Sebanyak 47 item atau buku ditemukan

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI Staphylococcus YANG MENGHASILKAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK DALAM KULIT DAGU PRIA BERJANGGUT

No: 384 Berjanggut merupakan sunah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang bermanfaat bagi kesehatan kulit muka karena terlindung dari sinar matahari, debu, infeksi dan melembabkan kulit. Banyak spesies bakteri ditemukan pada kulit dagu berjanggut yang hidup berkompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus penghasil zat antibiotik yang tumbuh pada kulit dagu berjanggut. Sampel bakteri diambil dengan cotton bud dari kulit dagu berjanggut 20 orang pria di daerah Bogor. Bakteri Staphylococcus kemudian diisolasi dan diidentifikasi, diinokulasikan dan diuji daya hambatnya pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian menyimpulkan adanya bakteri Staphylococcus epidermidis pada kulit dagu janggut pria yang dilihat secara mikroskopik berbentuk kokus, berkelompok tidak teratur, dan dinding sel bakteri berwarna ungu. Dilihat secara makroskopik pigmen bakteri berwarna putih pada media Nutrient Agar, tidak memberikan perubahan warna pada media Mannitol Salt Agar (MSA) dan mampu menghasilkan aktivitas antibiotik, dari 20 sampel yang diambil pada minggu pertama hanya kode sampel J1 dan J9 yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik dengan diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,261 cm dan 0,210 cm, pada pengambilan sampel minggu kedua yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel JI dan J9 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,268 cm dan 0,206 cm, pada pengambilan sampel minggu ketiga yang mampu menghasilkan aktivitas antibiotik yaitu kode sampel J3, J5 dan J7 dengan masing-masing diameter zona hambat rata-rata yaitu 0,240 cm, 0,211 cm dan 0,199 cm.

UJI AKTIVITAS DAYA INHIBISI EKSTRAK n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR DARI BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 364 Enzim α-glukosidase di dalam sistem pencernaan berperan sebagai pengurai karbohidrat menjadi glukosa. Inhibisi aktivitas enzim ini dapat mengurangi kadar glukosa dalam darah yang bermanfaat bagi penderita diabetes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya inhibisi ekstrak n-Heksan, etil asetat dan air dari biji alpukat (Persea americana Mill) terhadap enzim α-glukosidase. Ekstrak kental biji alpukat dengan pelarut n-Heksan, etil asetat dan air diperoleh dengan metode remaserasi serbuk simplisia biji alpukat yang dikeringkan dengan rotary evaporator. Uji inhibisi ekstrak biji alpukat terhadap enzim α-glukosidase dilakukan secara in vitro pada masing-masing ekstrak dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2%. Hasil uji fitokimia pada ketiga ekstrak biji alpukat menunjukkan positif mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan tanin. Ekstrak n-Heksan pada konsentrasi 1%, 1,5%, dan 2% mempunyai daya inhibisi 100%, 94%, 97% yang lebih tinggi dari pada daya inhibisi ekstrak etil asetat 95%, 94%, 96% dan ekstrak air 90%, 92%, 94%. Hasil uji two way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan pengaruh konsentrasi masing-masing ekstrak terhadap daya inhibisi enzim αglukosidase dan pada uji Pos Hoct Test Tukey konsentrasi ekstrak 1,5% dan 2% memberikan pengaruh inhibisi yang sama terhadap enzim α-glukosidase tetapi berbeda pengaruh pada konsentrasi 1%.

FORMULASI GRANUL INSTAN EKSTRAK DAUN PARE (Momordica charantia.L) DENGAN KOMBINASI EKSTRAK CABE JAWA (Piper retrofractum.Vahl) SECARA GRANULASI BASAH

