Sebanyak 100 item atau buku ditemukan

INTERAKSI OBAT GAGAAL JANTUNG PADA PASIEN GERIATRI RAWAT INAP DI RS BETHA MEDIKA SUKABUMI

No: 216 Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat lain, obat herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya. Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeksterapi yang rendah).Kejadian interaksi dapat terjadi pada pasien yang menggunakan dua atau lebih obat.Penggunaan obat yang banyak, sering terjadi pada pasien geriatri yang mengidap penyakit degeneratifse pertihipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit kardiovaskular. Penelitian dilakukan secara retrosfektif menggunakan data rekam medik (Medical Record/MR) pasien geriatri penderita gagal jantung yang dirawat inap di Rumah Sakit Betha Medika Sukabumi periode bulan Maret-April 2016. Diperoleh 70 pasien, 46% laki-lakidan 54% perempuan.Penyakit penyerta tertinggi, dari 10 penyakit penyerta dengan pasien terbanyak adalah Penyakit Jantung Hipertensi (PJH).Interaksi obat terjadi antara :spironolakton, digoksin, amlodipin, bisoprolol dengan obat-obat lain golongan obat gagal jantung maupun obat penyakit penyerta dengan jumlah kejadian interaksi berbeda-beda.

PENGARUH PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINDAKAN SWAMEDIKASI PADA BALITA PENDERITA PENYAKIT DIARE AKUT DI DESA PAMAGERSARI KECAMATAN JASINGA BOGOR

No: 209 Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Survei pada kelompok bayi (usia 29 hari – 11 bulan) penyakit diare sebesar 31,4% sedangkan untuk balita sebesar 25,2% (Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan Kemenkes, 2011). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode analitik deskriptif. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pengetahuan anggota keluarga serta pelayanan informasi obat (PIO) dalam pemberian terapi pengobatan pasien diare akut secara swamedikasi pada balita sebagai upaya menerapkan Pharmaceutical care. Data diperoleh berdasarkan hasil wawancara dan pengisian quesioner oleh responden. Subjek penelitian ini yaitu 50 anggota keluarga (ibu) balita yang mengalami diare akut. Selanjutnya data dianalisa dengan pengujian uji korelasi, tingkat signifikansi dengan uji-t. Terdapat pengaruh yang berarti (pv 0,00 < 0,05) antara pengaruh pelayanan informasi obat terhadap peningkatan pengetahuan angota keluarga tentang penanganan diare akut. Terdapat pengaruh yang berarti (pv 0,00 < 0,05) antara pengaruh pelayanan informasi obat terhadap peningkatan tindakan swamedikasi angota keluarga tentang penanganan diare akut.

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN GERIATRI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN PENYAKIT PENYERTA HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN

No: 208 Diabetes Melitus (DM) tipe 2 adalah penyakit metabolik kronis akibat tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Hipertensi adalah salah satu komplikasi makrovaskular yang biasa terjadi pada pasien DM. Terapi yang diberikan bisa berjumlah banyak sehingga memerlukan terapi yang lebih teliti. Ketidaktelitian akan menyebabkan timbulnya masalah-masalah terkait penggunaan obat (Drug Related Problems). Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan analisis deskriptif yang bersifat retrospektif pada data rekam medik. Penderita DM Tipe 2 dengan penyakit penyerta Hipertensi yang menjalani rawat jalan di RS BLUD Sekarwangi Sukabumi selama 1 Desember 2013 sampai dengan 30 Desember 2014 sebanyak 65 sampel. Data obat yang didapat kemudian dikaji secara teoritis untuk mengetahui terjadinya DRPs. Hasil pengumpulan dan pengolahan data menunjukkan bahwa penderita DM Tipe 2 lebih banyak wanita (57%) daripada pria (43%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa DRPs yang potensial terjadi yaitu interaksi obat (57,34%), terapi tanpa indikasi (13,76%), indikasi tanpa terapi (16,06%), overdosis (2,75%), dosis subterapetik (0%), pemilihan obat yang kurang tepat (1,84%), reaksi obat yang tidak dikehendaki (5,96%), kegagalan menerima obat (2,29%). Obat antidiabetes yang paling banyak diterima pasien yaitu metformin (84,62%), obat antihipertensi yang paling banyak diterima pasien yaitu captopril (66,15%).

UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK AIR ETANOL 70% DAN HEKSANA DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

No: 208 Alpukat (Persea Americana Mill) termasuk dalam famili tumbuhan Lauraceae, banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropics. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat, salah satunya sebagai antimikroba. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ekstrak methanol 96 % daun alpukat (Persea Americana Mill) memiliki efek menurunkan jumlah koloni bakteri Esherichia coli secara in vitro. Penelitian lainnya juga menyatakan bahwa terdapat pengaruh ekstrak etanol 96 % daun alpukat (Persea Americana Mill) terhadap Streptococcus pyogeneses. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antimikroba ekstak air, etanol 70 % dan heksana daun alpukat (Persea Americana Mill) dengan meserasi bertingkat oleh pelarut air, etanol 70 % dan heksana. Selanjutnya dilakukan uji fitokimia dan pengujian antimikroba terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus dengan metode cara cakram. Konsentrasi perlakukan dengan konsentrasi 20 %, 40% dan 60% (b/v) dan kelompok kontrol terdiri dari kloramfenikol 30 µg sebagai kontrol positif serta pelarut masing-masing ekstrak sebagai kontrol negatif. Hasil rendemen ekstrak air, etanol 70 % dan heksana berturut-turut sebesar 4,29%; 12,60% dan 4,00%. Hasil penapisan fitokimia pada ekstrak air mengandung flavonoid dan tanin. Ekstrak etanol 70% mengandung flavonoid, tanin dan saponin. Sedangkan ekstrak heksana mengandung flavonoid. Kontrol positif yaitu Kloramfenikol 30 µg terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus menghasilkan zona bening 36,33 mm dan 25 mm. ketiga ekstrak daun alpukat (Persea Americana Mill) dengan konsentrasi 20%, 40% dan 60% (b/v) tidak ditemukan zona hambat terhadap Escherichia coli dan Stahpylococcus aureus.

EVALUASI POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DENGAN DIAGNOSA DEMAM BERDARAH DENGUE DI INSTALASI RAWAT INAP RS DR H MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JULI - DESEMBER 2013

No: 184 DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, sehingga pemberian antibiotic dalam pengobatan DBD tidak diperlukan kecuali jika terdapat infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri dan apabila terjadi DSS (Dengue Syok Syndrome) karena kemungkinan infeksi sekunder dapat terjadi dengan adanya translokasi bakteri dari saluran cerna. Namun dalam beberapa kasus penanganan pasien DBD masih ditemukan pemberian Antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pravalensi pemeberian antibiotik pada penatalaksanaan DBD anak. Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif non analitik, dilakukan di RS DR H Marzoeki Mahdi Bogor. Responden yang diambil adalah pasien anak dengan diagnosis akhir DBD di RS DR H Marzoeki mahdi Bogor periode Juli-Desember 2013. Data penelitian merupakan data sekunder yaitu dari catatan rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotic pada penderita DBD anak masih cukup besar. Dari jumlah sampel 54 anak penderita DBD, 3 tiga pasien terkena DD, 41 pasien menderita DBD tanpa syok dan sebanyak 10 pasien menderita DSS. Pemberian antibiotik paling banyak adalah golongan sefalosporin yaitu sefriakson 17,40%, seftizoksim sebesar 4,34% dan sefotaksin sebesar 78,26% dengan lama pemberian berkisar 2 – 9 hari

ANALISA RASIONALITAS DOSIS ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN PASIEN ANAK PENDERITA ISPA RAWAT JALAN DI RS DR H MARZOEKI MAHDI BOGOR PERIODE JANUARI - DESEMBER 2013

