasil absorbansi 0,172 dengan masa inkubasi selama 3 hari, hasil tersebut tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan kontrol positif yang dipergunakan yaitu rifampisin yang merupakan senyawa murni pada konsentrasi 16 µg/ml dengan hasil absorbansi 0,129.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS KLINIS PENGGUNAAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIBINONG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 192 Demam tifoid tergolong penyakit endemik di Indonesia dan masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis, terutama di negara-negara berkembang.Demam tifoid adalah infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang efektif untuk menyembuhkan demam tifoid anak di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Penelitian ini dilakukan secara retrospektifsebanyak 87 sampel pasien anak bersumber dari rekam medik dan resep pasien periode Januari hingga Desember 2014 di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Efektivitas pengobatan dapat diketahui dari lama rawat inap dan hilang demam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pasien lebih didominasi oleh laki-laki dibandingkan perempuan yaitu: 52,87% dibandingkan 47,13%. Penggunaan seftriakson pada anak lebih tinggi dibandingkan kloramfenikol yaitu: 60,92% dibandingkan 39,08%. Berdasarkan usia, demam tifoid paling banyak menyerang anak usia 4-6 tahun (36,78%); selanjutnya usia 7-9 tahun (25,29%); kemudian usia 10-12 tahun (21,84%) dan yang terakhir usia 1-3 tahun (16,09%). Lama hari rawat inap pasien yang menggunakan kloramfenikol, yaitu 3-6 hari dengan rata-rata lama hari rawat inap 4,71 hari sedangkan pasien yang menggunakan seftriakson yaitu 3-8 hari dengan rata-rata lama hari rawat inap 4,47 hari.Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan lama rawat inap pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotik kloramfenikol dan seftriakson.

POTENSI ENZIM TRANSGLUTAMINASE SEBAGAI GEL PENYEMBUH LUKA STADIUM II PADA AYAM RAS JANTAN

No: 191 Transglutaminase (E.C. 2.3.2.13) merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi perpindahan gugus asil antara kelompok γ-karboksiamida residu glutamin pada protein, peptida dan berbagai amina primer. Enzim transglutaminase dapat membantu stabilisasi monomer fibrin yang terjadi selama proses pembekuan darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas proses penyembuhan luka stadium II pada ayam ras jantan yang diberikan sediaan gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5% dan 7% yang akan dibandingkan dengan Bioplacenton® gel sebagai kontrol positif. Pada penelitian ini dibuat formulasi sediaan gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5%, dan 7%. Sediaan gel enzim transglutaminase dilakukan uji organoleptis dan uji homogenitas. Selanjutnya sediaan gel tersebut dioleskan pada ayam ras jantan yang sudah memiliki luka stadium II. Formulasi sediaan gel enzim transglutaminase memiliki tekstur yang homogen, berwarna putih, berbau khas enzim transglutaminase, dan memiliki kisaran pH 6,2-6,7. Persentase pengurangan panjang luka stadium II pada ayam ras jantan oleh sedian gel enzim transglutaminase 1%, 3%, 5%, dan 7% masing-masing sebesar 80,54%, 99,00%, 99,67% dan 87,25%. Sedangkan persentase pengurangan panjang luka stadium II pada ayam ras jantan oleh Bioplacenton® gel (kontrol positif) sebesar 99,33%. Berdasarkan analisis statistik ANOVA, nilai persentase pengurangan panjang luka stadium II dengan perlakuan sediaan gel transglutaminase 5% lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan dengan gel Bioplacenton® (kontrol positif). Oleh karena itu, sediaan gel enzim transglutaminase 5% dapat berperan sebagai penyembuh luka stadium II pada ayam ras jantan.