No: 337 Demam berdarah dengue merupakan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi demam berdarah dengue mengakibatkan trombositopenia dan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan pembuluh darah dan kebocoran plasma yang akan mengakibatkan kematian. Salah satu tanaman alternatif pengendalian infeksi demam berdarah dengue ialah daun pare (Momordica charantia. L.) dengan kandungan senyawa flavonoidnya dapat meningkatkan jumlah trombosit. Penelitian ini bertujuan memperoleh formulasi ekstrak daun pare yang dikombinasikan dengan ekstrak cabe jawa dalam bentuk sediaan granulasi instan yang memenuhi persyaratan sifat fisik dan hedonik. Pada penelitian ini, pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dipekatkan dengan rotary evaporator kemudian dikentalkan menggunakan oven pada suhu 50ºC. Pembuatan formula granul instan dilakukan dengan menggunakan metode granulasi basah. Variasi formula dibuat dengan membedakan konsentrasi cabe jawa yaitu Formula I 8%, Formula II 6%, Formula III 4%. Berdasarkan hasil penelitian, formulasi granul instan ekstrak daun pare pada evaluasi uji sudut istirahat, uji ukuran partikel, uji sifat alir, uji kecepatan larut, uji kadar air, uji organoleptis, uji hedonik semuanya memenuhi persyaratan sebagai granul instan. Formula yang paling dapat diterima oleh konsumen adalah Formula I dengan kandungan ektstrak cabe jawa 8% dengan nilai 2,8. Berdasarkan Analisis uji Nonparametric Test dalam ketiga formula tersebut tidak terlihat adanya perbedaan yang signifikan, ini dapat dilihat dari sig yang lebih besar dari α 0,05.

EFEKTIVITAS PEMBERIAN GEL FRAKSI ETIL ASETAT EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN GALUR Swiss Webster

No: 323 Luka merupakan lepasnya integritas epitel kulit diikuti oleh gangguan struktur dari anatomi dan fungsinya.Masyarakat banyak menggunakan daun kelor sebagai obat-obatan salah satunya untuk obat luka.Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan gel dari daun kelor, mengetahui efektivitas fraksi etil asetat daun kelor dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit putih dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. 500 gram daun kelor diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan 125,81 gram ekstrak etanol kental. Selanjutnya, ekstrak difraksinasi menggunakan air dan etil asetat, kemudian fraksi etil asetat dipekatkan dan menghasilkan 5,57 gram fraksi pekat. Selanjutnya, fraksi diuji fitokimia dengan hasil fraksi etil asetat mengandung senyawa, flavonoid, tanin, dan saponin. Fraksi etil asetat diuji dengan dibuat sediaan gel dengan konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15% dengan menggunakan kontrol positif gel merk A, kontrol negatif yang dibiarkan sembuh alami, serta blanko basis gel CMC-Na. Masing-masing perlakuan diuji menggunakan mencit putih jantan Swiss Webster yang telah diberi luka sayat sepanjang 1 cm. Hasil uji menunjukan sediaan gel fraksi etil asetat daun kelor dengan konsentrasi 5% mampu menyembuhkan luka selama 7 hari, gel dengan konsentrasi 10% menyembuhkan luka selama 6 hari, dan gel konsentrasi 15% mampu menyembuhkan luka yang paling cepat yaitu selama 5 hari.

PENGARUH PEMBERIAN DEFERIPRONE TERHADAP PENURUNAN KADAR FERRITIN SERUM PADA PASIEN THALASSEMIA DI POLIKLINIK THALASSEMIA RS PMI BOGOR PERIODE JANUARI-DESEMBER 2015

No: 311 Pemeriksaan kadar ferritin serum digunakan untuk menilai respons terapi kelasi besi pada penyandang thalassemia mayor. Kelator besi yang digunakan adalah deferiprone (DFP). Penimbunan besi terus berlangsung meskipun telah mendapat kelator besi, oleh sebab itu diperlukan pemberian kelator besi yang efektif dan kontinyu. Tujuan penelian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian Deferipronme dengan penurunan kadar ferritin serum penyandang thalassemia mayor setelah pemberian deferiprone. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian dianalisa secara deskriftif terhadap pasien thalassemia mayor periode Januari- Desember 2015 di Poliklinik Thalassemia RS PMI Bogor. Analisa stastistik menggunakan uji Friedman. Setelah data diuji dengan uji Normalitas untuk melihat perbedaan kadar ferritin serum setelah pemberian deferiprone selama 6 bulan dan 12 bulan. Dari hasil penelitian 89 pasien thalassemia mayor memenuhi kriteria penelitian. Berdasarkan usia yang terbanyak pada usia 12-16 tahun sebanyak 40,40%, dan jenis kelamin yang terbanyak pada wanita sebesar 57,30%, sedangkan pada pemberian Deferiprone terhadap penurunan kadar ferritin serum terjadi pada usia 6-11 tahun sebesar 30,21%. Pada penelitan menggunakan SPSS versi 16 dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara pemberian Deferiprone dengan kadar ferritin serum dimana nilai sig <α, 0,000 <0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar ferritin sebelum mengkomsumsi Deferiprone dengan kadar ferritin setelah mengkomsumsi deferiprone.

