Sebanyak 54 item atau buku ditemukan

Formulasi krim antijerawat ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) untuk menghambat dan membersihkan biofilm bakteri Propionibacterium acnes

No. 450 Biofilm merupakan kumpulan sel mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan ditutupi oleh matriks berbahan polisakarida yang dikeluarkan oleh bakteri. Propionibacterium acnes merupakan mikroorganisme patogen yang dapat membentuk biofilm sehingga menimbulkan jerawat. Terbentuknya biofilm menyebabkan bakteri semakin sulit diberantas. Ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L) berpotensi sebagai antibakteri P. acnes namun belum banyak data mengenai kegunaannya sebagai antibiofilm. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menguji ekstrak dan sediaan krim ekstrak etanol daun jambu biji untuk menghambat dan membersihkan biofilm P. acnes secara in vitro. Ekstrak etanol daun jambu biji diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Uji antibiofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu biji dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 69,439%, untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1 % sebesar 80,436% dengan waktu kontak 5 menit. Dan pada sediaan krim dapat menghambat pada konsentrasi 0,1% sebesar 58,328% dan untuk pembersihan pada konsentrasi 0,1% sebesar 91,782% dengan waktu kontak 5 menit.

aktivitas antidiabetes kombinasi ekstrak daun simpur (Dillenia indica) dan daun sirih merah (piper crocatum) secara in vivo

No. 432 Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Kanker payudara memiliki kaitan erat dengan estrogen alfa. Senyawa genistein memiliki aktivitas sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses perkembangan sel kanker dan senyawa tersebut memiliki potensi sebagai inhibitor estrogen alfa. Tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh senyawa baru hasil modifikasi genistein sebagai kandidat senyawa potensial sebagai antikanker. Senyawa modifikasi genistein dilakukan analisis penambatan molekuler serta perhitungan konstanta inhibisi dan divisualisasikan menggunakan Discovery Visualizer dan Pymol. Potensi senyawa modifikasi dianalisis berdasarkan kriteria Lipinski’s Rule of Five untuk memprediksi aktivitas farmakologi atau biologi senyawa tersebut. Kemudian senyawa modifikasi diuji toksisitasnya menggunakan perangkat lunak Toxtree dan server online admetSAR. Dari penelitian ini diperoleh 5 kandidat senyawa potensial sebagai antikanker, yaitu Mod164, Mod88, Mod150, Mod148 dan Mod163. Nilai binding affinity dari senyawa modifikasi tersebut berturut-turut -9,3 kkal/mol, -9,2 kkal/mol, -9,1 kkal/mol, -8,9 kkal/mol dan -8,9 kkal/mol. Hasil analisis Lipinski menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi memenuhi kriteria Lipinski. Sedangkan hasil uji toksisitas menunjukan bahwa semua senyawa modifikasi tidak berpotensi bersifat karsinogenik dan mutagenik.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 396 Buah nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) merupakan salah satu buah yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Sejauh ini pemanfaatan buah nanas umumnya lebih kepada daging buahnya, sedangkan kulitnya hanya menjadi limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus sanguinis. Kulit nanas diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode maserasi. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi 30%, 40%, dan 50% dan 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk kategori kuat pada ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur didapatkan pada konsentrasi 50% dengan nilai rata-rata diameter zona bening berturut-turut sebesar 15,03 mm dan 12,51 mm. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak kulit nanas dan sediaan obat kumur ekstrak kulit nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap bakteri Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak kulit nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK ETANOL BONGGOL NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus sanguinis

No: 395 Bonggol nanas bersifat buangan dari buah nanas yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Bonggol nanas mengandung senyawa aktif flavonoid dan tanin yang mempunyai efek sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak bonggol nanas menjadi bentuk sediaan obat kumur serta menguji aktivitas antibakterinya. Ekstrak bonggol nanas didapatkan dari hasil ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri terdiri dari 3 kelompok perlakuan dengan masing-masing konsentrasi yaitu 20%, 30%, dan 40%, serta 2 kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif (chlorhexidine) dan kontrol negatif (akuades steril). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus sanguinis pada semua konsentrasi. Aktivitas antibakteri terbesar dan termasuk dalam kategori kuat diperoleh pada konsentrasi 40% dengan nilai rata-rata diameter zona bening sebesar 12,07 mm pada ekstrak bonggol nanas dan 10,96 mm pada sediaan obat kumur. Hasil Analisis data menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan menunjukkan bahwa ekstrak bonggol nanas dan sediaan obat kumur ekstrak bonggol nanas memiliki perbedaan yang bermakna terhadap Streptococcus sanguinis. Berdasarkan hasil zona bening yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antibakteri ekstrak bonggol nanas setelah dibuat sediaan obat kumur.

SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DAN UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

No: 378 Nanopartikel perak (NPAg) merupakan partikel logam perak yang memiliki ukuran 1-100 nm. NPAg memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki kemampuan yang baik sebagai antibakteri. Sintesis NPAg dari ekstrak tumbuhan (green synthesis) bersifat ramah lingkungan karena mampu mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis NPAg dengan memanfaatkan ekstrak kulit bawang merah (Allium cepa L.) sebagai agen pereduksi larutan AgNO3. Sintesis NPAg dilakukan dengan mencampur ekstrak kulit bawang merah dan larutan AgNO3 dengan variasi AgNO3 0,1mM(F1); 0,5mM(F2) dan 1,0mM(F3). Karakterisasi NPAg dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, Particle Size Analyzer (PSA) dan zeta potensial. Terbentuknya NPAg diamati dengan adanya perubahan warna larutan, dimana pada F2 dan F3 semula yang berwarna kekuningan menjadi warna cokelat kemerahan hal tersebut menandakan nanopartikel telah terbentuk. NPAg yang terbentuk diamati serapan maksimum menggunakan spektrofotometer UV-vis pada F2 dan F3 kisaran panjang gelombang berada pada 400-500nm yang menandakan nanopartikel telah terbentuk. Penentuan ukuran partikel menggunakan PSA pada F1, F2 dan F3 berturut-turut 390,7nm, 62,34nm dan 50,63nm. Nilai zeta potensial yang diperoleh pada F1, F2 dan F3 berturut-turut sebesar -29,3mV, -14,6mV dan -19,7mV. Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri S.aureus dari F3, hasil menunjukkan bahwa aktivitasnya lebih baik dibandingkan larutan AgNo3 1,0 mM yang tidak berukuran nanometer.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KEMANGI (Ocimum americanum L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes SECARA IN VITRO

No: 375 Jerawat merupakan suatu penyakit kulit yang disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran kelenjar minyak dan infeksi oleh bakteri Propionibacterium acnes. Ekstrak etanol 70% daun kemangi sudah diketahui berpotensi sebagai antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik sediaan gel dan aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak etanol 70% daun kemangi (Ocimum americanum L.) terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Pada penelitian ini ekstrak etanol 70% daun kemangi diformulasikan kedalam bentuk sediaan gel dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 45%, 55%, dan 55% kemudian diuji mutu fisiknya meliputi: uji organoleptik, pH, daya sebar, dan viskositas. Sediaan gel kemudian diuji aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi agar sumuran. Berdasarkan hasil penelitian gel ekstrak etanol 70% daun kemangi memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 5,20 mm (konsentrasi ekstrak 45%), 6,06 mm (konsentrasi ekstrak 50%) dan 7,13 mm (konsentrasi ekstrak 55%). Pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol 70% daun kemangi semakin tinggi diameter zona hambat.

UJI TOKSISITAS PARTISI EKSTRAK BONGGOL NANAS (Ananas comosus (L.) Merr) DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test TERHADAP LARVA UDANG (Artemia salina Leach)

No: 370 Bonggol Nanas dengan nama latin (Ananas comosus (L.) Merr) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai potensi sebagai obat antikanker, karena mengandung beberapa senyawa bahan alam seperti flavonoid. Senyawa flavonoid yang terkandung dalam bonggol nanas diduga berpotensi sebagai antikanker. Untuk mengetahui potensi antikanker bonggol nanas perlu dilakukan uji toksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas partisi ekstrak bonggol nanas dengan menggunakan pelarut air-etanol, etil asetat dan n-heksana. Proses ekstraksi bonggol nanas meliputi maserasi dan partisi. Penentuan uji toksisitas bonggol nanas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test menggunakan hewan uji Artemia salina Leach. Parameter yang diukur adalah nilai LC50 (Lethal concentration). Dengan deret pemberian konsentrasi sebesar 0, 10, 100, 500 dan 1000 ppm. Dari hasil penelitian didapat nilai LC50 fraksi airetanol sebesar 78,68 ppm, fraksi etil asetat sebesar 210,40 ppm dan fraksi nheksana sebesar 312,89 ppm. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi airetanol termasuk dalam kategori sangat toksik, fraksi etil asetat termasuk dalam kategori sangat toksik, danfraksi n-heksana termasuk dalam kategori toksik. Pemberian hasil partisi yakni fraksi air-etanol, etil asetat dan n-heksana bonggol nanas pada penelitian ini menunjukkan adanya potensi toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Lecah.

