Sebanyak 100 item atau buku ditemukan

IDENTIFIKASI SENYAWA LUTEIN DARI KEMBANG KOL (Brassica oleracea L.cv.groups cauliflower) DAN UJI POTENSI ANTOKSIDAN DENGAN METODE ABTS

No: 142 Antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh, salah satu tanaman yang memiliki antioksidan adalah kembang kol (Brassica Oleracea L.cv.groups cauliflower). Kembang kol merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki kandungan karotenoid yang bersifat antioksidan, Salah satu jenis karotenoid yang penting adalah lutein. Lutein memiliki aktivitas antioksidan yang dapat melindungi sel-sel terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Akumulasi radikal bebas dapat disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, makanan yang banyak mengandung lemak, radiasi sinar ultraviolet dan obat-obatan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi dan mengidentifikasi senyawa lutein dari kembang kol dan menentukan potensi antioksidan yang diuji aktivitasnya menggunakan metode ABTS (Asam _ 2,2’-Azino-bis-3-etilbenzatiazolin-6- sulfonat), yang diukur dengan spektofotometer UV-Vis. Nilai 1Cso kembang kol yang didapat sebesar 47,798y2/ml dan untuk vitamin C sebagai kontrol positif sebesar 17,280ug/ml. Hasil analisis kualitatif terhadap ekstrak lutein dengan KLT diperoleh nilai Rf sebesar 0,68. Kemudian dilakukan jidentifikasi lutein menggunakan KCKT yang menunjukan terdapatnya senyawa lutein pada ekstrak kembang kol pada waktu retensi 1,3 menit sesuai dengan baku pembanding lutein. Uji toksisitas metode BSLT menggunakan larva udang artemia salina pengujian terhadap ekstrak kembang kol menunjukkan harga LCso sebesar 1056,208 ug/mL hasil ini bersifat tidak toksik terhadap Artemia salina Leach sehingga tidak memiliki potensi toksisitas menurut metode BSLT.

GAMBARAN DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN RAWAT INAP UMUM DENGAN HIPERTENSI PRIMER DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 OKTOBER 2011 SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2012

No: 140 Hipertensi Primer adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya yang terdiri dari faktor genetik dan lingkungan. Dalam pengobatan hipertensi, pasien selalu mendapatkan pengobatan dalam waktu lama (Jong life) dan jumlah obat yang banyak (polifarmas!), sehingga kemungkinan terjadinya masalah yang terkait dengan obat (Drug Related Problems/DRPs) sangat besar, maka tidak jarang pasien hipertensi usia lanjut melakukan rawat inap. Telah dilakukan penelitian pada pasien Hipertensi Primer yang dirawat inap di Rumah Sakit Salak selama 1 Oktober 2011 sampai dengan 30 September 2012 dengan teknik pengumpulan data retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diteliti sebanyak 30 pasien. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa pasien Hipertensi Primer lebih banyak laki — laki (53,33%) daripada perempuan (46,67%). Golongan antihipertensi yang paling banyak diterima adalah golongan ACE inhibitor (80%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada pasien hipertensi primer adalah dispepsia sebanyak 30%. Obat lain yang paling banyak digunakan untuk penyakit penyerta adalah golongan antasida antiulserasi sebanyak 96,64%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat bermakna klinis (34,57%), interaksi obat tidak bermakna klinis (65,43), terapi tanpa indikasi (3,85%), indikasi tanpa terapi (16,92%), overdosis (0,77%), dosis subterapetik (7,69%), pemilihan obat yang kurang tepat (8,46%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (0%) dan kegagalan menerima obat (0%).

PENGKAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ANGKAK DENGAN METODE DPPH MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

No: 135 Angkak adalah hasil fermentasi beras putih dengan kapang Monascus purpureus. Angkak dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol darah, demam berdarah, juga dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak angkak dengan menggunakan pelarut etanol 75%, diklorometan dan n-heksan. Ekstraksi angkak dilakukan dengan cara refluks menggunakan pelarut etanol 75%. Masing — masing ekstrak dipartisi dengan diklorometan dan n-heksan. Uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 75%, diklorometana dan n-heksan angkak dengan metode DPPH pengukuran menggunakan Spektrofotometri UV — VIS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol 75%, diklorometan dan n-heksan angkak memiliki aktivitas antioksidan. Nilai ICso yang terbaik terdapat pada ekstrak etanol 75% batch 2 yaitu sebesar 91,2197 ppm. Hasil pengukuran ekstrak angkak dengan KCKT dari ketiga sampel menunjukkan kadar statin tertinggi adalah pada ekstrak etanol. Ekstrak etanol menggandung senyawa atorvastatin sebesar 8,03 6% dan senyawa simvastatin sebesar 0,004%.

