Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

EVALUASI STABILITAS SEDIAAN GRANUL EFFERVESCENT DARI CAMPURAN INFUSA BERAS MONASCUS DENGAN FILTRAT JUS BELIMBING WULUH UNTUK TERAPI TROMBOSITOPENIA

No: 358 Trombositopenia merupakan akibat klinis dari infeksi virus dengue yang dapat menyebabkan kematian. Beras Monascus dapat dijadikan bahan terapi trombositopenia karena mengandung senyawa Lovastatin dan Isoflavon yang dapat menaikan jumlah trombosit. Penelitian ini bertujuan membuat sediaan Granul effervescent beras Monascus dengan filtrat jus buah Belimbing Wuluh yang kaya vitamin C. Dibuat Granul effervescent dengan metode Granulasi basah dan di evaluasi mutu fisik dan stabilitas selama 30 hari pada suhu 28°C. Kandungan Lovastatin pada Granul effervescent diukur dengan KCKT. Sediaan Granul yang terbentuk berwarna orange dengan karakteristik sesuai dengan standar baku dan dapat stabil setidaknya pada penyimpanan 1 bulan.

UJI AKTIVITAS SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) TERHADAP LUKA BAKAR DERAJAT II PADA TIKUS JANTAN

No: 347 Salep adalah sediaan setengah padat yang paling banyak digunakan pada pemakaian topikal. Psidium guajava Linn. yang dikenal dengan nama daun jambu biji merupakan tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati penyakit, termasuk obat luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formula salep ekstrak etanol daun jambu biji yang memiliki efektivitas penyembuhan pada luka bakar derajat II. Ekstraksi daun jambu biji dilakukan dengan proses maserasi, kemudian ekstrak cair dipekatkan menggunakan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak pekat daun jambu biji. Formulasi salep ekstrak etanol daun jambu biji dibuat dengan konsentrasi masing masing 30%, 35% dan 40%. Sediaan yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian mutu untuk mengetahui stabilitasnya selama 4 minggu, yaitu salep ekstrak daun jambu biji 30% pada suhu kamar (25 - 30OC), salep ekstrak daun jambu biji 35% pada suhu dingin (9OC ±0,5), dan salep ekstrak daun jambu biji 40% pada suhu panas (40OC ±0,5). Uji efektivitas penyembuhan luka bakar derajat II menggunakan 5 kelompok, yaitu kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (Bioplacenton®), salep ekstrak etanol daun jambu biji (SEDJB) 30%, 35%, dan 40% terhadap tikus putih jantan dengan berat antara 200-400 gram dan diameter luka bakar 2,5 cm, dilakukan sampai hari ke-21. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (SEDJB) 35% memberikan efek penyembuhan yang baik terhadap luka bakar derajat II pada tikus putih jantan.

PERBANDINGAN OUTCOME PENGGUNAAN OBAT PHENYTOIN, ASAM VALPROAT, DAN CARBAMAZEPIN PADA PASIEN EPILEPSI RAWAT JALAN DIKLINIK NEUROLOGI RS Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2015

No: 331 Epilepsi adalah serangan yang terjadi tiba – tiba dan berulang disebabkan oleh lepas muatan listrik kortikal secara berlebihan, dan merupakan penyakit kronis dibidang neurologi. Epilepsi bisa terjadi pada pria dan wanita dan pada semua umur. Phenytoin termasuk golongan obat antiepilepsi yang digunakan untuk mengobati penyakit epilepsi. Asam Valproat merupakan obat antiepilepsi yang bisa digunakan pada semua tipe epilepsi, terutama pada epilepsi umum yang idiopatik. Carbamazepin efektif terhadap bangkitan tonik-klonik, dan untuk semua jenis epilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan Outcome penggunaan Phenytoin, Asam Valproat, dan Carbamazepin yang dilihat dari frekuensi kejang, dan ketepatan dosis selama 6 bulan, yang dilakukan secara retrospektif pada pasien usia 13 sampai dengan 24 tahun di rawat jalan klinik neurologi RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, yang dianalisi secara deskriptip dan uji Kruskall Wallis H. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 81 pasin. Pasien yang mendapat terapi Phenytoin 16,05% bebas kejang dan 33,33% masih kejang, terapi Asam Valproat 6,17% bebas kejang dan 20,98% masih kejang, dan terapi Carbamazepin 8,65% bebas kejang dan 14,83% masih kejang. Ketepatan dosis yang diterima pasien telah sesuai dengan panduan dosis obat antiepilepsi. Perbandingan outcome pengunaan obat Phenytoin tidak berbeda nyata dengan pengunaan obat Asam Valproat, dan Carbamazepin.

