Sebanyak 100 item atau buku ditemukan

OPTIMASI PEMBERIAN Bacillus amyloliquefaciens TERHADAP HASIL PRODUKSI GABA (ASAM GAMMA AMINO BUTIRAT) PADA PROSES FERMENTASI BERAS Monascus purpureus

No: 343 Angkak merupakan hasil fermentasi dari beras putih dengan Monascus purpureus. Monascus purpureus menghasilkan senyawa yaitu asam gamma amino butirat (GABA). GABA merupakan senyawa yang bersifat hipotensif. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan proses optimasi dengan menambahkan Bacillus amyloliquefaciens pada proses fermentasi. Bacillus amyloliquefaciens dapat menghasilkan enzim yang mampu merombak zat makanan seperti karbohidrat dan protein menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sampel difermentasi selama 12 hari, ditambahkan bakteri Bacillus amyloliquefaciens pada hari ke 0, 5 dan 10. Dengan konsentrasi bakteri Bacillus amyloliquefaciens yang diberikan sebanyak 0, 5 dan 10%, setelah itu diekstraksi dengan metode digesti. Ekstrak GABA yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi bakteri Bacillus amyloliquefaciens sebanyak 0-1,5% pada hari ke 10 dan diinkubasi pada suhu 31oC menghasilkan kadar GABA yang optimal.

PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN AKAR TUMBUHAN PAKU (Drynaria sparsisora (Desv.) T. Moore.) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) DENGAN INDUKSI VAKSIN DTP-Hb

No: 342 Demam adalah peningkatan suhu tubuh diatas suhu tubuh normal yaitu 36-37,20C. Demam dapat diturunkan dengan menggunakan obat parasetamol. Namun, efek samping yang sering terjadi adalah kerusakan hati.Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antipiretik dari akar tumbuhan paku (Drynaria sparsisora (Desv.)T.Moore.)secara in vivo, menggunakan metode rebusan. Dengan menggunakan konsentrasi 0,5 g/Kg BB, 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBB. Hasil rebusan yang diperoleh kemudian ditentukan kandungan senyawa kimianya dengan metode uji fitokimia, dari hasil uji didapatkan alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Induksi demam pada hewan uji menggunakan vaksin DTP-Hb 0,4 mL secara intramuskular.Pengukuran efek antipiretik pada tikus putih (Rattus novergicus)dilakukan selama 2 jam dengan interval waktu 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian rebusan akar tumbuhan paku dengan konsentrasi 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBB menunjukkan penurunan suhurektal lebih besar yaitu 2,090C dan 2,300Cdibanding dengan konsentrasi 0,5 g/KgBB yaitu 0,920Cselama 2 jam pengukuran. Analisis data dengan uji ANOVA oneway menunjukkan perbedaan yang nyata yaitu ada pengaruh yang nyata pada pemberian rebusan akar tumbuhan paku terhadap penurunan suhu tubuh tikus putih Rattus novergicus. Oleh karena itu, rebusan akar tumbuhan paku konsentrasi 1 g/KgBB dan 1,5 g/KgBBmemiliki aktivitasantipiretik tertinggi.

UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SINGAWALANG (Petiveria alliaceae) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN Galur Sprague Dawley

No: 341 Diuretikadalahobat yang dapatmenambahkecepatanpembentukanurin, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstraketanoldaunsingawalang (Petiveria alliaceae) dan mengetahui aktivitas diuretik pada tikus putih jantan. Ektraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil uji fitokimia menggunakan bahan ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloid dan flavonoid.Uji diuretik pada tikus dilakukan dengan memberikan ekstrak etanol daun singawalang dengan dosis tiap kelompok 300 mg, 500 mg, 700 mg dan 900 mg dan sebagai kontrol positif diberikan hidroklorotiazid uji dilakukan selama 14 kali dalam 28 hari serta kontrol negatif diberikan akuades 0,5 ml dengan pemberian secara peroral. Aktivitas diuretik ditentukan berdasarkan volume urine tikus yang ditampung selama 24 jam.Hasil uji aktivitas estrak etanol daun singawalang pada tikus menunjukkan aktivitas yang meningkat dengan peningkatan dengan dosis pemberian aktivitas tertinggi pada tikus kelompok keenam dengan dosis pemberian 900 mg tiap tikus, tetapi aktivitasnya lebih rendah dibandingkan kontrol positif. Hasil uji statistik yang didapat hasil R Square sebesar 96, 5 %dan R sebesar 93,1 %.