ANALISIS METAMPIRON PADA JAMU ANTIREMATIK YANG BEREDAR DI BOGOR TENGAH

No: 121 Jamu merupakan obat tradisional yang banyak diminati oleh masyarakat karena selain khasiatnya juga mempunyai efek samping yang relatif kecil. Salah satu jamu tersebut adalah jamu antirematik. Berdasarkan data BPOM dari tahun 2001 hingga 2010 banyak ditemukan jamu antirematik yang beredar dimasyarakat mengandung bahan kimia obat analgetik dan kortikosteroid. Hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.41.1384 tahun 2005 yang menyebutkan bahwa obat tradisional dilarang menggunakan bahan kimia sintetis berkhasiat obat. Metampiron merupakan salah satu bahan kimia obat golongan analgetik yang sering ditambahkan pada jamu antirematik. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidak metampiron yang ditambahkan pada jamu antirematik yang sekarang beredar di masyarakat. Identifikasi metampiron pada sampel jamu antirematik meliputi analisis kualitatif : uji warna, uji pembentukan gas asam sulfida dan uji secara mikroskopik. Analisis kuantitatif sampel jamu yang teridentifikasi mengandung metampiron dilakukan dengan menggunakan metode KCKT pada panjang gelombang 258 nm. Dari 11 sampel yang telah diuji diperoleh tiga sampel jamu antirematik yang mengandung metampiron. Sampel jamu kode 1 mengandung 0,013! mg/bungkus, kode 2 mengandung 0,0302 mg/bungkus dan kode 7 mengandung 0,0009 mg/bungkus. Meskipun konsentrasi metampiron pada sampel jamu tidak terlalu tinggi tetapi hal ini tidak sesuai dengan Keputusan Kepala BPOM.

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK AIR ALBUMIN IKAN GABUS (Chana striata) TERHADAP KESEMBUHAN LUKA DAN KADAR ALBUMIN DARAH PADA TIKUS PUTIH

No: 115 Luka paskaoperasi dan kekurangan albumin hanya dapat disembuhkan dengan TSA hemes serum albumin secara intravena (i.v). Diketahui harga serum albumin sangatlah mahal sehingga menjadi masalah bagi masyarakat menengan kebawah. Ikan gabus merupakan salah satu pengganti serum albumin karna diketahut memiliki kandungan albumin yang tinggi. Namun secara experimental belom memberikan bukti. Penelitian ‘ni bertujuan untuk mengetahui efektivitas . pemberian secara peroral ekstrak air ikan gabus terhadap penyembuhan luka dan | meningkatkan kadar albumin darah pada tikus yang dilukai. Penelitian ini didahului dengan pembuatan simplisia ikan gabus (Channa striata), kemudian diekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut akuades dan kemudian dilakukan penyimpanan ekstraksi albumin pada suhu 4°C, selanjutnya diberikan pada 25 tikus jantan, dengan umur 2-3 bulan, berat badan 180-200 gram. semua tikus dilukai sehingga tampak sakit dan kekurangan albumin. 25 ekor tikus dibagi dalam 5 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. kemudian dilakukan pemberian ekstrak air ikan gabus dengan frekuensi yang berbeda secara peroral. Pengamatan dan pengukuran kadar albumin darah dilakukan pada pra dan pasca perlakuan, hasil penelitian kadar albumin darah dianalisis dengan alat pengukur albumin darah Auto analyzer mindray 400. Data dianalisis dengan metode anova untuk membandingkan kelompok I, IL, I, IV, V- Hasil penelitian menunjukan pemberian ekstrak air ikan gabus pada proses kesembuhan luka dan peningkatan kadar albumin dengan dosis 5mi 1 x sehari sudah cukup efektif.

UJI DAYA HAMBAT SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averhoa bilimbi L.) TERHADAP BAKTERI

No: 103 Pengobatan modern memiki efek samping yang merugikan dibanding pengobatan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami. di Indonesia sendiri kita mengenal Jamu sebagai pengobatan tradisional yang asli berasal dari Indonesia. Pengobatan tradisional berupa jamu masih memiliki peminat di negeri ini. Salah satu pengobatan tradisional adalah dengan menggunakan Belimbing wuluh, Belimbing wuluh yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai bumbu dapur ternyata bisa dijadikan obat tradisional. Untuk mengetahui daya anti bakteri dari sari buah belimbing wuluh terhadap pertumbuhan _ bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis Sari buah belimbing wuluh di uji dengan variasi waktu pemekatan. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus. Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis dilakukan secara difusi, aktivitas antibakteri ditentukan dengan cara mengukur zona hambatnya. Sari buah belimbing wuluh mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa & Bacillus subtilis, 3, paling tinggi memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dengan diameter rata-rata zona hambat 1,575cm dan paling rendah aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata zona hambat 1,283cm

ANALISIS DEKSAMETASON PADA JAMU PENAMBAH NAFSU MAKAN DI DAERAH BOGOR SELATAN

No: 102 Beberapa konsumen mengkonsumsi jamu dengan alasan karena terbuat dari bahan-bahan alami serta efek samping yang ditimbulkan tidak berbahaya. Berdasarkan data BPOM pada tahun 2010 ditemukan puluhan produk jamu di pasaran mengandung bahan kimia obat. Deksametason merupakan salah satu bahan kimia obat yang sering ditambahkan pada jamu penambah nafsu makan. Efek terapi dari deksametason sebagal antiinflamasi dengan efek samping yang ditimbulkan yaitu, menambah nafsu makan, wajah bulat seperti bulan, | osteoporosis dan lainnya. Penelitian ‘ni. bertujuan untuk menganalisis deksametason pada jamu penambah nafsu makan yang beredar di daerah Bogor Selatan. Sampel jamu penambah nafsu makan yang diuji sebanyak 10 sampel. Analisis kualitatif yang dilakukan meliputi uji pendahuluan menggunakan pereaksi asam sulfat pekat, uji Lieberman Burchard (LB) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Untuk mengetahui kadar deksametason pada jamu penambah nafsu makan dilakukan secara kuantitatif dengan metode Spektrofotometri UV-VIS. Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 10 merek jamu penambah nafsu makan di daerah Bogor Selatan, satu sampel jamu mengandung deksametason dengan kadar 0,8072 mg/g atau 6,091 1 mg/bungkus.