UJI EFEKTIVITAS ANTI DIARE FRAKSI ETIL ASETAT, n-HEKSANA, DAN AIR DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP MENCIT JANTAN

No: 277 Tumbuhan salam merupakan salah satu tumbuhan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Bumbu dapur yang banyak digunakan sebagai penyedap masakan ini ternyata juga berfungsi sebagai obat tradisional, karena kandungan kimia didalamnya. Salam mengandung senyawa kimia antara lain minyak atsiri, tanin, dan flavonoid. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efek antidiare dari fraksi etilasetat, n-heksana, dan air dari ekstrak etanol dari daun salam (Syzygium polyanthum) yang diuji pada mencit jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan putih yang dibagi dalam 8 kelompok, masing-masing kelompok terdapat 3 mencit. Hewan uji dibuat diare dengan oleum ricini, kemudian masing-masing kelompok diberikan suspensi dari fraksi etilasetat dosis 0,5 ml dan 1ml, n-heksana 0,5 ml dan 1 ml, air 0,5 ml dan 1 ml, kontrol positif dan kontrol negatif. Uji yang dilakukan untuk mengetahui waktu lama terjadinya diare dan frekuensi diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air dosis 1 ml adalah yang paling cepat menghentikan diare pada mencit jantan dengan waktu rata-rata 320 menit (5,3 jam) dan dengan jumlah ratarata frekuensi diare sebanyak 3,6 kali. Kontrol negatif memiliki waktu rata-rata yang paling lama dalam menghentikan diare yaitu 590 menit (9,8 jam) dengan jumlah rata-rata frekuensi diare sebanyak 14 kali. Kelompok VI (fraksi air dosis 1 ml) memiliki efek yang hampir sama dengan kontrol positif loperamide yang digunakan dan adanya perbedaan pada setiap kelompok

UJI TOKSISITAS SARI DAUN JERUK BALI, NIPIS, DAN PURUT DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

No: 275 Pemanfaatan daun tanaman jeruk bali (Citrus maxima), jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan jeruk purut (Citrus hystrix) telah dilakukan berdasarkan pengalaman secara turun-temurun sebagai bahan masakan sampai pengobatan. Daya toksisitas dari daun jeruk bali, daun jeruk nipis dan daun jeruk purutdalam sediaan sari daun belum pernah dibandingkan sebelumnya. Uji toksisitas dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkantoksisitas sari daun jeruk terhadap larva udang Artemia salina Leach. Sari daun jeruk bali, nipis dan purut mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan terpenoid. Penelitian ini menggunakan 540 ekor larva Artemia salina Leachyang dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok kontrol dan 3 (tiga) spesies sari daun jeruk, kelompok perlakuan terdiri dari konsentrasi 5 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm. Masing-masing terdiri dari 10 ekor larva Artemia salina Leach dengan replikasi 3 (tiga) kali untuk tiap spesies sari daun.Data kematian Artemia salina Leach dianalisis dengan menggunakan analisis probit untuk mendapatkan nilai LC50.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga sari daun jeruk memiliki potensi toksik terhadap Artemia salina menurut metode BSLT karena nilai LC50 yang didapatkan <1000 ppm. Nilai LC50spesiesCitrus maxima sebesar 624,12 ppm berpotensi sebagai pestisida, Citrus aurantifolia sebesar 183,19 ppm,dan Citrus hystrix sebesar 118,01 ppm yang berpotensi sebagai antibakteri.

EFEKTIVITAS GEL EKSTRAK DAUN TAPAK DARA (Catharantus roseus (L.) G. Don) TERHADAP LAMA PERIODE PROSES PENYEMBUHAN LUKA STADIUM I TIKUS PUTIH JANTAN GALUR Sprague Dawley

