Sebanyak 29 item atau buku ditemukan

UJI INHIBISI EKSTRAK ETIL ASETAT DAN ETANOL UMBI LAPIS BAWANG MERAH (Allium cepa) TERHADAP ENZIM α-GLUKOSIDASE

No: 296 Umbi lapis bawang merah (Allium cepa) berguna sebagai bahan obat anti diabetes. Salah satu mekanisme kerja obat diabetes adalah dengan cara menghambat aktivitas enzim α-Glukosidase dalam mengurai karbohidrat menjadi glukosa di dalam sel. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya inhibisi ekstrak etil asetat dan etanol umbi lapis bawang merah (Allium cepa) terhadap aktivitas enzim α-Glukosidase. Ekstrak etil asetat dan etanol umbi lapis bawang merah didapatkan dengan metode maserasi dan masing-masing dibuat dalam konsentrasi 2% dan 4%, yang selanjutnya akan digunakan untuk uji inhibisi aktivitas enzim α-Glukosidase dengan alat Microplate Spectrophotometer pada λ 410 nm. Hasil pengukuran inhibisi ekstrak etil asetat 2% dan 4% menunjukkan nilai yang lebih tinggi (99,56% dan 99,75%) dibandingkan dengan hasil pengukuran akarbosa 1% (97,51%) dan ekstrak etanol 2% dan 4% (93,60% dan 98,56%). Hasil uji statistika anova menunjukkan hasil inhibisi ekstrak etil asetat 2% tidak berbeda nyata (p<0,05) dengan akarbosa 1% sebagai kontrol positif. Sehingga ekstrak etil asetat 2% umbi lapis bawang merah (Allium cepa) dinilai memiliki aktivitas optimal dalam menginhibisi aktivitas enzim α-Glukosidase.

OPTIMASI WAKTU MASERASI NATRIUM DIKLOFENAK DALAM JAMU PEGAL LINU YANG BEREDAR DI KECAMATAN BOGOR BARAT

No: 276 Jamu adalah jenis obat tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat, salah satu jenis yang ada dipasaran adalah jamu pegal linu. Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Jamu tidak boleh mengandung bahan kimia Obat. Namun, jamu pegal linu di pasaran masih ditemukan mengandung bahan kimia obat, yaitu natrium diklofenak. Pada penelitian sebelumnya, analisis Natrium diklofenak belum disertai dengan optimasi waktu ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu maserasi yang optimal dalam jamu pegal linu dan menetapkan kadar Natrium diklofenak dalam jamu pegal linu yang beredar di Kecamatan Bogor Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil waktu maserasi dianalisis menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofometri UV-Vis. Sampel dimaserasi menggunakan magnetic stirrer dengan pengadukan konstan pada kecepatan 560 rpm. 10 sampel jamu pegal linu diskrining secara kualitatif menggunakan Kromatografi Lapis Tipis dengan fase diam Silika Gel254 dan fase gerak toluen : aseton (2:1). Sampel dianalisis menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 283.5 nm. Hasil menunjukan 5 dari 10 sampel mengandung natrium diklofenak, karena memliki nilai Rf mendekati Nilai Rf standar Natrium diklofenak yaitu 0,538. Waktu Optimal Maserasi pada waktu 30 menit terdapat pada sampel E, F, G, I ( 7,12%, 9,77%, 6,69%, 9,19% ). Dan 90 menit pada jamu simulasi, sampel D ( 8,26%, 11,22 % ). Pada hasil tersebut dapat disimpulkan waktu optimal natrium diklofenak dalam jamu pegal linu antara 30 menit dan 90 menit.

VALIDASI METODE ANALISIS HASIL UJI DISOLUSI DARI KAPSUL LINKOMISIN HIDROKLORIDA DENGAN MODIFIKASI METODE ANALISIS DARI USP (UNITED STATES PHARMACOPEIA)

No: 260 Linkomisin Hidroklorida merupakan antibiotik golongan linkosamida yang bekerja pada spektrum sempit. Antibiotik ini digunakan untuk menangani infeksi akibat bakteri. Pengujian disolusi pada kapsul sangat penting karena menggambarkan efek obat secara in vitro. Untuk memastikan bahwa prosedur analisis yang digunakan valid dan sesuai peruntukannya, maka dilakukan validasi metode analisis. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi metode analisis hasil uji disolusi dari Linkomisin Hidroklorida kapsul dengan modifikasi metode analisis dari USP (United States Pharmacopeia). Penelitian ini menggunakan alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dengan elusi isokratik dan kolom Zorbax RX C-8, 4,6 x 150mm pada panjang gelombang 214nm, dengan fase gerak campuran metanol, air, asam fosfat (85%) dan N,N dimethyloctylamin (150:840:5:2) dan kecepatan alir 2,0 mL/menit. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini spesifik untuk Linkomisin Hidroklorida kapsul, ditunjukkan dengan tidak adanya respon pengganggu pada waktu retensi yang sama dengan Linkomisin Hidroklorida baik pada placebo, fase gerak, maupun kapsul kosong. Uji linearitas pada metode ini menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0.9999 pada rentang konsentrasi 30-120% dari konsentrasi Linkomisin pada dosis. Akurasi dilihat dari % perolehan kembali pada konsentrasi 30; 80; 120% didapatkan 98,39-102,99%. Uji ripitabilitas dan presisi antara didapatkan nilai simpangan baku relatif pada konsentrasi 30;80;120% yaitu sebesar 0,22; 0,56; 0,41% dan perbedaan nilai rerata absolut 0,0026; 0,3558; 0,0771%. Hasil tersebut menunjukkan metode ini memiliki selektifitas, ketepatan dan ketelitian yang baik.

AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK AIR DAN EKSTRAK HEKSANA SARANG SEMUT TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) JANTAN

No: 257 Diabetes Melitus adalah suatu gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Sarang semut di daerah Jambi digunakan sebagai obat antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak heksana dan air sarang semut dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan dan mengetahui senyawa yang terkandung di dalamnya. Sarang semut diekstrak dengan metode maserasi, kemudian dipekatkan dan menghasilkan ekstrak heksana kental dan ekstrak air. Selanjutnya, ekstrak diuji fitokimia dengan hasil ekstrak air mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan pada ekstrak heksana mengandung senyawa alkaloid dan steroid. Ekstrak diuji secara in-vivo dengan konsentrasi, yaitu ekstrak air sarang semut 1 g/mL dan 0,5 g/mL, dan ekstrak heksana sarang semut 1 g/mL dan 0,5 g/mL dengan menggunakan kontrol positif metformin serta kontrol negatif Na-CMC 1 % sebagai pembanding. Masing-masing perlakuan diuji secara in-vivo menggunakan tikus putih jantan Sprague Dawley yang telah terinduksi aloksan. Hasil uji in-vivo ekstrak air dan ekstrak heksana sarang semut dengan konsentrasi 1 g/mL dan 0,5/mLg dapat menurunkan kadar glukosa darah. Ekstrak heksana konsentrasi 1 g/mL mampu memberikan penurunan kadar glukosa darah yang paling tinggi dibandingkan dengan kontrol positif, ekstrak air konsentrasi 1 g/mL, ekstrak air konsentrasi 0,5 g/mL dan ekstrak heksana konsentrasi 0,5 g/mL.

UJI DOSIS EFEKTIF SENYAWA (+)-2,2'-EPISITOSKIRIN A SEBAGAI ANTIABSES TERHADAP MENCIT PUTIH JANTAN

No: 219 Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi baik hewan, tumbuhan, maupun mikroorganisme.Uncaria gambi r (Gambir) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak terdapat di Indonesia. Pada gambir, terdapat jamur Endofit Diaporthe sp. yang menghasilkan metabolit sekunder (+)-2,2’-Episitoskirin A. Senyawa(+)-2,2’-Episitoskirin A telah diketahui sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan (+)-2,2’-Episitoskirin A sebagai antiabses pada hewan uji mencit putih jantan yang diinduksi dengan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan 50 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 10 kelompok perlakuan yaitu Empat kelompok mencit di buat menjadi abses dengan diinduksi bakteri Staphylococcus aureus yang diberikan 2 jam setelah suspensi (+)-2,2’-Episitoskirin A dalam CMC Na 1% per oral dengan dosis 1.56 mg/kg BB, 3.12 mg/kg BB, 6.25 mg/kg BB dan 12.50 mg/kg BB. Tiga kelompok yang diberikan Vankomisin sebagai kontrol positif dengan dosis 4 mg/kg BB, 8 mg/kg BB dan 16 mg/kg BB secara intraperitonial, CMC Na 1% sebagai kontrol negatif yang diberikan secara oral, satu kelompok sebagai kontrol bakteri dan satu kelompok sebagai kontrol lingkungan. Diameter abses yang terbentuk diukur dengan penggaris dan metode yang digunakan untuk menghitung jumlah populasi bakteri ialah metode spread plate. DariBeberapa dosis sample uji senyawa (+)-2,2’- Episitoskirin A yang diuji, terlihat bahwa pada dosis 3.12 mg/kg BB efektif untuk dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus di jaringan.

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN Papuacedrus papuana TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 215 Staphylococcus aureusdan Escherichia colimerupakan mikroorganisme yang sering menyebabkan penyakit infeksi dan resistensi di lingkungan masyarakat. DaunPapuacedrus papuana termasuk dalam keluarga Cupraseseae diduga berpotensi memiliki aktivitas antibakteri.Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan menguji aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun Papuacedrus papuana terhadap bakteri Staphylococcus aureusdan Escherichia coli.Ekstrak Metanol daun Papuacedrus papuana diperoleh dengan metode maserasi. Isolasi dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode dilusi untuk menggetahui nilai MIC. Hasil isolasi didapatkan tiga senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu F6.3, F4.1.1 dan F4.1.2, dan hasil uji aktivitas antibakteri metode dilusi ekstrak metanol daun Papuacedrus papuanamemiliki aktivitas antibakteri dengan nilai MIC yang sama dengan kontrol positif pada bakteri Staphylococcus aureusyaitu 32 (µg/ml).

