Sebanyak 53 item atau buku ditemukan

UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA UDANG (Artemia salina Leach) YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIKANKER

No: 163 Tanaman sirsak (Annona muricata L.) termasuk dalam familia Annonaceae. Masyarakat telah lama mengenal dan menggunakannya sebagai obat tradisional. Salah satu manfaat dari daun sirsak yaitu dapat dipakai sebagai alternatif pengobatan penyakit kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi toksisitas zat bioaktif dari ekstrak etanol, etil asetat dan n-heksan dau sirsak sebagai zat antikanker dengan menggunakan metode BSLT. Penelitian ini menggunakan sebanyak 100 ekor larva udang yang digunakan sebagai objek penelitian yang secara acak dibagi dalam 3 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 10 ekor larva dan pengualngan dilakukan sebanyak tiga kali perkelompok. Konsentrasi ekstrak dalam media yang digunakan adalah 500, 100, 10 dan sebagai control digunakan 0 ppm.data diperoleh dengan cara menghitung jumlah larva yang mati setelah 24 jam. Data yang diperoleh kemudian ditentukan dengan menggunakan tabel analisis probit. Kadar air yang terkandung dalam simplisia adalah 6,49%. Hasil dari analisis probit menunjukkan bahwa ekstrak etanol mempunyai nilai LC₅ₒ sebesar 86,45 ppm, sedangkan ekstrak etil asetat 92,81 ppm dan ekstrak n-heksana 37601,05 ppm. Pemberian ekstrak etanol dan etil asetat daun sirsak pada percobaan ini cenderung menunjukkan adanya potensi toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach. Ekstrak n-heksana daun sirsak tidak menunjukkan adanya potensi toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SABUN TRANSPARAN EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluhcea indica Less) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No: 144 Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun transparan yang berisi ekstrak daun beluntas (Pluchea indica Less) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan menguji penampilan fisik serta pH sediaan tersebut. Daun beluntas (Pluchea indica Less) diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 30%, dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Pengujian aktivitas antibakteri sabun transparan ekstrak daun beluntas menggunakan konsentrasi 5%, 7% dan 9% terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran. Pengujian pH serta uji penampilan fisik yang meliputi warna, tekstur, dan bentuk diamati selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa diantara konsentrasi sabun transparan ekstrak daun beluntas yang paling efektif adalah sabun transparan ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi 7%. Sabun transparan ekstrak daun beluntas konsentrasi 7% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis yang menunjukkan adanya zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri uji. Zona hambat pada pengenceran 10000 ppm, 5000 ppm, 3000 ppm dan 1000 ppm berturut-turut yaitu 8,87 mm, 7,74 mm, 6,25 mm dan 0 mm. Pengukuran pH menunjukkan bahwa semua sampel sabun bersifat basa yaitu dari pH 10,52 hingga 11,48. Hasil uji penampilan fisik selama 14 hari menunjukkan tidak ada perubahan baik pada warna, tekstur, dan bentuk sabun transparan.

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA ISPA DI INSTALASI RAWAT JALAN RS DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 108 Antibiotik merupakan obat yang berperan dalam memerangi infeksi yang ditimbulkan oleh kuman. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit akut yang menyerang salah satu bagian dari atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah). Penggunaan antibiotic pada anak cukup tinggi pada terapi ISPA, baik ISPA atas maupun ISPA bawah. Tingginya prevalensi ISPA serta dampak yang ditimbulkannya membawa akibat pada tingginya konsumsi obat bebas dan antibiotik. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diberikan untuk mengatasi penyakit tersebut. Penelitian ini merupakan studi deskriptif non-analitik. Data diambil secara retrospektif di Instalasi rawat jalan RS. DR. H. Marzoeki mahdi Bogor periode Januari-Desember 2012 terhadap data sekunder berupa rekam medis pasien anak serta resep, diperoleh 54 pasien untuk di analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 81,48% pasien terkena ISPA, 14,81% pasien menderita faringitis akut, dan 3,70% pasien menderita otitis media akut. Penggunaan antibiotik terbanyak menurut golongan adalah golongan sefalosporin 91,30 % dan golongan makrolid yaitu eritromisin sebesar 8,69 %. Bentuk sediaan yang digunakan lebih banyak dalam bentuk sediaan sirup sebesar 52,17% dalam bentuk sediaan tablet sebesar 47,82%. Untuk dosis antibiotik sekitar 56,52% rasional dan 43,47% kurang rasional 30,43% pemberian antibiotik dengan dosis melebihi dosis maksimal untuk sehari, dan 13,04% pemberian antibiotik dengan dosis kurang dari dosis maksimal untuk sehari. Kesesuaian lama penggunaan antibiotik menunjukkan hasil pemakaian minimal selama 5 hari sebesar 21,73%, dan untuk pemakaian hingga 10 hari sebesar 65,21%, sisanya sebesar 13,04% dengan lama penggunaan kurang dari 5 hari.