UJI AKTIVITAS ANTIDIARE EKSTRAK ETANOL DAUN DUKU (Lansium domesticum) TERHADAP MENCIT JANTAN GALUR DDY

No: 293 Diare secara umum didefinisikan sebagai bentuk tinja abnormal (cair) yang disertai dengan peningkatan frekuensi buang air besar yakni lebih dari tiga kali per hari.Daun Duku adalah salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diare.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun duku sebagai antidiare.Senyawa aktif yang teridentifikasi dalam Daun Duku, yaitu alkaloid, saponin dan tanin.Simplisia kering daun duku diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Pengujian efek antidiare dilakukan dengan mempuasakan terlebih dahulu hewan uji kemudian diberikan oleum ricini sebagai penginduksi diare pada mencit jantan galur DDY. Dosis yang digunakan sebesar 200 mg, 400 mg, dan 600 mg/kg BB diberikan secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap saat mulai terjadinya diare, konsistensi feses, frekuensi diare dan lama terjadinya diare. Sebagai pembanding digunakan Loperamid HCl. Hasil pengamatan dosis 200 mg/kg BB memiliki efek paling kecil sedangkan dosis 600 mg/kg BB memiliki efek paling kuat dan hampir sama dengan Loperamid HCl. Dosis 400 mg/kg BB memiliki efek antidiare yang tidak terlalu kuat. Ekstrak etanol daun duku memiliki efek sebagai antidiare.

EFEKTIVITAS FLUOXETIN DIBANDINGKAN DENGAN SERTRALIN PADA GANGGUAN JIWA DEPRESI DI RUMAH SAKIT Dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

No: 261 Gangguan jiwa depresi merupakan penyakit mental yang mempengaruhi mood,fisik, dan perilaku seseorang.Dalam pengobatan depresi secara farmakologi antidepresi golongan SSRI menjadi pilihan lini pertama karena hanya mengambil serotonin secara spesifik.Obat golongan SSRI yang direkomendasikan oleh DepKes RI yaitu Setralin dan Fluoxetin.Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas terapi antidepresi sertralin dibandingkan dengan fluoxetine pada pasien gangguan jiwa depresi di RS.Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor selama periode Januari 2013 sampai dengan Juni 2015.Efektivitas kedua obat tersebut dapat diketahui dari lama terapi pasien gangguan jiwa depresi.kemudian dianalisi secara deskriptif dan uji anova. Data yang diteliti sebanyak 59sampel.Dari analisis data yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut pasien dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 52% dan pasien laki-laki sebanyak 48%.Berdasarkan pekerjaan, sebagai ibu rumah tangga 45%, swasta 27%, PNS 11%, pensiunan5%, dan yang tidak bekerja 5%.Pasien dengan terapi sertraline 14% dan fluoxetine 86%. H0 akan diterima jika H0 ditolak, jika P value ≤ α ; α = 0,05 dan H0 diterima, jika P value > α ; α = 0,05. Pada rawat jalan P value = 0,791 > 0,05. artinya H0 diterima lalu pada rawat inap P value = 0,410 > 0,05. Artinya H0 diterima. Perbandingan lama pengobatan rawat jalan dan rawat inap pasien gangguan jiwa depresi dengan terapi sertraline tidak berbeda nyata dengan lama pengobatan rawat jalan dan rawat inap pasien gangguan jiwa depresi dengan terapi antidepresi fluoxetine.

UJI PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH DARI REBUSAN SARANG SEMUT TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) DENGAN HIPERGLIKEMIA

No: 259 Hiperglikemia merupakan keadaandimana jumlah glukosa dalam darah melebihi batas normal (> 200 mg/dL). Hiperglikemia merupakan salah satu tanda dari penyakit diabetes mellitus. Banyak obat yang digunakan dalam masyarakat sebagai obat diabetes salah satunya adalah sarang semut. Sarang semut yang ditemukan di pohon karet di daerah Jambi digunakan sebagai obat diabetes, namun hal ini belum ada pengujian secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas rebusan sarang semut dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih (Rattus novergicus) dan mengidentifikasi senyawa kimia yang terkandung dalam rebusan sarang semut melalui uji fitokimia.Rebusan sarang semutdibuat dengan konsentrasi 1 g/mL dan 2 g/mL.Rebusan sarang semut mengandung alkaloid, flavonoid dan saponin.Pengukuran kadar glukosa darah diukur glukometer selama 15 hari dalam interval setiap 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol positif menurunkan kadar glukosa darah sebesar 160,67 mg/dL, rebusan sarang semut 1 gram/mLmenurunkan kadar glukosa darah sebesar 130,5 mg/dL sedangkan rebusan sarang semut 2 gram/ml menaikkan kadar glukosa darah sebesar 0,34 mg/dL.Rebusan sarang semut pada konsentrasi 1 g/mL efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah karena konsentrasi tersebut optimum dapat menurunkan kadar glukosa darah.