PEMBUATAN DAN ANALISIS KARAKTERISTIK CANGKANG KAPSUL KERAS DARI GELATIN HASIL PENGOLAHAN LIMBAH TULANG IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

No: 367 Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Gelatin merupakan suatu zat yang diperoleh dari hidrolisa parsial dari kulit atau tulang hewan. Sumber gelatin yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembentuk kapsul cangkang keras diantaranya tulang atau kulit dari sapi, babi, ikan. Ikan lele dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengevaluasi karakteristik kapsul cangkang keras dari gelatin yang dibuat dari gelatin tulang ikan lele dumbo (Clarias garepinus). Proses pembuatan gelatin dilakukan dengan menggunakan cara asam. Hasil pengujian gelatin menunjukan nilai pH gelatin 4,85, kadar air 13,5 %, viskositas 180-190 Cps, kadar abu 3,2% dan kekuatan gel 150 g/cm2. Gelatin yang dihasilkan kemudian digunakan untuk pembuatan cangkang kapsul keras yang dibedakan menjadi 2 formula dengan memvariasikan jumlah gelatin yang digunakan (Formula I = 25 g dan formula II = 35 g gelatin). Evaluasi terhadap karakteristik cangkang kapsul yang meliputi dimensi cangkang kapsul, pengukuran volume cangkang kapsul, waktu hancur dalam air dan larutan asam, kadar air dan kerapuhan. Hasil pengujian karakteristik yang tidak memenuhi persyaratan pada formula I adalah penetapan kadar air dan kerapuhan, sedangkan pada formula II hanya pada penetapan kadar air.

UJI EFEKTIVITAS SALEP KUNYIT (Curcuma longa L.) SEBAGAI ANTIINFLAMASI PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague-Dawley

No: 360 Curcuma longa (L.) yang dikenal dengan nama kunyit adalah tanaman obat yang telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit di seluruh dunia, termasuk antiinflamasi. Menurut penelitian, gel ekstrak rimpang jahe merah 4% memiliki efek antiinflamasi lebih besar dibandingkan dengan gel ekstrak rimpang kunyit 4%. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian lanjutan yang bertujuan untuk menguji antiinflamasi dalam bentuk sediaan salep dari ekstrak rimpang kunyit dan natrium diklofenak sebagai kontrol positif serta melakukan uji fitokimia dari ekstrak rimpang kunyit. Serbuk kunyit dimaserasi selama 3x24 jam kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator hingga ekstrak pekat. Ekstrak rimpang kunyit memiliki kandungan senyawa kimia flavonoid. Ekstrak kunyit dibuat menjadi sediaan salep dengan konsentrasi 2%, 4%, 6% dan 8%. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 ekor tikus putih jantan yang dibagi dalam 6 kelompok. Kelompok pertama diberi basis salep, kelompok kedua diberi natrium diklofenak, kelompok ketiga konsentrasi 2%, kelompok keempat 4%, kelompok kelima 6% dan kelompok keenam 8%. Sebelum diberi perlakuan, kaki tikus putih jantan diukur volume awalnya. Disuntikkan karagenin 1% secara subplantar sampai terbentuk edema dan diukur volume edema kaki tikus putih jantan. Salep dioleskan pada telapak kaki tikus putih jantan setiap hari selama 2 minggu dan diukur penurunan edema pada kaki tikus putih jantan. Hasil pengukuran lalu ditabulasikan. Analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji Duncan. Hasil uji efektivitas salep kunyit pada kaki tikus putih jantan bengkak menunjukkan hasil yang efektif sebagai antiinflamasi dan memberikan pengaruh yang sama terhadap volume edema kaki tikus putih jantan pada konsentrasi 8% dan kontrol positif.

FORMULASI DAN STABILITAS SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN EKSTRAK ETANOL DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides)

No: 359 Antiseptik merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikrorganisme pada permukaan kulit dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Banyak tanaman herbal yang digunakan sebagai antiseptik salah satunya yang berpotensi sebagai antiseptik adalah daun sintrong karena mengandung senyawa kimia saponin, flavonoid dan tanin. Tujuan penelitian ini adalah membuat formulasi sabun cuci tangan ekstrak daun sintrong dan diuji stabilitasnya. Penetapan kadar total fenol dengan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dan asam galat sebagai standar. Kandungan kadar total fenol pada sediaan sabun cuci tangan ditentukan dengan menggunakan alat spektrofotometer dan untuk menentukan umur simpan menggunakan metode Arrhenius. Penurunaan kadar fenol dalam sediaan sabun cuci tangan mencapai 50% dari kadar awal sebesar 57,89 ppm. Umur simpan yang didapat pada suhu 28ºC adalah 2 minggu.