UJI DAYA BERSIH EKSTRAK AIR DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L) PADA PERMUKAAN STAINLESS STEEL DENGAN METODE CLEAN IN PLACE (CIP)

No: 190 Daun jarak pagar (Jatropha curcas L) mengandung metabolit sekunder yang mempunyai aktivitas antibakteri. Adanya senyawa-senyawa aktif dalam ekstrak daun jarak pagar dapat dimanfaatkan untuk membuat produk pembersih seperti sabun atau deterjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak air daun jarak pagar sebagai pembersih alami terhadap pengotor organik dan mikroba. Pengujian ini dilakukan secara pembersihan permukaan dengan penerapan metode Clean In Place (CIP). Potensi daya bersih ekstrak air daun jarak pagar dikaji berdasarkan peluruhan pengotor organik dan mikroba di permukaan stainless steel. Persentase peluruhan bahan organik oleh ekstrak air daun jarak pagar dengan konsentrasi 10%, 15%, 20% berturut-turut sebesar 3,25%; 27,20%; dan 67,70%. Persentase peluruhan mikroba oleh ekstrak air daun jarak pagar dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20% berturut-turut sebesar 22,35%; 38,10%; dan 66,60%. Berdasarkan uji statistik ANOVA, aktivitas peluruhan pengotor organik dan mikroba dari permukaan stainless steel oleh ekstrak air daun jarak pagar 15% dan 20% memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan dengan akuades, deterjen 2% dan ekstrak air 10%. Oleh karena itu, ekstrak air daun jarak pagar 15% dan 20% paling efektif dalam peluruhan bahan organik dan mikroba di permukaan stainless steel pada uji pencucian dengan metode CIP.

UJI KEBOCORAN SEL Mycobacterium smegmatis OLEH EKSTRAK n-HEKSANA BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC)

No: 189 Di Indonesia setiap tahunnya kasus tuberkulosis paru bertambah seperempat juta kasus baru dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya, Indonesia termasuk 10 negara tertinggi penderita kasus tuberkulosis paru di dunia. Sebagai rempah, Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) memliki keistimewaan bahwa masakan khas batak yang menggunakan Andaliman umumnya memiliki daya awet yang lebih lama, oleh karena itu Andaliman diduga mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas antimikobakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kerja antimikobakteri dari ekstrak n-Heksana buah Andaliman salah satunya merusak membran sel mikobakteri Mycobacterium smegmatis. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan n-Heksana dan dilakukan evaporasi untuk mendapatkan ekstrak kental, ekstrak tersebut kemudian digunakan untuk pengujian aktivitas antimikobakteri yaitu difusi zona hambat dengan hasil terbentuknya zona bening pada keseluruhan media dan metode dilusi MTT (Methylthiazol Tetrazolium) terhadap sel uji dengan hasil konsentrasi hambat minimum (KHM) 0,125 µl/ml. Kerusakan membran sel Mycobacterium smegmatis dapat diidentifikasi dengan adanya kebocoran ion Na+ dan K+ menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometre), dengan hasil konsentrasi tertinggi terhadap kebocoran ion Na+ dan K+ pada ekstrak uji yaitu 2,213833 dan 43,076700 pada masa inkubasi 3 hari; hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan kontrol. Kemudian mengamati morfologi kerusakan sel Mycobacterium smegmatis dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) SU3500 perbesaran 10.000x. hasil interaksi ekstrak uji dengan sel menunjukan adanya kerusakan sel ditandai adanya sel pecah dan mengkerut, tidak halnya seperti kontrol.

OPTIMASI AKTIVITAS EKSTRAK AIR DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN BIOFILM BAKTERI Pseudomonas aeruginosa

No: 188 Biofilm Pseudomonas aeruginosa menyebabkan peningkatan kesulitan pengendalian penyakit. ekstrak air daun mengkudu mengandung alkaloid dan flavonoidyang bersifat aktivitas antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengujiaktivitas daun mengkudu dalam menghambat pembentukan biofilm Pseudomonas aeruginosa. Metode yang digunakan adalah Microtiter Plate Biofilm Assay dengan desain penelitian Response Surface Analysis. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak air mengandung flavonoid dan alkaloid .Bakteri Pseudomonas aeruginosa dapat membentuk biofilm lebih baik pada suhu 37⁰C selama 96 jam. Kondisi optimum dari ekstrak air dalam menghambat biofilm sebesar 3,0587 %, selama 96 jam pada suhu 37⁰C.