No: 179 ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Berdasarkan tempat infeksinya ISPA terbagi menjadi infeksi saluran pernafasan bagian atas dan infeksi saluran nafas bagian bawah. Prevalensi ISPA di Indonesia sekitar 25,5%. Dampak yang ditimbulkan dari tingginya kejadian ISPA adalah konsumsi antibiotic. Rasionalitas penggunaan antibiotic pada pasien anak yang terdiagnosa ISPA perlu mendapatkan perhatian khusus terutama penggunaan antibiotic golongan Sefalosporin. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik golongan Sefalosporin pada pasien anak yang mengalami ISPA mencangkup ketepatan dosis, frekuensi, dan lama penggunaan sesuai dengan yang tercantum pada resep diinstalasi rawat jalan R. DR. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif, periode Januari-Desember 2013. Data yang diambil bersumber dari rekam medik dan resep. Sampel pada penelitian ini adalah pasien anak dengan diagnosa ISPA, yang menggunakan antibiotic golongan Sefalospirin. Diperoleh data pasien anak yang didiagnosa ISPA sebanyak 270 pasien, yang diberikan pengobatan dengan antibiotik golongan Sefalospirin sebanyak 14,81% (40 pasien). Berdasarkan jenis antibiotic yang diberikan, diperoleh data 67,5% (27 pasien) dari cefadroxil dan 32,5% (13 pasien) dari cefixime kapsul sebesar 12,5%. Ketepatan penggunaan antibiotik Selaslosporin meliputi kesesuaian dosis, frekuensi, dan lama penggunaan, diperoleh hasil dosis yang sesuai 2,5%, dosis berlebih 45%, dan dosis kurang 52%. Frekuensi pemberian obat yang sesuai 57,5% dan tidak sesuai 42,5%. Penggunaan antibiotik umumnya diberikan pada waktu kurang dari 5 hari, sebesar 50%, minimal 5 hari sebanyak 45% dan terapi jangka waktu 10 hari sebanyak 5%

PERBANDINGAN LAMA PENYEMBUHAN PASIEN TUBERKULOSIS (TB) YANG MENGGUNAKAN TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) KATEGORI 1 DENGAN PASIEN TERAPI OAT KATEGORI II DI RS DR H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 178 Tuberculosis merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacteria tuberculosis. Dalam penatalaksanaan TB dengan terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dapat menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatannya, seperti putus berobat (default) dan gagal. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui lama pengobatan pasien yang diberi terapi OAT kategori I (Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid dan Etambutol) dibandingkan dengan OAT kategori II pada pasien Tuberkulosis yang sudah sembuh berobat di RS DR H. Marzoeki Mahdi Bogor selama periode 1 Oktober 2009 sampai dengan 31 Desember 2013. Efektivitas pengobatan dapat diketahui dari lama terapi pasien TB. Data dikumpulkan dengan cara retrospektif kemudian dianalis secara deskriptif dan uji anova. Data yang diteliti sebanyak 41 sampel. Dari analisis data yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut pasien dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 58,54% dan pasien laki-laki 41,46%. Berdasarkan pekerjaan, sebagai ibu rumah tangga 29%, wiraswasta 14,63%, PNS 14,63%, pelajar 12,19%, mahasiswa 9,76%, buruh 7,32% dan tidak diketahui pekerjaannya 2,44%. Berdasarkan pendidikan terakhir, SMA 51,22%, SMP 19,51%, SD 19,51%, perguruan tinggi 4,88%, dan tidak bersekolah 4,88%. Pasien dengan terapi OAT kategori 1 73,17% dan OAT kategori II 26,83%. Perbandingan lama pengobatan pasien TB dengan terapi OAT kategori I tidak ber4beda nyata dengan lama pengobatan pasien TB dengan terapi OAT kategori II

PERBANDINGAN DURASI RAWAT PADA PENDERITA DIARE ANAK YANG MENGGUNAKAN TERAPI Zn DENGAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN TERAPI Zn YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR PERIODE 1 JANUARI 2012 SAMPAI DENGAN 31 DDESEMBER 2012

No: 171 Diare akut yang tidak ditangani denganh tepat dapat berakibat penderita jatuh pada keadaan diare kronik, kondisi ini menyebabkan terjadinya kerusakan mukosa usus. Seng merupakan mikronutrien yang mempunyai fungsi antara lain berperan penting dalam proses pertumbuhan dan diferensiasi sel, sintesis DNA serta menjaga stabilitas dinding sel. Tujuan penelitian membandingkan durasi perawatan pasien anak diare yang diberi sediaan seng dengan yang tidak diberi sediaan seng. Metodologi yang dipilih rancangan studi potong lintang (cross sectional). Penelitian dengan cara retrospektif dengan rancangan analisis deskriptif dan analisis Anova. Total pasien 927, pasien yang memenuhi kriteria inklusi 47 pasien, jeniskelmin laki-laki 36 orang (77%), jenis kelamin perempuan 1 orang (23%). Antibiotik yang digunakan meliputi golongan sefalosporin 61%, penisilin 3,60%, kotrimoksazol 35,40%. Yang menggunakan terapi Zn 12 orang (26%), dan yang tidak menggunakan terapi Zn 35 orang (74%). Rata-rata lama rawat 3,08 hari pada kelompok dengan menggunakan terapi Zn, rata-rata lama rawat yang terendah 2,86 hari pada kelompok tanpa menggunakan terapi Zn. Hasil uji Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan lama rawat untuk pasien diare anak yang menggunakan terapi Zn dengan yang tidak menggunakan terapi Zn