UJI TOKSISITAS SEDIAAN ANGKAK YANG MENGANDUNG CITRININ DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETALITY TEST (BSLT)

No: 183 Angkek adalah produk fermentasi karbohidrat yang telah lama dikenal di China sejak abad ke-14 baik sebagai bahan makanan ataupun bahan pengobatan ringan yang terkait dengan masalah pencernaan, sirkulasi darah dan limfa. Angkak diketahui mengandung pigmen warna, lovastatin dan GABA (gamma aminobutyric acid). Tetapi dari penelitian terbaru diketahui bahwa angkak juga mengandung senyawa toksisk yaitu citrinin yang bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan citrinin dengan alat kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan menguji toksisitas sediaan angkek dengan metode Brine Shrimp Letality Test (BSLT) ampel angkak yang digunakan adalah kode isolat AS, TST dan JMBA. Kandungan citrinin angkak diekstraksi dengan pelarut etanol 70% (pH 8) dan diambil fase supernatant untuk diinjeksi ke dalam KCKT. Uji toksisitas ditetapkan dengan menentukan nilai LC50 dalam pelarut etanol 70% (pH 8) dan aquades, kemudian dibandingkan nilai LC50 dari kedua pelarut pada media uji larva artemia salina. Hasil analisis citrinin dengan metode KCKT pada isolat angkak menghasilkan nilai citrinin tertinggi pada isolat JMBA sebesar 62,63 µg/g diikuti oleh isolate TST sebesar 59,94 µg/g dan yang terendah adalah isolat AS sebesar 41,23 µg/g. hasil uji toksisitas dengan menggunakan metode BSLT dengan pelarut etanol 70% (pH 8) pada isolat AS, TST dan JMBA nilai LC50 secara berturut-turut dicapai konsentrasi angkak: 13658,40 ppm ; 11865,88 ppm; 8743,79 ppm. Sedangkan dengan pelarut aquades pada isolate AS, TST dan JMBA nilai LC50 secara berturut-turut dicapai pada konsentrasi : 984464,364 ppm; 19107,32 ppm; 36753,61 ppm

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KARAKTERISTIK EKSOPOLISAKARIDA BAKTERI ASAM LAKTAT DARI PRODUK FERMENTASI

No: 181 Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang mampu menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berfungsi sebagai antioksidan. Secara alami antioksidan sangat besar peranannya bagi manusia untuk mencegah terjadinya penyakit dengan melindungi sel dari kerusakan akibat proses oksidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi antioksidan EPS. Dari isolate BAL dan mengkarakterisasi monomer senyawa EPS tersebut. Metode untuk menguji antioksidan EPS menggunakan metode DPPH, dan untuk mengkarakterisasi monomer penyusun EPS tersebut menggunakan KLT dan KCKT. Eksopolisakarida diproduksi oleh tiga isolat BAL yang diisolasi dari produk fermentasi adalah EPS S1, EPS S2 dan EPS S7. Hasil penelitian menunjukkan EPS dari tiga isolat BAL tersebut memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 88.95 ppm, dan 84.54 ppm, sehingga semua EPS tersebut mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat, sesuai dengan aktivitas antioksidan vitamin C. hasil KLT dari EPS S1, S2 dan S& hanya terdapat 1 noda dengan nilai Rf sebesar 0.753 yang sesuai dengan nili Rf standar glukosa. Karakterisasi EPS S1, S2 dan S7 adalah tergolong homopolisakarida dengan monomernya adalah glukosa, dan kadar monomer glukosa pada EPS-EPS tersebut berturut-turut adalah 34.82%, 61,91% dan 76.38%

ISOLASI METABOLIT SEKUNDER DARI EKSTRAK N-HEKSAN DAUN KAYU SINA (Phyllocladus hypophyllus (J.) Hooker) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli

No: 167 Kayu Sina (Phyllocladus hypophyllus) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan diantaranya untuk penanganan disentri, hepatitis, dan penyakit kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuiapakah pada ekstrak daun Kayu Sina terdapat senyawa aktif sebagai antibakteri serta menentukan besarnya aktivitas antibakteri yang dilihat dari nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) senyawa tersebut. Ekstraksi daun Kayu Sina dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut n-heksan, dan diperoleh ekstrak pekat sebanyak 18,195 gram. Ekstrak n-heksan dipartisi dengan pelarut n-heksan dan methanol hingga dihasilkan 2 fraksi yaitu fraksi n-heksan sebanyak 10,6332 gram dan fraksi methanol sebanyak 7,5618 gram. Isolasi senyawa metabolit dilakukan pada fraksi n-heksan dengan metode kromatografi kolom silica gel, diperoleh senyawa murni F.5.1.5. dalam penentuan KHM pada F.5.1.5 digunakan metode mikrodilusi dengan control positif kloramfenikol. Nilai KHM terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dari F.5.1.5 sebesar 16 µg/mL lebih besar dari kloramfenikol yang nilaianya sebesar 8 µg/mL