OPTIMASI UJI ENDOTOKSIN PADA SEDIAAN INJEKSI VITAMIN NEUROTROPIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE Limulus Amebocyte Lysate (LAL)

No: 327 Endotoksin merupakan bagian kompleks lipopolisakarida membran bakteri gramnegatif yang dapat menyebabkan reaksi pirogenik. Uji Limulus Amebocyte Lysate(LAL) metode jendal gel telah banyak digunakan untuk mendeteksi keberadaan endotoksin dalam sediaan parenteral. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kadar endotoksin pada sediaan injeksi vitamin neurotropik dengan berbagai konsentrasi mulai dari 0% PMA – 100% PMA untuk memperoleh hasil yang optimal. LAL yang digunakan memiliki kepekaan 0,125 EU/mL. Sebagai pembanding dilakukan pengujian terhadap standar kontrol endotoksin 0,25 EU/mL sebagai kontrol positif, LAL Reagent Water (LRW) sebagai kontrol negatif dan uji inhibisi. Dari pengujian sampel didapatkan hasil negatif pada setiap seri pengenceran, dan hasil optimal didapatkan pada seri pengenceran terkecil yaitu 0% PMA atau tanpa pengenceran. Hal ini membuktikan bahwa pada pengenceran terkecil sampel injeksi vitamin neurotropik tersebut tetap tidak mengandung endotoksin yang dapat membahayakan pasien sehingga pengujian akan lebih efektif dan efisien.

EVALUASI POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INSTALASI RAWAT JALAN PUSKEMSAS CIBINONG KABUPATEN CIANJUR PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2015

No: 320 Diabetes mellitus merupakan salah satu masalah kesehatan yang kejadiannya terus meningkat dengan cepat. Hamper 90 % diabetes mellitus pada orang dewasa merupakan diabetes mellitus tipe 2. Dari jumlah tersebut 50 % adalah pasien berusia lebih dari 60 tahun. Penggunaan kombinasi obat antidiabetes oral (OAD) pada pasien geriatri harus diperhatikan, karena fungsi organ dan aktivitas fisik yang sudah mengalami penurunan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi untuk menghindari efek samping interaksi obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien, karakteristik resep dan persentase interaksi obat pada peresepan obat antidiabetes oral pasien geriatric diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Cibinong Kabupaten Cianjur periode Oktober – Desember 2015. Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan deskriptif dan data diambil secara retrospektif. Dari 105 pasien yang memenuhui criteria inklusi, diperoleh 72,41 % resep mengalami interaksi obat dan 75,2 % potensi interaksi obat terdapat pada resep dengan jumlah obat lebih dari 3 jenis obat. Interaksi obat yang paling sering terjadi adalah antara metformin dan golongan sulfonylurea. Sebanyak 69,5 % tipe interaksi obat yang paling banyak adalah efek yang dapat meningkatkan aktivitas obat antidiabetes oral yaitu sebanyak 44,8 %. Hasil pengujian dengan uji Chi Aquare menunjukkan adanya hubungan yang bermakna anata jumlah obat yang diberikan dalam satu resep dengan jumlah kejadian interaksi obat dengan nilai probabilitas 0,000 ( p < 0,05) serta nilai Chi Square hitung lebih kecil dari Chi Square table ( 3,240 < 5,99915)

FORMULASI SEDIAAN GEL ANTISEPTIK EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Escherichia coli

No: 309 Daun kemangi memiliki aktivitas antibakteri terhadap mikroba patogen pada manusia, karena memiliki kandungan kimia seperti minyak atsiri, flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Tujuannya untuk menentukan daya hambat antibakteri dalam formulasi sediaan gel antiseptik ekstrak daun kemangi terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini meliputi pengamatan organoleptik, homogenitas, daya sebar, daya lekat, pH dan uji aktivitas antibakteri. Hydroxy Propil Methyl Cellulosa (HPMC) merupakan suatu selulosa dengan penambahan air akan mengembang menjadi lebih kental dapat dijadikan sebagai gelling agent. HPMC dikembangkan dalam aquades panas, kalium sorbat dilarutkan kemudian dimasukkan ke dalam basis gel. Propilen glikol dimasukkan sedikit demi sedikit. Ekstrak daun kemangi, Dinatrium EDTA, parfum dilarutkan kedalam PEG-40 hydrognetedcastrol oil, aduk hingga membentuk gel. Pemeriksaan uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram yang dapat dilihat daya hambat melalui daerah bening yang tidak ditumbuhi bakteri disekitar cakram. Ekstrak etanol 0,5%, 1%, 1,5% dan 2% memberikan efek antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli sehingga diformulasikan dalam bentuk gel dengan konsentrasi tersebut. Data yang diperoleh diameter zona bening F I, F II, F III, F IV yaitu 6,96 mm, 8,27 mm, 8,06 mm, 8,82 mm. F IV memberikan efek antibakteri yang paling baik, sehingga gel ekstrak daun kemangi berpotensi sebagai antiseptik. F I (0,5%) dan F II (1%) mengalami penurunan yang kecil pada uji daya lekat, pH dan daya sebar mengalami kenaikan pada F III (1,5%) dan F IV (2%).