UJI EFIKASI INSULIN ORAL DENGAN BAHAN PENYALUT EKSOPOLISAKARIDA DARI Lactobacillus plantarum FU 0811 PADA PAPARAN pH ASAM DAN ENZIM PENCERNAAN

No: 146 Penelitian ini mengkaji kemampuan Eksopolisakarida (EPS) yang dapat melindungi insulin dari paparan pH asam dan enzim pankreatin. Pada paparan pH asam yang bervariasi 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; 6,5 dan Enzim pankreatin. Insulin yang dipakai Actrapid® Hm penfill® 100 1U/ml 3ml Biosintetic Human Insulin (Solution for Injection) yang diperoleh dari Kimia Farma, untuk enzim pankreatin dilarutkan pada buffer pH 6,5 sebagai kontrol. EPS dihasilkan dengan mengkultur bakteri L. plantarum FU 0811 di dalam medium dengan sumber karbon pati sagu yang dihidrolisis menggunakan larutan asam, EPS dipurifikasi menggunakan cellulose membrane, hasil pengujian menunjukkan bahwa konsentrasi EPS yang dihasilkan adalah sebesar 41,54 mg/L. Selanjutnya EPS digunakan sebagai penyalut insulin agar bisa tahan terhadap asam dan enzim pencernaan. EPS yang dihasilkan 41,54 mg/L, kemudian EPS diencerkan 2x menjadi 20,77 mg/L. Pengujian insulin dengan buffer pH asam dan enzim pankreatin, dilakukan dengan uji folin, menginkubasi pada suhu 37°C selama 120 menit dan penambahan TCA (Trichloroacetic Acid), reagen A, Reagen B-1, reagen B-2 dan reagen C, dengan mengukur absorbansi OD7s0nmmenggunakan spektrofotometer UV/VIS. Eksopolisakarida dapat melindungi insulin dari paparan pH asam dan enzim pankreatin terlihat bahwa insulin terdegradasi oleh adanya pH asam dalam tubuh, ketahanan insulin pada pH | sebesar 51,64% atau turun hampir setengahnya, namun ketika yang terukur dengan kompleks EPS sebesar 76,26%. Hasil tersebut dirasa belum cukup efektif untuk dibuat insulin oral, tetapi ketika pengujian insulin terhadap enzim pankreatin, insulin terdegradasi dengan keberadaan enzim_pankreatin, penurunan insulin sampai 52,1% insulin disalut dengan EPS agar dapat melindungi insulin dari keberadaan enzim pankreatin dan didapat hasil sebesar 94,4% dan kerusakannya hanya 5,6%. Ketahanan insulin dengan kompleks EPS dirasa efektif untuk pemakaian peroral. Secara umum penelitian ini membuka peluang untuk pengobatan diabetes mellitus secara peroral.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL ANGKAK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA TIKUS PUTIH GALUR Sprague dawley

No: 145 Secara global, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu. Setiap tahun lebih banyak orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan penyakit lainnya. Penyakit kardiovaskular erat hubungannya dengan kolesterol. Masyarakat cenderung menganggap bahwa kolesterol merupakan hal yang buruk, jahat, dan tidak bermanfaat bagi kesehatan. Pada kasus tertentu dibutuhkan obat penurun kolesterol dan trigliserida. obat yang paling sering digunakan adalah obat golongan statin. angkak adalah hasil fermentasi beras dengan menggunakan kapang Monascus purpureus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Tisnadjaja di Puslit Bioteknologi LIPI, angkak menghasilkan metabolit sekunder berupa lovastatin, atorvastatin, mevastatin, dan simvastatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efek ekstrak etanol angkak dalam menurunkan kadar kolesterol darah dibandingkan dengan obat antikolesterol golongan statin. Penelitian ini dilakukan secara in vivo pada tikus putih yang dikondisikan menderita hiperlipidemia dan kemudian diberikan ekstrak etanol angkak dan pembanding simvastatin selama 8 minggu. Ekstrak etanol angkak dapat menurunkan kolesterol total sampai 10.14% dalam 2 minggu dan trigliserida dapat diturunkan sampai 12,47% dalam 4 minggu.