Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

EFEKTIVITAS SALEP NANOPARTIKEL LENDIR BEKICOT (Achatina fulica) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA SAYAT

No: 250 Teknologi nanopartikel saat ini telah menjadi tren baru dalam pengembangan sistem penghantaran obat. Partikel pada skala nanometer memiliki sifat fisik yang khas dibandingkan dengan partikel pada ukuran yang lebih besar terutama dalam meningkatkan kualitas penghantaran senyawa obat. Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan yang banyak ditemui di Indonesia. Lendir bekicot berperan dalam proses penyembuhan luka dengan membantu proses pembekuan darah dan proliferasi sel fibroblast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian salep nanopartikel lendir bekicot terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci.Lendir bekicot disonikasi dengan alat ultrasonikator probe lalu dianalisis dengan menggunakan alat particle size analizerdidapatkan hasil ukuran partikel 51,29 nm dan zeta potensial -20,9 mV. Uji efektivitas penyembuhan luka sayat menggunakan 4 kelompok, yaitu kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (Salep bioplacenton®), salep nanopartikel lendir bekicot dan salep tanpa nanopartikel lendir bekicot terhadap kelinci putih dengan panjang luka 2,5 cm, pengujian dilakukan sampai hari ke-11. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salep nanopartikel lendir bekicot 25% memberikan efek penyembuhan luka yang paling baik dan efek yang hampir mirip dengan kontrol positif yaitu salep tanpa nanopartikel lendir bekicot 25%.

ANALISIS SILDENAFIL SITRAT DALAM JAMU KUAT DI KECAMATAN BOGOR BARAT DAN TANAH SAREAL DENGAN MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR SPEKTROMETRI MASSA

No: 243 Jamu merupakan pengobatan pilihan masyarakat karena berkhasiat menjaga kesehatan tubuh manusia. Salah satu jenis jamu adalah jamu kuat yang dapat berkhasiat sebagai penambah stamina dan vitalitas lelaki, namun dalam perkembanganya kemurnian jamu kuat banyak ditambahkan sildenafil sitrat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif. Analisis senyawa sildenafil sitrat dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM) yang disampling pada 2 kecamatan yaitu kecamatan Bogor Barat dan Tanah Sareal sehingga diperoleh 32 sampel, dimana 18 sampel dari Bogor Barat diberi kode A dan 14 sampel dari Tanah Sareal diberi kode B. Hasil KLT yang dielusi pada Silica gel 60 F254 dengan eluen metanol:kloroform (4:1), terdapat 5 sampel menunjukkan nilai Rf yang mendekati standar sildenafil sitrat yaitu 0.83, pada kode sampel A4 nilai Rf 0,84, A13 nilai Rf 0,84, A17 nilai Rf 0,83, B11 nilai Rf 0,83, dan B14 nilai Rf 0,84. Hasil KC-SM dengan menggunakan kolom Phenomenex Synergi Fusion RP-100A, sistem pompa gradien dengan fase gerak 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam air dan 0,2 M amonium asetat pH 7 dalam asetonitril, diperoleh kadar sampel untuk kode A4, A13, A17, B11, B14 sebesar 198,01; 1119.19; 226,00; 156,77; 443,87 µg/kg.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK AIR DAUN ALPUKAT (Persea americana M.) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN

No: 237 Persea americana M. yang dikenal dengan nama daun alpukat memiliki khasiat obat tradisional sebagai diuretik. Diketahui bahwa ekstrak etanol daun alpukat mempunyai aktivitas diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak air daun alpukat sebagai aktivitas diuretik. Ekstrak air daun alpukat dilakukan dengan cara pemanasan pada suhu 700C. Ekstrak air tersebut kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental daun alpukat. Uji aktivitas diuretik dilakukan dengan pemberian ekstrak air daun alpukat secara per oral pada 30 ekor tikus putih jantan galur Sparague-Dawley yang dibagi dalam 6 kelompok. Konsentrasi ekstrak air daun alpukat yang diberikan adalah 5%, 10%, 15% dan 20%. Pada penelitian ini digunakan furosemid tablet sebagai kontrol positif. Frekuensi urinasi yang dihasilkan pada pemberian ekstrak air daun alpukat 5%, 10%, 15% dan 20% secara berturut-turut yaitu 2, 5, 9, dan 20 kali dengan pengamatan selama 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air daun alpukat 20% memiliki aktivitas diuretik setara dengan furosemid tablet.