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO) DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT MELANIA BOGOR

No: 305 Pelayanan informasi obat (PIO) merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkini kepada dokter, perawat,profesi kesehatan lainnya dan pasien, untuk mencegah penggunaan obat yang salah dan adanya interaksi obat yang tidak dikehendaki. Kepuasan pelanggan merupakan perbedaan antara harapan dan hasil kerja yang diterimanya, jika hasil kerja yang diterima melebihi harapan maka kepuasan akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan informasi obat (PIO) di Instalasi farmasi Rumah Sakit Melania Bogor.Pengumpulan data menggunakan kuisioner, Hasil pengolahan data menggunakan skala Likertdengan bantuan SPSS versi 16.00. Responden pada pelayanan informasi obat di Instalsi Farmasi Rumah Sakit Melania Bogor berusia 26-35 tahun sebanyak 33 responden, dengan tingkat pendidikan terakhir SMA sebanyak 55 responden dan status pekerjaan bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 49 responden. Berdasarkan hasil uji skala Likert didapatkan hasil presentase sebesar 88,58 %, yang termasuk dalam kriteria sangat puas. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa responden merasa sangat puas terhadap pelayanan informasi obat (PIO) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Melania Bogor

EFEKTIVITAS LOTION TABIR SURYA DARI PELEPAH DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera (L.) Burm.f.) SECARA IN VITRO

No: 279 Sinar matahari dapat merusak kulit terutama pancaran sinarnya yang berlangsung sejak pukul 09.00-15.00, karena mengandung sinar ultraviolet (UV) yaitu UV-A, UV-B dan UV-CTanaman Lidah buaya memiliki kandungan Aloin yang merupakan turunan dari antraquinon sehingga dapat digunakan sebagai tabir surya untuk mencegah paparan sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas campuran getah dan daging buah dari pelepah daun Lidah buaya yang dibuat lotion sebagai tabir surya. Pada penelitian ini dibuat formulasi lotion campuran getah dan daging buah pelepah daun Lidah buaya dengan konsentrasi sebesar 10%, 20% dan 30%. Selanjutnya dilakukan evaluasi fisik pada ketiga formulasi tersebut seperti uji organoleptik, uji homogenitas, pengukuran pH, dan uji stabilitas. Pengujian efektivitas lotion tabir surya dilakukan secara in vitro dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 290-400 nm untuk menentukan nilai SPF dari sediaan tersebut. Nilai SPF yang didapat dari masing-masing konsentrasi yaitu 10%, 20% dan 30% berturut-turut sebesar 4,3033, 5,7721 dan 6,578. Nilai SPF yang didapat dari masing-masing formula memberikan perlindungan yang lemah dari sinar ultraviolet karena ≤ 6.

UJI AKTIVITAS PARTISI EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR PUTIH (Ipomoea batatas (L.) Lam) TERHADAP TROMBOSITOPENIA PADA TIKUS JANTAN GALUR Sprague dawley

No: 271 Trombositopenia merupakan berkurangnya jumlah platelet (trombosit). Terjadinya trombositopenia disebabkan oleh demam berdarah yang menyebabkan pendarahan. Daun ubi jalar putih diduga dapat meningkatkan trombosit. Pada penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak etanol daun ubi jalar putih dapat meningkatkan trombosit. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas partisi ekstrak etanol daun ubi jalar putih (Ipomoea batatas (L.) Lam) terhadap trombositopenia pada tikus jantan galur Sprague dawley. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok pertama sebagai kontrol negatif, kelompok kedua ekstrak etanol daun ubi jalar putih 100 mg/kg BB, kelompok ketiga ekstrak partisi air daun ubi jalar putih 100 mg/kg BB, kelompok keempat ekstrak partisi etil asetat daun ubi jalar putih 100 mg/kg BB, dan kelompok kelima sebagai kontrol positif (Trolit®). Sebelum pemberian ekstrak, terlebih dahulu diberikan heparin untuk membuat tikus menjadi trombositopenia. Kemudian dihitung jumlah kenaikan kadar trombosit tikus. Rerata kenaikan pada kelompok pertama kontrol negatif 29 ribu/mm3 kelompok kedua 171 ribu/mm3, kelompok ketiga 205 ribu /mm3, kelompok keempat 148 ribu/mm3, dan kelompok (kontrol positif) 149 ribu/mm3. Berdasarkan pada hasil analisis menggunakan uji anova bahwa aktivitas ekstrak partisi air memberikan kenaikan jumlah trombosit yang signifikan dan berbeda nyata terhadap kontrol negatif. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daun ubi jalar putih dengan ekstrak partisi air 100 mg/kg BB dapat meningkatkan trombosit.