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SEFTRIAKSON DAN LEVOFLOKSASIN TERHADAP GEJALA DEMAM DAN LAMA PERAWATAN PENYAKIT DEMAM TIFOID DI RUMAH SAKIT SALAK BOGOR

No: 258 Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi (S.typhi). Hingga saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Antibakteri merupakan obat utama yang digunakan untuk mengobati penyakit ini, penggunaan antibakteri yang tidak tepat menyebabkan pengobatan tidak efektif dan menimbulkan resistensi yang lebih dikenal dengan istilah strain Multi Drug Resistance (MDR). Berdasarkan hal tersebut, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alternatif antibakteri yang lebih efektif terhadap bakteri S.typhi. Seftriakson dan levofloksasin merupakan beberapa antibakteri yang digunakan dalam terapi demam tifoid di rumah sakit Salak Bogor. Keberhasilan terapi dapat dilihat dari hilangnya gejala demam dan lama perawatan di rumah sakit. Telah dilakukan penelitian pada 50 pasien demam tifoid usia 12-59 tahun di Rumah Sakit Salak pada bulan Februari hingga Mei 2015 dengan teknik pengumpulan data prospektif dan dianalisa secara statistik. Penderita paling banyak terjadi pada pasien laki-laki yaitu 33 pasien dengan usia produktif yaitu 17-25 tahun. Hilangnya gejala demam terjadi pada hari kedua hingga hari keempat dengan rata-rata lama rawat dua hingga lima hari. Data yang di analisa menggunakan Anova menunjukan adanya perbedaan terhadap lama penurunan suhu dan lama rawat yang menggunakan seftriakson dan levofloksasin. Dimana hilangnya gejala demam dan lama rawat yang paling cepat terjadi pada pasien yang menggunakan levofloksasin.

AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK AIR DAN EKSTRAK HEKSANA SARANG SEMUT TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) JANTAN

No: 257 Diabetes Melitus adalah suatu gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Sarang semut di daerah Jambi digunakan sebagai obat antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak heksana dan air sarang semut dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. Sarang semut diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan ekstrak heksana kental dan ekstrak air. Selanjutnya, ekstrak diuji fitokimia dengan hasil ekstrak air mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan pada ekstrak heksana mengandung senyawa alkaloid dan steroid. Ekstrak diuji secara in-vivo dengan konsentrasi, yaitu ekstrak air sarang semut 1 g/mL dan 0,5 g/mL, dan ekstrak heksana sarang semut 1 g/mL dan 0,5 g/mL dengan menggunakan kontrol positif metformin serta kontrol negatif Na-CMC 1 % sebagai pembanding. Masing-masing perlakuan diuji secara in-vivo menggunakan tikus putih jantan Sprague Dawley yang telah terinduksi aloksan. Hasil uji in-vivo ekstrak air dan ekstrak heksana sarang semut dengan konsentrasi 1 g/mL dan 0,5/mLg dapat menurunkan kadar glukosa darah. Ekstrak heksana konsentrasi 1 g/mL mampu memberikan penurunan kadar glukosa darah yang paling tinggi dibandingkan dengan kontrol positif, ekstrak air konsentrasi 1 g/mL, ekstrak air konsentrasi 0,5 g/mL dan ekstrak heksana konsentrasi 0,5 g/mL.

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN ANAK DAN BALITA PENDERITA ISPA RAWAT JALAN DI KLINIK/APOTEK RAFFLESIA BOGOR PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014

No: 256 Drug Related Problems (DRPs) didefinisikan sebagai suatu peristiwa atau keadaan yang memungkinkan atau berpotensi menimbulkan problem pada hasil pengobatan yang diberikan. Masalah-masalah yang terkait dalam DRPs merupakan salah satu tugas farmasis dalam mencapai pengobatan yang diinginkan. Identifikasi DRPs pada pengobatan penting dalam rangka mengurangi morbiditas, mortalitas dan biaya terapi. beberapa jenis permasalahan yang berhubungan dengan obat yaitu adanya penyakit yang tidak terobati, adanya obat yang tidak memiliki indikasi, adanya obat dengan dosis tidak tepat, penggunaan obat yang tidak tepat waktu, dan terjadinya Advere Drug Reaction (ADR) seperti efek samping obat, keracunan, reaksi alergi makanan. Telah dilakukan penelitian pada pasien anak dan balita penderita ISPA yang berobat ke klinik Rafflesia yang bertujuan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya kejadian DRPs. Penelitian dilakukan secara retrospektif dan kejadian DRPs yang dievaluasi sebanyak 170 pasien anak dan balita yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil evaluasmenunjukkan adanya 532 kejadian DRPs yang meliputiinteraksi obat 213, indikasi tanpa terapi 8, terapi tanpa indikasi 5, over dosis 119, dosis subterapetik 165, pemilihan obat yang kurang tepat 1, dan kegagalan obat 21.