PENGARUH KELEMBABAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU FENITOIN NATRIUM DALAM KAPSUL

No: 234 Fenitoin Natrium adalah obat antiepilepsi turunan hidantoin. Karakteristik fisik obat ini akan sangat cepat berubah jika disimpan dengan kelembaban dan suhu udara yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelembanan dan suhu terhadap mutu fenitoin natrium dalam kapsul selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan sampel kapsul fenitoin natrium sebanyak 6 kapsul untuk setiap perlakuan yang dan disimpan selama delapan minggu. Perlakuan penyimpanan dilakukan dalam lemari es dengan suhu 2-8 derajat celcius dan kelembaban 40%, dalam desikator dengan suhu 25-30 derajat celcius dan kelembaban 60%, dan dalam Climatic Chamber dengan suhu 40 derajat celcius dan kelembaban 70%. Pengamatan terhadap perubahan fisik sampel (pengerasan, bau, dan waktu hancur) dilakukan setiap dua minggu. Fenitoin natrium dalam setiap kapsul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi kapsul pada semua perlakuan penyimpanan mengalami perubahan sifat fisik (mengeras, berbau menyengat, dan waktu hancur ). Pada setiap kondisi dimana kelembaban dan suhu udara yang tinggi (Climatic Chamber) menyebabkan waktu hancur isi kapsul akan semakin lama seiring dengan lamanya waktu penyimpanan. Kadar fenitoin natrium dalam kapsul pada semua perlakuan menurun (95% - 98%) setelah delapan minggu, dan semakin besar penurunan kadarnya (95%) pada suhu dan kelembanan yang tinggi. Stabilitas juga menurun dengan semakin tingginya suhu dan kelembaban tempat penyimpanan. Mutu kapsul fenitoin natrium akan lebih terjaga jika disimpan pada suhu dan kelembaban rendah.

FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS LOSION EKSTRAK HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban)

No: 225 Losion adalah sediaan emulsi yang paling banyak digunakan didaerah topikal. Ekstrak herba pegagan dapat dibuat menjadi sediaan losion. Ekstrak losion pegagan dapat meregenerasi tingkat jaringan dengan mensintesis kolagen. Ekstrak losion pegagan digunakan untuk perawatan kulit muka yang kering dan bersisik serta berkhasiat sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat formula losion ekstrak kental herba pegagan yang baik. Uji efektivitas setelah dilakukan terhadap formula losion. Ekstraksi herba pegagan dilakukan dengan cara maserasi, ekstrak cair kemudian di pekatkan menggunakan rotary evoporator sehingga diperoleh ekstrak kental herba pegagan. Formula losion dibuat dengan konsentrasi ekstrak herba pegagan 5% menggunakan tiga basis yang berbeda (Formula 1, Formula 2, dan Formula 3). Sediaan yang dihasilkan diuji mutunya atas dasar stabilitasnya selama 8 minggu pada suhu kamar (25-30ºC). sediaan yang dihasilkan kemudian dilakukan pengujian kualitas terhadap stabilitasnya selama 8 minggu pada suhu kamar (25-30ºC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa losion formula 2 memiliki mutu fisik warna aroma, kehomogenan, pH, viskositas, daya sebar dan daya lekat yang lebih baik dari formula 1 dan formula 3. Hasil uji kualitas menunjukkan bahwa stabilitas pada formula 2 lebih baik dari formula lainnya. Efektivitas losion dilakukan dengan uji tingkat kecerahan wajah menggunakan skin analyzer. Dan hasil pengujian efektivitas menunjukan bahwa losion formula 2 memiliki tingkat kecerahan yang paling baik untuk parameter tingkat kelembaban, kondisi minyak dan kehalusan dibandingkan dengan formula 1 dan 3.