No: 263 Pada kehidupan sehari-hari sering terjadi kecelakaan kecil yang berkaitan dengan kulit. Sebagai organ tubuh yang letaknya paling luar dan berfungsi sebagai barrier tubuh, kulit mudah mengalami luka. Luka digambarkan secara sederhana sebagai gangguan seluler dan anatomis dari suatu jaringan. Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan luka salah satunya adalah tanaman tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don). Berdasarkan hasil uji fitokimia daun tapak dara mengandung alkaloid, flavonoid saponin dan tanin. Kandungan tersebut diduga berperan dalam penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan mengetahui dosis yang paling efektif dari gel ekstrak daun tapak dara dalam mempercepat periode epitelisasi proses penyembuhan luka stadium I. Sebanyak 0,5 kg serbuk daun tapak dara dimaserasi dengan pelarut etanol 70% sebanyak 5 L. Filtrat diuapkan pelarutnya menggunakan vacuum dry sampai diperoleh ekstrak kental sebagai bahan aktif gel. Pengujian penyembuhan luka dilakukan pada tikus dengan mengukur panjang luka pada punggung tikus yang dilukai bagian epidermisnya. Hewan uji yang digunakan yaitu 25 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Kelompok dosis I diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 5%, kelompok dosis II diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 10%, kelompok dosis III diberi gel ekstrak daun tapak dara konsentrasi 15%, kelompok kontrol positif diberi Bioplacenton gel dan kelompok kontrol negatif diberi dasar gel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sediaan gel ekstrak daun tapak dara dapat mempercepat periode epitelisasi dengan konsentrasi yang paling efektif gel ekstrak daun tapak dara 15% selama pengobatan 8 hari.

VALIDASI METODE ANALISIS HASIL UJI DISOLUSI DARI KAPSUL LINKOMISIN HIDROKLORIDA DENGAN MODIFIKASI METODE ANALISIS DARI USP (UNITED STATES PHARMACOPEIA)

No: 260 Linkomisin Hidroklorida merupakan antibiotik golongan linkosamida yang bekerja pada spektrum sempit. Antibiotik ini digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri. Pengujian disolusi pada kapsul sangat penting karena menggambarkan efek obat secara in vitro. Untuk memastikan bahwa prosedur analisis yang digunakan valid dan sesuai peruntukannya, maka dilakukan validasi metode analisis. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi metode analisis hasil uji disolusi dari Linkomisin Hidroklorida kapsul dengan modifikasi metode analisis dari USP (United States Pharmacopeia). Penelitian ini menggunakan alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan elusi isokratik dan kolom Zorbax RX C-8, 4,6 x 150mm pada panjang gelombang 214nm, dengan fase gerak campuran metanol, air, asam fosfat (85%) dan N,N dimethyloctylamin (150:840:5:2) dan kecepatan alir 2,0 mL/menit. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini spesifik untuk Linkomisin Hidroklorida kapsul, ditunjukkan dengan tidak adanya respon pengganggu pada waktu retensi yang sama dengan Linkomisin Hidroklorida baik pada placebo, fase gerak, maupun kapsul kosong. Uji linearitas pada metode ini menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.9999 pada rentang konsentrasi 30-120% dari konsentrasi Linkomisin pada dosis. Akurasi dilihat dari % perolehan kembali pada konsentrasi 30; 80; 120% didapatkan 98,39-102,99%. Uji ripitabilitas dan presisi antara didapatkan nilai simpangan baku relatif pada konsentrasi 30;80;120% yaitu sebesar 0,22; 0,56; 0,41% dan perbedaan nilai rerata absolut 0,0026; 0,3558; 0,0771%. Hasil tersebut menunjukkan metode ini memiliki selektifitas, ketepatan dan ketelitian yang baik.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL DAN AIR DAUN WUNGU (Graptophyllum pictum (L.) Griff)

No: 251 Daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) adalah tanaman yang memiliki manfaat kesehatan yang baik. Metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman tersebut antara lain adalah flavonoid. Fungsi flavonoid dalam tubuh manusia antara lain sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan air daun wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) serta kandungan fitokimianya. Penelitian ini dilakukan dengan ekstraksi daun wungu muda secara maserasi menggunakan pelarut etanol dan air. Penapisan fitokimia yang dilakukan meliputi uji saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil). Hasil pengujian penapisan fitokimia daun wungu menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin, tanin. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun wungu menghasilkan aktivitas antioksidan berskala lemah dengan nilai IC50 sebesar 1780,52 ppm, sedangkan ekstrak air daun wungu tidak menunjukkan aktivitas antioksidan. Namun aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol 70% daun wungu muda tersebut jauh lebih rendah dari aktivitas antioksidan vitamin C yang memiliki IC50 sebesar 4,52 ppm.