PENGARUH SUHU DAN STRAIN SEL INANG Escherichia coli TERHADAP EKSPRESI PROTEIN REKOMBINAN JTAT

No: 205 Escherichia coli adalah sel inang yang sering digunakan dalam ekspresi protein rekombinan. Penyakit jembrana pada sapi bali merupakan penyakit infksi, yang disebabkan oleh Virus Penyakit Jembrana. Hingga saat ini preventif dilakukan vaksinansi menggunakan crude vaccine (serum limfa sapi bali terinfeksi akut jembrana) yang ketersediaannya terbatas. Terobosan dengan teknik protein rekombinan, bahan vaksin dapat dikembangkan dengan pendekatan teknologi protein rekombinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi pengaruh perlakuan perbedaan suhu kultur dan strain sel inang Escherichia coli yang berbeda terhadap produksi protein rekombinan JTAT. Kombinasi perlakuan dua suhu kultur (25º C dan 37º C) dan dua strain (E.coli NiCo dan E.coli BL21) disusun dalam 4 perlakuan (T1, T2, T3, dan T4) dengan rancangan acak lengkap, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Proses ekspresi terdiri dari pemecahan sel, sentrifuge, pencucian, dan elusi. Karakterisasi dilakukan dengan SDS-PAGE. Sementara kuantifikasi protein dilakukan dengan spektrofotometer (GeneQuant). Data hasil ekspresi (karakterisasi, purifikasi, dan kuantifikasi protein) diolah dan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian dari keempat perlakuan (T1, T2, T3 dan T4) menunjukkan kemunculan ukuran pita protein JTAT-pET yang benar yaitu 11,8 kDa. Sementara hasil kuantifikasi secara berturut-turut adalah 0,239 µg/ml, 0,316 µg/ml, dan 0,414 µg/ml, masing-masing untuk T1, T2, T3, dan T4. Disimpulkan bahwa ekspresi protein rekombinan JTAT-pET yang baik dengan melihat ketebalan pita yaitu ekspresi melalui sel inang E.coli NiCo dengan suhu 25ºC. sedangkan untuk melihat hasil kuantifikasi protein rekombinan JTAT-pET yang baik yaitu ekspresi melalui sel inang E.coli NiCo pada suhu 25ºC maupun 37ºC.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS KLINIS PENGGUNAAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIBINONG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2014

No: 192 Demam tifoid tergolong penyakit endemik di Indonesia dan masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis, terutama di negara-negara berkembang.Demam tifoid adalah infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang efektif untuk menyembuhkan demam tifoid anak di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Penelitian ini dilakukan secara retrospektifsebanyak 87 sampel pasien anak bersumber dari rekam medik dan resep pasien periode Januari hingga Desember 2014 di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Efektivitas pengobatan dapat diketahui dari lama rawat inap dan hilang demam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total pasien lebih didominasi oleh laki-laki dibandingkan perempuan yaitu: 52,87% dibandingkan 47,13%. Penggunaan seftriakson pada anak lebih tinggi dibandingkan kloramfenikol yaitu: 60,92% dibandingkan 39,08%. Berdasarkan usia, demam tifoid paling banyak menyerang anak usia 4-6 tahun (36,78%); selanjutnya usia 7-9 tahun (25,29%); kemudian usia 10-12 tahun (21,84%) dan yang terakhir usia 1-3 tahun (16,09%). Lama hari rawat inap pasien yang menggunakan kloramfenikol, yaitu 3-6 hari dengan rata-rata lama hari rawat inap 4,71 hari sedangkan pasien yang menggunakan seftriakson yaitu 3-8 hari dengan rata-rata lama hari rawat inap 4,47 hari.Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan lama rawat inap pasien demam tifoid anak yang menggunakan antibiotik kloramfenikol dan seftriakson.

ISOLASI MIKROBA ENDOFIT DARI TANAMAN SUKUN (Artocarpus altilis) SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP Escherichia coli dan Salmonella typhimurium

No: 175 Sukun sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat pencegah berbagai penyakit. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroba endofit yang hidup dalam jaringan tanaman mampu menghasilkan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebgai antimikroba, antihipertensi, asam ureat, antirematik, antikolesterol, antidiabetes, antiinflamasi dan antikanker. Tanaman sukun diketahui mempunyai kandungn polifenol, asam hidrosianat, kalium, asetilkolin, tanin, flavonoid, riboflavin, saponin dan phenol . tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendapatkan mikroba endofit dari tanaman sukun yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba Escherchia coli dan Salmonella typhimurium dilakukan dengan metode Diffusion Agar Plate Method. Sedangkan analisa senyawa antimikroba dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang dibandingkan dengan antibiotic standar eritromisin dan cotrimoxazol. Hasil isolasi dari tanaman sukun diperoleh 52 isolat bakteri endofit, diantaranya yaitu BTTB 2.1, mampu tumbuh dalam medium yang mengadung Escherchia coli dan Salmonella typhimurium. Hasil analisa menggunakan KLT fraksi-fraksi ekstrak klorofom bakteri endofit BTTB 2.1 mempunyai kisaran nilai Rf yang lebih tinggi dari nilai Rf kedua antibiotik standar eritromisin (0,74) dan cotrimoxazol (0,83) yakni fraksi CI (0,87) dan fraksi CII (0,76), sementara hasil analisis menggunakan KCKT menunjukkan bahwa senyawa antimikroba yang dihasilkan bakteri endofit mempunyai nilai Rt pada Fraksi CI (6,408) dan Fraksi CII (6,517), sedangkan eritromisin (6,350) dan cotrimoxazol (6,400)